Berita Dunia Islam Terdepan

Sampai kapan Anda tertipu dengan “kebenaran” ISIS?

149

(Arrahmah.com) – Sebuah makalah yang sempat tersebar luas di internet telah menggugah kesadaran banyak pemuda Eropa dan pemuda dari berbagai tempat di Jazirah Arab, yang sebelumnya begitu terpesona dengan tampilan yang ditawarkan oleh Jamaah “Daulah Islamiyah”, atau Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS, pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi.

Redaksi muqawamah.net pada Senin (8/6/2015) mendapatkan makalah ini dari seorang ulama amilin fi sabilillah, yang menggunakan nama Abu Zubair. Berikut terjemahan lengkap makalah tersebut yang dipublikasikan oleh Muqawamah Media pada Kamis (11/6).

Untuk Alasan Apa Anda Mendukung Mereka, Wahai Pendukung Daulah?

Oleh: Asy-Syaikh Abu Zubair Asy-Syami

link: http://justpaste.it/llyr

Sesungguhnya bukti-bukti yang ditawarkan oleh Jamaah Daulah Baghdadiyah itu tidak akan pernah cukup untuk pencari kebenaran dan yang bebas dari kebodohan dan penipuan yang menyilaukan.

Jika mereka Jamaah Daulah (IS) mengatakan bahwa anggota kelompok Jihad lainnya bergabung dengan Daulah mereka dalam jumlah besar, maka itu tidak menjadi bukti bahwa mereka berada di atas kebenaran. Karena sesungguhnya (dalam sejarah) sejumlah besar orang yang mereka mengaku Islam dan ahli perang juga bergabung dengan pasukan Musaylamah Ibnu Kadzāb.

Adanya fenomena para pemuda Muslim dari Barat yang berbondong-bondong bergabung dengan Jamaah Daulah/ISIS ini tidaklah menjadi bukti bahwa mereka berada di atas kebenaran. Karena sesungguhnya tidak ada yang mendorong mereka kecuali video dan pernyataan yang menipu mereka, yang membuat mereka yakin bahwa mereka tengah bergabung dengan mujahidin jujur ​​dan bahwa mereka akan melakukan perbuatan yang mulia. Pada kenyataannya mereka hanya menemukan diri mereka jatuh ke dalam lubang kebodohan.

Jika Jamaah Daulah/ISIS mengklaim memiliki pasukan dalam jumlah besar, maka itu tidak menjadi bukti bahwa mereka berada di atas kebenaran. Karena sesungguhnya kuantitas atau banyaknya jumlah tidak pernah menjadi standar pengukuran kebenaran, dan Allāh memberitahu kita jika kita mengikuti mayoritas manusia di muka bumi, pasti mereka akan menyesatkan kita.

Banyak para anggota Jamaah Daulah/ISIS mengaku mengalami mimpi-mimpi yang indah tentang kelompok mereka, tentang tentara dan para pemimpin mereka, tetapi mimpi-mimpi ini tidak menjadi bukti yang menentukan bahwa mereka berada di atas kebenaran. Berkenaan dengan hal ini terdapat sebuah riwayat:

“Seorang pria datang menemui Imam Ahmad dan berkata, ‘Aku melihatmu di surga (dalam mimpi).” Imam Ahmad menjawab, ‘Mimpi yang baik, akan membahagiakan orang beriman, tetapi hendaknya mimpi ini jangan sampai membuatnya tertipu, sesungguhnya telah banyak berita tentang orang-orang yang terlihat dalam mimpi seperti itu (dalam mimpi ia terlihat di surga) padahal dalam kehidupan nyata ia berada di atas manhaj Khawarij.” [As-Siyar A’laa in Nubala’ 11/227]

Benar bahwa Jamaah Daulah/ISIS mengklaim berjuang demi tegaknya Syar’iah, dan mengaku berjuang atas nama Allāh, tetapi hal ini tidak menjadi bukti jika mereka berada di atas kebenaran. Karena sesungguhnya, Khawarij juga mengklaim memperjuangkan kitab Allāh dan memerangi orang lain yang mereka anggap telah murtad dari Islam, dan dengan memerangi orang-orang yang mereka tuduh murtad itu mereka merasa telah melakukan amal yang besar.

