Berita Dunia Islam Terdepan

Dialog Syaikh Muhaisini dengan pengikut ISIS

21

(Arrahmah.com) – Sebuah dialog antara Syaikh Abdullah Al-Muhaisini dengan jamaah Daulah Islamiyah, atau kelompok Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS, dalam sebuah grup di Telegram memuat kesaksian Syaikh mengenai awal pertikaian yang terjadi antara Jamaah Daulah dengan jamaah-jamaah jihad lain.

Dalam dialog ini, Syaikh Muhaisini juga menjabarkan sikap Daulah yang meremehkan urusan nyawa. Beliau bahkan menegaskan bahwa apa yang beliau tuturkan adalah apa yang beliau alami dan saksikan, bukan apa yang beliau dengar.

Syaikh Muhaisini pun bersyukur kepada Allah karena telah memberikan kesempatan kepadanya untuk membuat kesaksian yang benar. Berikut terjemahan lengkap dialog tersebut, yang dipublikasikan oleh Muqawamah Media pada Rabu (25/3/2015).

DIALOG ANTARA SYAIKH MUHAISINI DENGAN JAMAAH DAULAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Saudaraku pencari kebenaran, tak peduli apakah engkau anggota Daulah atau pendukungnya. Berikut ini adalah dialog nyata yang terjadi antara Syaikh Doktor Abdullah Al Muhaisini dengan sebuah grup di Telegram. Di dalam dialog tersebut beliau mengungkap sebuah kesaksian yang sangat penting mengenai awal mula peristiwa saling perang yang terjadi di Syam antara Jamaah Daulah dengan jamaah-jamaah jihad lain. Silahkan simak dengan hati terbuka, maka Anda akan menyadari siapa sebenarnya yang membangkang.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh, semoga Allah memberkahi para ikhwah sekalian, baik yang pro maupun yang kontra terhadap saya.

Admin: Semoga Allah memberkatimu wahai Syaikh.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Kami minta maaf, barusan listrik padam sehingga kami terlambat

Admin: Tidak masalah, kami telah menanti Anda

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Wahai saudara-saudara, saya telah menyaksikan kejadian-kejadian di Syam yang akan Allah catat, dan saya akan ditanya tentangnya.

Apakah ada pertanyaan seputar hal ini atau kita langsung masuk ke topik pembahasan saya?

Admin: Mungkin lebih baik jika Anda menuliskan poin-poinnya, sehingga kami dapat memahami dengan lebih jelas, terima kasih.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Topik pembahasan kita mengenai Daulah adalah sebagai berikut ini:

  1. Ketidakberesannya dalam pelantikan kekhilafahan
  2. Terlalu meremehkan dalam urusan nyawa
  3. Mengkafirkan kaum muslimin dengan dasar yang tidak jelas
  4. Hobi membangkang

Adapun mengenai kekhilafahan mereka, maka saya rasa tidak perlu lagi ada kesaksian tambahan, karena faktanya sudah sangat terungkap di permukaan.

Adapun mengenai sikap mereka yang meremehkan dalam urusan nyawa, maka saya ingin menuturkan apa yang saya saksikan dari kejadian-kejadian berikut ini:

  1. Peristiwa Darkush
  2. Peristiwa Kafr Naha
  3. Peristiwa Liwa’ Tauhid
  4. Peristiwa Urum
  5. Dan lain-lain

Peserta Grup: Syaikh, mungkin Anda bisa merinci semuanya..

Peserta Grup: Syaikh kami yang terhormat, apakah pernah ketika Anda mengurusi sebuah kasus tertentu, kemudian para ikhwah di Daulah menolak proses pemutusan perkara yang sesuai dengan hukum Allah?

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Ada banyak, saya akan menyebutnya secara rinci.

Admin: Tunggu, biarkan beliau (Syaikh Al Muhaisini – red.) menyelesaikan apa yang beliau mulai.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Apakah kita akan mulai membahas isu meremehkan urusan nyawa atau isu membangkang terlebih dahulu?

Admin: Terserah Anda

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Kalau begitu mari kita mulai membahas isu meremehkan urusan nyawa, karena dosanya paling dahsyat di sisi Allah. Saya akan menuturkan apa yang saya alami, bukan yang saya dengar.

Pertama, peristiwa Darkush.

Ketika itu saya sedang berada di As Sahil bersama Abu Ayman Al Iraqi, amir Daulah di wilayah itu, kemudian saya menasehati dia agar tidak menggunakan bom-bom mobil atau peledak karena akan membuat perselisihan ini bertambah runyam, lalu ia menjawab: “Hari ini kami mengirimkan bom mobil ke Darkush, saat itu adalah hari Kamis, dan yang mengontrol wilayah Darkush adalah FSA dari faksi kiri.

Maka saya pun berangkat ke Darkush, namun sesampainya di sana, peristiwa itu sudah terjadi beberapa jam yang lalu, maka saya pun dihadang oleh pasukan FSA dan mereka menangkap saya, saya bersumpah kepada mereka bahwa saya tidak berpihak ke kubu manapun yang terlibat konflik, maka saya pun melanjutkan perjalanan ke arah TKP, sesampainya di sana saya melihat tulang-belulang dan daging si pelaku operasi itu tercerai berai di sana, dan saya terkejut ketika melihat TKP itu! Karena di situ bukanlah markas yang seharusnya menjadi target, ternyata si pelaku meledakkan mobilnya di samping kantor penyedia air bersih yang letaknya 200 meter sebelum sampai ke tempat pemeriksaan FSA, dan ia hanya membunuh dirinya sendiri.

Saat itu ada yang mengatakan bahwa salah seorang penjaga kantor penyimpanan air bersih itu ada yang terbunuh, namun setelah saya memberikan kesaksian dan membeberkan kesaksian itu, saya mendapat kabar bahwa si penjaga itu tidak meninggal dunia namun mengalami luka-luka berat, sampai sekarang ia masih hidup dan tinggal di ‘Azmarin.

Namun sayangnya, Daulah membuat manipulasi yang bertentangan dengan pernyataan hamba Allah yang lemah ini (Syaikh Al Muhaisini – red.), mereka mendatangi sebuah TKP peledakan yang letaknya tidak jauh dari TKP peledakan yang mereka lakukan, TKP peledakan yang mereka datangi adalah peledakan yang dilakukan oleh pihak rezim dengan menggunakan mobil yang terpakir. Kemudian mereka bertanya kepada warga siapa yang melakukan aksi peledakan ini, maka warga menjawab bahwa itu adalah perbuatan rezim, jadi mereka ingin menyamarkan aksi mereka dengan aksi peledakan yang dilakukan oleh rezim. Kemudian mereka mengatakan bahwa “Al Muhaisini telah bercakap dusta mengenai kami.”!

Kedua: peristiwa lain

Mereka mengirimkan 3 mobil peledak dan diparkirkan di markas Sekolah Infanteri, yang dua diparkir di luar sekolah itu, sedangkan yang ketiga diarahkan ke Urum untuk menargetkan pos milik Brigade Nuruddin Zanki, dalam aksi itu seorang remaja berumur 17 tahun menjadi korban tewas, padahal ia tidak ada keterkaitan sama sekali dengan konflik ini.

Melihat hal itu saya pun mendatangi Al Anbari, orang kedua di Daulah, saya katakan kepadanya: “Ya Syaikh, fahamilah medan perang ini dengan benar, takutlah kepada Allah dalam urusan umat Muhammad.” Ia pun menjawab:

“Kami telah berpengalaman dalam berperang.” Maka saya timpali:

“Kalian memang ahli dalam strategi berperang, namun kami sebagai penuntut ilmu adalah orang yang memiliki wewenang untuk berfatwa! Peledakan-peledakan seperti ini tidak diperbolehkan, karena korbannya adalah rakyat sipil!” Saya pun menyebutkan fakta-fakta yang sebelumnya telah saya saksikan sendiri. Namun ia memberikan jawaban yang akan menggetarkan sebuah gunung:

“Peledakan-peledakan seperti itu mungkin memakan korban 20 jiwa, namun semua orang akan merasakan efek jeranya.”!! Saya pun berkata:

“Para anggotamu hanya membunuh diri mereka saja, tidak ada yang menjadi korban kecuali dirinya, bahkan orang-orang yang mereka anggap murtad pun tidak ada yang tewas.” ia berkata lagi: “Sudah cukup!”

Dan ketika perbincangan ini sudah mulai memanas, saya pun berkata:

“Wahai Syaikh, selamatkan orang-orang yang mengikutimu, merujuklah kepada mahkamah yang berhukum kepada Syariat Allah, karena para ikhwah itu akan terbunuh.” Namun ia menjawab:

“Mereka memang datang untuk mati.”!!

Ketiga:

Ada seorang lelaki yang memberhentikan saya di tengah jalan, badannya gemetaran, maka saya bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu?” Ia menjawab:

“Pos pemeriksaan Daulah yang di sebelah sana baru saja membunuh seorang supir di depan mataku.” Maka saya pun mendatangi pos itu, di sana ada seorang pemuda yang masih belia, saya pun bertanya kepadanya:

“Apakah engkau baru saja membunuh seorang supir?” Ia menjawab:

“Iya.” Maka saya pun bertanya kepadanya apa sebabnya, ia pun menjawab:

“Mobil itu melewati pos, maka saya menghentikannya dan bertanya kepada sang supir dari mana asalnya, ia menjawab bahwa ia berasal dari Atarib dari faksi pejuang ini, saya pun memintanya untuk turun dari mobil namun ia menolak, saya pun mundur ke belakang dan memberondongnya dengan senapan saya.”!

Saya pun mencatat namanya dan melaporkannya kepada Al Anbari, dengan serta-merta ia marah, sampai-sampai ia tidak bisa berkata-kata! Saya katakan kepada Al Anbari:

“Wahai Syaikh, ketika saya di Saudi saya selalu membela kalian, dan informasi mengenai kalian seringkali dipelintir oleh media massa, jadi alangkah baiknya jika kalian mengeluarkan pernyataan yang membantah semua operasi peledakan yang memang tidak kalian lakukan.” Ia pun marah dan berkata:

“Kami lebih tahu apa yang harus kami konfirmasikan kebenarannya dan apa yang harus kami bantah.”!

Semua yang telah kami ceritakan di atas bukan apa yang saya dengar dari orang lain, melainkan apa yang saya alami dan saya saksikan sendiri.

Semua yang telah kami ceritakan di atas adalah contoh mudah dari apa yang saya saksikan berkenaan dengan sikap mereka yang meremehkan persoalan darah kaum muslimin, namun bagi saya sebagai penengah, saya merasa ini adalah hal yang besar, bagaimana tidak, sedangkan saya pernah membaca sebuah hadits dari Nabi ﷺ:

مَنْ أَعَانَ عَلَى قَتْلِ مُسلمٍ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ جاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ آيِسٌ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ

“Barangsiapa membantu untuk membunuh seorang muslim walau dengan setengah patah kata niscaya ia akan menghadap Allah Ta’ala pada hari kiamat sementara di antara kedua matanya terdapat tulisan berbunyi ‘orang yang putus asa dari rahmat Allah’.” [HR. Ibnu Majah no. 2620 dan Al-Baihaqi no. 15865, hadits lemah]

Apakah ada pertanyaan dari apa yang telah kami sampaikan di atas?

Peserta Grup: Wahai Syaikh Abdullah, apakah anda siap ber-mubahalah dengan mempertaruhkan apa yang Anda katakan barusan?

Peserta Grup Pro Daulah: Jawablah wahai Abdullah, setelah ini kita akan menyaksikan sama-sama siapakah yang tidak terkena laknat.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Iya saya siap ber-mubahalah!

Peserta Grup: Wahai Syaikh, orang-orang Daulah mengatakan bahwa tangan Anda berlumuran dengan darah para muhajirin, dan Anda telah membaiat Abdullah bin Abdul Aziz (mendiang raja Arab Saudi – red.), apakah tudingan ini benar?

Peserta Grup Pro Daulah: Mari ber-mubahalah wahai Syaikh, jawablah wahai Syaikh, ke mana si Syaikh pergi?!

Peserta Grup Pro Daulah: Jadi yang benar bukan perkataan Anda, jika tidak kenapa Anda tidak mau ber-mubahalah? Kami ingin kejelasan mengenai urusan Daulah ini, karena kami telah berbaiat kepada Daulah.

Peserta Grup Pro Daulah: Jika memang Al Muhaisini adalah Syaikh dan panutan kalian, berarti saya mendapat kehormatan karena diberi kesempatan untuk bergabung ke dalam grup ini, saya ingin menasehati seluruh pendukung Daulah yang ada di grup ini, hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah dan tidak mengkhianati darah saudara-saudara mereka dari kalangan muhajirin yang terbunuh karena si Al Muhaisini ini, kalian juga jangan sampai memiliki keterkaitan apapun dengan orang yang suka membuat kesaksian palsu dan membaiat sang thaghut Abdullah bin Abdul Aziz ini!

Peserta Grup Pro Daulah: Kami menuntut mubahalah, jangan biarkan kami bertanya-tanya seperti ini.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Iya, saya siap ber-mubahalah dengan mempertaruhkan setiap huruf yang telah saya katakan di atas.

Ok, mari kita mulai, pertama siapa yang akan menjadi lawan mubahalah? Kemudian apakah acuan yang menjadi dasar mubahalah ini? Dan yang terakhir mubahalah ini harus disebar luaskan di Twitter. Semoga ini dapat memberikan manfaat dan semoga Allah memberikan laknat, adzab dan kemurkaan-Nya kepada pihak yang berdusta di antara kita.

Saya mulai mubahalah ini dengan saksi 116 orang islam yang ada di grup ini, namun dengan syarat isi mubahalah ini harus disebar luaskan.

Pro Daulah: Yang akan dipertaruhkan dalam mubahalah ini adalah (Anda mengatakan) bahwa Daulah adalah kaum khawarij anak cucu Ibnu Muljim serta kaum Haruriyyah yang suka menghalalkan darah!!!

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Saya tidak mengatakan seperti itu wahai Haidarah, semoga Allah mengampuni diri saya dan Anda.

Yang saya pertaruhkan adalah setiap huruf yang saya telah saya katakan dalam kesaksian saya di atas dan mengenai kasus peledakan di Darkush yang kalian telah menuding saya berdusta akan kesaksian saya mengenai kasus Darkush itu, dan saya meminta agar laknat Allah ditimpakan kepada siapa yang berdusta di antara kita. Sekarang Anda mau bilang apa?

Peserta Grup: Wahai Haidarah (pendukung Daulah), mengapa kata-katamu beda dengan realita? Anda telah mengubah kata-katamu wahai Haidarah, apakah Anda jadi ber-mubahalah?

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Bahkan saya akan menambahkan kesaksian saya, yaitu Daulah tidak menerima tawaran pemutusan perkara melalui mahkamah, dan saya siap mempertaruhkan kesaksian ini di dalam mubahalah!

Pro Daulah: Anda harus mempertaruhkan bahwa Daulah menghalalkan nyawa yang terlarang dan Anda tidak menolong mereka dalam melaksanakan aksi mereka, selain itu mereka juga adalah anak cucu Ibnu Muljim, jangan berkelit dan bermanuver.

Peserta Grup: Andalah yang berkelit dan bermanuver wahai Karrar.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Siapa yang tadi malam mengajak saya ber-mubahalah atas apa yang telah saya sebutkan sebelumnya?

Sekarang saya justru akan menyebutkan seluruh upaya saya selama 6 bulan untuk membujuk Al Anbari agar tunduk kepada mahkamah, dan saya siap mendapat laknat Allah jika saya termasuk orang yang berdusta.

Peserta Grup: Mari kita semua persilahkan Syaikh melengkapi perkataannya.

Peserta Grup: Perkataan Syaikh sudah jelas dan tidak ada unsur manuver.

Peserta Grup: Wahai Haidarah, mengapa perkataanmu berbeda-beda? Ternyata memang begini kebiasaan kalian, melarikan diri dari pembicaraan.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Saya akan melengkapi kesaksian ini, setelah itu saya akan ber-mubahalah atas semua yang saya tulis di sini. Apa yang saya katakan di sini adalah berdasarkan apa yang saya saksikan sendiri, dan saya meminta kalian berjanji untuk tidak mengeluarkan seorang pun yang menentang saya dari grup ini.

Pro Daulah: Jadi Anda menganggap kami sebagai aliran sesat?!

Peserta Grup: Wahai Syaikh, para pendukung Daulah menuding bahwa tangan Anda berlumuran darah para muhajirin dan Anda telah berbaiat kepada Abdullah bin Abdul Aziz, apakah tudingan ini benar?

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Adapun mengenai baiat yang telah saya berikan, maka saya akan menjawab:

Saya telah mengatakan dan saya juga mencantumkan sebuah link pernyataan di akun saya yang menerangkan bahwa saya tidak berbaiat kemanapun, dan saya berlepas diri dari Tweet (akun beliau telah diretas – red.) yang ada di akun saya, saya juga selalu menyatakan berulang kali bahkan menegaskannya melalui tulisan di info profil akun Twitter saya yang sampai sekarang masih ada.

Saya ingatkan bahwa saya berlepas diri dari Tweet itu, saya tidak pernah menuliskan hal semacam itu. Pada awalnya memang akun saya dikelola oleh sebagian murid saya, saya memang menyuruh mereka agar berbicara seputar liberalisme dan membantah ideologi itu dengan mengatasnamakan akun saya.

Jadi dengan ini saya menyatakan berlepas diri dari Tweet-tweet yang bukan tulisan saya, dan hanya Allah Yang Tahu!

Bukankah dahulu para komandan Daulah ada yang menjadi orang murtad dan ada yang menjadi perwira pasukan di kemiliteran rezim Ba’ts?! Lalu mereka bertaubat dan kami tidak pernah menuduh mereka dan menuding mereka dengan status mereka yang dahulu.

Ini adalah jawabanku terhadap tudingan bahwa saya telah berbaiat kepada pihak tertentu.

Pro Daulah: Saya katakan, cukuplah Allah yang akan menyingkap borokmu wahai tukang berkelit dan bermanuver.

Pro Daulah: Demi Allah sebenarnya saya menghormati Anda, namun Anda selalu bermain-main, berkelit dan bermanuver.

Peserta Grup: Kami menyaksikan bahwa Anda telah berlepas diri dari Tweet tersebut.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Wahai Haidarah, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang saya inginkan kecuali agar ketika kalian berjumpa dengan Allah, kalian tidak terbebani dengan dosa membunuh kaum muslimin, saya bersumpah dengan nama Allah bahwa saya senantiasa mendoakan yang baik-baik bagi kalian, bahkan tadi malam di saat pertempuran Nubul dan Az Zahra’, ada seorang ikhwah yang mendatangi saya dan berkata:

“Wahai Syaikh barusan saya menghadapi pertempuran selama beberapa menit, dahulu saya adalah pendukung Daulah dan saya selalu menghina Anda, mohon maafkan saya.” Maka saya jawab:

“Allah menyaksikan dan silahkan Anda saksikan, saya telah memaafkan seluruh anggota Daulah yang telah membangkang, berbuat zhalim, atau menfitnah.” Dan sekarang saya ingin mengungkapkannya kepada kalian, apa yang saya dapatkan jika saya menyelisihi Daulah? Saya tidak berperang kecuali demi menegakkan syariat Allah, namun urusan nyawa itu bagi Allah adalah urusan yang besar.

Adapun mengenai demokrasi, maka saya berlepas diri darinya, saya telah menulis sebuah buku berjudul “Thaghut Al Ashr” atau yang biasa disebut demokrasi yang salinannya telah saya bagi-bagikan di bumi Syam ini sebanyak ribuan eksemplar. Jadi janganlah kita saling mengganggu.

Peserta Grup: Wahai Syaikh, tadi Anda telah mengatakan bahwa Anda tidak mengikuti siapapun, namun kami ingin tahu bersama siapa sebenarnya Anda berperang demi menegakkan syariat Allah?

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Baiklah, saya akan menjawab, tapi tolong pelan-pelan agar pertanyaan yang sebelumnya tidak terlewatkan. Saya meminta agar kalian dan juga diri saya berjanji untuk selalu membela kebenaran, jika tidak, mengapa kita harus membuang-buang waktu.

Bersama siapa saya berperang?

Saya berperang bersama pihak manapun yang berusaha untuk menerapkan syariat Allah. saya berperang di bawah panji Jabhah Nushrah, Jundul Aqsha, Jaisy Muhajirin wa Anshar, Ahrar Syam, Harakah Fajr Syam dan Syam Al Islam.

Pro Daulah: FSA dan Asyrar Syam itu sudah jelas-jelas murtad namun Anda berperang bersama mereka?! Bertaqwalah kepada Allah, dimanakah ajaran Millah Ibrahim?!

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Wahai saudara-saudaraku, perselisihan kita ini bukan soal apakah Al Jaulani atau Al Baghdadi yang berhak dibaiat, baiat-baiat itu semua adalah perjanjian yang harus dipenuhi, dan siapa yang menentang amirnya, maka ikatan baiatnya akan terlepas, baiat ini bukanlah baiat imamah, namun baiat dakwah wal jihad.

Persoalannya jauh lebih besar dari sekedar persoalan baiat, ini adalah persoalan nyawa orang Islam. Pembunuhan terhadap seorang muslim lebih besar dosanya di sisi Allah dari pada menghancurkan Ka’bah.

Ini adalah persoalan:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Kehancuran dunia (nilainya) lebih ringan di sisi Allah Subhanahu wata’ala dari pada seseorang membunuh seorang mukmin tanpa hak.”

Ini adalah persoalan:

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ

“Siapa pun orang yg berkata kepada saudaranya, ‘Wahai kafir’ maka sungguh salah seorang dari keduanya telah kembali dgn kekufuran tersebut, apabila sebagaimana yg dia ucapkan. Namun apabila tak maka ucapan tersebut akan kembali kepada orang yg mengucapkannya.” [HR. Muslim No.92].

وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا ٩٣

“dan Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [An Nisa’: 93]

Demi Allah kami tidak mampu menghadapi laknat dan adzab Allah, demi Allah kami tidak ingin menghadap Rabb seluruh alam kemudian Dia melaknat kami.

Ya Allah Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri, tunjukilah siapa saja di antara kami yang menyimpang dari kebenaran.

Pro Daulah: Nah, mulai deh keluar kencing nanahnya.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Wahai Karrar saya mengutip ayat Allah namun Anda justru berkata “Nah, mulai deh keluar kencing nanahnya, istighfarlah kepada Allah!!

Pro Daulah: Tidak… tidak… saya berbicara kepada teman-temanmu.

Pro Daulah: Kalian itu sungguh aneh wahai Harariyyah.

Peserta Grup: Ayo teman-teman, biarkan Syaikh melanjutkan perkataannya hingga selesai.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Sebaiknya saya lanjutkan atau keluar dari grup ini?

Peserta Grup: Lanjutkan wahai Syaikh.

Peserta Grup: Lanjutkan wahai penipu… Lanjutkan.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: In syaa Allah saya akan menjawab semua pertanyaan.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Ayolah, jika di sini memang ada yang mau mencari kebenaran, maka saya akan lanjutkan, jika kalian ogah-ogahan lebih baik saya keluar.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Baiklah, berikut ini adalah kesaksikan saya mengenai Daulah yang tidak mau tunduk kepada mahkamah yang menerapkan syariat Allah:

(saya tidak mengkafirkan Daulah karena sikapnya itu, namun saya menganggapnya sebagai pembangkang [bughat])

Peserta Grup: Biarkan Syaikh menulis, namun bagi yang ingin ber-mubahalah dengan beliau, maka ia dipersilahkan!

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Saya bersumpah dengan nama Allah yang telah meninggikan langit tanpa tiang, dahulu saya adalah pendukung fanatik ISI, saya selalu menghardik siapa saja yang membicarakan keburukan bagi ISI, ketika mulai muncul fitnah di Syam saya berkata:

“Saya akan berangkat berjihad di jalan Allah dan berusaha untuk menyatukan faksi-faksi yang bertikai.” Saya juga mengumpulkan donasi dan menyumbangkan sebagian harta saya karena saat itu rezeki saya sedang lapang, namun setelah saya bertekad untuk berangkat, saya terkejut karena rupanya saya terkena larangan bepergian.

Pro Daulah (menginterupsi): Karangan yang bagus.

Pro Daulah 2 (menginterupsi): Muhaisini telah berdusta, ia memberikan keterangan palsu mengenai kasus peledakan (Darkush) yang menewaskan pasukan Brigade Dziab Al Ghab (salah satu faksi FSA – red.) Namun satu hal yang tidak mungkin kami lupakan adalah Muhaisini berkata bahwa peledakan itu menewaskan anak-anak dan wanita.

Yang tewas dalam aksi itu adalah 19 prajurit Brigade Dziab Al Ghab wahai pendusta.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini (tidak memperdulikan interupsi di atas): Maka saya pun menangguhkan sebentar keberangkatan saya dan pergi meminta pendapat kepada Syaikh Al Ulwan, beliau menyarankan agar saya tetap berangkat, beliau berkata:

“Kamu harus selalu berkomunikasi dengan saya.” Setelah itu – berkat kemudahan dari Allah – saya berhasil keluar secara ilegal dari Arab Saudi menuju Kuwait, dari sana saya ke Turki kemudian ke Syam.

Peserta Grup: Kami terpaksa mengeluarkan si Haidarah dan Abu Manshur dari grup, mereka harus belajar akhlaq islam dari awal lagi, karena akhlaq mereka adalah akhlaq jalanan, setelah itu baru mereka boleh masuk ke grup lagi.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Tenang… tenang…

Syaikh Abdullah Al Muhaisini (berkata kepada admin setelah ia mengeluarkan orang yang memotong pembicaraan beliau): Kawan, saya minta Anda tidak mengeluarkan satu orang pun, jika engkau mau mengembalikan saudara kita si Karar itu maka saya akan melanjutkan.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Saya akan melanjutkan sampai selesai, setelah itu saya akan ber-mubahalah atas semua yang telah saya tuliskan.

