Berita Dunia Islam Terdepan

Beginilah resiko para relawan saat bertugas di Suriah

Pabrik roti Haji Ali di Latakia (Foto: GPS)
13

LATTAKIA (Arrahmah.com) – Pernahkah kita membayangkan bagaimana para relawan membagikan bantuan ke wilayah konflik di Suriah? Pasti tidak semudah membagikan titipan zakat, infaq, dan shadaqah jelang Idul Fitri seperti panitia DKM Masjid di Indonesia yang aman damai.

Berbicara pada laman Facebook pribadinya, Fathi Yazid Attamimi, “Emir” dari lembaga kemanusiaan Misi Medis Suriah (MMS) memaparkan pengalaman para relawan Muslim bertugas di Suriah. Menurutnya, “Penyaluran ke daerah konflik pada praktiknya perlu pengawalan dari kombatan atau otoritas di sana.”

“Selain berguna untuk melewati checkpoint-checkpoint (pos-pos jaga) yang jumlahnya belasan hingga ratusan dengan cepat dan tanpa banyak tanya, juga untuk membantu menunjukkan jalan agar jangan sampai kesasar konyol ke daerah musuh (Syi’ah atau Khawarij atau kawanan begal). Sukur-sukur cuma ditawan atau dipreteli (dirampok) doang, lah kalau sampai dipakaikan kaus oranye lalu masuk video sembelih gimana coba??” Demikian Arrahmah mengutip pernyataan Fathi Yazid yang memecah suasana saat menjawab pertanyaan para calon donatur Operasional Pabrik Roti di laman Facebooknya, Ahad (26/7/2015).

Ia melanjutkan bahwa, pengawalan juga secara khusus akan menggunakan orang setempat. Mereka bisa dari kalangan Mujahidin, bisa pula warga sipil biasa yang bersenjata. Setelah itu, jika relawan berpindah lokasi, pengawalnya berganti kembali.

Mengapa demikian? Sebab jika dimisalkan relawan menyalurkan bantuan di Jakarta tapi pengawalnya masih orang Bogor, “Ya podo wae, sami mawon, pengawalnya kurang bisa membantu,” jelas Fathi Yazid. Demi keamanan, para relawan akan tetap disuguhi banyak pertanyaan oleh para penjaga di setiap checkpoint jika tidak saling mengenal. Subhanallah.

Para relawan "blusukan" di daerah konflik Suriah (Foto: MMS)
Para relawan “blusukan” di daerah konflik Suriah (Foto: MMS)

Sementara penyalurannya, sangat bergantung pada target lembaga bantuan masing-masing. Beberapa bahkan, khusus menyalurkannya ke kamp pengungsian, baik di dalam wilayah aman atau zona merah.

Ada yang lagi yang mengkhususkan hand to hand, langsung blusukan ke rumah-rumah warga yang berada di garis depan atau belakang pertempuran. Biasanya yang tinggal di sana adalah orang yang nekat tidak mau mengungsi karena berbagai alasan.

Lembaga lainnya lagi ada yang menyalurkan bantuan bagi janda dan yatim syuhada saja. Atau bahkan membuat proyek khusus yang kemanfaatannya luas dan bisa dinikmati siapa saja, misalnya sumur air, pabrik roti, shelter pengungsi, dll.

Insyaa Allah, Suriah masih sama dengan Suriah yang kita tahu saat masih heboh beritanya beberapa tahun lalu, jutaan orang dalam belitan masalah kemanusiaan, maka jangan tinggalkan mereka bersendirian. Dukung dengan doa, tenaga, menyebar berita maupun donasi harta. Semoga Allah membalas berkali lipat kemurahan hati Anda.” Begitu Fathi Yazid mengakhiri pemaparannya.

Operasional Pabrik Roti

Perlu kita ketahui, Program Operasional Pabrik Roti di Suriah diselenggarakan MMS bersama GPS (Gaul Peduli Syam) melalui saluran donasi Coin4Syam. Mereka menjalankan program baru tersebut di wilayah Salma provinsi Lattakia, yakni membantu pengoperasian pabrik roti yang dimiliki oleh Pak Haji Ali.

Alhamdulillah, Pabrik roti ini telah dihidupkan kembali oleh MMS sebagai mitra GPS sejak bulan Februari 2014. GPS mengajak umat Islam Indonesia untuk mendukung pabrik roti milik pak Haji Ali secara berkala, sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan hidup saudara seiman kita. Sulit atau mudah, pabrik ini harus tetap beroperasi.

Satu saudara kita di Suriah biasanya makan dua kali sehari, satu kali makan biasanya 2 roti. sehingga dalam sehari satu saudara kita memakan sedikitnya 4 roti. Sehingga dalam satu bulan jika dikali 30 hari maka dibutuhkan 120 roti. Hal tersebut dioptimalkan, dengan pertimbangan bahwa roti merupakan makanan pokok penduduk Suriah. Maka, menghidupkan operasional pabrik roti berarti sama seperti kita mendukung keberlangsungan sawah demi pasokan beras masyarakat Indonesia.

“Dengan Kalkulasi Saat Ini (Maret 2015) maka dibutuhkan sekitar 15 Dollar untuk makan satu saudara kita dalam sebulan. Untuk pembulatan dan antisipasi menguatnya harga Dollar terhadap Rupiah, maka kami mematok Rp 200.000 untuk makan satu saudara kita di Suriah selama Sebulan.” Demikian Muhammad Randy Bimantara, Koordinator GPS menuturkan kepada Arrahmah, Kamis (30/7).

Dengan demikian, donasi yang telah terkumpul melalui Rek GPS : Mandiri 117-00-06326730 A.N Muhammad Randy Bimantara, akan dititipkan kepada Relawan Misi Medis Suriah yang berada di Lattakia untuk kemudian dipergunakan untuk memproduksi roti yang akan dibagikan secara gratis.

“Bagi Anda yang telah mengirimkan konfirmasi melalui email ke [email protected]om, kami ucapakan jazaakumullah khairan katsiran. Semoga hal ini menjadi kabar gembira untuk para Muhsinin dan saudara seiman di Indonesia dalam kebaikan. Semoga Allah menerima dan memperbaiki segala amal kita, dan mengumpulkan kita semua dalam kebaikan,” pungkas Randy.

Pabrik roti Haji Ali di Latakia (Foto: GPS)
Pabrik roti Haji Ali di Lattakia (Foto: GPS)

(adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...