Jika Jamaah Daulah /ISIS mengklaim bahwa mereka telah menghancurkan perbatasan antara Irak dan Suriah, ini juga tidak menjadi bukti bahwa mereka berada dalam kebenaran. Karena sesungguhnya masih banyak lagi garis-garis perbatasan semacam ini di dunia Muslim dan tentu saja, Khalifah yang sebenarnya memang akan menghancurkan semua perbatasan dan menyatukan umat Islam dalam satu Negara.

Jika Jamaah Daulah mengklaim bahwa hanya orang Muslim dengan karakter menyimpang sajalah (dari antara para pemimpinnya, pengkhotbah, dan orang awam) yang berani menyebut “Negara Islam” sebagai Khawarij, bukanlah bukti jika diri mereka berada di kebenaran. Karena sesungguhnya para ulama jahat dari kalangan Murji’ah, Madākhaliyah, Ikhwan dan antek-antek nya juga menyebut Al-Qaeda sebagai Khawarij, namun ini sendiri tidak akan berarti bahwa Al-Qaedahberada di atas kebenaran, kecuali jika kita merujuk kembali kepada karakteristik Khawarij dan membandingkannya secara ilmiah dan amaliah dengan Aqidah dan Manhaj Al-Qaeda dan hanya dengan inilah segala kepalsuan dari tuduhan tersebut menjadi jelas.

Menguasai sepetak besar tanah/wilayah, dan memiliki kekuasaan atas hal itu, tidaklah menjadi bukti mereka berada di atas kebenaran. Untuk ini, bangsa Tatar juga menguasai mayoritas dunia Muslim, namun mereka tidak ada hubungannya dengan Dīn Islam.

Memiliki lidah yang fasih, fasih dalam bahasa Arab dan memiliki bacaan Al-Qur’an yang indah, tidak menjadi bukti bahwa mereka berada di atas kebenaran. Karena sesungguhnya Nabi ﷺ menggambarkan Khawarij sebagai pemuda yang belum dewasa, yang memiliki lidah yang fasih dan membuat pidato yang paling mengesankan.

Memiliki warga masyarakat yang hidup di bawah kekuasaan “Negara Islam” dan tampak bahagia dan gembira di bawah kekuasaan mereka, tidaklah menjadi bukti mereka berada di kebenaran. Karena sesungguhnya itu tidak mengejutkan bagi kita bahwa dalam video propaganda warga di bawah “Negara Islam”, mereka tampak seperti itu, namun kenyataannya jauh berbeda dan orang-orang di lapangan telah bersaksi akan kenyataan mereka ini.

Memiliki tokoh-tokoh yang dituduh sesat atau yang dicap sebagai “Takfiri, Teroris” oleh ulama moderat, tidaklah menjadi bukti bahwa mereka berada di atas kebenaran. Karena sesungguhnya, organisasi Khawarij sesat lainnya seperti GIA (Jamaah Islamiyah Aljazair) dan Jamaah Takfir wal Hijrah juga mendapatkan tuduhan dan cap yang sama, namun mereka begitu jauh dari aqidah Ahlu-Sunnah dan kebenaran.

Jika Tanzhim Daulah Baghdadiyah menerima Baiat (janji setia) dari dalam Suriah, atau dari luar Suriah, hal itu tidaklah menjadi bukti jika mereka berada di atas kebenaran.

Karena sesungguhnya bahkan jika sejumlah besar umat Islam dari seluruh penjuru dunia, dari Afghanistan, Libya, Somalia dan Filipina, ini tidak akan meningkatkan keabsahan “Negara” ini walau sekecil apapun, juga tidak akan mengurangi hukuman terhadap mereka atas kejahatan mereka terhadap Muwāhidīn dan Mujahidin.

Memiliki pejuang yang muncul dalam video dengan tampilan yang mencolok dan terlihat membaca Kalimatullāh dan hadis Nabi ﷺ, tidaklah menjadi bukti mereka berada di kebenaran. Karena sesungguhnya bahkan Murji’ah hari ini, para sufi, kaum Ikhwāniyin, Ash’ariyin, atau mereka yang termasuk kelompok Muslim lainnya seperti Hizbut Tahrir atau Jama’at Islami, semua dapat diamati sebagai orang-orang yang menempatkan ayat-ayat Qur’an dan hadis Nabi ﷺ untuk menyebarkan kebenaran Dakwah dan Minhaj mereka.

