Berita Dunia Islam Terdepan

Tokoh perempuan Asia Tenggara bahas solusi perempuan dan anak-anak Rohingya

Aksi solidaritas bela Muslim Rohingya dengan berjalan kaki dari bunderan Hotel Indonesia (HI) Jakarta ke Kedutaan besar Myanmar, Rabu (27/5/2015), diikuti para Muslimah yang mengecam biksu Budha pembantai Muslim Rohingya
4

KUALA LUMPUR (Arrahmah.com) – Hari ini, Sabtu 6 Juni 2015 di Kuala Lumpur, Malaysia, Divisi Muslimah di Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir akan menyelenggarakan pertemuan tokoh perempuan dari seluruh Asia Tenggara untuk membahas solusi atas penderitaan kaum perempuan dan anak-anak Rohingya yang sangat menyedihkan.

Dalam rilisnya kepada media ini, Dr. Nazreen Nawaz Direktur Divisi Muslimah di Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir menyebut acara yang bertajuk, “Rohingya: Tanpa Kewarganegaraan di Lautan atau Bagian dari Ummat Terbaik” ini, merupakan bagian dari kampanye global yang telah diluncurkan untuk membangun perhatian internasional terhadap penindasan, kekerasan, eksploitasi, dan kebijakan pemerintah represif yang terus memburuk dan menghebohkan yang menimpa kaum perempuan dan anak-anak Rohingya Myanmar hanya karena mereka adalah Muslim.

Kondisi mengerikan ini telah memaksa ribuan dari mereka melarikan diri dari negara itu untuk mencari perlindungan. Orasi-orasi akan disampaikan oleh anggota Muslimah Hizbut Tahrir dari Malaysia, Indonesia, Australia, dan dunia Arab.

Acara ini juga akan mencakup testimony dari perempuan Rohingya serta Muslimah dari Bangladesh, Malaysia, dan Indonesia mengenai nasib mengerikan orang-orang yang dianiaya, diabaikan, dan tanpa kewarganegaraan ini. Pertemuan ini akan didahului dengan konferensi pers dan akan ditayangkan melalui live-streaming kepada audiens internasional.

Selain menyoroti penderitaan sekelompok manusia dalam skala yang tak terbayangkan yang dialami oleh perempuan dan anak-anak Rohingya, para pembicara juga akan menyoroti rezim dan sistem dunia Muslim nasionalis dan kapitalis yang tidak manusiawi, yang telah memperlakukan kaum Muslim yang putus asa tersebut dengan sedemikian keji dan buruknya.

“Mereka telah memalingkan wajah dari genosida terhadap Rohingya;telah gagal untuk menyelamatkan ribuan migran kelaparan dan mengalami dehidrasi dan penyakit karena terdampar di tengah lautan;juga telah menolak untuk memberikan perlindungandan hak-hak dasar memadai kepada mereka. Pemerintahan yang tak berperasaan ini malah enggan untuk mengambil sekedar satu langkah demi menyelamatkan saudara-saudara mereka dari penindasan brutal yang dilakukan rezim diktator Myanmar yangtak punya belas kasihan; bahkan sekedar memutus hubungan diplomatik dengan rezim pembunuh ini pun tidak mereka lakukan,” tulis rilis HTI.

Acara ini juga akan mempertanyakan apakah harapan atau kepercayaan bisa disandarkan kepada ASEAN atau hukum-hukum dan solusi masyarakat internasional–yang telah merangkul rezim kriminal Burma— untuk menyelesaikan krisis ini. Kenyataannya, pembicaraan, konferensi, dan misi-misi diplomatik mereka yang sia-sia telah terbukti berulang kali hanyalah upaya yang membuang waktu yang tidak mencapai hasil apapun bagi Muslim Myanmar atau kaum Muslim tertindas di Suriah, Afrika Tengah, Cina, dan di tempat-tempat lain.

Muslimah HTI menyebut, pertemuan ini akan membahas tindakan-tindakan segera yang harus diambil oleh pemerintahan dunia Muslim untuk menyelamatkan kaum perempuan dan anak-anak Rohingya, menekankan ikatan ukhuwah Islam yang mewajibkan kaum Muslim untuk memberikan perlindungan tanpa keraguan atau penundaan lagi bagi saudara-saudara mereka yang telah benar-benar membutuhkan bantuan mereka, karena Nabi Muhammad (saw) bersabda,

«الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ، كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ»

“Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Dia tidak menzaliminya dan tidak juga mengabaikannya. Dan barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya.”

Selain itu, para pembicara juga akan menjelaskan mengapa penegakkan segera negara Khilafah yang berdasarkan metode kenabian –sebuah sistem yang benar-benar mewakili kepentingan Islam dan kaum Muslim— yang akan memberikan solusi konkret dan permanen atas penindasan kaum Muslim di Myanmar dan secara global, dengan menghapus batas-batas kolonial dipaksakan antara negeri-negeri kaum Muslim serta dengan memberikan keamanan, tempat tinggal, dan kehidupan yang bermartabat bagi kaum Muslim yang teraniaya.

Acara ini akan diselenggarakan pada Sabtu 6 Juni 2015 pukul 15.00 waktu Malaysia (08.00 GMT) di Hotel Nouvelle, KM 8, Kuala Lumpur Seremban Highway Sungai Besi, 43300 Kuala Lumpur, Malaysia. (azmuttaqin/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...