Berita Dunia Islam Terdepan

CNN Indonesia wawancara Muhammad Jibriel: Aparat jangan lihat kami sebagai momok

159

Support Us

JAKARTA (Arrahmah.com) – Pasca Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) menginstruksikan Kemeneterian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) memblokir 22 situs media Islam diblokir pemerintah, pendapat pro dan kontra langsung bermunculan. Terkait pemblokiran ini, CNN Indonesia mewawancarai Muhammad Jibriel Abdul Rahman pemilik media Arrahmah pada Selasa (31/3/2015).

Bagaimana reaksi terhadap pemblokiran situs anda?
Kami menilai pemblokiran ini tak wajar. Ada nuansa ketakutan terhadap Islam dan perkembangan medianya. Padahal selama ini, situs Arrahmah yang saya dirikan selalu transparan dan terbuka untuk diperdebatkan. Bahkan, sejak berdiri 10 tahun silam.

Kami akui memang Arrahmah menulis soal isu yang berbau jihad, namun perlu digaris bawahi semuanya itu belum tentu berkaitan dengan ISIS. Jadi, apabila pertimbangannya adalah penyebaran kebencian dan kekerasan, kami menilai itu hal yang berlebihan.

Lantas apa rencana ke depan?
Kami akan lawan, tapi tentunya menggunakan jalan yang baik, hukum misalnya. Tapi saya percaya ada titik temu untuk permasalahan ini. Sebab tak sembarangan menuduh orang radikal, perlu dasar.

Soal pemblokiran, berapa kali Arrahmah diblokir?
Untuk urusan diretas mungkin jutaan kali sudah kami rasakan. Diperingati bahkan oleh pihak internasional pun pernah sepanjang sepuluh tahun kami berdiri, tapi kalau benar-benar tak bisa diakses secara resmi baru kali ini. Anehnya, jika memang Arrahmah ini terlarang seharusnya sudah ditutup pada saat saya ditangkap dan ditahan dulu. Tapi ternyata tidak.

Kami sadar memang Arrahmah selalu menjadi target jika kembali menghangat isu radikalisme. Tapi Jangan melihat kami sebagai momok.

Apa yang anda lakukan jika opsi pemblokiran ini tak bisa ditawar?
Saya rasa tak semua orang harus selalu berurat tegang. Semua bisa dibicarakan. Saya yakin semua media Islam juga punya standar independensi yang tinggi, kami siap berdialog asal tak menjual agama.

Saya sadar bahasa Arrahmah dulu memang agak keras, tapi seiring waktu kami juga dewasa dan tak lagi emosional.

Anda mengelola situs secara profesional?
Situs Arrahmah Agustus ini berusia 10 tahun. Jurnalis kami berjumlah 10 orang dan ditambah beberapa kontributor. Kami profesional.

Dari mana uang operasional?
Uang operasional berasal dari saya sebagai pemilik ditambahi beberapa donatur.

Kapan disadari situs anda tak bisa diakses?
Kemarin dari beberapa daerah sudah melakukan pelaporan tak bisa diakses. Sebagian Jakarta masih bisa. Tapi hari ini, Selasa (31/3), sudah tak bisa.

(adibahasan/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah