Berita Dunia Islam Terdepan

Memprihatinkan, kondisi warga Rohingya Arakan saat berlabuh di Kuala Langsa Aceh

148

Support Us

KOTA LANGSA (Arrahmah.com) – Setelah terkatung-katung di lautan dan dilarang berlabuh di wilayah RI, nelayan Aceh yang sedang mencari ikan mendapati mereka dalam keadaan yang menyedihkan dan membawa mereka ke pelabuhan Kuala Langsa. Rombongan pertama berlabuh pada pagi hari atau mungkin subuh sebab pagi-pagi sudah geger satu kota Langsa ada gosip orang Rohingya ada di pelabuhan. Saya juga mendapati kabar dari tante saya (Juwita Juned) yang bekerja di Puskesmas Langsa Barat harus segera pergi ke pelabuhan untuk membantu cek kesehatan para pengungsi. Setengah petugas yang di Puskesmas harus kesana, setengah lagi tetap berjaga di puskesmas. Ada kemungkinan Puskesmas2 lainnya juga mendapat perintah yang sama.

Keadaan cukup menyedihkan rata-rata mereka, maaf, sangat, bau menyengat sehingga petugas kesehatan dan petugas lainnya harus memakai masker, mereka kelaparan, ada yang teriak-teriak toileeet toilett..belum sampai toilet sudah muntah duluan. Ada yang lemas dan di infus di tempat oleh petugas, kawannya terpaksa berdiri untuk memegang botol infus karena tidak ada tiang infus, ada yang pingsan terkapar, dibawa lari ke ambulan segera ke UGD Rumah Sakit Umum Langsa, mereka dirawat di kelas 3. Yang wanita ada yang tak memakai celana dalam karena faqirnya, sehingga ketika diperiksa petugas hampir-hampir kelihatan (masih untung yang meriksa tante saya, sama-sama perempuan). Anak-anak pun begitu. Banyak wanita Rohingya yang menanyakan jilbab..sebab tidak punya jilbab barang sehelai pun. Allah…

Yang sangat mengherankan, kenapa pada kebanyakan laki-laki rohingya dijumpai pada kepalanya luka berdarah seperti bekas pukulan, ada yang sudah infeksi, dan dijahit oleh petugas di pelabuhan, ada yang sampai muntah-muntah. Darimana itu luka? Petugas yang mau mendata, kesulitan komunikasi mau bertanya juga susah sebab mereka tak bisa bahasa Indonesia maupun Inggris. Paling banter bisanya bahasa isyarat ataupun melayu itupun tidak fasih, ataupun bisanya istilah umum seperti toilet dll.

Sekedar untuk menandai, sebab pengungsi dibagi dua: ada yang orang Rohingya ada yang orang Bangladesh, di bagian kaki pengungsi diberi tanda dengan cat seperti tanda nomor urut.

Sekitar pukul 16.00 masuk lagi rombongan pengungsi kapal kedua. Sehingga menggenapi jumlah mereka sekitar 741 orang ,ada juga yang mengatakan total 800-an orang.

Laporan: Sonia Ananda

(azmuttaqin/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan