Berita Dunia Islam Terdepan

Tausiyah Syaikh Al-Maqdisi kepada Mujahidin: "Manhaj Tentara Para Nabi"

102

Support Us

(Arrahmah.com) – Yayasan At-Tahaya merilis tausiyah Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi hafizhahullah berjudul “Manhaj Para Nabi”. Dalam tausiyah ini Syaikh Al-Maqdisi meyebutkan beberapa ayat yang sangat penting mengenai jihad.

Beliau menjelaskan bahwa pasukan muwahhid selamanya tidak akan mampu membunuh satu makhluk pun secara terencana dan sengaja meski itu hanya seekor serangga kecil layaknya semut-semut yang takut terinjak oleh tentara Nabi Sulaiman sedang mereka tidak mengetahui.

Beliau menegaskan bahwa pasukan muwahhid, yaitu pasukan yang mengikuti manhaj para nabi, tidak mungkin membunuh seorang muslim atau non muslim yang tidak boleh dibunuh secara sengaja.

Berikut terjemahan tausiyah Syaikh Al-Maqdisi tersebut, yang dipublikasikan oleh Muqawamah Media pada Jum’at (10/4/2015).

بسم الله الرحمن الرحيم

YAYASAN AT-TAHAYA

Mempersembahkan Tausiyah Berjudul :
نهج جيوش الانبياء
MANHAJ TENTARA PARA NABI
Oleh : Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). Dan Sesungguhnya Allah adalah Sebaik-baik pemberi rezki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (syurga) yang mereka menyukainya. dan Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.”[Al Hajj: 58-59]

Ayat ini adalah ayat agung yang memberikan kabar gembira kepada orang yang berhijrah di jalan Allah, ia tidak akan celaka meskipun ia meninggal dunia secara biasa ataupun dibunuh.

“…kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). Dan Sesungguhnya Allah adalah Sebaik-baik pemberi rezki. Sesungguhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat (syurga) yang mereka menyukainya. Dan Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.” [Al Hajj: 58-59]

Ayat ini selalu terlintas di pikiran saya setiap kali saya mengingat saudara-saudara yang berhijrah kemudian mereka terbunuh atau meninggal dunia setelah mereka berhijrah, semoga Allah memasukkan saudara kami Anwar Al Mukhtar ke dalam jajaran para syuhada’ yang mulia, dan mengumpulkan kami dengannya di surga Firdaus bersama seluruh sahabat yang telah mendahului kami, semoga Allah tidak menghalangi aliran ganjarannya kepada kita, tidak mendatangkan fitnah pasca kepergiannya, dan menjadikan akhir hayat kami seperti akhir hayat mereka.

Saya ingin meyebutkan beberapa ayat yang sangat penting mengenai jihad, ayat-ayat ini terletak di awal surat An Naml yang membahas kisah Nabi Shalih dan Nabi Sulaiman, Allah Ta’ala berfirman:

“dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” [An Naml: 17-18]

“Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) Perkataan semut itu. dan Dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku…”[An Naml: 19]

Saya pernah menuliskan komentar saya mengenai ayat ini di dalam sebuah tulisan, mungkin sebagian dari kalian sudah ada yang pernah membacanya, di sana saya mengajukan pertanyaan: Mengapa di dalam konteks seperti ini Sulaiman justru bersyukur kepada Rabbnya? Mengapa Sulaiman yang notabene seorang nabi besar bersyukur hanya karena beliau mendengar panggilan si semut?

Mari kita simak dan renungkan apa sebenarnya yang dikatakan oleh si semut. Tidak diragukan lagi bahwa nikmat Allah yang diberikan kepada Sulaiman itu sangat berlimpah, sehingga beliau wajib bersyukur dalam kondisi apapun, namun di dalam konteks ini ada satu hal yang penting, yaitu ketika Sulaiman mendengar ucapan si semut ia bersyukur kepada Allah, di balik ucapan si semut yang kecil itu sebenarnya tersimpan pujian terhadap pasukan muwahhid Nabi Sulaiman, sebuah pujian yang agung.

“..agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;” [An Naml: 18]

Dari sini kita bisa mengetahui bahwa pasukan muwahhid selamanya tidak akan mampu membunuh satu makhluk pun secara terencana dan sengaja meski itu hanya seekor serangga kecil layaknya si semut tadi, tidak mungkin. Si semut tidak akan bisa dibunuh oleh seorangpun yang tidak merasa berhak untuk membunuh, kecuali jika ia dibunuh secara tidak sengaja. Namun pasukan muwahhid, yaitu pasukan yang mengikuti manhaj para nabi tidak mungkin membunuh seorang muslim atau non muslim yang tidak boleh dibunuh secara sengaja.

Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahkan mengarahkan bahwa banyak dari kalangan non muslim yang tidak boleh di bunuh padahal mereka jelas orang kafir, seperti kaum wanita, anak-anak, balita, orang yang tidak memerangi kaum muslimin, dan yang sejenis mereka. Syariat sendiri mengajarkan kepada kita agar tidak membunuh orang-orang yang tidak menyerang atau memerangi kita, apalagi orang yang membantu kita, bahkan menolong dan menyokong kaum muslimin, walaupun sekedar ucapan, para ulama sendiri memberikan bab khusus yang membahas persoalan besar ini.

Dari ucapan si semut ini kita dapat mengetahui bahwa bukan merupakan kebiasaan pasukan ini untuk membunuh kecuali mahluk yang berhak di bunuh, adapun makhluk yang tidak boleh dibunuh bahkan hewan-hewan melata sekalipun tidak akan terkena mara bahaya darinya kecuali jika terjadi kesalahan,

“..agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”;” [An Naml: 18]

Dalam kondisi ini mungkin saja mereka mencelakakan, mungkin karena mereka tidak melihat kalian sedang berada di hadapan mereka sehingga mereka membunuh kalian secara tidak sengaja, namun mereka tidak mungkin membunuh sengaja tanpa alasan yang dibenarkan, meskipun itu hanya seekor semut, karena hal ini bukanlah kebiasaan pasukan yang mengikuti jejak para nabi, dan bukan pula kebiasaan pasukan muwahhid, kebiasaan itu tidak berhubungan sama sekali dengan kebiasaan para nabi.

Bahkan pernah ada seorang nabi yang tidur di bawah pohon kemudian ia digigit oleh seekor semut, lalu ia memerintahkan agar sarang semut itu dibakar, maka Allah pun mencelanya, apakah ketika seekor semut menggigitmu lantas seluruh koloninya engkau bakar? Hal ini pernah disebutkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di dalam sebuah hadits.

Jadi yang benar adalah para mujahidin tidak boleh mencelakakan apapun dengan membunuh secara sengaja, walau itu hewan melata sekalipun. Konteks ayat ini juga menunjukkan bahwa petunjuk dan peringatan adalah hal-hal yang patut disyukuri, karenanya ketika mendengar ucapan semut tadi, Sulaiman berkata:

“…Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku…” [An Naml: 19]

Jadi ini adalah hal yang patut disyukuri, yang wajib disyukuri itu adalah hal yang disenangi oleh manusia, karena syukur itu sendiri adalah respon atas bertambahnya kebaikan,

“..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu…” [Ibrahim: 7]

Jadi engkau akan bersyukur kepada Allah jika engkau mendapatkan sesuatu yang penting, sesuatu yang engkau nanti-nantikan, sesuatu yang engkau cari-cari, dan sesuatu yang engkau rindukan, Nabi Sulaiman sendiri bersyukur kepada Allah atas kelebihan yang ada pada pasukannnya.

Jadi ini adalah hal yang harus disyukuri oleh para mujahidin, hal yang harus disyukuri oleh orang-orang yang beriman, pedang dan senapan mereka bebas dari menumpahkan darah kaum muslimin, bahkan darah kaum non muslim yang tidak memerangi mereka dan memusuhi mereka sekalipun, atau justru kaum non muslim membantu mereka.

Kita perlu mengingatkan persoalan-persoalan semacam ini, jangan tanya mengapa, karena kalian sudah tahu mengapa. Kita tahu apa yang terjadi di medan perang sana, kita melihat permainan yang ada di sana, kita menyaksikan pelecehan terhadap agama dan jihad di sana, namun masih ada banyak orang yang menyepelekan kami dan menganggap bahwa bukan kapasitas kami untuk membahas persoalan ini.

Kami telah banyak memperingatkan dan menyoroti kesalahan-kesalahan mujahidin dan penyimpangan dari pedoman jihad yang lurus, maka kami katakan bahwa memberi peringatan ini adalah kewajiban kita dan kewajiban setiap orang yang berbicara seputar agama Allah, karena kami telah berjanji kepada Allah untuk menjelaskan segalanya dan tidak menutupi kebenaran, meskipun semua orang menghujat kami dan menfitnah kami dengan segala fitnahan.

Ini adalah amanah yang harus kami pikul, menyatakan kebenaran dan tidak takut terhadap celaan, karenanya ketika Allah mewajibkan kepada kami untuk membicarakan sesuatu yang menyebabkan penguasa marah, kami katakan tanpa ragu sehingga kami dipenjarakan. Kalian semua tentu masih ingat dengan pernyataan yang baru saja kami keluarkan, namun ada banyak orang dan pendengki yang lupa atau pura-pura lupa.

Kami katakan, kami tidak peduli terhadap apresiasi mereka, pujian mereka, kecaman mereka, dan laknat mereka, segala yang kami pedulikan adalah ridha Allah, keridhaan dari Rabb, menunaikan amanah yang dibebankan kepada kami, menjaga manhaj ini dari penyimpangan, mengingatkan para mujahidin dan da’i yang ikhlas untuk menjalankan tugas mereka, yaitu menjaga manhaj ini.

Kami memohon semoga Allah menolong hamba-hamban-Nya para mujahidin, menepatkan tembakan mereka, menyatukan hati mereka, menyatukan barisan mereka dan memenangkan mereka atas musuh-musuh mereka, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau.

(banan/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Iklan