Berita Dunia Islam Terdepan

Poin-poin penting untuk Syaikh Ath-Thurtusi dari tokoh Al-Qaeda terkait larangan bergabung dengan Jabhah Nushrah

122

Support Us

(Arrahmah.com) – Syaikh Abu Bashir Ath-Thurtusi telah berfatwa kepada kaum muslimin, terutama di Suriah, untuk tidak bergabung dengan Jabhah Nushrah. “Selama Jabhah Nushrah terkait dengan kelompok (hizb) atau jamaah Al-Qaeda, meyakini sebagai cabang Al-Qaeda di Syam, saya tidak menganjurkan atau membolehkan bergabung dengan mereka,” ungkapnya menjawab pertanyaan seperti diunggah di website resmi milik pribadinya.

Ulama kelahiran Lattakia itu menguatkan fatwanya tersebut dengan lima alasan:

  1. Bergabung dengan Al-Qaeda akan menimbulkan bahaya bagi Syam, mujahidin, revolusi dan keislaman mereka.
  2. Nama Al-Qaeda akan menjadi alat pembenaran bagi negara-negara dunia untuk mendukung Basyar melancarkan kejahatan terhadap rakyat Suriah, dengan alasan targetnya adalah Al-Qaeda.
  3. Revolusi Syam harus menanggung konsekuensi semua perbuatan Al-Qaeda sebelum dan yang akan datang, pada semua aspek, hukum maupun moral.
  4. Bergabung dengan Jabhah Nusrah (Al-Qaeda) itu akan menyempitkan dan menyusahkan Anda, katanya. Sebab dengan bergabung dengan Al-Qaeda, Anda akan langsung dimasukkan ke dalam jaringan teroris global dan menanggung semua perbuatan Al-Qaeda. “Anda akan menjadi buronan seluruh negara dunia, dikejar dari semua celah dan perbatasan. Anda pun terpaksa bersembunyi dan bekerja secara rahasia, berjalan di bawah tanah, bukan di atas bumi,” ungkapnya.
  5. Al-Qaeda hanya punya proyek konfrontasi, tidak memiliki proyek membangun negara dan perkotaan. Strateginya tidak pernah keluar dari fase konfrontasi. Itu karena kudeta lebih penting untuk perubahan daripada pembangunan. Maka tidak ada rencana apa pun dalam hal ini, setiap mereka mencoba di Irak dan Yaman, mereka gagal.

Di akhir fatwanya, Abu Bashir merekomendasikan agar bergabung dengan faksi mana saja dengan segala perbedaan dan namanya, selain Jabhah Nushrah. Meskipun demikian, Abu Bashir tidak melarang mereka bekerja sama dengan Jabhah Nushrah dalam konfrontasi dengan rezim Nushairiyah.

Abu-Bashir
Syaikh Abu Bashir Ath-Thurtusi

Fatwa tersebut mendapatkan reaksi dari banyak pihak, termasuk Dewan Syariah Jabhah Nushrah, Syaikh Abu Abdullah Asy-Syami. Ia menyebut fatwa itu menyakitkan; bagaimana seorang pendukung ahli tauhid mengeluarkan fatwa tidak boleh bergabung dengan sebagian ahli tauhid dalam jihad mereka melawan tirani Nushairiyah.

Abu Abdullah menyatakan bahwa Jabhah Nusrah telah bersabar atas penilaian buruk Bashir sejak lama dan berlapang dada atas hal tersebut. Namun, fatwanya kali ini dinilai kontradiktif dan tidak boleh didiamkan. Melalui tulisannya, Abu Abdullah mencoba berdialog dengan Abu Bashir agar fatwa itu tidak menimbulkan syubhat bagi banyak pihak.

Abu Abdullah memulai dengan menjelaskan bahwa manhaj ahlus sunnah memperbolehkan masalah khilaf yang bersifat ijtihadi. Ahlus Sunnah memberi keluasan satu sama lain untuk memilih, termasuk dalam masalah baiat untuk beramal.

Baiat Jabhah Nushrah kepada tanzhim Al-Qaeda, pada dasarnya bukanlah perkara yang wajib atau haram menurut syariat, melainkan perkara ijtihad dan pandangan terhadap maslahat dan mafsadat. Bila seseorang telah mengerahkan semua upayanya untuk mendalami masalah ini dan sampai pada keputusan untuk berbaiat kepada kelompok tertentu, jauh dari nafsu pribadi, maka ia pantas mengatakan, “Ini pendapat yang saya lihat paling kuat! Saya menghargai orang yang lain yang tidak setuju dengan pendapat saya. Saya berhusnuzhan kepada orang yang menolak pendapat saya.” Khususnya dalam perkara yang masuk dalam masalah penelitian atau ijtihad, jauh dari fanatisme kelompok atau jamaah.

Fatwa Syaikh Abu Bashir tersebut dikritisi oleh Dewan Syariah Jabhah Nushrah dalam delapan poin berikut.

Poin Pertama:

Penanya memulai kalimatnya dengan menyebut ISIS. Menurut Abu Abdullah, Abu Bashir mengawalinya dengan membedakan antara manhaj jamaah daulah dengan manhaj jamaah Jabhah Nushrah (cabang Al-Qaeda di Suriah). Agar orang yang membaca jawaban tersebut tidak berkesimpulan bahwa jamaah Daulah dan Jabhah Nushrah berada dalam satu wadah.

Poin Kedua:

Mengapa Abu Bashir tidak pernah mengingatkan atau mengeluarkan fatwa terkait faksi-faksi di lapangan yang bekerja sama dengan rezim dan Amerika? Abu Abdullah mempertanyakan, mengapa hanya Jabhah Nushrah yang disalahkan dengan alasan menimbulkan bahaya bagi revolusi Suriah. Bila kita boleh membiarkan orang yang melakukan kerusakan pada fase ini demi kemaslahatan untuk memerangi pemerintah, mengapa tidak membiarkan Jabhah Nushrah juga demi maslahat yang sama. Abu Abdullah menyesalkan tidak adanya pujian sama sekali kepada Jabhah Nusrah. Ia membandingkannya dengan pujian kepada kaum muslimin yang memerangi Tartar, dengan sebutan merekalah Thaifah Manshurah. Padahal kebanyakan mereka adalah orang-orang Asy’ariyah dan Sufiyah.

Poin Ketiga:

Menurut Abu Bashir, bukanlah Al-Qaeda yang menjadi sebab timbulnya bahaya dan lahirnya permusuhan dunia terhadap revolusi Suriah. Akan tetapi jihad memang amalan yang menyebabkan dunia akan melakukan invasi militer, terutama ketika amalan jihad ini sudah mendekati Tanah Suci, Al-Quds. Sama saja, dinamai Al-Qaeda ataupun selainnya. Kita bisa menyaksikan apa reaksi dunia dalam menyerang Hamas, padahal mereka bukan Al-Qaeda dan tidak bermanhaj seperti Al-Qaeda.

Tidak ada bedanya, risiko mengatasnamakan Al-Qaeda juga akan dirasakan oleh siapa pun yang berjihad. Mungkin ketika kita meninggalkan jihad pun, kita juga akan merasakan hasil yang serupa!

Semua tahu bahwa letak permasalahannya bukan ketika dinamakan Al-Qaeda atau bukan. Konsekuensi serupa juga akan dialami oleh siapa pun yang berjihad dengan lurus dan selalu bertentangan dengan keinginan musuh. Ini adalah perkara yang sudah cukup jelas dalam perperangan antara kebenaran dan kebatilan.

Dukungan orang-orang kafir kepada Basyar Assad bukan karena kami ini Al-Qaeda, melainkan karena kita berjihad dengan cara yang tidak diinginkan oleh barat dan tidak sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh mereka.

Rakyat Suriah telah dibantai sejak minggu pertama ketika awal terjadinya revolusi, sebelum Jabhah Nushrah mengumumkan diri sebagai cabang Al-Qaeda. Pembantaian Dar’a saat pertama revolusi, serta di Homs, Baidha dan Banias. Sistem global pun yang telah memberikan dukungan kepada Bashar Asad sebelum Jabhah Nusrah mengumumkan diri bergabung dengan Al-Qaeda.

Poin Keempat:

Pernyataan bahwa revolusi Syam harus menanggung konsekuensi semua perbuatan Al-Qaeda sebelum dan yang akan datang, pada semua aspek adalah pernyataan yang tidak benar. Orang yang membaca pernyataan ini akan berkesimpulan seakan-akan Al-Qaeda jelek semua. Jabhah Nushrah mengemban misi—tanpa merendahkan amalan kelompok lain—menghilangkan setiap problem yang diderita oleh penduduk Syam. Model peperangan yang kami lakukan terbukti telah menarik simpati penduduk Suriah. Bagi mereka, nama tidaklah penting, namun yang terpenting adalah aksi pembelaan dan pengorbanan yang ditunjukkan.

Al-Qaeda tidak ada masalah di mata penduduk Syam, bahkan mereka mencintai dan membela perjuangan mereka. Bukan rakyat Suriah yang tidak suka, melainkan hanya sebagian kelompok kecil, yang mengklaim bahwa penduduk Syam tidak menginginkan Al-Qaeda.

Poin kelima:

Jika afiliasi Jabhah Nushrah kepada Al-Qaeda akan mempersempit ruang gerak rakyat Suriah, maka demikianlah karakter jihad yang kami pahami dari penyataan para sahabat ketika mereka berbaiat kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam:

إن إخراجه اليوم مفارقة العرب كافة، وقتل خياركم، وأن تعضكم السيوف

“Sesungguhnya mengeluarkan beliau (Rasul SAW dari Mekkah) pada hari ini akan menyelisihi orang-orang Arab seluruhnya, menyebabkan terbunuhnya orang-orang terbaik kalian serta akan membuat kalian lebih mendahulukan pedang-pedang kalian (harus siap perang).” (HR Ahmad dan lainnya).

 

Mujahidin JN
Mujahidin JN

Abu Abdullah menambahkan, “Kami memahami bahwa orang yang berjihad akan mengalami kondisi seperti yang engkau sebutkan. Demikianlah keadaan para mujahidin. Dalam keadaan seperti ini kami memohon kepada Allah agar menempatkan kami bersama orang-orang yang sabar, dan menjadikan kami termasuk orang-orang telah disebutkan Allah:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.’ (As-Sajadah: 24)

Seluruh konsekuensi dalam jihad yang engkau sebutkan pasti akan dirasakan oleh siapa pun yang terjun dalam medan jihad, baik memakai nama Al-Qaeda maupun lainnya.

Adapun konsekuensi logis untuk bekerja secara rahasia, maka strategi seperti ini bukan saya yang memulainya. Orang yang lebih baik dari saya telah melakukannya. Ini adalah metode para nabi. Tentang Nabi Musa, misalnya, Allah ta’ala berfirman:

فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ

Musa keluar dari kota itu dengan rasa takut dan mengendap-endap.’ (Al-Qashash: 21).”

Rasul saw melakukan hijrah bersama sahabatnya berjalan secara rahasia, dan bersembunyi di dalam gua selama tiga hari. Sejarah ini diketahui oleh semua orang.

Semua itu adalah risiko yang kita diperoleh karena menjadi Mujahid, sekali pun tidak menjadi Al-Qaeda. Pejuang Al-Qassam dalam sejarah perjalanan memperlihatkan bagaimana mereka bekerja secara rahasia, dan risiko yang mereka alami ketika berjihad, padahal mereka bukan Al-Qaeda.

Sistem internasional yang ditanam oleh orang-orang Yahudi di Palestina itu sama dengan keinginan sistem internasional untuk rezim Nushairiyah di Syam. Sebagaimana tidak diperbolehkan menyakiti Yahudi di Palestina, rezim Suriah juga tidak boleh jatuh. Sebab keruntuhan rezim Suriah akan mengancam stabilitas sistem internasional dan Yahudi. Ini adalah perkara mendasar yang telah dipahami oleh orang kafir. Mereka membunuh dan menempatkan kita dalam daftar teroris atas dasar itu. Kita memerangi mereka atas dasar melawan sistem itu.

Poin Keenam:

Tentang Al-Qaeda hanya memiliki proyek konfrontasi, Abu Abdullah menyebut pernyataan ini bersumber dari kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang strategi Al-Qaeda dalam konfrontasinya, serta tahapan-tahapan dalam mendirikan negara. Al-Qaeda tidak bisa disebut gagal mendirikan negara, karena belum sampai tahap itu.

Strategi Al-Qaeda seperti dijelaskan oleh Syaikh Usamah bin Laden rahimahullah, bahwa fase ini belum saatnya membentuk negara. Ada tiga tahapan menuju ke sana: tahap nikayah (menghancurkan musuh), tahap tawazun (menstabilkan) dan tahap tamkin (kemenangan dan kekuasaan). Tahapan ini dijelaskan oleh Syaikh Usamah dalam risalahnya kepada Mujahidin Yaman dan Somalia, “Kita tidak akan mendirikan daulah sebelum taraf jihad dan atrisi kita terhadap musuh sampai pada tingkat seimbang (tawazun), sehingga upaya awal untuk menegakkannya bisa terwujud, kemudian yang kedua menjaga stabilitas agar tidak runtuh. Sebelum tahap itu terwujud, tidak ada pendirian daulah.”

Poin Ketujuh:

Abu Abdullah merasa aneh bila Abu Bashir merekomendasikan kaum muslimin untuk bergabung dengan faksi mana saja, tetapi tidak untuk Jabhah Nushrah. Mengapa orang dilarang bergabung Jabhah hanya karena berafiliasi kepada Al-Qaeda?

Semua faksi yang direkomendasikan didefinisikan oleh Abu Bashir sebagai seluruh jamaah jihad yang aktif di bumi Syam dengan berbagai nama dan perbedaan yang bersifat abstrak. Mereka semua adalah jamaah jihad yang benar dan siapa saja bisa bergabung maka ia mendapatkan pahala mujahid.

Abu Abdullah mempertanyakan, bagaimana dengan kelompok-kelompok yang bertempur untuk kepentingan rezim, apakah bergabung kepada mereka juga mendapatkan pahala mujahid? Abu Abdullah menunjukkan fakta bahwa bila Jabhah Nushrah menimbulkan bahaya, ada faksi-faksi di lapangan yang lebih berbahaya, seperti faksi yang masuk ke kendaraan Amerika Serikat, faksi-faksi yang menghadiri Jenewa 2, faksi yang mendukung langkah De Mistura (utusan khusus PBB untuk krisis Suriah), dan juga beberapa oknum yang bekerja sebagai intelijen Yordania.

Poin Kedelapan:

Abu Abdullah melihat bahwa fatwa itu menunjukkan kurangnya pengetahuan tentang realita di Syam, kurang dalam memahami musuh, dan kurang paham akan strategi Al-Qaidah dalam menghadapi musuh. Seharusnya seorang mufti itu tidak berfatwa sampai ia tahu akan hukum Allah dan mengetahui realita. Abu Abdullah tidak meragukan keilmuan Abu Bashir, namun beliau kurang dalam memahami realita. Hal inilah yang menjadikan fatwanya lemah. Fatwanya dinilai tidak berpengaruh bagi Jabhah Nusrah.

Di akhir tulisannya, Abu Abdullah berharap Abu Bashir menahan diri sampai di situ saja dan fokus kepada musuh bersama. Ia berharap semua ungkapan hatinya itu tidak dianggap sebagai sebuah penolakan atau kebencian terhadap pribadi Abu Bashir. Itu semua adalah keragaman berpikir yang wajar terjadi.

Sumber: kiblat.net

(siraaj/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan