Berita Dunia Islam Terdepan

Hadits Nabi tentang Pohon Gharqad masuk kurikulum sekolah Yahudi

759

(Arrahmah.com) – Kaum Muslimin yang tertindas oleh Zionis “Israel” di negeri Palestina saat ini masih berada dalam keadaan yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk memerangi Yahudi dan merebut kembali tanah mereka yang dirampas.

Namun demikian, tidak berarti bahwa keadaan ini akan terus-menerus berlangsung hingga akhir masa, melainkan keadaan pasti akan berubah. Di antara dalil tentang hal itu bahkan telah dikabarkan oleh Nabi ﷺ kepada umat Islam yang dikuatkan dengan wahyu bahwa beliau tidak pernah berbicara dengan hawa nafsu. Semua ucapannya tidak lain kecuali petunjuk yang diwahyukan Allah kepadanya.

Dua orang penulis Inggris berusaha mengupas tuntas tentang dalil yang disampaikan oleh Rasulullah ﷺ tersebut. Mereka mencari tahu mengenai keadaan kaum Muslimin dan bangsa Yahudi pada akhir zaman berdasarkan hadits yang disabdakan Rasullah ﷺ itu dengan mengunjungi tokoh Islam di tanah Palestina.

Berikut ulasan catatan mereka berdua yang bermuara pada sejumlah informasi penting mengenai pohon Gharqad, pohon umat Yahudi pada akhir zaman, sebagaimana dipublikasikan Republika Online pada Kamis (18/6/2015).

“Jika saatnya telah dekat, pasukan cahaya akhirnya akan menang, dan semua makhluk akan melawan Yahudi, bahkan tanah yang mereka duduki sekalipun. Mereka hanya punya pohon Gharqad sebagai sekutu.”

Kalimat di atas merupakan catatan yang ditulis Anne Marie Oliver dan Paul F Steinberg, dalam buku berjudul The Road to Martyrs’ Square: A Journey into the World of the Suicide Bomber, yang di terbitkan Oxford Universiy Press, pada 2006 silam. Kalimat tersebut, merupakan hasil wawancara kedua penulis kepada sejumlah syaikh Hamas.

Pernyataan para syaikh Hamas dalam wawancara Anne Marie Oliver dan Paul F Steinberg di atas, bersumber dari sejumlah hadits Nabi. Salah satunya adalah hadits berikut: Abu Hurairah radhiyallahu anhu (RA) meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hari kiamat belum akan terjadi sampai kaum Muslimin memerangi bangsa Yahudi.”

Mereka diserang oleh kaum Muslimin hingga bersembunyi di balik batu dan pohon. Namun, batu maupun tumbuhan akan berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, di belakangku ada orang Yahudi. Kemari dan bunuhlah dia!’ kecuali pohon Gharqad. Sebab, pohon Gharqad adalah pohon orang Yahudi.” (HR Muslim).

Kepada seorang syaikh, Anne Marie Oliver dan Paul F Steinberg bertanya, “Pohon apa gerangan Gharqad itu?” Sang syaikh yang tidak disebutkan namanya di buku itu, justru meminta keduanya untuk menanyakan hal ihwal pohon tersebut kepada orang-orang Yahudi. Syaikh tersebut mengatakan orang-orang Yahudi menyimpan pohon tersebut di rumahnya.

Anne Marie Oliver dan Paul F Steinberg pun kemudian mencari di mana pohon—yang menurut keduanya pohon magis—tersebut berada. Mereka menanyai setiap orang kalau-kalau pernah mendengar tentang pohon yang dapat berbicara itu.

Tapi, kata keduanya, “Orang-orang malah tersenyum semisterius senyuman Mona Lisa, dan mata mereka terbuka lebar seperti halnya saat kita menyentuh sebuah rahasia fantastis, dan kami diberitahu untuk ke sana dan ke sini, untuk menemukan pohon tersebut.”

Beberapa di antaranya, tulis Anne Marie Oliver dan Paul F Steinberg, mengatakan bahwa “Israel” menanam pohon tersebut di sekeliling pemukiman mereka di Tepi Barat dan Gaza, untuk menciptakan mandala magis yang melindungi mereka dari serangan; sebagian lainnya menyatakan bahwa pohon tersebut ditanam di sekeliling bangunan penting “Israel”, seperti Knesset (Parlemen “Israel”) dan Museum “Israel”.

Sebagian lainnya menyatakan pohon tersebut ditanam di Gerbang Herodus; lainnya mengklaim bahwa pohon tersebut sebenarnya bukanlah sebuah pohon, tapi semak-semak yang bisa ditemukan di luar Gerbang Jaffa, Yerusalem.

Kawasan ini, tulis keduanya, dipercaya oleh Muslim kelak akan menjadi tempat pertarungan Nabi Isa dengan Dajjal yang didukung orang-orang Yahudi. Di sana lah Nabi Isa akan membunuh Messiah palsu yang mengaku tuhan, sampai orang-orang Yahudi berkata, “Tuhan kita telah mati.”

