Berita Dunia Islam Terdepan

Para biksu Buddha koarkan khotbah radikal di jalanan Kota Yangon

Ratusan biksu Buddha beraksi di Kota Yangon, Myanmar
12

YANGON (Arrahmah.com) – Khotbah radikal para biksu Buddha ternyata bertebaran di Myanmar atau dikenal juga sebagai Burma. Bahkan, jika saat ini Anda berada di Yangon, atau di salah satu kota besar lainnya, niscaya dapat ditemukan DVD khotbah di berbagai pedagang DVD di pinggir jalan.

Di Yangon, DVD khotbah biksu bersaing dengan DVD bajakan film Hollywood, lagu-lagu lokal, dan lainnya. Dalam salah satu DVD, seorang biksu menggunakan retorika sejarah untuk membentuk pemahaman pendengarnya bahwa Buddha di Myanmar dalam bahaya, sebagaimana dilaporkan Bring Islam, Kamis (18/6/2015).

“Semua negara tetangga Burma; Pakistan, Afghanistan, Bangladesh, Indonesia, dan Malaysia, awalnya pemeluk Buddha,” ujar si pengkhotbah.

“Satu per satu mereka menyingkirkan berhala dan menjadi Muslim,” lanjutnya. “Selama sekian puluh tahun, dalam bentuk Muslim Rohingya, orang-orang barbar berada di pintu gerbang Myanmar.”

Independent, surat kabar Inggris, menulis khotbah sang biksu menandakan iklim ketakutan seribu tahun. Sebuah iklim yang memunculkan perilaku tak mencerminkan Buddhisme di kalangan para biksu, dan respon umat Buddha awam menghadapi tantangan yang ditimbulkan Muslim Rohingya.

Tidak seluruh biksu memperlihatkan perilaku tak-Buddhisme. Biksu U Withudda, U Seindita, dan U Zawtika, adalah tiga dari sedikit biksu yang menolak mengkhianati delapan jalan Sang Buddha.

Ketiganya menyelamatkan Muslim Rohingya yang meminta perlindungan, ketika terjadi aksi berdarah tahun 2012. Sumbangsih mereka diakui Parlemen Agama Dunia di Oslo.

Lainnya adalah biksu U Pinnyasiha, yang menyerang retorika anti-Muslim Rohingya. Namun, seperti tiga biksu penyelamat Rohingya, U Pinnyasiha tidak populer. Ma Ha Na, lembaga pemerintah Myanmar yang bertanggung jawab mengatur biarawan, melarangnya berkotlah.

Sejenak melihat ke belakang, paranoia seribu tahun ini datang sangat cepat. Tahun 2007, ratusan ribu biksu berpawai di jalan-jalan menyanyikan sutta metta, sebuah sutra (lagu) cinta kasih kepada sesama.

“Semua mahluk yang bernafas dan diberkahi dengan hidup bahagia. Mari kita tumbuhkan semangat cinta tak terbatas,” demikian para biksu bernyanyi.

Tidak ada klausul dalam sutta metta bahwa Muslim Rohingya tidak termasuk mahluk yang harus dicintai. Syair dalam sutta meta mencakup semua, tanpa kecuali.

Lima tahun setelah aksi ratusan ribu biksu menyanyikan sutta metta di jalan-jalan, kerusuhan rasial, yang digerakan sekelompok biksu radikal, merebak di jalan-jalan Yangon dan kota-kota lain.

Anehnya, mengapa hanya Muslim Rohingya yang menjadi target serangan. Bukankah Yangon dan Mandalay, dua kota terbesar di Myanmar, adalah rumah bagi ribuan Hindu, Muslim non-Rohingya, Kristen, Tao, Yahudi, dan atheis.

Muslim non-Rohingya terdiri dari Muslim Kaman, Muslim Panthay, dan Muslim Burma, dengan latar belakang etnis berbeda. Kristen dianut hampir semua etnis di Myanmar.

Biksu dan nasionalis Buddhis tahu apa yang harus dikatakan ketika menghadapi pertanyaan ini. Muslim Rohingya adalah kalar, sebutan merendahkan untuk orang berkulit gelap. Jika demikian, Tamil Myanmar juga harus dimasukan ke dalam ‘kalar’, tapi mengapa tidak diberlakukan kepada mereka?

Mungkin, alasan paling tepat para biksu adalah karena Muslim Rohingya adalah etnis minoritas non-Buddhis terbesar di Myanmar, dengan populasi 1,5 juta. Dalam pandangan biksu fanatik, Myanmar adalah rumah terakhir kemurnian Buddhisme, dan harus tetap murni.

Serangan terhadap Muslim Rohingya mungkin langkah awal dari upaya permunian Myanmar sebagai negara Buddhisme. Komunitas keagamaan lain, yang jauh lebih kecil, adalah sasaran berikut.

Buddhisme dan otoritas terjalin erat di Myanmar selama berabad-abad. Jalinan itu sempat putus tahun 2007, ketika 30 biksu yang berdemo menentang pemerintah ditembak mati di jalan-jalan.

Setelah itu otoritas militer Myanmar dan sangha, urutan tertinggi dalam monastik Buddha, memperbaiki hubugan mereka. Inggrid Jordt, antropolog AS yang menjadi biarawati Buddha, mengatakan pemerintah Myanmar tidak bisa mengabaikan bahwa selama 800 tahun pengusaya Myanmar akan selalu tergantung pada sangha.

Sangha dalah hpoun, sumber spiritual. Sangha harus menyediakan hpoun kepada penguasa. Penguasa tidak punya legitimasi tanpa hpoun. Pada gilirannya, penguasa terpantronisasi dan mendukung para biksu.

Namun hubungan ini bukan tanpa gangguan. Akan selalu ada biarawan durhaka, yang menolak mendukung pemerintah. Ini terlihat ketika junta militer menghadapi Aung San Suu Kyi.

Beruntung, junta militer mendapat banyak dukungan para biksu, dan Suu Kyi tidak punya cukup dana untuk membeli biarawan. Terlalu sedikit biksu yang menentang retorika anti-Muslim Rohingya membuat Suu Kyi memilih diam ketika di depan hidungnya orang-orang diperas untuk mati pelan-pelan.

Pekan lalu, para biksu yang tergabung dalam Ma Ba Tha Sayadaw -atau Organisasi Perlindungan Ras dan Agama- memperluas cakrawala chauvinisme-nya. Caranya, akan memboikot jika partai tidak mendukung Buddhisme ikut pemilu.

Junta militer, yang katanya sedang melakukan demoktratisasi, tidak melakukan apa-apa. Di sisi lain, terlalu sedikit biksu yang mengingatkan bahwa apa yang dilakukan Ma Ba Tha bertentangan dengan delapan jalan Sang Buddha.

Aung San Suu Kyi, dengan Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), juga diam melihat sikap tidak demokratis di hadapannya.

Situasi ini menguatkan asumsi ketika agama dan kekuasaan bergandeng tangan yang muncul adalah kejahatan terhadap demokrasi dan kemanusiaan. Itu tidak hanya terjadi di Myanmar, tapi juga di Sri Lanka.

Tidak ada yang bisa dilakukan U Pinnyasiha, sang biksu ‘durhaka’, kecuali mengatakan; “Jika orang terus berlatih tiga hal; moralitas, kebijaksanaan, dan intelektual, maka dharma dan kebijaksanaan Buddha tidak akan lunur. Jika orang melatih ketiganya, Buddha akan menghilang dari dunia ini. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...