Berita Dunia Islam Terdepan

Wawancara Syaikh Abu Qatadah: ISIS sedang menuju kehancuran (bag.2)

6

(Arrahmah.com) – Bilal Abdul Kareem, seorang jurnalis berpengalaman asal Amerika, melakukan wawancara dengan Syaikh Abu Qatadah Al-Filishthini Hafizhahullah.

Dalam transkrip kedua wawancara ini, Syaikh Abu Qatadah menjelaskan mengenai status Khilafah yang dideklarasikan oleh kelompok Daulah Islamiyyah, atau Islamic State (IS) yang sebelumnya dikenal sebagai ISIS.

Beliau juga memaparkan posisi Islam mengenai deklarasi ini, deklarasi di mana tidak ada yang mengenal siapa orang-orang (Ahlu Halli wal Aqdi) yang memberikan Abu Bakar Al-Bagdadi mandat untuk menyatakan dirinya sebagai Khalifah.

Berikut terjemahan transkrip bagian kedua lanjutan bagian pertama wawancara tersebut, yang dipublikasikan oleh Muqawamah Media pada Sabtu (21/3/2015).

Bilal Abdul Kareem: Semua orang tahu apa yang terjadi musim panas lalu bahwa Jamaah yang dikenal sebagai ISIS atau ISIL atau Tanzhim Daulah dalam bahasa Arab, mendeklarasikan sebuah Khilafah. Khilafah ini menganggap bahwa dirinya sebuah Daulah Islam dan bahwa Abu Bakar Al-Baghdadi adalah pemimpin dari kaum Muslimin, Menurut Anda, apakah kekhalifahan ini sah?

Abu Qatadah: Anda tidak akan menemukan seorang Muslim pun yang benar-benar peduli pada iman dan akhiratnya kecuali dia sadar bahwa dia harus berusaha untuk membangun kembali aturan Allah. atau dalam istilah politik Islam ia disebut sebagai Khilafah.

Ia adalah nama yang berasal dari Abu Bakar (radhiallahu anhu) yang menggantikan Nabi (Shallallahu alaihi wa salam) dalam memimpin kaum Muslimin, itu sebabnya ia disebut Khalifatur Rasul (Shallallahu alaihi wa salam).

Pengertian umumnya adalah penerapan hukum Allah pada kaum Muslimin dan non-Muslim; ini adalah keyakinan semua umat Islam. Oleh karena itu tidak ada yang memiliki hak untuk menghalangi pembentukan Daulah Islam (Khilafah). Jika Daulah ini didirikan maka seluruh umat Islam harus mendukung dan memberikan sumpah setia (baiat) kepada Amirnya.

Namun ini bukan topik pertanyaannya. Topik pertanyaannya adalah tentang apa yang terjadi di Irak dan Suriah, apakah ianya adalah kepemimpinan yang di mana kaum muslimin diwajibkan untuk memberikan baiat kepada pemimpinnya? Apakah wajib atas mereka (kaum muslimin) untuk berjuang bersama mereka dan menentang orang-orang yang menentang mereka? Ini adalah pertanyaan yang sebenarnya.

Saya telah menjelaskan ini sebelumnya. Deklarasi ini tidak pantas untuk dinamakan dengan nama mulia “Khalifah”, ini adalah sebuah klaim palsu dan sebutan yang salah. Ini adalah sikap saya yang mana telah saya sebutkan dalam tulisan saya “Jubah Sang Khalifah”.

Ada beberapa masalah yang telah menjadi lebih jelas mengenai kelompok ini. Kami mencintai orang-orang yang berperang melawan musuh-musuh Islam. Namun kelompok ini, di Suriah, mereka bertempur melawan mujahidin. Mereka menamakan diri sebagai “Mujahid” tetapi dalam kenyataannya mereka tidak berjihad di Suriah dari sudut pandang Islam, ini terlihat jelas baik dari tindakan mereka maupun pernyataan mereka.

Mereka meminta sumpah setia (baiat) dari kaum Muslimin namun mereka yang menyebabkan perpecahan, kekacauan dan perselisihan antara kaum Muslimin di seluruh dunia.Mereka menghasut masyarakat awam untuk melawan ulama dan mengancam ingin membunuh para ulama dan mengarahkan moncong senjata terhadap mujahidin. Tidak ada manfaat bagi jihad di Suriah jika ia dilakukan dengan cara seperti ini. Kelompok yang disebut “Daulah” itu tidak mewakili Islam, bukan berarti karena mereka menentang musuh-musuh Allah, kemudian itu menjadi alasan dan kewajiban bagi saya sendiri dan setiap Muslim untuk mendukung mereka yang tengah melawan musuh-musuh Allah.

Kami tidak menentang ISIS karena mereka menentang musuh-musuh Allah. Orang mungkin ada yang mengatakan: “Lihat! Dia lebih mendukung musuh ISIS (Salibis dll).” Ini adalah dusta. Sejarah akan menjadi saksi dan keadaan sebenarnya akan menjadi saksi bahwa kami tidak membuat kesepakatan apapun dengan kaum kafir dalam memerangi umat Islam. Dan saya ingin menegaskan pada poin penting. Karena dan hanya karena ISIS mengkafirkan kaum Muslimin dan membunuh mereka sehingga saya dan (ulama) lainnya memiliki hak untuk berbicara menentang mereka, bahkan jika itu adalah sebuah Daulah Islam. Kami akan mengatakan: “Apa yang Anda lakukan itu salah. Semoga Allah memperbaiki Anda. Periksalah jalan yang Anda lalui dan pastikan Anda bertempur di jalan Allah”,dan kami akan mendoakan mereka seperti Mujahidin lainnya. Jangan ada yang datang dan mengatakan bahwa kami berdiri di sisi musuh-musuh Islam dalam melawan ISIS karena ini adalah dusta!

Kami berdiri melawan ISIS karena mereka menargetkan Muslim. Ini adalah sikap kami. Adapun pertempuran mereka melawan Syiah Iran di Irak, murtad, dan Alawi maka itu adalah jihad terpuji. Namun secara umum, khususnya di Suriah, kami tidak lihat mereka lakukan hal ini. Saya ingin membuat poin ini menjadi jelas, agar orang-orang bodoh tidak berpikir atau memahami yang macam-macam. Kami tidak menentang ISIS karena mereka memerangi musuh-musuh Allah, kami menentang mereka karena mereka memerangi mujahidin yang tulus, mereka mengkafirkan mereka, melawan mereka, membantai mereka, memperbudak perempuan mereka dan hal-hal lain yang diketahui oleh banyak orang.

Bilal Abdul Kareem: Sekarang beberapa orang mengatakan bahwa mengetahui siapa orang-orang (Ahlu Halli wal Aqdi) yang memberikan Abu Bakar Al Bagdadi mandat untuk menyatakan dirinya sebagai Khalifah adalah bukan sebuah syarat untuk menerimanya sebagai pemimpin atau menerima kepemimpinannya. Apa posisi Islam mengenai deklarasi ini, deklarasi oleh orang-orang yang sebenarnya tidak ada seorangpun yang mengenal siapa mereka?

Abu Qatadah: Jika kita ingin membahas sumpah setia kepada Khalifah dari perspektif hukum Islam maka kita akan menemukan bahwa sumpah mereka tidak sah. Di sini saya ingin secara resmi mengatakan sesuatu yang belum banyak orang mendengarnya, kecuali orang-orang terdekat saya, dan mereka telah mendengarnya berkali-kali. Saya ingin mengatakan sekarang dengan harapan bahwa itu akan menyebar dan didengar orang. Mereka harus mendeklarasikan khalifah pada metodologi Ahlus Sunnah, yang berarti bahwa mereka seharusnya tidak mengkafirkan umat Islam dan seharusnya tidak membunuh umat Islam dan tidak menyerukan pemisahan jajaran Mujahidin.

Mereka seharusnya mengatakan “Kami telah mengangkat bendera khilafah, bagi mereka yang bersedia maka masuklah ke barisan kami, namun bagi mereka yang tidak bersedia, maka kami tidak akan memaksakan atas kalian.”

Karena memerintahkan untuk bergabung dalam Khilafah hanya terjadi di bawah dua kondisi: yang pertama adalah dengan cara rela untuk menerima. Jika mereka mau menerimanya maka mereka adalah bagian dari itu.

Namun siapa pun yang menolaknya maka hanya wajib menerimanya jika sudah diberlakukan secara paksa. Adapun cara ini tidak diperbolehkan. Tidak diperbolehkan bagi mereka untuk memulai dengan cara ini.

Namun, jika kekuasaan telah dirampas melalui kekuatan oleh penindas dan ia memerintah maka kita terpaksa menerimanya. Tidak di awal dan tidak di tengah tapi hanya ketika pengambilan kekuasaannya selesai.

Tapi mereka telah rusak pemahaman ini.

Mereka mengkafirkan, Takfir ini tidak memiliki keterikatan pada agama. Mereka menggunakan takfir untuk mengambil legitimasi (kekuasaan) dari kelompok lain. Ini adalah sesuatu yang mereka jadikannya sebagai dalih. Mereka menggunakan berbagai isu untuk mengkafirkan orang lain.

Jika orang lain berurusan dengan mereka menggunakan prinsip-prinsip yang sama dengan yang mereka gunakan untuk menghukumi seseorang, maka mereka akan menyebut orang itu murtad.

Oleh karena itu saya katakan, jika kekhalifahan dibangun di atas itu, dan mereka mengatakan, “Kami tidak mengkafirkan orang (Muslim), kami juga tidak memaksakan agar kepemimpinan hanya bagi kami (memaksakan baiat), juga kami tidak menyerukan pada perpecahan umat Islam, sebenarnya kita menyerukan persatuan”. Bahkan kemudian masalah khilafah akan memiliki tafsiran yang luas.

Diperbolehkan untuk mengabaikan beberapa bid’ah kecil yang tidak mengeluarkan pelakunya dari jajaran Ahlus Sunnah.

Jika ini merupakan masalah perbedaan pendapat. Seperti kelompok yang keluar jajarannya, kita harus mengatakan “Kalian telah melakukan sesuatu yang salah.” Tapi jangan sampai mengkafirkan mereka, (yang mana hal itu) akan menyebabkan kalian masuk ke ranah yang akan mengeluarkan kalian dari Ahlus Sunnah. Perpecahan bisa saja terjadi tapi itu dapat kembali didamaikan.

Yang menyedihkan adalah bahwa mereka tidak hanya mempengaruhi diri mereka sendiri tetapi orang lain juga. Mereka mengkafirkan semua kelompok pejuang di Suriah. Mereka mengkafirkan seluruh kelompok ini dengan takfir secara umum(Mutlaq) seolah-olah itu adalah permainan berbahaya. Mereka bahkan mengkafirkan mereka yang melakukan amal ibadah!

Mengherankan. Jika hal yang dipermasalahkan adalah hal kecil maka tidak diperbolehkan untuk menyebut pelakunya sebagai ahli bid’ah atau menyebut mereka keluar dari Ahli Sunnah.

Tapi mereka berbeda, mereka adalah Khawarij, pembunuh dan penjahat.

Sekarang setelah semua yang telah terjadi sebagai akibat dari tindakan mereka, kita tidak perlu bicara tentang sebuah kekhalifahan. Saya minta maaf karena mengambil waktu terlalu banyak tapi saya harus mengatakan ini. Saat saat ini bukanlah waktunya untuk mendiskusikan soal Khilafah lagi. Yang pantas dibahas sekarang adalah apa yang akan terjadi setelah deklarasi “Khilafah”.

Bid’ah, kerusakan dan khalifah yang timpang itu sedang dalam kemunduran drastis.

Seseorang mungkin berkata, “Kamu senang dengan apa yang terjadi di Irak!”. Untuk itu saya akan tegaskan, bahwa saya lebih tertekan daripada mereka. Saya tahu konsekuensi dan akibat yang sudah mulai muncul, terjadi pembantaian terhadap wanita Sunni. Anda dapat mendengarnya di berita. Pembunuhan anggota di dewan ulama, para imam dari masjid, orang-orang yang lemah. Lihatlah apa yang Yazidi lakukan terhadap kaum Muslimin di kota-kota setelah kelompok Al-Baghdadi menarik diri. Terjadi tragedi besar.

Siapa yang bertanggung jawab? Si Kriminal Al-Baghdadi dan kelompoknya.

Bilal Abdul Kareem: Anda sangat peduli tentang umat Islam yang berada di kawasan yang dikendalikan oleh ISIS. Jika grup ini (ISIS) harus jatuh maka kekhawatiran Anda adalah apa yang akan terjadi pada Muslim Sunni, sebagaimana yang telah kita lihat dari beberapa pembantaian oleh milisi Syiah. Anda khawatir tentang hal itu?

Abu Qatadah: Tanpa ragu saya sangat khawatir dan sangat takut akan nasib Muslim Sunni di Irak. Kelompok menyimpang ini (ISIS) telah memberikan lisensi gratis kepada faksi-faksi lain untuk membunuh Muslim Sunni.

Sekarang mereka sedang didorong keluar dari kota-kota dan desa-desa dan mereka menyerahkan tempat ini kepada musuh-musuh kaum Muslimin. Jadi, ketika faksi-faksi ini datang dan menduduki tempat-tempat ini mereka datang dengan kebencian ekstrim. kebencian adalah hasil dari apa yang orang-orang bodoh ini telah dilakukan.

Bencana yang aku takutkan akan terjadi di Suriah adalah mengenai pejuang asing dan istri-istri mereka. Ini adalah tugas Mujahidin dan para ulama untuk mempersiapkan diri bahwa mereka akan berurusan dengan banyak kesulitan yang menanti setelah kejatuhan ISIS.

Yang harus dipikirkan sekarang adalah apa yang akan terjadi setelah jatuhnya ISIS. ISIS sedang berada dalam kemunduran drastis.

Bahkan ketika ISIS berada di puncak kekuasaan, saya telah katakan bahwa itu adalah balon. Sekarang realitas mulai jelas sejak ia hancur dari dalam.

Sumber terpercaya dari dalam (tubuh ISIS) mengatakan banyak dari mereka yang bergabung dengan ISIS penuh antusiasme mencari gambaran yang telah diiklankan kepada mereka, sekarang merasa kecewa karena ilusi itu sudah mulai memudar.

Cobaan dan penderitaan telah sampai pada titik bahwa banyak dari mereka merasa bahwa mereka hidup di negara polisi. Beberapa hari yang lalu mereka membunuh dua orang yang mencoba melarikan diri.

Ada sejumlah kelompok yang telah berhasil melarikan diri, namun mereka takut untuk mempublikasikan dikarenakan sejumlah alasan. Mereka memikirkan orang-orang yang sedang berusaha untuk melarikan diri.

ISIS mulai retak dari dalam, ini lebih berbahaya bagi mereka daripada ancaman eksternal.

ISIS telah memprovokasi dunia dengan cara yang paling bodoh dan ditambah dengan melancarkan perang memerangi Mujahidin. Jadi Mujahidin meninggalkan mereka dan menolak mereka. Dengan demikian kemenangan dari Allah ditahan dari mereka sebagaimana yang akan mereka lihat sendiri nanti.

(banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...