Pro Daulah (menginterupsi): Demi Allah dampak dari mubahalah Al Adnani akan mengenai dirimu dan proyekmu di Syam akan mati.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini (tidak memperdulikan interupsi di atas): Saya bertekad pada diri saya untuk tidak menghukumi apapun kecuali setelah mencari tahu lebih lanjut mengenai hal itu.

Pro Daulah 2 (menginterupsi): Amirul mukminin lebih terhormat sehingga tidak akan sudi jika dicium dahinya oleh orang semacam ini, orang yang hina dan murtad ini.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini (tidak memperdulikan interupsi di atas): Kemudian saya bertemu dengan Al Anbari, saya berkata kepadanya:

“Wahai Syaikh saya mencium ada bau darah, saya khawatir jika yang tumpah itu adalah darah yang bersih.” Ia pun berkata:

In syaa Allah tidak terjadi hal semacam itu.”

Pro Daulah (menginterupsi): Program Syaikhnya di Iraq ingin ia terapkan di Syam, ternyata program itu gagal, Alhamdulillah.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini (tidak memperdulikan interupsi di atas): Maka terjadilah perselisihan antara faksi-faksi yang ada.

Peserta Grup: Abu Manshur, di sini sedang ada diskusi, mohon jangan mengganggu, semoga Allah memberkahimu dan menunjukimu kepada kebenaran, adapun mengenai kasus peledakan yang menargetkan Brigade Dziab Al Ghab, beliau telah menuturkan kesaksian beliau dan telah menyatakan siap untuk ber-mubahalah mempertaruhkan kesaksian itu di awal diskusi ini.

Admin (menginterupsi): Bagi kawan-kawan yang menulis apapun akan kita hapus, diamlah dulu dan biarkan Syaikh melanjutkan perkataannya hingga selesai.

Pro Daulah (menginterupsi): Tenang saja, Syaikh memiliki hati yang lapang.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini (melanjutkan pembicaraan): Maka saya pun menulis kultwit untuk mengajak semua pihak merujuk kepada mahkamah independen yang berhukum dengan syariat Allah, semuanya memberikan respon positif kecuali Daulah! Maka saya pergi mendatangi Al Anbari dan berkata:

“Wahai Syaikh, kemarin Anda mengatakan bahwa kalian akan menerima (ajakan damai ini)?!” ia pun menjawab:

“Tapi tidak ada pihak manapun yang bisa melaksanakan tugas ini, Anda sendiri telah menyaksikan bagaimana keburukan faksi-faksi itu.” Saya jawab, “Anda benar, namun mahkamah itu akan diisi oleh seorang qadhi dari pihak kalian, seorang qadhi dari pihak Jabhah Nushrah, seorang qadhi dari pihak Jundul Aqsha, seorang qadhi dari pihak Syam Al Islam, dan seorang qadhi lagi dari pihak Shuqur Syam.” Namun Anbari tidak setuju:

“Tapi Jabhah Nushrah lah yang menentang, mereka juga begini dan begitu.” Saya tetap berusaha membujuknya:

“Kalau begitu yang merujuk ke mahkamah hanya pihak kalian, Jundul Aqsha dan Shuqur Syam, agar di lapangan nanti bisa bersatu.” Namun ia berkata:

“Jundul Aqsha dan Shuqur Syam adalah kelompok kecil yang tidak dianggap,” saya timpali:

“Tidak masalah, coba dahulu.” – ingat saudara-saudara, saya siap ber-mubahalah mempertaruhkan setiap huruf yang saya katakan di sini – saya katakan:

“Kalau begitu yang menjadi qadhi adalah Al Allamah Syaikh Al Ulwan.” Ia menjawab: “Susah dan lokasi beliau jauh.” Saya katakan:

“Kalau begitu saudara-saudara di Yaman dan Syaikh Rubaisy akan diusahakan untuk mengirimkan tim mereka.” Namun ia tetap bersikukuh dengan pendiriannya dengan berkata: “Itu semua tidak akan membawa pengaruh, begini saja, jika sekali lagi terjadi perselisihan kami akan membentuk mahkamah.” Saya pun menjawab dengan perasaan gundah: “Kalau begitu baiklah.” Ketika saya ingin beranjak pergi, ia memanggil saya dan bertanya:

“Apa yang akan engkau katakan pada media mengenai sikap kami?” Saya jawab: “Saya akan mengatakan; Upaya pendamaian ini belum berhasil karena ada beberapa kendala.” Ia pun berkata: “Semoga Allah memberkahimu.”

Akhirnya saya pun bungkam dan tidak mengutarakan hal ini ke publik, saya hanya bisa istighfar karena telah menutupi kebenaran, saat itu Syaikh Al Ulwan menghubungi saya:

“Wahai Syaikh Abdullah,” namun saya menginterupsi beliau: “Celaka wahai Syaikh,” ia pun bertanya: “Apa yang terjadi?” Saya jawab, “Daulah mengubah sikapnya dan menolak upaya pendamaian ini!” Sontak marahlah beliau dan mengucapkan kata-kata yang keras. Beliau berkata:

“Coba jelaskan sikap mereka itu.” Saya pun membeberkannya:

“Wahai Syaikh, sampai saat ini belum ada darah yang tumpah, namun urusannya sudah meluas kemana-mana,” beliau terus mengorek, “coba jelaskan.” Saya pun bertambah sungkan: “Wahai Syaikh saya mohon diri.” Saat itu saya merasa sedih dan putus asa, namun sebelum undur diri saya sempat mengatakan kepada beliau:

“Saya akan berusaha mengantisipasi setiap upaya yang dapat menimbulkan konflik hingga Allah menetapkan suatu keputusan yang mesti dilaksanakan.” Maka selama 6 bulan berikutnya saya terus berupaya agar isu ini tidak menjadi bola salju, sedangkan orang-orang mulai mencela saya karena saya tidak memberikan keterangan apapun soal ini, yang paling saya takutkan adalah tiba-tiba saya mati syahid namun saya tidak sempat menjelaskan siapa sebenarnya yang menolak mahkamah, dalam hati saya selalu berkata:

“Saya tidak akan menjadi orang yang pertama kali memecah-belah, mumpung sekarang belum ada darah yang tertumpahkan, semoga Allah mengampuni ijtihad saya ini.”

Setelah 6 bulan itu terjadilah peristiwa Hazano, seorang anggota Ahrar Syam dan seorang anggota Daulah menjadi korban tewas dalam peristiwa itu, mereka saling bertikai namun setelah itu mereka berkata:

“Kami ingin mengangkat Syaikh Al Muhaisini sebagai qadhi.” Hal itu benar-benar terealisasikan, maka dibentuklah mahkamah tersebut, namun 10 hari atau lebih pasca peristiwa Hazano, pecahlah peristiwa Maskanah – setahun yang lalu –, maka saya menulis Tweet yang berbunyi:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia berangkat bersama saya ke Maskanah.” Setelah itu saya bersama sejumlah anggota pilihan dari Jaisy Muhajirin wa Anshar dan sejumlah orang lainnya pun berangkat ke Maskanah dan tiba di sana pada malam hari, saat itu cuacanya sangat dingin seperti sekarang ini, dan jalanan dipenuhi oleh salju.

Ketika kami sampai kami mendapati para prajurit Daulah sedang berkumpul di markas Ahrar Syam yang berhasil mereka kuasai, ketika kami sudah dekat dengan markas itu kami mendengar suara tembakan karena mereka tidak tahu siapa yang datang. Namun akhirnya kami diperbolehkan masuk, kami langsung memulai perbincangan pada jam 12 malam, tiba-tiba ada seorang penanggung jawab syar’i yang berkata:

“Muhaisini ini mengklaim bahwa dirinya hanya ingin mendamaikan, padahal sebelum ia berangkat berjihad ia telah melakukan ini dan itu.” Ia mulai mengatakan hal-hal dusta namun ia tidak tahu jika saya ada di situ!!

Maka saya pun berdiri namun ia masih terus berbicara dan menfitnah saya, saya pun mengucapkan salam:

Assalamu’alaikum Warahmatullahi wa Barakatuh.” Semua orang menjawab salam, “Saya adalah saudara kalian Abdullah Al Muhaisini, saya bersumpah dengan nama Allah yang telah meninggikan langit tanpa tiang, bahwa apa yang dikatakan oleh orang ini adalah dusta dan fitnah.” Saya pun memanggil namanya, ia pun menjadi ragu dan malu, saya berkata lagi:

“Bersumpahlah atas apa yang Anda katakan.” Ia menjawab: “Maaf, informasi itu semua saya dapatkan dari orang lain.” Mendengar jawaban ini saya hanya diam, saya tidak ingin membuat keadaan bertambah runyam, karena kondisinya saat itu sedang panas.

Ketika itu saya sampaikan kepada mereka agar merujuk permasalahan ini kepada mahkamah yang berkenan bagi mereka, pihak Ahrar Syam berkata kepada pihak Daulah:

“Syaikh Al Muhaisini yang akan memutuskan perkara ini, karena sebelumnya kalian juga berkenan menerima keputusan hukum beliau ketika salah seorang tentara kami dan kalian ada yang terbunuh (peristiwa Hazano).” Namun pihak Daulah menolak ajakan Ahrar Syam! Sungguh heran saya!

Selang dua hari, semua orang dikagetkan dengan tindakan Daulah yang menawan Dr Abu Rayyan, ia dibunuh dan mayatnya dimutilasi secara kejam, padahal ia adalah orang yang terpandang di Ahrar Syam!! Pasca kejadian ini suasana medan peperangan menjadi berkobar dan mendidih, kejadian inilah yang memantik peperangan, sungguh Allah menyaksikan bahwa kejadian inilah yang memantik peperangan.

Saya pun langsung mendatangi Al Anbari, saya katakan kepadanya:

“Wahai Syaikh, pertumpahan darah akan segera terjadi.” Saat itu air mata saya berlinangan, saya memohon kepadanya dengan sungguh-sungguh namun ia tidak bergeming, dalam pertemuan itu hadir pula Abu Muhammad Al Iraqi, anggota majelis syura, ia menatap saya dan berkata:

“Wahai Syaikh mengapa engkau belum berbaiat?”!! Saya pun menjawab:

“Saya hanya berharap dengan kehadiran diri saya ini, Allah akan berkenan untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah.”

Pro Daulah (menginterupsi): Siapa yang bilang bahwa kejadian itu yang memantik peperangan? Apakah Anda tahu mengenai pertemuan-pertemuan rahasia yang dilakukan di Turki?

Syaikh Abdullah Al Muhaisini (tidak memperdulikan interupsi di atas): Lalu ia berkata: Apa yang menjadikanmu tidak segera membaiat kami? Apakah karena ada kekeliruan? Saya jawab: “Salah satunya begitu.” Ia berkata lagi:

“Kamu akan menjadi qadhi dan penanggung jawab dalam bidang peradilan,” lalu saya jawab:

“Saya akan ber-istikharah.”

Saya tidak ingin menyatakan penolakan, karena hubungan kami akan bertambah parah. Beberapa hari berselang ketika saya sedang dalam perjalanan dari Bab Al Hawa ke Urum, saya melihat banyak ruas jalan yang ditutup, maka saya bertanya ke orang-orang, “Ada apa ini?” Mereka menjawab: “Terjadi konflik antara Daulah dengan penduduk Atarib.” Maka saya bergumam, “Kalau begitu saya akan ke sana.” Namun mereka keberatan, “Kami tidak bisa mengizinkan Anda, karena masih terjadi tembak-menembak.” Mendapat jawaban itu saya pun memperkenalkan diri saya, mendengar itu mereka pun membolehkan saya, “Silahkan ke sana secepatnya, semoga mereka (Daulah) mau memberikan jawaban kepadamu.”

Pertama kali yang saya datangi adalah markas Daulah, sampai di sana ternyata kondisi mereka sedang cemas, saya pun bertemu dengan Abu Abdurrahman Al Iraqi (kira-kira begitu namanya) saya bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi?” Ia menjawab, “Sedang terjadi perselisihan di antara kami.” Saya bertanya lagi, “Apa yang mereka inginkan?” “Membalas kematian anggota mereka yang terbunuh, dan kami sedang bersiap-siap menghadang serangan mereka.” Maka saya berusaha menenangkannya;

“Wahai saudara, suasana sedang panas, biarkan saya berbicara kepada mereka bahwa kalian siap tunduk kepada mahkamah agar suasana dapat dipulihkan.” Namun ia memberikan jawaban yang persisnya saya lupa, namun intinya ia tidak menerima dan menolak permintaan saya.

Saya pun pergi ke salah satu markas di Atarib, ketika orang-orang di sana melihat saya dan mengira saya anggota Daulah karena pakaian yang saya kenakan adalah pakaian ala Kandahar, mereka melepaskan tembakan ke atas saya, lantas mereka mengepung saya beserta 3 orang yang mendampingi saya, saya pun langsung memperkenalkan diri, namun mereka tetap tidak tenang dan berkata:

“Anda hanya bekerja demi kepentingan mereka”!! Hampir saja mereka menghabisi saya namun tidak jadi, semua itu berkat kelembutan Allah, kemudian datanglah seorang komandan mereka dan mengajak saya ke dalam sebuah ruangan, ia berkata kepada saya yang singkatnya demikian:

“Permasalahan ini terjadi karena si fulan WN Tunisia dari kelompok Daulah telah menangkap seorang anggota kami yang posisinya terpandang, kemudian ia membunuhnya dan menggantung mayatnya di pintu rumahnya, jadi jika mereka tidak menyerahkan pelakunya, maka harus ada pembentukan mahkamah secepatnya, saya katakan:

“Saya akan menemui mereka untuk kedua kalinya.” Namun ketika saya temui, mereka tidak memberikan jawaban, maka saya hanya bisa mengadukan urusan ini kepada Allah kemudian saya meninggalkan Atarib, setelah itu berkobarlah pertempuran.

Kemudian Daulah menyerang markas Resimen 46 yang terletak tak jauh dari Atarib, Daulah membunuh orang-orang yang ada di dalam markas itu dan menguasainya, ada 7 orang anggota Jabhah Nushrah yang turut terbunuh dalam serangan itu, maka kami pun membentuk sebuah lembaga yang bertugas untuk menenangkan suasana, anggotanya adalah saya sendiri, Abu Mansur penanggung jawab urusan syariat Jundul Aqsha, dan Abu Shalih Taftanaz dari Jabhah Nushrah, kemudian kami mendatangi Al Anbari, namun dia berkata kepada wakil Jabhah Nushrah: “Anda datang ke sini sebagai apa?” Ia menjawab, “Sebagai anggota lembaga penyelenggara perdamaian.” “Tapi di antara kami dengan kalian (Jabhah Nushrah) ada perselisihan,” tukas Al Anbari. Abu Shalih menimpali, “Dalam hal ini kami independen, tidak mewakili pihak manapun.” Namun Al Anbari tetap bersikukuh, “Kami tidak mau jika kalian yang menjadi mediator.” Maka wakil Jabhah Nushrah itu pun meninggalkan tempat, tinggal saya, Syaikh Manshur dan Abu Muhammad yang ada di sana, kami terus membujuk Al Anbari agar ia bisa menerima mediasi atau pemutusan perkara, apapun itu bentuknya terserah yang penting ia mau menerima.

Saat itu kondisi kemiliteran di sana adalah sebagai berikut; Atarib lepas dari kekuasaan Daulah, dan lokasi Al Anbari di pedesaan sudah setengah terkepung, padahal yang tinggal di sana bersama dia ada sekitar 400 orang, di antaranya wanita dan anak-anak.

Dan setelah saya melakukan serangkaian perundingan yang panjang, melewati pos-pos pemeriksaan milik kedua belah pihak berkali-kali, mendapatkan tembakan dan menyaksikan tewasnya puluhan orang, saya bertanya kepada Al Anbari, “wahai Syaikh, apakah Jaisy Mujahidin murtad?” Ia menjawab:

“Demi Allah jika kami mengetahui bahwa mereka telah murtad, tentu kami akan mengatakannya.” Saya berkata lagi:

“Kalau begitu mengapa tentara kalian di pos-pos pemeriksaan memerangi kubu lain dengan menganggap bahwa kubu itu murtad wahai Syaikh? Tolong jelaskan kepada mereka.” Ia menjawab;

In syaa Allah.” Namun setelah itu peperangan justru meningkat dan puluhan orang terbunuh, tak lama kemudian iring-iringan pasukan Daulah dari Haritan datang untuk membantu teman-teman mereka, namun dicegah oleh Brigade Nuruddin Zanki, “Kami tidak akan mengizinkan kalian lewat untuk memerangi faksi-faksi lain,” larang Brigade Nuruddin.

Al Anbari berkata lagi, “Kami siap untuk tunduk kepada mahkamah, namun hanya dalam kasus Resimen 46 dan Atarib saja.” Al Anbari setuju karena ia sedang terkepung di dalamnya! Lalu kami bertanya lagi, “Bagaimana dengan wilayah-wilayah lainnya?” Ia menjawab, “Tergantung situasi dan kondisi.” Kami bertanya lagi:

“Bagaimana bisa Anda siap tunduk kepada mahkamah jika Anda sedang dalam keadaan lemah di suatu lokasi? Sedangkan Anda tidak mau tunduk jika Anda dalam keadaan berkuasa di suatu lokasi?” Lantas ia jawab, “Kami hanya membahas tempat ini dulu.”

Dari sini saya sadar bahwa apa yang selama ini saya usahakan hanya sia-sia, saya pun mengeluarkan pernyataan yang meminta semua pihak agar melakukan gencatan senjata, pernyataan itu saya namai “Nida’ wa Bayan”.

Setelah itu saya bersama Abu Ahmad dari Syam Al Islam, Abu Umar Al Hamawi dan Abu Umarain bertugas mengeluarkan para wanita Daulah yang berada di wilayah-wilayah konflik menuju jalur perbatasan Athmah. Alhamdulillah, kami berhasil membawa keluar puluhan orang, dan inilah amalan yang paling saya harapkan agar diterima di sisi Allah.

Beberapa bulan pasca pertumpahan darah, dan setelah saya menyaksikan peremehan terhadap urusan darah yang telah saya ceritakan di atas, saya ber-istikharah kepada Allah berulang kali dan saya bersimpuh sepanjang malam, saya bergumam, “Demi Allah saya tidak menemukan udzur di hadapan Allah jika saya terus menutup mulut seperti ini.” Maka saya pun membuat pernyataan dan membacakannya sendiri, demi Allah jika saya dibebankan untuk memikul sebuah gunung, niscaya itu lebih ringan dari pada mengeluarkan pernyataan itu.

Pro Daulah (menginterupsi): Demi Allah kami tidak akan melupakanmu di hadapan Allah kelak wahai Dajjal, wahai pendusta.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini (tidak memperdulikan interupsi di atas): Dan setiap kali saya merasa terbebani, saya selalu mengingat sabda Nabi ﷺ:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

“Penghulu para Syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa zhalim lalu ia menyuruhnya dan melarangnya, lalu pemimpinnya itu membunuhnya.” [Hadits Shahih dalam Mustadrak ‘ala shahihain, imam Al Hakim no. 4884] kemudian saya mengeluarkan pernyataan yang berjudul “Ala Hal Ballaghtu”.

Sejak saat itu saya dipandang sebagai seorang murjiah dan sururiyah di mata mereka, bahkan sebagian dari mereka akan menganggap saya murtad dan agen musuh.

Mereka mengatakan bahwa saya menanggung dosa atas terbunuhnya para muwahhidin, mereka juga menghujat saya, semoga Allah memberikan saya ganjaran berkat hujatan itu dan mengampuni mereka semua, inilah kesaksian saya yang saya tuturkan secara terperinci dan lengkap, dan sekarang saya siap ber-mubahalah mempertaruhkan setiap huruf yang telah saya tuliskan dengan disaksikan oleh 150 orang islam yang ada di grup ini, mari kita saling ber-mubahalah, Ya Allah jikalau Abdullah Al Muhaisini berdusta, maka turunkanlah kemarahan dan hukuman-Mu kepadanya dan musnahkanlah dirinya semusnah-musnahnya.

Syaikh Mu’taz Bittauhid: Pada awal obrolan ini ada ikhwah yang menantang mubahalah dengan Syaikh Al Muhaisini, jadi tolong siapkan diri karena beliau akan mempertaruhkan setiap huruf yang beliau katakan! Kemudian ia menambahkah tulisannya dan siap ber-mubahalah! Setelah itu, mulai ada orang yang mengganggu. Mana tadi yang siap ber-mubahalah untuk mempertaruhkan apa yang dikatakan oleh Syaikh? Ya Allah berikanlah hidayah kepada setiap orang yang lurus dari pihak manapun dia, dan tuntunlah ia kepada kebenaran.

Peserta Grup: Mana tadi yang berteriak menantang mubahalah? Sekarang Syaikh sudah ber-mubahalah.

Syaikh Abdullah Al Muhaisini: Kepada setiap orang yang ingin mencari kebenaran, silahkan baca apa yang saya tulis ini, ingatlah perkataan ulama ketika mengomentari firman Allah ini:

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ٱقۡتَتَلُواْ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَاۖ فَإِنۢ بَغَتۡ إِحۡدَىٰهُمَا عَلَى ٱلۡأُخۡرَىٰ فَقَٰتِلُواْ ٱلَّتِي تَبۡغِي حَتَّىٰ تَفِيٓءَ إِلَىٰٓ أَمۡرِ ٱللَّهِۚ فَإِن فَآءَتۡ فَأَصۡلِحُواْ بَيۡنَهُمَا بِٱلۡعَدۡلِ وَأَقۡسِطُوٓاْۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِينَ ٩

“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.” [Al Hujuraat: 9]

Para mufassir berkata: Siapa saja yang menolak perdamaian atau upaya pemutusan hukum untuk mendamaikan, maka ia adalah bughat, sekarang saya ingin bertanya kepada kalian, kalau bukan Daulah yang bughat, lalu siapa lagi?!!

Saya ulangi lagi, siapa yang ingin ber-mubahalah maka dipersilahkan, karena dengan upaya ini Allah akan menyingkap siapa yang pendusta di antara kita. Ya Allah, berilah mereka hidayah karena mereka tidak tahu.

Oh… satu lagi hal penting yang ingin saya tambahkan.

Sebelum saya mengeluarkan pernyataan “Ala Hal Ballaghtu”, saya sempat mengumumkan klausul perjanjian damai yang bernama “Mubadarah Al Ummah” di situ saya mengatakan bahwa qadhinya harus independen, atau bisa juga dari kalangan penuntut ilmu yang mendukung syariat. Semua faksi menerima klausul itu tanpa syarat, namun Daulah mensyaratkan agar faksi-faksi itu berlepas diri dari segala pemerintahan yang ada, berlepas diri dari ideologi sekuler dan syarat-syarat lainnya, maka saya pun mengunjungi pihak Daulah setelah mereka menolak isi perjanjian damai itu, saya berkata:

“Jabhah Nushrah (yang merupakan) cabang dari Tanzhim Al Qaeda telah siap untuk membawa perkara ini ke mahkamah, Jabhah Nushrah juga siap untuk berlepas diri dari segala apa yang kalian sebutkan sebelumnya.” Namun Daulah tetap menolak!!

Baru setelah itu saya mengeluarkan pernyataan yang berjudul “Ala Hal Ballaghtu”. Saya bersyukur kepada Allah karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk membuat kesaksian yang benar, segala puji bagi Allah rabb semesta alam.

Terima kasih.

Syaikh Mu’taz Bittauhid (mengomentari Syaikh Al Muhaisini): Penyimpangan Daulah yang Anda sebutkan di atas (yang berkaitan dengan interaksi terhadap pihak yang berbeda pendapat) baru contoh kecil!

Peserta Grup lain (mengomentari Syaikh Al Muhaisini): Syaikh Abdullah berhati lapang, semoga Allah mengganjar beliau dan kaum muslimin dengan kebaikan.

Admin: Terima kasih wahai Syaikh, sebenarnya kami sudah tahu keburukan karakter pendukung jamaah ini, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku di hari kiamat kelak adalah orang yang terbaik akhlaqnya.” [HR. Tirmidzi]

Sedangkan mereka adalah manusia yang akhlak dan ideologinya paling jauh dari beliau.

Akhir kata, segala puji bagi Allah rabb semesta alam.

Bagi siapa saja yang membaca catatan ini, jika tulisan ini belum cukup bagi Anda untuk mengambil sikap yang benar, coba renungkan; katakanlah Daulah tidak membangkang, dan fitnah tidak terjadi, dan… dan… Apakah Anda tahu bahwa sebenarnya sekarang peperangan ini bisa dihentikan? Dan pertumpahan darah ini bisa diredakan? Mungkin Anda bertanya-tanya bagaimana caranya. Maka saya jawab, cukup dengan Daulah menerima perjanjian gencatan senjata! Apapun perjanjiannya, baik itu yang bersifat permanen atau sementara. Syaikh Al Maqdisi pernah meminta hal itu kepada Daulah, demikain juga dengan Amir Shalahuddin Ash Shishani dan para komandan-komandan lainnya. Namun Daulah tetap tidak menerima.

Jadi sekarang siapa yang bughat?!

Siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya pertumpahan darah?!

Ya Allah, tunjukilah kami jika kami menyimpang dari jalan kebenaran, dengan izin-Mu wahai rabb semesta alam.

 

Sumber:

http://mhesne.com

 

(arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...