Berita Dunia Islam Terdepan

Kebengisan ISIS efek mubahalah

Evakuasi korban pengeboman di Masjid Salim, Idlib, oleh "pasukan helm putih" Suriah. (Foto:El-Dorar)
10

Oleh Mohammad Natshir Faishal

(Arrahmah.com) – Jum’at (03/07/15) jama’ah daulah melakukan serangan khinanat kepada Islam dan kaum Muslimin, jihad dan Mujahidin. Di bulan yang diberkahi Allah, di masjid tempat nama-Nya diagungkan, disaat orang-orang sedang merasakan kebahagian buka puasa, seorang anggota jama’ah meledakkan dirinya sehingga menewaskan beberapa Mujahidin dan masyarakat sipil.

Ledakan tersebut terjadi di masjid Salim, tepatnya di kota Ariha, bagian dari distrik Yerikho (Idlib). Sebagaimana yang dilansir El-Dorar; kejadian tersebut terjadi tepat saat kaum Muslimin dan Mujahidin dari Jabhah Nushrah dan Ahror Syam sedang menunggu waktu buka puasa. Tepat beberapa menit menjelang adzan Maghrib, seorang pelaku bunuh diri meledakkan dirinya di depan masjid Salim sehingga menewaskan paling sedikit dua puluh orang.

Menurut reporter Ad- Durar Asy-Syamiyah yang melaporkan berita tersebut; acara buka puasa tersebut dihadiri beberapa komandan Jabhah Nushroh dan Ahrar Syam. Amir Jabhah Nushrah untuk distrik Yerikho terluka parah dalam peristiwa tersebut.

Menurut twet Abul Bara’ Asy-Syami, pelaku meledakkan dirinya di dalam masjid yang menyebabkan syahidnya beberapa ikhwah dari Jabhah Nushrah, Ahror Syam, dan beberapa masyarakat sipil yang hadir dalam acara buka bersama tersebut. Menurut akun tersebut, ledakan tersebut tepat disaat orang-orang sedang buka bersama.

Menurut twet Minbar Syam, korban syahid kurang lebih sekitar dua puluh orang.selain korban jiwa yang mencapai dua puluh orang tadi, masih banyak korban luka dari kalangan masyarakat sipil.

Menurut twet Abu Tholhah Al-idlibi, pelaku serangan bom bunuh diri tersebut adalah Khawarij abad ini (jama’ah takfiri bukan jama’ah jihad).

Terinfeksi virus Khawarij

Meski ISIS menampik dirinya berpahamkan khawarij, namun dari sisi karakter dan ciri-ciri khawarij sangat melekat padanya. Seperti sabda Rasulullah, ‘Fika Imru’un Jahiliyah’, pada dirimu ada karakter jahiliyah. Sabda diatas disematkan kepada seseorang yang memiliki karakter jahiliyah sekalipun beriman kepada Allah. Iman kepada Allah adalah satu hal, dan kemaksiatannya adalah hal lain. Begitu juga ISIS, klaim bahwa ia beraqidahkan aqidah ahlus sunnah wal jma’ah adalah satu hal, namun karakternya yang mudah mengkafirkan pihak lain adalah hal yang lain. ISIS Ahlus Sunnah klaim, khawarij karakter.

Karena karakter khawarij yang dimiliki ISIS inilah yang menyebabkan ia mudah menumpahkan darah kaum Muslimin dan orang-orang tak bersalah. Bahkan darah yang ia tumpahkan adalah darah orang-oarng terbaik di zaman ini. Kegemeran ISIS memerangi kaum Muslimin dan Mujahidin sudah terihat ketika ISIS masih beroperasi di Iraq dahulu kala, yaitu ketika mereka memerangi Jaisul Islam terlebih dahulu, kemudian puncaknya membantai Mujahidin Anshar Islam. Kegemaran ini berlanjut ketika ISIS beroperasi di suriah. ISIS yang karakternya seperti penderita autisme, selalu merasa benar dan tidak mau mengalah. Hampir seluruh tandzim jihad di suriah diperangi oleh ISIS, apalagi tandzim nasionalis.

Autisme ISIS berlanjut ketika ISIS melawan arahan-arahan para pimpinan jihad. Ketika itu pula terlihat makin jelas autisme ISIS dan kebohongannya ketika berjanji akan memenuhi instruksi para pimpinan jihad, namun kenyatannya mereka malah menyerang para pimpinan jihad. Para ulama rujukan pun menjadi saasaran berikutnya. Sebagian pendukung ISIS menghukumi para ulama rujukan dengan tuduhan fasiq, munafik bahkan kafir, subhanallahi amma tashifun.

Menurut syeikh al-Maqdisi, ‘…Kadangkala saya juga memandang sebagian dari mereka lebih buruk dari Khawarij’. Dasar penilaian syekh al-Maqdisi terangkai dalam beberapa poin berikut:

  • Kelompok Khawarij mengafirkan pelaku dosa besar. Sebagian mereka (personil ISIS) ada yang mengafirkan seseorang karena ketaatannya, setelah itu ia mengganti nama ketaatan tersebut dengan maksiat, pengkhianat, dan shahawat.
  • Rambu-rambu takfir menurut mayoritas pengikut mereka berdasarkan hawa nafsu dan permusuhan (tidak di atas dhowabit syar’iyyah). Mereka diliputi oleh kejahilan, kebingungan, dan angan-angan yang bodoh.
  • Kelompok Khawarij tidak berdusta. Namun saya pernah ber-muamalah dengan beberapa dari mereka bahwa ada sebagian dari mereka yang lebih besar kedustaannya dari Rafidhah dan lebih pembohong dari Yahudi.

Mereka mengangkat pedang terhadap umat terbaik Muhammad SAW dari kalangan Mujahidin, juga menghalalkan darah dan hartanya. Merekalah yang paling berani dan cepat memerangi (mujahidin) daripada memerangi kafir asli karena dianggap telah murtad—dan orang yang murtad lebih buruk dari kafir asli. Di dalam hadits disebutkan “Siapa yang memberontak dari umatku, memukul (membunuh) yang baik dan yang fajirnya dan tidak mempedulikan dari kemukminannya serta tidak menunaikan janjinya kepada orang yang dijanjikan maka ia bukan dariku dan saya lepas diri darinya.Dan barang siapa yang berperang di bawah bendera ashabiyah dan menyeru kepada kefanatikan atau marah karena fanatik kemudian terbunuh, maka terbunuhnya adalah terbunuh secara jahiliyah.” (selesai kutipan).

Syekh Ibrahim Syakaran, murid senior Syekh Ulwan berkata, Adapun pelabelan Jama’ah Daulah sebagai ‘Daulah Khawarij’ juga merupakan perkara yang jauh dari kebenaran. Karena jika kita mengkaji tentang kelompok-kelompok khawarij di dalam nash, ia dinamakan sebagai Khawarij atau Haruriyah sebagai suatu jama’ah aqidah yang mana jama’ah itu dan i’tikadnya adalah satu. Mereka terapkan aqidah tersebut dari atasan hingga bawahan.

Adalah lebih tepat untuk melabeli keadaan Jama’ah ini sebagaimana perkataan “Bahwasanya para ghulat di masa ini lebih ekstrim dan lebih ghuluw daripada para ghulat di masa lampau” berdasarkan beberapa hal:

  • Sesungguhnya khawarij di masa lalu sangat berprinsip tinggi dan menerapkan aqidah bid’ah mereka pada seluruh elemen jama’ah. Sedangkan Jama’ah Daulah menerapkan aqidah mereka berdasarkan kepemimpinan dan pengaruh.
  • Sebagian besar khawarij di masa lalu mengafirkan pelaku dosa besar, adapun ghulat di zaman kita ini mereka tidak mengafirkan perbuatan dosa besar melainkan mengafirkan perbuatan amal shalih yang disyariatkan pada dasarnya.
  • Khawarij di masa lalu dikenal dengan ibadah shalat dan bacaan Al-Qur’an mereka, adapun para ghulat di zaman ini mereka jauh dari ibadah ini, mereka disibukkan dengan nasyid-nasyid penyemangat dan menghabiskan waktu di media social untuk menghujat dan memaki dengan tujuan membela Jama’ahnya.
  • Khawarij di masa lalu dikenal dengan kejujuran mereka, sedangkan para ghulat di masa ini dikenal dengan banyaknya dusta mereka. Mereka menghalalkan dusta demi menolong kelompoknya.

Bahkan dapat dikatakan bahwa dengan menisbatkan Jama’ah Daulah kepada khawarij, hal ini merusak citra khawarij itu sendiri. (selesai kutipan).

Efek Mubahalah

Tantangan Mubahalah yang dilayangkan Adnani kepada Abu Abdillah Asy-Syami tahun lalu mulai terasa efeknya hari ini. Adnani berkata, “Ya Allah aku bersaksi pada-Mu bahwa apa yang aku sebutkan tadi adalah kebohongan dan kedustaan terhadap Daulah. Dan bahwasanya itu bukan dari manhaj Daulah dan bukan keyakinannya. Bahkan ia tidak pernah bermaksud seperti itu dan mengingkari siapa yang melakukannya. Ya Allah, siapa di antara kami yang berdusta, maka turunkanlah laknat-Mu padanya.Tunjukkanlah ayat-ayat-Mu dan jadikanlah pelajaran.Ya Allah, siapa di antara kami berdusta, maka turunkanlah laknat-Mu padanya.Tunjukkanlah ayat-ayat-Mu dan jadikanlah pelajaran. Ya Allah, siapa di antara kami berdusta, maka turunkanlah laknat-Mu padanya. Tunjukkanlah ayat-ayat-Mu dan jadikanlah pelajaran.”

Hari ini, tidak ada satupun negeri jihad kecuali fitnah ISIS berakar di negeri tersebut.Slogan menyatukan umat yang dikalimnya adalah slogan palsu. Bukan persatuan yang dibangunnya, justru perpecahan dan pertumpahan darahlah yang sedang ia ciptakan, sadar ataupun tanpa disadari. Di Yaman, sejak keberadaan ISIS terlihat di negeri tersebut, selalu ada saja pergesekan antara ISIS dan kelompok jihad disana, baik dengan AQAP maupun dengan kelompok jihad lokal.Di Libia, perpecahan sudah sampai taraf mengkhawatirkan. ISIS yang membunuh Syekh Akri, seorang tokoh senior gerakan jihad di Libia, menuai hasil dari kesombongannya. Jama’ah-jama’ah jihad yang tergabung dalam Majelis Syuro Mujahidin, bersumpah akan memerangi kerusakan ISIS sampai Baqoya mereka (sisa-sisa) pun tidak terlihat. Kini fitnah tersebut tiba di afghanistan, dengan tipuan murahan gaya ISIS, para Mujahidin yang berhasil disatukan Imarah Islam Afghanistan terancam pecah dan saling bunuh. Ya Allah sungguh benar ayat-ayat mu, inilah awal kehancurann kelompok sempalan ini.

Insya Allah dalam waktu dekat ISIS akan terjepit di Iraq maupun di Suriah, di sisi yang lain para Mujahidin pun akan enggan membantu ISIS ‘sang pembantai Mujahidin’. Tanpa bantuan dari para Mujahidin, dapat dipastikan –dengan ijin Allah- kehancuran ISIS hanya tinggal waktu. Bagi mujahidin, membantu ISIS adalah petaka. Bagaimana tidak, setelah ISIS dibantu untuk menghancurkan Amerika, dan setelah Amerika hancur maka yang mengganti posisi Amerika sebagai penjajah adalah ISIS dengan perilaku yang congkak dan refresif. Walhasil tidak ada pilihan bagi mujahidin kecuali menyaksikan dengan perlahan-lahan kehancuran ISIS.

Pada Selasa yang lalu (23 /06/ 2015), Adnani muncul dengan pidato terbaru. Dalam pidato yang diberi judul mengutip ayat Al-Qur’an, “Wahai kaum kami! Terimalah seruan orang (Muhammad) yang menyeru kepada Allah (Al-Ahqaf: 31)” tersebut, adnani dengan tegas berkata,

فإنك بقتال الدولة الإسلامية تقع بالكفر من حيث تدري أو لا تدري

“Dengan memerangi Daulah Islamiyyah, maka kalian telah kafir, baik sadar maupun tidak.”

Ungkapan Adnani tersebut mendapatkan kecaman dari banyak pihak, diantaranya Dr Hani As-Sibai, ulama mujahid senior. Ungkapan tersebut dinilai lemah. Ungkapan tersebut adalah buah pemahaman takfir yang keliru. Seperti yang diungkapkan Adnani, kelompok yang memerangi kekhilafahan yang sah tidak serta-merta menjadi kafir.

Syekh As-Sibai menunjukkan sejarah, para shahabat yang ikut dalam perang Jamal. Sebagian dari mereka merupakan shahabat yang diberi kabar gembira sebagai ahli surga saat masih hidup. Ada Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Ummul Mukminin Aisyah. Apakah mereka akan disebut kafir karena memerangi khilafah uzhma yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib? Ali bin Abi Thalib tidak menyebut mereka sebagai kelompok kafir!

Adnani, menurut penilaian As-Sibai telah terjebak ke dalam takfir berantai yang parah. Adnani menyebut orang-orang yang memerangi Daulah telah kafir karena menjadi sebab berlakunya hukum buatan manusia di bumi ISIS. Amirul Mukminin Ali RA tidaklah menuding para shahabat yang ikut dalam perang Jamal kafir karena memeranginya. Atau dengan tuduhan bahwa bila kubu Ali kalah maka bumi kaum Muslimin akan dikuasai oleh Persia dan Romawi, yang akan mengatur dengan undang-undang mereka! Lalu, para sahabat tersebut kafir karena menjadi penyebab berlakunya undang-undang Romawi dan Persia di negeri kaum Muslimin.

Disisi yang lain, sebagaimana yang dikatakan Syekh Ibrahim Syakran, pada bulan Jumadil Awal 1435 H. Adnani mengeluarkan pernyataan resmi dengan judul “Mari bermubahalah dan saling berdoa agar Allah melaknat yang berdusta”, dalam pernyataan tersebut ia menyangkal tudingan bahwa mereka mengafirkan dan menghalalkan darah kaum Muslimin yang memerangi mereka, bahkan ia mengajak bermubahalah untuk menafikan semua tudingan itu. Ia mendoakan laknat Allah agar ditimpakan atas dirinya jika ia berdusta dalam hal ini. Ia berkata dalam pernyataan tersebut:

“Dan ini aku sebutkan di antaranya dan mengajak dia untuk bermubahalah di atasnya. Maka bermubahalahlah dengan kami jika ia benar-benar jujur. Wahai kaum muslimin, aminkanlah, dan jadikanlah laknat Allah atas orang-orang yang dusta.”

Kemudian ia membantah segala yang ditudingkan atas jama’ahnya, ia berkata:

“Daulah menggunakan dusta dan pengaburan untuk membenarkan manhajnya… Kebiasaan Daulah adalah bersumpah di atas kedustaan… Daulah menganggap semua yang memeranginya telah memerangi Islam dan keluar dari Islam…”

Beberapa waktu yang lalu, kita semua dikejutkan dengan rilisan yang diproduksi oleh Yayasan Al-Furqan, tanggal publikasinya adalah 5 Ramadhan 1436 H. dalam rilisan yang disampaikan Adnani, dengan terus terang Adnani mengkafirkan seluruh kelompok yang bersengketa dengannya. Berjalanlah efek mubahalah…

Sebagai penutup, Ada beberapa poin yang harus dibaca dan ditelaah para pembaca, poin-poin tersebut kami kutip dari tulisan Syekh Ibrahim Syakran:

  • Perkara yang paling berbahaya yang saya perhatikan terdapat pada simpatisan Jama’ah ini adalah ‘sikap taklid (fanatik buta) dalam hal takfir’. Mereka bertaklid bukan pada para Ulama dalam hal mengafirkan individu-individu tertentu dan menghukumi mereka murtad. Jika ia mendengar atau mendapati tokoh atau petinggi Jama’ah ini mengafirkan lawan-lawan mereka, maka para simpatisan akan secara membabi buta ikut mengafirkan mereka.
  • Perkara bid’ah yang tidak ada dasarnya yang selalu jama’ah ini dengungkan adalah “Orang yang duduk tidak berhak memberikan fatwa kepada mujahid yang berperang”. Anehnya jika fatwa itu menguntungkan kepentingan jama’ahnya, maka akan digunakan dan diekspos sedemikian rupa, dan dipuji tanpa mempedulikan lagi walau yang berfatwa adalah seseorang yang tidak berjihad! Pada hakekatnya perkara tahqiq (meluruskan) dan menasehati tidak melihat faktor jihad atau tidak, yang dilihat adalah kemapanan ilmu syariat dan pemahamannya terhadap realita lapangan (fiqhul wahyu dan fiqhul waqi’). Sungguh betapa banyak para mujahid yang bahkan tidak memahami realita lapangan di mana ia berjihad, dan betapa banyak orang yang hanya duduk dan tidak ikut berjihad tetapi mengetahui detail perkembangan lapangan dan bahkan mendapat informasi langsung dari dalam.
  • Bukti akan bid’ahnya aqidah jama’ah ini adalah tatkala mereka mengubah fatwa mereka terdahulu bahwa yang memerangi mereka tidak kafir dan hari ini menjadi kafir. Semua itu terjadi karena mereka dapati perlawanan umat Islam bersama para mujahidin atas mereka semakin besar dan meluas. Semua dapat berubah demi kepentingan Jama’ah.
  • Saya ingin menasehati para simpatisan Daulah secara khusus, saya melihat sebab utama sikap fanatik berlebihan dalam mendukung Jama’ah ini adalah karena adanya hubungan emosional dengannya. Baik dikarenanakan adanya kerabat yang kita cintai dalam Jama’ah ini, atau teman yang berpengaruh dalam diri kita. Berhati-hatilah engkau membela kesalahan suatu jama’ah dan menutup matamu dari kesalahan itu karena orang yang kau cintai ada di tengah mereka, sungguh mereka tidak akan mampu memberikanmu syafaat kelak di hadapan mahkamah Allah. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya , seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan Si Fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” QS Al-Furqan: 27-29
  • Saya juga melihat banyak di antara para simpatisan Jama’ah ini terjebak dalam semangatnya untuk membela “mujahidin”. Sehingga ia lupa bahwasanya ia sedang membela sebuah jama’ah, bukan mujahidin. Akhirnya mereka terjebak dan menjadi anshar bendera hizbiyah bukan bendera tauhid.
  • Kalimat aneh lainnya yang sering mereka lontarkan adalah “Jangan berani-beraninya kau berbicara atas Mujahidin!” Ini adalah hujjah teraneh yang pernah saya dengar. Jikapun seandainya ada yang berbicara atas Mujahidin tidak dengan ilmu dan bijak, maka saya tanya kalian karena Allah: Apakah sama perkara itu di sisi Allah dengan dosa menebas kepala Mujahidin dan membantai mereka?

(*/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...