Jika kaum Daulah memiliki slogan dan penampilan Islam, bukanlah bukti mereka berada di atas kebenaran. Karena sesungguhnya Khawarij juga memiliki yang slogan sangat terkenal lagi sangat indah, yakni “Innil hukmu ila lillah” [Tidak ada hukum kecuali (hukum) Allāh], dan Rasulullah mengabarkan bahwa jika kita melihat ibadah mereka, maka akan terkesan luar biasa dan mereka tampak terlihat seperti kaum yang paling saleh diantara orang-orang beriman.

Memiliki juru Dakwah di Barat dan Timur yang dikenal “berbicara Haqq” dan menyatakan “kekufuran para taghut” dan kekufuran orang-orang yang mendukung mereka, tidaklah menjadi bukti mereka berada di atas kebenaran. Karena sesungguhnya fakta dari masalah ini adalah lidah mereka belum terhindar dari tuduhan kepada para ulama Jihad, ketika mereka menuduh para ulama Jihad itu sebagai “orang-orang sesat” atau “pendusta”, saat mereka berkhotbah di hadapan para pemuda, sembari mengklaim bahwa pendapat merekalah yang paling benar.

Memproduksi nasyid-nasyid yang temanya berfokus pada pembentukan sebuah khilafah, meneror musuh Allāh, pujian atas kesyahidan dan Khusnul Khotimah tidaklah menjadi bukti bahwa mereka berada di kebenaran. Karena sesungguhnya setiap kelompok yang memiliki semangat untuk memperjuangkan Islam memiliki kemampuan untuk menghasilkan audio dan video tersebut dengan slogan-slogan dan kata-kata yang sama.

Jika Jamaah Daulah Baghdadiyah menampilkan foto orang-orang yang meninggal di antara mereka dalam keadaan tersenyum ketika meninggal dalam pertempuran, maka ini pun tidak bukti mereka berada di kebenaran. Karena sesungguhnya, para Mujahidin yang disebut-sebut oleh Jamaah Daulah Baghdadiyah ini sebagai “Murtadīn” dan “Sahawāt” juga dapat ditemukan meninggal dunia dalam pertempuran dengan wajah tersenyum. Dengan demikian, hal ini bukanlah bukti yang cukup untuk menentukan bahwa mereka berada di atas kebenaran, tidak juga cukup sebagai bukti untuk menganggap mereka berasal dari faksi yang paling mulia benar.

Terbentuknya pasukan koalisi dari berbagai negara, yang bersatu bersama-sama untuk melawan “Negara Islam” yang mereka klaim itu, tidaklah menjadi bukti jika mereka berada di atas kebenaran. Karena sesungguhnya Nazi juga dibenci dan dibenci oleh dunia, AS, Inggris, Uni Soviet berusaha melawan mereka, namun ini tidak pernah menjadikan mereka berada di kebenaran.

Jika Jamaah Daulah Baghdadiyah menerapkan Hudud [hukuman Islam] di berbagai daerah yang berada di bawah kontrol mereka, ini pun tidak mrnjadi bukti bahwa mereka berada di atas kebenaran. Karena sesungguhnya bahkan Alu Salul [Sa’udi Arabia] juga menerapkan sejumlah hudud (hukum pidana Islam) pada warganya, namun ini bukan bukti mereka berada di atas kebenaran.

Wahai para pencari kebenaran, wahai orang-orang yang tulus, wahai kakak-kakak dan adik-adikku yang telah tertipu. Bebaskanlah diri kalian dari penipuan, kebohongan, manipulasi, rekayasa dan kesesatan dari Jama’at Daulah Baghdadiyah/IS ini. Jangan tertipu oleh realitas palsu yang tidak memiliki dasar! Carilah ilmu, kembalilah kepada para ulama, para ulama yang tegar di atas Tauhid dan Jihad. Jangan biarkan emosi atau sensasi menghabiskan waktu yang terbaik dari hidup Anda semua.

(aliakram/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...