Berita Dunia Islam Terdepan

Prof. Mansur Suryanegara: Film HOS Tjokroaminoto Sang Guru Bangsa, deislamisasi sejarah terselubung

238

Support Us

BANDUNG (Arrahmah.com) – Film HOS Tjokroaminoto Sang Guru Bangsa nampaknya mencederai sejarah perjuangan Muslimin Indonesia. Berbagai identitas Islam HOS Tjokroaminoto dihilangkan. Sebaliknya nilai-nilai liberal dan kemunisme disisipkan. Demikian yang Arrahmah tangkap dari Ulasan singkat Profesor Ahmad Mansur Suryanegara pada laman Facebook resminya, Senin (28/4/2015).

“HOS Tjokroaminoto sebagai Guru Bangsa diangkat dalam media informasi selalu bertentangan dengan fakta sejarahnya,” ujar Prof. Mansur.

Dalam film yang tayang perdana 11 April lalu itu HOS Tjokroaminoto digambarkan pada zamannya bukan dihormati sebagai “Ratu Adil,” malah diperlihatkan adegan masyarakat yang menyebutnya sebagai “Santri Piningit,” tambahnya.

“Dipujinya Samaoen oleh HOS Tjokroaminoto sebagai pemimpin yang cerdas. Diikuti pula Kereta yang orang PKI menyayikan lagu Internasionale,” menurut pakar sejarah besar Indonesia ini juga indikasi penyisipan paham komunisme. Alasannya, Samaoen justru merupakan salah satu murid Sang Guru Bangsa yang terpengaruhi Sneevliet, penanam virus komunis asal Belanda di Indonesia, yang kemudian menggurita menjadi PKI.

Sebaliknya lanjut Prof. Mansur, Sang Guru Bangsa sepertinya dalam film, tidak pernah mengucapkan Salaam dan tidak ada ucapan Inna lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, ketika Ibu Tjokroaminoto wafat. Itu merupakan deislamisasi terselubung.

Ditambah peran SM Kartosoewirjo sebagai Sekretaris Jenderal SI dihilangkan. Terkubur sudah penggagas Negara Islam Indonesia oleh penampilan Samaoen Darsono dan lainnya dari PKI.

Selain itu, pencuatan tokoh Bung Karno sebagai anak indekosan yang sedang belajar pidato semakin membungkam sejarah pejuang Jago Pemogokan Buruh (pionir perjuangan kaum buruh Indonesia, red). Ia lah Soerjopranoto dari Sjarikat Islam (SI), yang sayangnya tidak tertuturkan.

Lambang Bintang Bulan (Kartika Sasi) dan Lambang Banteng Sjarikat Islam

Secara terselubung, juga ada upaya pemutarbalikan fakta sejarah perjuangan Muslimin Indonesia dari sisi politik. Hal tersebut terlihat dari pelencengan lambang Bintang Bulan dan Lambang Banteng Sjarikat Islam.

Lambang Bintang Bulan atau Kartika Sasi sebenarnya diletakkan di atas dasar warna merah dan bintang bulannya berwarna putih. Warna itu lah yang digunakan oleh Sjarikat Islam di awal berdirinya, atau sejak masa awal Gerakan Nasional Indonesia.

“Tetapi mengapa dalam Film Sang Guru Bangsa, dasar lambangnya jadi hijau? Padahal pada masa Gerakan Nasional Sarekat Hijau, justru sebagai gerakan kontra atau yang melawan SI pimpinan Sang Guru Bangsa,” tekan Prof. Mansur.

Pencitraan demikian menurutnya, mengesankan Sjarikat Islam tidak pernah bicara tentang “Merah-Putih” dalam sejarah juang jihadnya. Sementara Lambang Banteng sebagai lambang Sjarikat Islam dicomot oleh kaum nasionalis.

“Terbaca sekarang lebih jadi milik Perserikatan Nasional Indonesia- PNI atau kini PDIP. Lambang Banteng pada Perisai Lambang Negara Pantjasila adalah Lambang Sjarikat Islam. Termasuk lambang Kapas dan Padi,” tegas Prof. Mansur.

Seharusnya para pembuat Film Sang Guru Bangsa mencermati bagaimana Gerbang Sjarikat Islam di Surabaya diangkat oleh Majalah Tempo. Itu “…benar benar mengibarkan warna sang Merah-Putih. Dan Banteng [pada SI] sebagai Lambang Semangat Kebangkitan Nasional,” tambahnya.

“Dan dalam fakta sejarah yang mempelopori pengguna istilah Nasional adalah CENTRAL SJARIKAT ISLAM dalam NATIONAL CONGRES CENTRAL SJARIKAT ISLAM 17- 24 Juni 1916 di Gedung Concordia atau GEDUNG MERDEKA sekarang di Bandung. Sementara, PNI baru menggunakan kata nasional 11 tahun kemudian (1927) di Bandung juga,” pungkasnya.

 

(adibahasan/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan