Berita Dunia Islam Terdepan

Video belasungkawa AQAP atas gugurnya Syaikh Al-Wuhaisyi dan pengangkatan amir baru AQAP

2

(Arrahmah.com) – Yayasan Media Al-Malahim, sayap media Al-Qaeda di Jazirah Arab atau Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP), merilis video berisi pengumuman telah syahidnya amir AQAP, Syaikh Abu Bashir Nashir bin Abdul Karim Al-Wuhaisyi.

Syaikh Wuhayshi merupakan petinggi Al-Qaeda yang dipandang Mujahidin AQAP sebagai pemimpin kedua mereka dalam tandzim Al-Qaeda setelah Amir Al-Qaeda Pusat, Syaikh Aiman Az-Zhawahiri.

Sebelumnya dikabarkan bahwa Syaikh Wuhaisyi gugur dalam serangan pesawat tak berawak salibis AS yang menargetkan dia bersama dengan dua mujahidin lainnya di kota Mukalla di provinsi timur Yaman Hadramaut pada Jum’at (12/6/2015) lalu.

Video berdurasi 9 menit 45 detik ini juga mengumumkan pembaiatan amir baru AQAP, Syaikh Abu Hurairah Qasim Ar-Reimi, yang diangkat berdasar hasil syura sebagian besar Ahlul Halli AQAP yang bisa berkumpul.

Syaikh Abu Bashir Nashir bin Abdul Karim Al-Wuhaisyi (rahimahullah)
Syaikh Abu Bashir Nashir bin Abdul Karim Al-Wuhaisyi (rahimahullah)

Berikut terjemahan video belasungkawa dan pengangkatan amir baru AQAP tersebut.

Penjelasan tentang Kesyahidan Syaikh Abu Bashir Nashir Al-Wuhaisyi rahimahullah

Yayasan Media Al-Malahim
Sya’ban 1436 H
Juni 2015 M

Oleh:
Syaikh Khalid Umar Bathrafi “Abu Miqdad Al-Kindi”

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi dan rasul yang paling mulia. Amma ba’du.

Sesungguhnya kami dalam Tanzhim Al-Qaeda di Jazirah Arab (AQAP) menyampaikan berita duka kepada umat Islam atas gugurnya As-Syaikh Al-Amir Al-Qaid Az-Zahid Abu Bashir Nashir bin Abdul Karim Al-Wuhaisyi rahimahullah, yang telah gugur oleh serangan drone salibis AS yang menargetkan beliau dan dua orang ikhwan mujahid yang bersamanya. Semoga Allah merahmati mereka dengan rahmat yang luas dan meninggikan kedudukan mereka dalam golongan syuhada’.

Setelah peristiwa ini, meskipun kami sibuk memerangi pasukan Syiah Houtsi dan sekutu-sekutunya pada lebih dari 11 front yang tersebar di seluruh penjuru Yaman, juga meskipun situasi keamanan yang sangat sulit; namun Allah dengan karunia dan kemurahan-Nya telah memudahkan bagi sebagian besar anggota Ahlu Syura Jama’ah kami untuk berkumpul. Maka tercapailah kesepakatan mereka bahwa sebaik-baik penerus bagi sebaik-baik pendahulu adalah Asy-Syaikh Al-Fadhil Abu Hurairah Qasim Ar-Reimi hafizhahullah. Pembaitan terhadap beliau telah berhasil dilaksanakan, segala puji bagi Allah semata.

Amir AQAP yang baru, Asy-Syaikh Al-Fadhil Abu Hurairah Qasim Ar-Reimi hafizhahullah
Amir AQAP yang baru, Asy-Syaikh Al-Fadhil Abu Hurairah Qasim Ar-Reimi hafizhahullah

Wahai umat kami, umat Muslim…

Inilah (Syaikh Abu Bashir Al-Wuhaisyi) salah seorang pahlawan dan salah satu pemimpin kalian telah menghadap Allah, teguh di atas perjanjiannya dengan Allah dan memenuhi perjanjian tersebut. Beliau tidak melemah dan tidak menyerah, tidak mengubah dan tidak pula mengganti perjanjiannya dengan Allah.

Ia telah berlalu hingga meneruskan perjalanan dan mencapai tujuannya. (Jihad) beliau dikenal baik oleh negeri Afghanistan, maka beliau menjadi salah satu “gunung” Afghanistan. Ia telah disucikan oleh hari-hari ujian dan kesabaran di atas pegunungan Tora Bora. Allah telah memuliakannya, sehingga ia menjadi sekretaris pribadi Asy-Syaikh Al-Mujahid Al-Mujaddid Usamah bin Ladin rahimahullah dan salah seorang kepercayaan beliau.

Ia ikut dengan generasi pertama (tanzhim Al-Qaeda) yang menimpakan serangan-serangan terhadap Amerika di berbagai tempat di penjuru dunia sejak tahun 1990an. Ia terus melangkah di atas jalan jihad dan pengorbanan, ujian demi ujian tidak pernah menggoyahkannya, peristiwa demi peristiwa tidak mampu melemahkannya, dan fitnah demi fitnah tidak mengubahnya sedikitpun.

Ia diuji dengan kesulitan, maka ia pun bersabar, sehingga Allah menyelamatkannya dan sebagian ikhwannya dari penjara thaghut, dengan penuh ketegaran dan ketabahan. Ia kemudian berjihad dengan saudara-saudaranya di Jazirah Arab, sampai Allah memberikan kepada mereka kemenangan yang besar.

Bersama mereka, ia membangun qa’idah shalabah (basis yang kokoh), menguatkan bangunannya, dan membina asas-asasnya dengan kebijaksaan dan kelembutan. Di bawah qiyadahnya telah terdidik satu generasi mujahidin yang telah diliputi oleh kecintaan kepada Islam dan pengorbanan. Mereka telah menimba pengalaman-pengalaman dan mendapatkan keahlian-keahlian. Mereka berakhlak dengan akhlak para pemimpin yang meraih kemenangan. Mereka, dari dahulu sampai saat ini, senantiasa menjadi pelopor umat Islam dan harapan umat Islam. Pandangan mata umat senantiasa tertuju kepada mereka dan berita-berita tentang kepahlawanan mereka menyebar luas melalui kafilah-kafilah pengembara.

Sesungguhnya riwayat hidup Syaikh kami Abu Bashir Al-Wuhaisyi adalah riwayat hidup yang agung. Riwayat tersebut tidak cukup diungkapkan oleh kata-kata. Cukuplah dalam kesempatan ini jika kami diminta untuk bersaksi, maka kami hanya bersaksi bahwa saat ia gugur sebagai syahid, sesungguhnya ia telah memenuhi perjanjiannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia menghadap Rabbnya dengan mengangkat tinggi-tinggi panji-Nya, memegang teguh agamanya dan tegar di atas prinsipnya.

Ia tidak menyia-nyiakan perintah Allah, dan ia tidak pernah meninggalkan jihad dan ribath walau hanya sekejap mata. Ia mengenal jihad sejak usia muda belia, dan ia gugur sebagai syahid dalam usia yang telah dewasa sempurna. Sepanjang perjalanan hidupnya, ia senantiasa menjadi teladan dalam sikap rendah hati, akhlak mulia, dan kedermawanan. Ia telah mewakafkan kehidupannya untuk Islam dan kaum muslimin, serta menadzarkan usianya untuk jihad dan mujahidin.

Persoalan umat telah menyibukkannya dari memikirkan urusan pribadinya. Hari-hari telah mengarahkannya untuk senantiasa berada di atas jalan jihad. Maka ia menjadi tokoh panutan yang selalu diteladani oleh ikhwan-ikhwan mujahidin. Ia adalah pemimpin yang terdepan, ustadz lagi mu’allim, murabbi lagi muwajjih, saudara yang senantiasa tulus menasehati dan ayah yang penyayang.

Ia kemudian gugur sebagai syahid —demikian persangkaan kami kepadanya— oleh serangan Romawi salibis. Kami sampaikan ucapan selamat kepadanya atas husnul khatimah tersebut, dan itulah kemenangan yang besar.

(Beliau kemudian membaca qashidah syair)

Wahai kaum muslimin…

Rasulullah ﷺ telah wafat. Namun Islam tidak ikut mati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang hal itu.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

“Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun, Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran [3]: 144)

Kematian salah seorang pemimpin tidak pernah sekalipun mematahkan lengan Islam. Ia juga tidak selayaknya menghentikan laju dakwah maupun jihad. Bagaimana tidak, sedangkan dengan karunia Allah semata jihad kita hari ini telah berubah, dari sekedar jihad sekelompok orang pilihan, menjadi jihad umat Islam. Bagaimana tidak, sedangkan umat Islam hari ini telah kenyang dengan makna-makna (semangat) jihad, membebaskan diri dari kepungan, dan terbebas dari belenggu-belenggu penghinaan dan intimidasi.

Sesungguhnya ini adalah dien Allah yang mendapatkan pertolongan, hukum Allah yang pasti terlaksana, dan takdirnya yang pasti terbukti. Ini adalah umat Islam yang telah dan masih terus menghadapi bahaya demi bahaya, padahal mereka berada dalam kondisi yang paling lemah, lalu mereka menang dan meraih pertolongan Allah.

Perang melawan kaum murtad, perang melawan tentara salibis Eropa, dan perang melawan bangsa Tartar merupakan contoh terbaik atas hal ini. Umat Islam telah menghadapi mereka saat umat Islam berada dalam kondisi paling sulit dan paling terjepit. Ternyata kemenangan diraih oleh Islam dan umat Islam, sedangkan kekalahan menimpa musuh-musuh mereka, orang-orang kafir.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allah telah menjanjikan orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nuur [24]: 55)

Dalam zaman kita hidup saat ini, sunnah pemilihan dan seleksi terus berlangsung. Para komandan jihad telah terbunuh. Apakah jihad lantas berakhir? Apakah denyut nadi jihad lantas berhenti? Apakah faktor-faktor pendorong pertempuran dan perlawanan di tengah kaum muslimin lantas padam? Tidak, demi Allah. Justru tertumpahnya darah rombongan para pemimpin jihad itu semakin menambah ketegaran dan pengorbanan kaum muslimin di atas jalan jihad.

Hendaknya musuh-musuh Allah mengetahui, bahwasanya peperangan mereka bukanlah terhadap satu individu tertentu atau satu kelompok tertentu saja, betapapun besarnya nilai dan tingginya kedudukan individu tersebut. Sesungguhnya peperangan yang hari ini dikomandani oleh musuh-musuh Allah, kaum salibis dan boneka-boneka “Arab” yang menjadi kaki tangan mereka, adalah peperangan terhadap satu milyar umat Islam, dari satu benua ke benua lainnya, umat yang perkasa, bangsa-bangsa muslim, dan sekelompok muslim yang sadar lagi waspada.

Maka janganlah musuh-musuh Allah berambisi untuk meraih kemenangan. Demi Allah, lamanya peperangan ini hanya semakin menambah kesabaran kami, dan besarnya resiko yang harus kami tanggung dalam peperangan ini hanya semakin menambah ketegaran kami. Perlamalah peperangan ini sekehendak hati kalian, karena kami adalah para pejuang yang sabar menjalaninya, kami dilahirkan di dalam peperangan dan kami mati di atas jalan peperangan.

Kepada pemimpin kekafiran, Amerika…

Sungguh Allah telah menyisakan untuk kalian orang-orang yang akan menghinakan wajah kalian, membuat kehidupan kalian tidak tenang, dan menimpakan kepada kalian pahitnya peperangan dan kekalahan. Sampai kalian menghentikan dukungan kalian kepada penjajah Yahudi, kalian keluar dari negeri-negeri kaum muslimin, dan kalian menghentikan bantuan kalian kepada para penguasa murtad lagi diktator.

Jika kalian tidak mau menghentikan kejahatan-kejahatan tersebut, niscaya kalian akan menghadapi peperangan (dengan umat Islam) yang tidak sanggup kalian pikul. Peperangan tersebut akan meluluh lantakkan ekonomi kalian dan memporak porandakan negara kalian, dengan izin Allah dan kekuatan-Nya.

(Beliau kemudian kembali membaca qashidah syair)

Akhir dari seruan kami adalah segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.

Tanzhim Qa’idatul Jihad di Jazirah Arab
Ahad, 27 Sya’ban 1436 H/14 Juni 2015 M

Wassalamu’alaykum wa rahmatullah wa barakatuh.

(aliakram/banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...