Berita Dunia Islam Terdepan

Iran: "Pahlawan" dunia Islam atau penjahat kemanusiaan? (1)

151

Support Us

JAKARTA (Arrahmah.com) – “Iran ‘pahlawan’ dunia Islam?” demikian barangkali pertanyaan yang disampaikan sebagian masyarakat Iran. Betapa tidak, negeri Persia yang tampil begitu “islami” itu ternyata menimbun segunung kisah kelam yang ditutupi pemerintahnya.

Revolusi Iran memang revolusi sosial, bukan militer. Tetapi perlu kita ketahui bahwa, pasca revolusi banyak terjadi pertumpahan darah dan masalah kemanusiaan. Korbannya bukan hanya masyarakat Sunni, tapi kebanyakannya justru dari kalangan syiah sendiri.

Pasca revolusi, Khomeini menerapkan konsep wilayatul faqih (pemerintahan mulah) di Iran. Tidak semua “Grand Ayatullah” -ulama besar syiah- setuju dengan penerapan konsep ini. Beberapa Ayatullah lainnya bahkan mengalami konflik denggan Khomeini karena perbedaan pandangan politik ataupun keagamaan. Banyak di antara mereka kemudian yang ditangkap, dikenai tahanan rumah, mengalami penyiksaan, atau dimarjinalkan.

Berikut Arrahmah paparkan beberapa tokoh Grand Ayatullah yang menjadi korban kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Pemerintahan Revolusi Iran di negerinya sendiri.

Ayatollah Mohammad Kazem Shariatmadari (kiri) dan Sayyed Mohammad Sadeq Ruhani (kanan)
Ayatollah Mohammad Kazem Shariatmadari (kiri) dan Sayyed Mohammad Sadeq Ruhani (kanan)

Ayatullah Mohammad Kazem Shariatmadari
Mohammad Kazem lebih senior daripada Khomeini. Sebelum dieksekusi rezim Shah Iran, ia sempat membantu Khomeini dengan mengakuinya sebagai Grand Ayatullah.
Pada masa Revolusi Iran ia berbeda pandangan dengan Khomeini, di antaranya dalam hal wilayatul faqih. Ia kemudian ditangkap pada tahun 1982 dengan tuduhan terlibat rencana pembunuhan Khomeini.

Karenanya, Mohammad Kazem disiksa di penjara, dan dipaksa mengakui perbuatannya di TV. Ia dikenai tahanan rumah sampai matinya pada tahun 1986.

Ayatullah Mohammad Taher Shubayr al-Khaqani
Mohammad Taher merupakan Grand Ayatullah dari wilayah Ahwaz yang penduduknya mayoritas Arab. Ia juga menolak penerapan wilayatul faqih oleh Khomeini dan menginginkan otonomi Ahwaz.

Rumahnya kemudian diserang oleh Pengawal Revolusi. Al-Khaqani ditangkap, dikirim ke Qom, dan dikenai tahanan rumah (house arrest) di sana.

Tak ada orang yang bisa menemuinya semasa menjadi tahanan rumah. Ia meninggal dalam keadaan misterius pada tahun 1986. Demikian menurut Said Amir Arjomand, editor The Rule of Law, Islam and Constitutional Politics in Egypt and Iran, pada halaman 81.

Sayyid Hassan Tabataba’i-Qomi dan lainnya
Sayyid Hassan merupakan Grand Ayatullah dari wilayah Masyhad. Ia banyak mengkritik penerapan wilayatul faqih oleh Khomeini.

Berdasarkan Arjomand, halaman 81-82, pada tahun 1984, ia ditangkap dan dikenai tahanan rumah. Ia tetap berada dalam status tahanan rumah sampai wafatnya pada tahun 1997.

Selain tiga Grand Ayatullah di atas, terdapat banyak tahanan rumah lain yang menjadi bukti kejahatan Iran. Sayyed Mohammad Sadeq Ruhani adalah salah satunya. Ia ditahan sejak tahun 1985 sampai 1997.

Bahkan, menurut laporan organisasi Muslim Inggris Real Islam, Sayyed Mohammad Husayni al-Shirazi diduga mati dibunuh rezim Ahamad Dinejad pada 2001. Banyak pengikutnya yang ditahan dan disiksa. Beberapa tahun kemudian, anaknya juga dikabarkan mati dalam keadaan mencurigakan.

Penyiksaan tahanan perempuan
Selain menyiksa dan membunuh para tahanan rumah dari kalangan Grand Ayatullah, rezim revolusi Iran juga menahan dan menyiksa kaum perempuan. Demikian tulis Alireza Jafazadeh dalam bukunya, The Iran Threat: President Ahmadinejad and the Coming Nuclear Crisis, halaman 17.

Alireza mengatakan bahwa demi menghentikan kekejaman rezim Ahmadinejad, ia memilih hijrah ke New York untuk bekerjasama dengan kelompok-kelompok HAM yang bersimpati kepada Mujahidin E Khalq dan kepada mereka yang berusaha mengadukan kekejaman itu ke Majelis Umum PBB. Kejahatan itu sebelumnya telah diterima dan diperhatikan Komisi HAM PBB dan akhirnya diperkarakan pada Desember 1985.
Alireza dan rekan-rekannya berupaya mengadakan konferensi pers di markas besar PBB untuk para wanita tahanan politik. Mereka dilaporkan telah melarikan diri dari penjara Iran dalam keadaan penuh luka bekas penyiksaan di sekujur tubuhnya. Robbana.

Alhamdulillah, para korban yang terluka dapat dipertemukan dengan banyak elemen misi PBB. Kisah-kisah tragis mereka membuat para delegasi negara bagian dan media tercengang ngeri. Bagi Alireza, saat itu resolusi melawan rezim kejam Iran berhasil satu langkah. [Bersambung]

(adibahasan/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan