Berita Dunia Islam Terdepan

Iran naik pitam pasca “Hizbullah” kalah perang di Qalamoun

Ilustrasi: "Hizbullah" dimarahi Iran pasca kalah perang di Qalamoun (Foto: Google)
19

ZABADANI (Arrahmah.com) – Seorang sumber terkemuka dari militer Libanon mengungkapkan fakta, dengan syarat anonimitas, bahwa pasukan Garda Nasional Republik Iran telah memasuki wilayah pertempuran seminggu sebelum pertempuran Zabadani dimulai. Mereka juga telah memulai suatu ruang operasi untuk menjaga pengawasan di wilayah perang agar tetap memadai.

Unit ini disebut-sebut telah bekerjasama dengan “Hizbullah”, rezim Suriah dan brigade Dhu Al-Faqqar dari Iran. Mereka dikirim ke daerah guna mendukung “Hizbullah” sebelum terjadinya peperangan di Qalamoun.

Pada Senin (20/7/2015) MTV Libanon merelay temuan dari intelijen yang menguatkan bahwa adanya ketidaksenangan Iran (marah) terhadap kinerja “Hizbullah” dan kegagalannya untuk menghasilkan kemenangan di Qalamoun, sebelum akhirnya berita tersebut dipaksa diturunkan oleh pihak media akibat kecaman pihak Iran. Pasalnya, tayangan itu mengemukakan rancangan yang awalnya direncanakan untuk mengeksploitasi negosiasi nuklir, namun akhirnya mengakibatkan Iran mengalami kerugian besar di beberapa barisan [milisi Syiah] yang berperang untuk rezim Assad di Suriah.

Ketidakpuasan Teheran mendorong mereka meminta bantuan keuangan dan militer kepada Rusia, hal ini dapat dilihat dengan semakin banyaknya ahli perang dan pilot Rusia yang bekerja untuk rezim Suriah.

Jumlah warga Iran yang ditugaskan terjun dalam pertempuran di wilayah pegunungan Timur Libanon antara 50 hingga 70 orang, sudah termasuk para pemimpin, para pakar perang, dan penasihat.

Ruang kontrol operasi lapangan juga telah diluncurkan di daerah Brital.

Sumber juga membenarkan terbunuhnya Kolonel Karim Goabsh, penasihat utama dari Garda Nasional Republik Iran di Zabadani.

Dilansir ALN, Sabtu (25/7), media Orient, memperkiraan rata-rata Pejuang Hizbullat yang ditugaskan di sepanjang pegunungan Timur Libanon mencapai kurang lebih 5000 orang.

Sebanyak 300 pejuang lainnya, merupakan kelompok Syiah impor dari Afghanistan dan Iraq, telah ditugaskan di wilayah sepanjang sisi timur, tetapi mereka tetap tidak berhak mengizinkan mobilitas orang yang keluar masuk wilayah Libanon tanpa perintah dari otoritas Garda Nasional Republik Iran.

Sumber militer mengatakan bahwa intervensi tentara Libanon di Arsal telah membantu melindungi warga desa Arsal (yang beraqidah syiah) terhadap perselisihan yang dikarang oleh Hizbullat melalui kedok suku yiah, berlabel “terrosism” yang merajalela.

Memang, pembantaian besar-besaran terhadap warga Suriah di kamp-kamp pengungsian sudah dihindari, karena pembantaian tersebut memberikan tekanan berat kepada militer Libanon bahwa hal itu akan menimbulkan konfrontasi terbuka dengan pemberontak Suriah.

Dilaporkan adanya penembakan yang dilakukan oleh tentara Libanon untuk meredakan ketegangan pada saat itu, dan membenahi setiap upaya penyusupan, terutama di daerah Timur Bekaa, al-Kaa, dan di pinggiran utara Arsal, dimana terkonsentrasinya kelompok Daesh. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...