Sebagian lainnya, tulis keduanya, menganggap Gharqad merupakan sebuah simbol. Anne Marie Oliver dan Paul F Steinberg mengutip dari Syaikh Ismail Jamal, Imam Masjid Jericho, dan pendukung Fatah, tentang penggunaan Gharqad sebagai kiasan, saat bangkitnya gerakan perlawanan sipil (Intifada) di Palestina. Gharqad saat itu merupakan reprsentasi “kolaborator yang tidak mengatakan ‘Ini Yahudi’. Dan, “Tentu saja, pohon Gharqad pun menyimbolkan semua kekuatan dunia yang berkonspirasi dengan Yahudi untuk melawan Muslim,” tulis keduanya.

Alhasil, pohon Gharqad, tulis Anne Marie Oliver dan Paul F Steinberg, menjadi sebuah kiasan yang kuat dalam perjuangan Muslim-Israel dan Palestina-Israel, merebut Yerusalem dan Tanah Suci. Muslim di seluruh dunia, tulis ke duanya, secara umum merefer ke pohon tersebut secara eksklusif, dalam hal-hal yang berkaitan dengan Yerusalem dan Palestina.

Persoalannya, tulis Anne Marie Oliver dan Paul F Steinberg, pohon Gharqad pun sangat dikenal di kalangan Yahudi “Israel”, khususnya kalangan Nasionalis Orthodox. Bahkan, “Mereka memasukkan hadits-hadits [tentang Gharqad] tersebut dalam kurikulum SMA mereka, yang kemudian diinterpretasi oleh kalangan Islam sebagai bukti bahwa orang-orang Yahudi mengakui kebenaran hadits Nabi yang menubuatkan akhir nasib orang-orang Yahudi.”

Anne Marie Oliver dan Paul F Steinberg menyatakan, “Bagi keduanya, orang ‘Israel’ maupun orang Palestina, Gharqad berduri telah terangkat dari sebuah referensi yang samar dari sebuah hadits menjadi pemain utama dalam pertempuran untuk Yerusalem dan Tanah Suci, termasuk nasib dunia.”

Gharqad sebagai metafora, juga digunakan pada pendukung Yahudi, antara lain David Solway, dalam buku kumpulan esainya yang berjudul The Boxthorn Tree. Dia mengatakan, Muslim melihat Yahudi sebagai orang-orang Gharqad. Dan, hadits tentang Gharqad—yang disebutnya sebagai genocidal hadits—tersebut pun muncul dalam dokumen-dokumen milik Hamas bahkan Ikhwanul Muslimin. Alhasil, dia menyatakan, orang-orang Yahudi hidup dalam bayangan genosida yang konstan.

David Solway menulis bahwa orang-orang Yahudi selalu berada di bawah ancaman takdir Gharqad dan setiap pepohonan di gurun. “Selalu ada seseorang yang mencari untuk mengoyak mereka dari sekeping tanahnya yang baik,” tulisnya.

Beberapa tahun setelah meng-interview Syaikh Yasin, Anne Marie Oliver dan Paul F Steinberg, akhirnya bisa melihat pohon tersebut. Itu bermula dari undangan Syaikh Riqb dari Hamas, untuk mendiskusikan beberapa tradisi eskatologi (ilmu akhir zaman) dalam Islam. Di rumah sang syaikh, mereka berbincang tentang banyak hal, mulai kisah Al-Jassasah, turunnya Nabi Isa, orang-orang Yahudi yang menjadi pendukung Dajjal, tentang agama Kristen dan hilangnya Injil Barnabas (Injil yang berisi nubuat tentang kedatangan Nabi Muhammad) di Vatikan, dan lain-lain.

Usai makan siang, sang Syeikh mengundang keduanya ke belakang rumahnya, untuk menunjukkan pohon Gharqad. “Pohonnya lebat dan berduri,” tulis Anne Marie Oliver dan Paul F Steinberg.

Tentang maraknya penanaman Gharqad yang dilakukan oleh orang Yahudi, diungkapkan pula oleh Mufti Besar Palestina, Syaikh Muhammad Husein, saat berpidato dalam sebuah perayaan yang digelar Fatah di Yerusalem Timur, 9 Januari 2012 lalu.

Sang Syaikh mengatakan bahwa sudah 47 tahun berlalu sejak Fatah melancarkan revolusi. Dan, revolusi tersebut, kata dia, merupakan revolusi moden dalam sejarah Palestina. Dia menegaskan revolusi itu berlangsung sejak Umar bin Khattab menaklukkan Yerusalem pada tahun 637 dan akan terus berlangsung hingga akhir zaman kelak.

