Aneh, fakta pembantaian Muslim Rohingya Arakan dianggap bohong

139

Support Us

JAKARTA (Arrahmah.com) – Mencuatnya berita dan tulisan di media online belakangan ini mengenai keraguan akan pembantaian Rohingya yang terjadi di Rakhine State, Myanmar, telah mengejutkan kalangan Pegiat Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pasalnya, berita dan tulisan tersebut memuat pernyataan dan komentar kontroversial yang seolah-olah ingin menegaskan bahwa fakta dan informasi mengenai pembantaian terhadap Rohingya di negara bagian Rakhine, yang dahulu bernama Arakan, adalah bohong belaka.

Seperti yang dimuat oleh salah satu media online pada hari Senin (01/06/2015) contohnya, dimana seorang Pegiat LSM Kesehatan yang mengaku telah dua kali ke Rakhine State dengan lugas mengatakan bahwa berdasarkan hasil pantauannya ia tidak menemukan mayat-mayat Rohingya yang tergeletak dimana-mana. Bahkan ia menyalahkan media-media yang memberitakan ketidakbenaran mengenai pembantaian Rohingya di tahun 2012. Ia juga menuduh adanya pihak ketiga yang sengaja menyebarkan berita pembantaian terhadap Rohingya.

Namun anehnya, ia kemudian mengakui adanya bukti bekas-bekas pembakaran masjid dan rumah-rumah warga di Rakhine. Dalam pernyataan lebih lanjut, kebalikannya ia justru mengatakan bahwa ketika ia masuk ke Rakhine, ia tidak menemukan ada yang dibakar. Kedua pernyataan ini pun pada akhirnya saling bertentangan dan menimbulkan kebingungan, sebut salah seorang netizen yang memberikan pendapat di kolom komentar.

Di media sosial juga beredar tulisan yang mengatakan bahwa tidak ditemukannya konflik Rohingya di Myanmar. Tulisan ini didasarkan pada pengalaman seseorang yang berwisata ke Myanmar selama beberapa hari. Ia mendeskripsikan bagaimana kondisi Myanmar yang kondusif dan nyaman bagi wisatawan sehingga kemudian ia meyakini tidak adanya konflik Rohingya di Myanamr. Namun, ketika disimak secara teliti tulisannya, ternyata yang menjadi obyek tulisan tersebut adalah kondisi Muslim Myanmar di Yangon, sementara konflik yang mendera Rohingya terjadi di Rakhine State, bukan di Yangon. Dua tempat berbeda dan dua kondisi yang berbeda, dimana dari Yangon ke Sittwe bisa ditempuh selama lebih kurang 2 jam perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang.

Berita Terkait

Heri Aryanto, Pegiat Hukum dan HAM yang pernah melakukan investigasi di Sittwe, Meikhtila, dan Yangon pada bulan Mei 2013 mengatakan bahwa ia menerima bukti-bukti pembantaian, kesaksian-kesaksian, dan cerita mengenai pembantaian Rohingya oleh penduduk mayoritas (Burmese) yang disponsori oleh Pemerintah Myanmar. Tidak hanya pembantaian, Heri juga mendapati bukti dan cerita mengenai pembatasan gerakan Rohingya di dalam wilayah Rakhine dan pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan Rohingya, baik ketika berada di Myanmar maupun pada saat melakukan investigasi di tempat terdamparnya Rohingya di Aceh dan Medan pada tahun 2013 dan 2015. Heri menyayangkan pernyataan-pernyataan yang hanya didasarkan pada alasan “tidak menemukan cerita”, ujar Heri yang juga Advokat dan Koordinator Advokasi Pengungsi SNH Advocacy Center.

Heri menambahkan bahwa seharusnya kesimpulan mengenai pembantaian Rohingya diambil dari bukti-bukti yang didapatkan secara lengkap dan dari sumber terpercaya. Tidak menemukan adanya mayat dimana-mana di Rakhine State serta tidak menemukan adanya konflik Rohingya di Yangon, tidaklah cukup untuk menyimpulkan tidak adanya pembantaian terhadap Rohingya. “PBB saja setelah melihat langsung ke lokasi konflik di Sittwe (Ibukota Rakhine State-red) mengatakan bahwa Rohingya adalah etnis paling teraniaya di muka bumi”, tegasnya.

Heri juga mempertanyakan apakah orang-orang yang memberikan pernyataan dan komentar tersebut benar-benar telah mengetahui dan melihat langsung kondisi Rohingya ke wilayah konflik di Rakhine State, atau hanya berdasarkan cerita orang-orang dari luar Rakhine. Kalau benar-benar telah mengetahui dan menyaksikan sendiri kondisi Rohingya di Rakhine State, maka pastinya mereka akan sungkan memberikan pernyataan seperti itu, imbuh Heri.

Bahkan, apabila mereka sempat membaca dengan seksama hasil investigasi Human Rights Watch yang dipublikasi pada tahun 2013 dengan judul “All You Can Do is Pray, Crimes Against Humanity and Ethnic Cleansing of Rohingya Muslim in Burma’s Arakan State“, maka sebagai seorang insan dan juga seorang Muslim, tentunya mereka tidak akan sanggup mengatakan bahwa pembataian terhadap Rohingya adalah rekayasa. Mereka juga tidak akan sampai hati mengatakan seperti pernyataan seorang Pegiat LSM Kesehatan yang dikutip dari sebuah media online yang menyebutkan : “Jika keluarnya Muslim Rohingya dari negerinya membuat mereka pada akhirnya mendapat simpati dari berbagai negara yang bisa menekan Myanmar memberikan status kewarganegaraan, berarti tindakan mereka sangat tepat“. (azm/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.

Berita Arrahmah Lainnya

Jerman Waspadai Penyebaran Islam

BERLIN (Arrahmah.com) – Organisasi bantuan Islamic Relief Deutschland (IRD) di Jerman saat ini sedang tersudut. Pernyataan sebagian anggota dewan eksekutif yang berempati kepada Ikhwanul Muslimin memaksa IRD melakukan pembersihan di jajaran…

Demi keamanan nasional, pemerintah Selandia Baru akan sembunyikan bukti serangan terorisme di…

CHRISTCHURCH (Arrahmah.com) - Bukti-bukti yang diberikan oleh para menteri dan kepala eksekutif sektor publik dalam penyelidikan serangan terorisme di Christchurch tidak akan dipublikasikan hingga 30 tahun ke depan, ujar pihak berwenang…

Kabarnya dikunjungi "Israel", namun Sudan 'tidak sadar'

KHARTOUM (Arrahmah.com) - Pemerintah Sudan pada Selasa (24/11/2020) membantah memiliki informasi tentang kunjungan delegasi "Israel" ke Khartoum yang diumumkan sehari sebelumnya oleh seorang pejabat dari Tel Aviv. "Kabinet tidak…

Houtsi serang Aramco di Jeddah

JEDDAH (Arrahmah.com) - Militer Yaman yang didukung Houtsi mengumumkan telah menargetkan stasiun distribusi Aramco di kota pelabuhan Saudi di Jeddah menggunakan rudal presisi tinggi bersayap Quds-2. Juru bicara militer Brigadir Jenderal…

Rezim Asad bunuh 98 orang di Daraa

DARAA (Arrahmah.com) - Rezim Suriah telah menyiksa 98 orang dalam dua tahun terakhir yang melanggar perjanjian Daraa 2018, menurut sumber lokal. Rezim menyiksa banyak orang yang tinggal di Daraa dan mengajukan amnesti berdasarkan…

Meski Ada Sejumlah Bukti, Arab Saudi Bantah Pertemuan Rahasia Dengan PM "Israel"

RIYADH (Arrahmah.com) – Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud membantah pemberitaan bahwa Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu diam-diam terbang ke Arab Saudi pada Ahad (22/11/2020) untuk bertemu dengan…

Video: Militer Australia Bunuh 39 Muslim Afghan

KABUL (Arrahmah.com) – Pasukan khusus Australia diduga membunuh 39 tahanan dan warga sipil tak bersenjata di Afghanistan, dengan komando senior dilaporkan memaksa tentara juniornya untuk membunuh tawanan tak berdaya sebagai pengalaman…

Drone Turki lancarkan serangan di Suriah utara

RAQQA (Arrahmah.com) - Sebuah pesawat tak berawak Turki dilaporkan melakukan serangan udara di wilayah utara provinsi Al-Raqqa pada Ahad (22/11/2020), Kantor Berita rezim Suriah SANA melaporkan. Menurut laporan tersebut, Angkatan…

Lembaga donor internasional siap topang Afghan dengan miliaran dolar

JENEWA (Arrahmah.com) - Puluhan lembaga donor mulai menjanjikan miliaran dolar sebagai bantuan bagi Afghanistan dalam konferensi yang digelar di Jenewa hari Selasa (24/11/2020), dengan harapan negosiasi damai yang dibangun antara pemerintah…

Lima Orang Jamaah Masjid Dibunuh dan Puluhan Diculik di Nigeria

ABUJA (Arrahmah.com) – Serangan yang dilakukan sekelompok orang bersenjata terjadi di sebuah masjid di barat laut Nigeria. Serangan itu menjatuhkan banyak korban, lima jamaah meninggal dunia sementara 40 orang lainnya diculik. Serangan…

Sudah Swab Test, Habib Rizieq Dan Keluarga Negatif Covid-19

JAKARTA (Arrahmah.com) - Habib Rizieq Shihab dan keluarganya dipastikan negatif Covid-19 setelah melakukan swab test secara mandiri. Hal itu disampaikan oleh tim kuasa hukum Front Pembela Islam (FPI), Azis Yanuar meneruskan pesan dari…

Lakukan aksi mogok makan selama 103 hari demi bisa keluar dari penjara

JENIN (Arrahmah.com) - Mantan tahanan "Israel" asal Palestina, Maher Al-Akhras, berhasil bebas dari penjara. Otoritas "Israel" membebaskan Al-Akhras pada Kamis (26/11/2020), setelah ia melakukan mogok makan selama 103 hari. "Tekad saya…

Iklan