Berita Dunia Islam Terdepan

Masjid “Gua” Sancaklar, tempat i’tikaf yang syahdu di Turki

Masjid Sancaklar di Turki menyerupai gua (Foto: Google)
8

BUYUCEKMECE (Arrahmah.com) – Anda tertarik menikmati i’tikaf di tempat yang khusyu’, syahdu dan hening? Barangkali Masjid Sancakalar dapat menjadi solusinya.

Masjid modern yang dibangun oleh Emre Arolat Architects ini terletak di dekat Istanbul, tepatnya di Buyucekmece. Masjid Sancakalar menawarkan suasana beribadah yang damai jauh dari keramaian kota dan jalan rayanya yang sibuk.

Pada video yang Arrahmah unggahkan dari Youtube, Selasa (7/7/2015) di atas, kita dapat menyaksikan bagaimana proses pembangunan masjid seluas 700 meter persegi ini dari nol, hingga menampilkan cor dinding beton dan ruang ibadah seperti gua. Arolat menggunakan kombinasi batu abu-abu terang dan beton bertulang untuk membangun Masjid Sancaklar, yang diatur ke dalam plaza dan terdiri dari teras bertingkat.

Masjid “Gua” tersebut memiliki struktur tanpa ornamen yang sengaja diatur berlekukan seperti lanskap, dengan hanya susunan atap batu dan menara tinggi yang terlihat dari titik-titik tertentu di sekelilingnya.

Bagian luar Masjid Sancakalar
Bagian luar Masjid Sancakalar

“Masjid Sancaklar dibangun dengan tujuan untuk mengatasi masalah mendasar dalam merancang masjid dengan berdasarkan bentuk dan berfokus hanya pada esensi ruang ibadah,” ujar Arolat, arsitek yang merancang masjid ini.

Di bagian luar masjid, potongan-potongan batu melekat di medan miring sehingga membuat barisan panjang sebagai jalan setapak yang mengarah ke gedung cekung. Rumput merumbai tumbuh di sekitar batu dan membantu mengintegrasikan antara pagar dan setapak menjadi satu pemandangan yang indah.

Kombinasi partisi beton, dinding batu dan pagar tinggi melindungi area kebun di tingkatan yang lebih rendah. Di area kebun ini juga terdapat batu loncatan yang menggiring pengunjung melewati kolam air dangkal menuju ke pintu masuk. Air saling gemericik dari satu undakan ke undakan lainnya, memberi kesan sejuk dan menentramkan. Maasyaa Allah.

“Bangunan menyatu sepenuhnya dengan topografi dan dunia luar, seseorang [jama’ah] seolah ditarik bergerak melalui lanskapnya, menuruni bukit dan melewati dinding-dinding antara, untuk memasuki masjid. Proyek ini mengintegrasikan buatan manusia dan alam,” kata Arolat.

Terlihat kontras antara tangga batu alam yang mengikuti kemiringan alami dari lanskap dan pelat beton bertulang tipis. Struktur kanopi ini besarnya lebih dari enam meter.

Ruang shalat yang syahdu

Sebuah ruang shalat dari beton berlapis besar membentuk pusat bangunan, sementara ruang tambahannya termasuk foyer, ruang penyimpanan sepatu dan tempat wudhu, disusun sekitar ruang shalat.

Jamaah pria dan wanita sendiri dipisahkan oleh layar hitam di ruang shalat. Layar hitam ini dibuat berlubang untuk memberikan privasi namun memungkinkan jamaah untuk dapat melihat mimbar.

Ruang shalat utama memiliki fitur lantai dan langit-langit beton berjenjang. Pencahayaan diatur di bawah lantai dan juga di celah langit-langit yang secara lembut menerangi ruang.

“Interior masjid dibuat seperti di dalam gua. Tempat ini dramatis dan menakjubkan untuk berdoa dan mendekatkan diri dengan Allah,” tambah Arolat.

Sebuah setapak berundak dengan profil bulat menciptakan podium untuk khatib di depan pintu. Sebuah tangga di balik pintu mengarah ke menara tinggi yang membujur, struktur dekoratif yang biasanya digunakan untuk mengumandangkan adzan ke luar masjid.

Mimbar lainnya ada pada dinding hitam berdampingan, yang memisahkan kamar mandi di ruang utama dengan mihrab, ruang untuk pengkhotbah.

bagian dalam Masjid Sancakalar
bagian dalam Masjid Sancakalar

Masjid Sancaklar, yang selesai pada tahun 2012 ini mendapatkan anugerah bangunan ibadah terbaik pada Festival Arsitektur Dunia 2013. Masjid ini juga telah dinominasikan pada Design of the Year, penghargaan tahunan yang digelar oleh Museum Desain di London. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...