Setelah mengutip hadits shahih Bukhari dan Muslim tentang peperangan akhir zaman antara Muslim dan Yahudi, di mana hanya pohon Gharqad yang tak menunjukkan di mana lokasi orang Yahudi, sang syaikh mengatakan, “Karena itulah Anda tak perlu heran jika menyaksikan Gharqad mengepung pemukiman ‘Israel’ dan koloninya. [Pohon Gharqad] mengepung, mengepung, mengepung… Itulah Palestina yang kita bicarakan, yang dimulai dengan jihad, dan akan berlanjut dengan jihad, dengan pertempuran dan syahid.”

Pidato yang ditayangkan oleh televisi milik Otoritas Palestina ini, kemudian disebarkan oleh Palestina Media Watch (Palwatch), sebuah LSM Israel, yang memonitor media-media Palestina. Video berisi pidato itu disebarkan, antara lain ke Youtube, dan diberi judul bahwa Muslim akan memusnahkan orang Yahudi. Mereka mencoba menggiring opini dunia bahwa Muslim merencanakan genosida kepada Yahudi.

Palwatch pun mencatat pernyataan-pernyataan Syaikh Muhammad Husein sebelumnya, seperti menyatakan Yahudi musuh Allah, menolak keberadaan kuil Yahudi di situs Al-Aqsa, menyebut Nabi Isa (Yesus) sebagai orang Palestina yang mendakwahkan Islam, dan lain-lain.

“Sangat jelas, dakwah antisemitik dan ideologi genosida dari sang Mufti akan menghancurkan semua peluang perdamaian. Selama orang Yahudi digambarkan sebagai musuh Allah yang harus dimusnahkan, maka pembicaraan damai menjadi tidak relevan,” tulis Palwatch.

Palwatch mencantumkan kliping kecaman pemimpin dunia atas pernyataan Mufti Palestina tersebut. Antara lain dari Menteri Inggris untuk Urusan Timur Tengah, Alistair Burt, yang mengatakan, “Saya mengecam kata-kata yang memanas-manasi dari Mufti Besar Yerusalem… Merefer orang Yahudi dengan cara demikian, untuk membunuh Yahudi, adalah sikap antisemit, jelas dan sederhana.”

Palwatch juga mencantumkan pernyatan PM “Israel” Benjamin Netanyahu yang mengatakan, “Israel mengutuk ulama top Palestina yang mengutip naskah suci yang menyeru Muslim untuk membunuh Yahudi… Ini merupakan serangan serius dan seluruh negara di dunia harus mengutuknya.”

Tapi, betapa pun orang Yahudi menentang isi hadits tersebut, dan kerap menyebutnya sebagai hadits genosida, dakwah mengutip hadits ini terus berjalan. Di laman Jihad Watch, Robert Spencer juga menulis tentang pernyataan senada yang disampaikan oleh bekas Mufti Besar Mesir, Ali Gomaa. Dalam wawancara dengan CBC TV, tulis Robert Spencer, Sang Mufti mengatakan “Israel” giat menanam pohon Gharqad untuk bersembunyi dari Muslim.

Dalam wawancara yang mulai dibagikan di internet sejak 23 Desember 2014 lalu. Mufti Ali Gomaa mengutip tentang berbicaranya batu dan pohon, kecuali pohon Gharqad. Meski demikian, dia menyarankan kepada Muslim untuk tidak asal menyerang. “Kita adalah yang sedang diserang. Nabi Muhammad benar ketika menubuatkan kejadian ini, bahwa entitas Zionis akan mengokupasi tanah kita, membunuh anak-anak kita, melecehkan kehormatan perempuan-perempuan kita, dan mencuri uang kita,” katanya.

Sang Mufti melanjutkan, “Suatu hari mukjizat ini akan terjadi, ketika bangsa Palestina dan semua Muslim akan memerangi Yahudi, sampai batu dan pohon berbicara, kecuali pohon Gharqad. Begitulah kata hadits. Di Mesir, kita telah mengubahnya menjadi Ghardaqa. Sebuah kota dinamai Ghardaqa setelah pohon Gharqad ditanam di sana. Mereka mencoba mengubah penyebutannya, tapi sama saja.

Mufti Ali Gomaa mengatakan, sejumlah orang mempertanyakan keotentikan hadits tersebut. “Hadits itu seratus persen shahih dan akan terjadi. Lihatlah sekarang bagaimana orang-orang Yahudi menanam pohon Gharqad di seantero Tepi Barat.

Mereka tahu bahwa pohon itulah yang akan melindungi mereka saat mereka bersembunyi di belakangnya. Mereka mempercayai teks-teks suci ini, ketika sejumlah Muslim justru meragukannya. Tapi, kebanyakan Muslim mempercayainya,” katanya.

Ya, pohon Gharqad dalam hadits tersebut memang bukan sekadar sebuah metafora. Dia adalah bagian dari takdir akhir zaman yang tak akan tercegah. Itu hanya masalah waktu.

(banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...