Berita Dunia Islam Terdepan

Syaikh Abu Mariyah Al-Qahthani: “Mullah Bradley” berdiri tegak demi tugas agung, melayani Barat

Mullah Bradley a.k.a Abu Bakar Al-Baghdadi (Foto: Al-Nusra)
10

DEIR EZOUR (Arrahmah.com) – Kelakuan Khalifah palsu Abu Bakar Al- Baghdadi dan pengikutnya semakin jauh dari syari’at Islam. Tak hanya menampakkan pelanggaran-pelanggaran syari’at, Daulah itu juga semakin kelihatan melayani Barat.

Berikut komentar sindiran Syaikh Abu Mariyah Al-Qahthani, Amir Syari’ah Jabhah Nushrah terhadap “kekhalifahan” semu Al-Baghdadi, yang Arrahmah alihbahasakan dari rilis resmi pada media Dutch Mujahideen in Syria (DIMS), Al-Minara, Jum’at (3/7/2015).

Yang menarik adalah, dalam tulisannya kali ini, Syaikh Abu Mariyah menjuluki pemimpin Daulah itu sebagai “Mullah Bradley”, sebagai respon tantangan ISIS baru-baru ini, terhadap Mullah Muhammad Umar Mujahid (semoga Allah merahmati beliau), Amirul Mu’minin Imarah Islam Afghanistan.

Mullah Bradley berdiri tegak demi tugas agung, melayani Barat
Oleh: Syaikh Abu Mariyah Al-Qahthani

Keberhasilan memukul “sarang lebah” dan memporak-porandakannya untuk mengganggu revolusi di Irak dan Suriah dicapai dengan menyerahkan Mosul kepada ISIS. Hal tersebut diraih melalui perjanjian antara pemerintahan Maliki dan Suriah. Peristiwa-peristiwa ini dikoordinasikan antara Partai Ba’ats Suriah dan pemimpin Ba’ats di tubuh kelompok penjahat ISIS. Ini juga merupakan misi penyelamatan geng ISIS, yang hampir saja runtuh di depan Dewan Shura Mujahidin di wilayah timur.; sehingga ISIS akan menerima wilayah timur dan akan timbul persetujuan lengkap; yang pertama adalah mereka menjadi penghapus revolusi Suriah; dan meluruhkan semua formasi revolusi guna menunjukkan kepada dunia bahwa tidak ada revolusi di Syam (Suriah, red.). Pada waktu yang sama, hal itu menyeret semua orang berideologi Jihadi di Barat, ke dalam “tungku kremasi”ISIS yang jahat; sehingga mereka hendak menyingkirkannya [pengusung revolusi] dari perang ini.

Terutama Rusia yang ketakutan akan kebaradaan Jihadi di wilayah Kaukasus dan Chechnya, dan [Mujahid] perwakilan Rusia Umar Ash-Shishani. Akan tetapi, sekarang permainan kotor semakin nampak jelas, kenyataan-kenyataan dan peristiwa-peristiwa [di lapangan] telah membuktikan ini, hingga virus kanker ISIS telah menyebar ke Libya, Yaman dan di seluruh medan jihad. Di lain pihak, Mullah Bradley (Abu Bakar Al-Baghdadi) juga muncul di Khurasan, dimana dia memenuhi 2 misi penting, yang terpenting diantaranya adalah menjadi [peran] pengganti resmi kekuatan Amerika yang telah mundur setelah meyakini keberadaan peran pengganti yang membahayakan. Di sisi lain, penting bagi kita untuk mengetahui bahwa keberadaan ISIS merupakan balas dendam terhadap Mujahidin dan rakyat yang meruntuhkan Uni Soviet; sebuah sekutu partai penjahat Ba’ats.

Imarah Islam [Afghanistan] Taliban harus menghadapi ISIS atas dasar yang disebutkan sebelumnya; bahwa mereka merupakan peran pengganti Amerika dan menjadi alat membalas dendam keruntuhan Uni Soviet. Rusia dan Amerika serta Barat telah berhasil mempromosikan ISIS dan itu adalah alat mereka yang kuat. ISIS merupakan fenomena lain dari kampanye kejahatan mereka, yang disebut perang melawan teror, yang sejatinya adalah perang melawan Islam. Tetapi beberapa orang yang mudah tertipu percaya bahwa ISIS memerangi kekafiran, ini adalah sebuah kebodohan, dan akan datang hari dimana mereka akan menyatakan ISIS sebagaimana kami katakan. Seperti [keputusan] mereka yang tidak mengatakan ISIS sebagai kaum Khawarij 2 tahun lalu, dan kini mereka mengatakan bahwa ISIS adalah Khawarij. Kepemimpinan ISIS yang melampaui fase pencitraan awal; yang ternyata; berlangsung di atas metode yang menodai reputasi Islam dan Jihad.

Musuh-musuh Allah telah memeroleh keuntungan dari pengalaman di Ajazair., dan mereka telah mengembangkannya ke level global, generalisasi mereka telah lengkap dan mereka telah berhasil menciptakan penjahat bernama ISIS. Tetapi “Mujahidin” tidak belajar dari apa yang terjadi di Aljazair. Mereka belum mengambil pelajaran dari kejadian itu, karena metodologi yang buta, dan [tertipu] keshalihan palsu, serta abai terhadap penolakan masyarakat, juga menjunjung tinggi rekomendasi dari orang-orang yang tidak dikenal, yang tanpa mereka sadari telah memuji kepalsuan, serta menyanjung kerugian yang dialami agama [ini] dan jihad, juga pertumpahan darah Muslimin.

Saya katakan kepda mereka bahwa [kerusakan akibat] ISIS ini tidak akan berakhir, medan jihad akan terus menderita akibat perilaku serupa katak ini. Saya sebut menyerupai katak, maksudnya dalam hal mengulang-ulangnya, mereka berulang kali melakukan kesalahan yang sama, karena jika seekor katak hendak melompati sebuah gedung berlantai 100, dia akan bersiap untuk melompatinya lagi setelah itu, sebab katak itu selalu lupa akan kesalahannya. Inilah yang saya maksud dengan perilaku berulang layaknya seekor katak.

Kapan kah kita akan menjadi cerdas, kapankah kita akan belajar, kapankah kita akan bangun dari mengulangi kesalahan-keasalahan yang sama? Sampai kapan medan tempur dibiarkan tersandera pengalaman yang gagal? Sampai kapan Jihad berada dalam sandera angan-angan [kaum] yang ingkar? Kapankah para pemuda dalam Ummat ini mengetahui bahwa mereka terjerbak dalam perangkap Barat? [Sebuah jebakan] yang mereka buat dan munculkan, mengatasnamakan klaim dan penyegeraan Jihad, dan ISIS ini merupakan contoh yang membahayakan. Kapan kita belajar dari pelajaran-pelajaran, kapankah kita bangun? Setiap tirani ingin memperpanjang kekuasaannya, atau menghancurkan revolusi rakyat dan Jihad kaum Muslimin, mereka biarkan sebuag gengster pelumpuh muncul seperti di Aljazair; yang merupakan contoh keberhasilan kaum Kufar.

Generalsisasi di medan tempur berhasil menjadi lengkap melalui ISIS, karenanya mereka didukung oleh Hafter di Libya, dan kami menyebutkan peran mereka di Afhganistan. [Bahkan] “talinya juga masih di traktor “, sebagaimana ungkapan [masyarakat] Irak. Untuk setiap medan tempur terdapat Zouabri (pemimpin yang menyimpang dari GIA in Aljazair) dan kami menunggu apa yang akan muncul setelah dia menyeru. Apakah kita belajar dari pelajaran-pelajaran ini, dan meninggalkan sanjungan terhadap rekomendasi, dan pujian di atas kerugian terhadap agama? Kapankah Jahmiyah (sekte yang tertinggal) dari kelompok-kelompok Jihadi belajar, kapankah Jahniyah dari kelompok-kelompok JIhadi terbangun dan menyadari bahwa mereka adalah penyebab dari semua kerusakan ini? Berapa banyak mereka telah memuji, memuliakan, membenarkan, membela, dan berlutut lemah untuk mereka [Barat]? Kita bicara dengan kasar dan pahit, karena kita mengetahui kecacatan yang masih terus kita ulangi.

Kemudian, seseorang tak dikenal (Husein bin Mahmud) datang dan membesar-besarkan juga berbicara seolah dia Syaikh Usama, rahimahullah. Cukup sudah dengan pemujaannya! Kita harus mengakui kesalahan-kesalahan, dan tidak memuja kerugian terhadap agama dan tumpahnya darah Ahlusunnah. Tidak ada yang suci, dan tidak ada manusia yang sempurna, dan mengakui kesalahannya adalah suatu kebajikan. Segala puji hanya milik Allah, dan keberkahan atas Nabi Muhammad (shalallahu alaihi wasallam) beserta keluarganya dan semua sahabatanya. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...