Berita Dunia Islam Terdepan

Ada apa, mengapa wanita syiah bebas adakan seminar internasional di UIN Makassar?

195

Support Us

MAKASSAR (Arrahmah.com) – Nampaknya wanita syiah telah gencar memanfaatkan momen bulan April ini sebagai propaganda terhadap Muslimah Indonesia. Diam-diam mereka mengadakan seminar internasional bertema “perempuan, masyarakat dan politik internasional” pada hari ini, Kamis (9/4/2015). Demikian tema yang tertulis pada undangan yang diterima sumber Arrahmah pada Rabu (8/4).

Acara yang diadakan di UIN Alauddin Makassar tersebut rencananya menghadirkan 2 tokoh wanita syiah. Dari Iran, sengaja diimport tokoh intelektual wanita syiah, Fariba Alasvand. Sementara dari Indonesia diwakili Dina Y. Sulaeman, yang sempat menuliskan sebuah surat terbuka kepada Ustadz Arifin Ilham pasca tragedi penyerangan Kompleks Az Zikra oleh kelompok syiah.

Fariba Alasvand adalah seorang profesor universitas dan anggota Kantor Kajian Wanita Iran yang mempopulerkan pemahaman sesat “feminisme Islam”. Paham ini menyesatkan, sebab prinsip-prinsip yang dia terapkan berdasrkan pada prinsip yang tidak Islami sama sekali, sebagaimana dilansir Raihaneh News sejak Juni 2013 lalu.

Fariba berpendapat bahwa feminisme Islam mengusung jatidiri wanita sebagai mahluk yang eksotis dan “dicitrakan” tidak Islami, bahkan sangat membeo stereotipe wanita ala barat. Tentu saja, hal tersebut juga menyangkut kritikannya mengenai kesetaraan gender dan ketidakadilan Islam terhadap kaum wanita dalam syari’atnya. Astaghfirullah.

Yang menjadi polemik disini, mengapa pihak UIN Makassar meloloskan acara seperti itu? Bahkan seminar ini diplot skala internasional, yang menghadirkan wanita yang menghujat syari’at Islam terkait kaum wanita sebagai pembicaranya.

Sebelumnya, untuk memperkenalkan Prof. Dr. Fariba Alasvand, sebagai perwakilan pusat study perempuan hauzah ilmiah Qum, diselenggarakan pula seminar bertajuk “Perempuan dan persatuan menyongsong masa depan”. Acara tersebut dilaksanakan di gedung rektorat lt. IV UIN Alauddin Makassar, Rabu (8/4) sejak pukul 08.30 hingga 14.00 WIB.

Apakah UIN Makassar sedemikian kecolongan atau pihak syiah sudah sangat bercokol disana? Tidakkah UIN Makassar merasa bertanggung jawab atas tercuciotaknya Muslimah Makassar yang turut dalam acara tersebut karena tidak mengetahui bahwa pembicara yang diundang adalah seorang penghina syari’at Allah subhanahu wata’ala?

Berdasarkan testimoni salah seorang peserta (dengan syarat anonimitas) dari satu rangkaian acara wanita syiah, kemarin (8/4), ia bahkan tidak mengenal siapa yang ada di hadapannya. Ia hanya merasa termotivasi bahwa ia harus cross-check diri tentang ke-qona’ahan-nya, sesuai pembahasan Fariba Alasavand bahwa,

Salah satu definisi qona’ah menurut Prof. Dr. Fariba Alasvand adalah tetap aktif berdakwah dan melakukan aktivitas-aktivitas kemanusiaan tanpa terpenjara faktor usia. Mereka yang dapat keluar dari jerat materi, dan mampu melakukan banyak hal dalam “keterbatasan” materi. Pun bagi mereka yang selalu merasa cukup dan syukur pada apa yang dimilikinya.
Karena ini seminar perempuan, sudah pasti definisi di atas mengerucut pada kaum hawa… Cayooo… ayo cross cek diri!!!

Testimoni di atas juga mengisyaratkan bahwa acara itu telah didahului sebuah seminar sehari bertajuk senada yang telah dihadiri Fariba kemarin, Rabu (8/4). Hal tersebut membuktikan bahwa kegiatan ini dirancang secara berkesinambungan. Tidak hanya di Makassar, propaganda wanita syiah berkedok seminar ini mungkin juga diselenggarakan di kota lain. Na’udzubillah.

Namun demikian, di balik pemikiran Fariba Alasvand, banyak pihak Sunni yang mewaspadainya, sebagaimana dia diwaspadai banyak pihak Iran karena menciptakan agensi tandingan dari Pusat Kewanitaan dan Partisipasi(nya) yang didirikan Presiden reformis pertama Iran, Khatami. Saat itu, Khatami ditandingi Fariba yang konservatif karena dianggap gagal merealisasikan janjinya yang akan meningkatkan status wanita dan menanggapi permintaan generasi muda Iran.

Saat berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi dari pihak UIN Alauddin Makassar apakah hanya berperan sebagai pihak yang berketempatan atau langsung sebagai penyelenggara kegiatan. Wallahua’lam bish-showwab. (adibahasan/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah