Berita Dunia Islam Terdepan

Protes anti-Islam di depan Masjid Phoenix diisi lomba gambar Nabi Muhammad, Polisi Arizona siaga satu

Support Us

PHOENIX (Arrahmah.com) – Polisi Arizona meningkatkan keamanan pada Jum’at (29/5/2015) di dekat sebuah masjid seiring protes di luar gedung yang direncanakan oleh kelompok anti-Islam. Kelompok itu juga mengisi acara protesnya dengan lomba menggambar kartun Nabi Muhammad, seminggu setelah kompetisi serupa di Texas diserang oleh dua orang bersenjata. Demikian Al Jazeera melaporkan pada Sabtu (30/5)

Protes itu terjadi, saat shalat Isya sedang berlangsung di Pusat Komunitas Islam Phoenix. Seorang mantan anggota Marine Reserve memimpin protes anti-Islam itu. Sebelumnya, dia telah memposting foto dirinya di Facebook mengenakan T-shirt bertuliskan slogan “Persetan Islam”.

Karikatur Nabi Muhammad telah menjadi penyulut kekerasan di Eropa dan Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir karena banyak Muslim percaya membuat gambar Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah penistaan agama Islam.

Pejabat di masjid tidak bisa dihubungi untuk memberikan komentar langsung. Namun situsnya memiliki serangkaian khotbah shalat Jum’at yang pada tahun lalu salah seorang imamnya mengutuk kelompok-kelompok ekstremis Islam seperti Daesh (IS), al Qaeda dan Boko Haram Nigeria.

Departemen kepolisian Phoenix berencana untuk bersiaga di seluruh lingkungan di mana masjid itu terletak, membawa staf dari kesatuan lainnya jika diperlukan, kata juru bicara Sersan Trent Crump. Hal ini disebabkan protes semakin memanas. (Lihat video liputan langsung oleh Fox di atas.)

“Terkait kegiatan semacam ini adalah sebuah tantangan yang berhadapan dengan penegakan hukum di seluruh negara,” ujarnya. “Berkenaan dengan kelompok pemrotes dan pandangan oposisi bukanlah bagian yang sulit. Tujuan kami dan tantangan sebenarnya adalah untuk mencegah perbuatan yang melanggar hukum yang kemungkinan terjadi akibat kejadian ini,” kata Crump.

Tindakan pembalasan
Pada bulan Januari, orang-orang bersenjata menewaskan 12 orang di kantor majalah satir Charlie Hebdo di Paris. Hal itu terjadi akibat kemarahan atas kartun dalam majalah itu yang menampilkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

Serangan serupa digagalkan di luar Dallas pada 3 Mei ketika dua pria bersenjata melepaskan tembakan di luar sebuah pameran kartun Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Pasangan, yang menghadiri masjid Phoenix melancarkan serangan pada acara itu hari Jum’at, lalu ditembak hingga gugur oleh polisi tanpa membunuh warga sipil lainnya.

Penyelenggara protes anti-Islam di Phoenix menggambarkannya sebagai tindakan pembalasan atas serangan di Dallas, pinggiran Garland.

“Ini adalah jawaban terhadap serangan baru-baru ini di Texas di mana 2 teroris bersenjata, yang memiliki hubungan dengan ISIS, berusaha jihad,” papar penyelenggara dalam sebuah posting Facebook, menggunakan nama singkatan untuk Daesh (IS).

Para pejabat AS menyelidiki klaim bahwa orang-orang bersenjata di Texas memiliki hubungan dengan Daesh, yang berbasis di Suriah dan Irak, tetapi tidak pernah membentuk koneksi tegas.

Penyelenggara utama protes itu adalah warga, Phoenix bernama Jon Ritzheimer, menegaskan bahwa, kontes menggambar Muhammad adalah “untuk mengekspos warna sejati Islam.”

“Benar Islam adalah terorisme. Ya, orang-orang yang keluar melakukan kekejaman ini dan hal-hal, mereka mengikuti buku seperti itu ditulis,” kata Ritzheimer kepada CNN.

Ritzheimer adalah seorang sersan staf di Marine Reserve dan ditempatkan ke Irak dua kali, pada tahun 2005 dan 2008, jelas seorang Korps Marinir kepada Reuters.

Polisi Juru bicara Crump mengatakan beberapa pengunjuk rasa akan menjadi pendukung pro-gun. Lainnya akan menyatakan hak untuk kebebasan berbicara dan kebebasan beragama, katanya.

Walikota Phoenix, Greg Stanton, mengatakan kepada CNN ia percaya acara protes Jum’at itu bukan ide yang baik. “Saya berharap itu tidak terjadi di lokasi ini, di kota saya, tapi sebagai walikota saya bisa menyeimbangkan tanggung jawab saya kepada orang-orang dari kota ini,” katanya.

Penyelenggara protes anti-Islam ini tidak bisa dihubungi untuk segera memberikan komentar .

Masjid Phoenix adalah bekas gereja di dekat bandara internasional kota yang dapat menampung sekitar 600 jamaa’h. (adibahasan/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan