Berita Dunia Islam Terdepan

Bersama Ustadz Salim A. Fillah, Ulama MIUMI tafakuri sejarah Jihad Diponegoro yang sesungguhnya

para Ulama MIUMI mempelajari sejarah Jihad Diponegoro dipandu Ustadz Salim A. Fillah
11

YOGYAKARTA (Arrahmah.com) – Di sela-sela penyelenggaraan Kongres Umat Islam Indonesia ke-6 di Yogyakarta, 8-11 Februari lalu, sejumlah Ulama MIUMI yang dipimpin Ketua Umum MIUMI Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi dan Sekjend Ustadz Bachtiar Nasir, mengunjungi Museum Pangeran Diponegoro. Pada kesempatan tersebut, Ustadz Salim A. Fillah selaku Humas MIUMI Yogyakarta, menjadi pemandu sejarahnya, merujuk pada Babad Diponegoro.

Dengan semangat tholabul ‘ilmi, para Ulama MIUMI mengambil ibrah dari penyampaian Ustadz Salim mengenai sejarah perjuangan Muslimin Indonesia yang sejatinya merupakan bagian dari sejarah perjuangan Dinul Islam sedunia. Demikian salah satu penggalan sejarah yang hilang dalam video yang diunggah AQL Islamic Center pada You Tube, Ahad (15/3/2015).

Dalam video tersebut, Ustadz Salim A. Fillah juga menjelaskan bagaimana hubungan Perang Dipenogoro (1825-1830) dengan Perang Padri di Sumatera Barat (1821-1837). Subhanallah, betapa jihad Muslimin Indonesia dipenuhi dengan pengkhianatan pihak-pihak yang tak bertanggung jawab dan mencoreng gerak jihad Bumi Pertiwi.

Hingga kemudian naskah kuno yang dijadikan Memory of the World oleh PBB itu juga mencatat kekuasaan kerajaan Jogjakarta dipecah belah oleh Belanda dengan membentuk Keraton Surakarta (Solo). Pada titik inilah semua Ulama MIUMI tercengang karena Pangeran Diponegoro tidak mau merebut kembali Keraton Surakarta dan mengecewakan Kyai Mojo. Rabbana.

“Kami ini semuanya, memanfaatkan keislaman kami, untuk melaksanakan perintah dalil Qur’an Surah Al-Qital (Surat At-Taubah). Ini yang kami lakukan selama ini, sampai Sultan menjadi penata agama seluruh Jawa, karena beliau satu-satunya yang berhak untuk itu, dan hanya beliau yang akan membenarkan dan menghukum orang Jawa yang murtad.”

Demikian ucapan Kyai Mojo yang dikutip Ustadz Salim A. Fillah dari Babad Diponegoro yang ditulis sendiri oleh Pangeran Diponegoro saat diasingkan di Manado, Sulawesi Utara (1832-1833).

Penjelasan pamungkas ini menyisakan haru atas jihad penegakan Islam di Indonesia di abad ke-18 dan insyaa Allah akan melecut gerak dan semangat jihad Muslimin Indonesia saat ini. Allahu Akbar! (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...