Berita Dunia Islam Terdepan

Sebuah laporan mengungkapkan bahwa tentara "Israel" mengaku keren jika menembak warga Gaza

62

Support Us

GAZA (Arrahmah.com) – Sebuah kelompok veteran militer “Israel” merilis testimoni dari sekitar 60 tentara yang berperang di Gaza selama agresi militer “Israel” yang berlangusung pada Juli-Agustus tahun lalu, sebagaimana dilansir oleh CNN, Selasa (5/5/2015).

Dari testimoni tersebut terdapat beberapa petikan yang mencengangkan, diantaranya: dalam laporan tersebut ada seorang tentara “Israel” yang mengaku merasa keren jika menembak seseorang di Gaza. Tentara yang lain menggambarkan tentang kehidupan di bekas rumah warga Gaza sebelum diledakkan.

Tesimoni yang lain menyebutkan bahwa dua orang wanita disebut teroris hanya karena mereka tertembak. “Jadi tentu saja mereka adalah teroris,” ujar tentara itu. Para wanita itu ternyata hanya warga sipil tak bersenjata.

Laporan yang terdiri atas 240 halaman yang diterbitkan oleh kelompok veteran Breaking the Silence menguraikan berbagai taktik yang digunakan oleh tentara di kemiliteran “Israel” selama perang 50 hari itu. Penjajah zionis telah menewaskan lebih dari 2.100 warga Palestina, dan lebih dari 1.500 orang adalah warga sipil.

Menanggapi laporan itu, militer “Israelmerilis pernyataan pada Senin sore (4/5) yang mengatakan, berkomitmen untuk menyelidiki semua klaim kredibel yang diangkat melalui media, LSM dan keluhan resmi mengenai perilaku IDF (Israel Defense Force) selama operasi Protecive Edge.
Namun IDF juga mengatakan bahwa Breaking the Silence menolak untuk menyediakan bukti atas klaim-klaim ini.
Avihai Stollar, direktur riset untuk Breaking the Silence, mengatakan kepada CNN dalam sebuah wawancara bahwa wawancara itu dikumpulkan untuk menjelaskan mengapa banyak infrasttruktur yang telah hancur dan mengapa terjadi banyak warga sipil yang tewas selama pertempuran.

“Gagasan itu tidak untuk pembantaian massal… tapi komandan mereka berbohong kepada mereka dan berbohong kepada publik bahwa tidak ada warga sipil [tewas],” kata Stollar.

Di samping laporan tersebut, kelompok ini juga telah merilis video dari kesaksian para tentara “Israel”.

“Aturan selama operasi Protective Edge tak jelas. Tak ada yang terorganisir,” kata seorang tentara. Ia juga menambahkan bahwa ia dan resimennya diberitahu untuk menembaki apa pun yang tampak mencurigakan, “baik itu rumah yang sangat tinggi, atau kepala yang mengintip dari jendela, (dan) tentu saja jika Anda melihat orang yang berjalan keluar dari satu rumah dan ke rumah yang lain.”

Selama konflik, IDF selalu berdalih bahwa banyaknya korban sipil karena Hamas menggunakan warga sipil sebagai perisai, dan menyimpan senjata serta artileri di sekolah dan rumah sakit.

Stoller mengatakan bahwa “Israel” telah gagal untuk menyelidiki tindakan yang terjadi dalam perang Gaza tahun lalu.

Pada pertengahan Maret kami mengulurkan tangan meminta kepada kepala staf militer dan mengirim surat yang memintanya untuk bertemu segera untuk membahas kesaksian dari para tentara dan kami tidak pernah mendapat respon positif atau respon apapun tentang hal itu,” ungkap Stoller.

Selain itu, Breaking the Silence mendapatkan amanat dari masyarakat dan karena itu bertujuan untuk meningkatkan pertanyaan tentang perilaku militer terhadap masyarakat sipil. Sejarah menunjukkan bahwa militer tidak memiliki kemampuan atau kesediaan untuk mempertanyakan kebijakan dan peraturan sendiri dan itulah sebabnya kami percaya bahwa penyelidikan independen di “Israel” yang bisa membawa perubahan ini.

Lebih dari 20.000 rumah hancur dan ratusan ribu yang masih mengungsi, menurut laporan PBB.
Banyak bagian dari Gaza yang belum dibangun kembali akibat blokade ekonomiIsrael” di Gaza sejak tahun 2007.
(ameera/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah