Berita Dunia Islam Terdepan

Teroris kembali bunuh 1 pria Muslim di Dallas, masihkah AS mendukung keberagaman?

Ahmed Al-Julaimi, Muslim Amerika asal Irak, tewas ditembak teroris anti-Islam di Dallas
2

DALLAS (Arrahmah.com) – Seorang pria tewas ditembak teroris anti-Islam di Dallas, Amerika Serikat (AS). Pembunuhan ini disinyalir sebagai kejahatan yang telah dicanangkan oleh pihak-pihak pembenci warga Muslim AS. Demikian laporan TDB, Rabu pekan lalu (11/3/2015), meluruskan pemberitaan media mainstream lainnya.

Setelah bertahan dalam perang Irak selama bertahun-tahun, Ahmed al-Jumaili akhirnya tewas ditembak teroris dalam waktu kurang dari satu bulan di Dallas.

“Mati kamu. Kami akan membunuhmu.”

“Penembakan di Carolina utara baru permulaan.”

“Kamu bukan orang Amerika, jangan kibarkan bendera kami.”

Komentar-komentar di atas sebelumnya ditujukan secara langsung kepada Muslimin Amerika wilayah Forth Worth-Dallas dua bulan lalu. Dua pernyataan pertama dishare kepada Dean Obeidallah, dari TDB oleh Alia Salem, direktur eksekutif Dewan Hubungan Islami Warga Amerika di Forth Worth-Dallas. Ancaman kematian disampaikan pihak anti-Islam kepdanya lewat telepon beberapa minggu lalu. Komentar kedua dilontarkan secara langsung di komunitas lain, merujuk pada pembunuhan 3 Muslim Amerika di Carolina utara.

Komentar ketiga diteriakkan kepada Muslimin Amerika saat menghadiri konferensi lokal Januari lalu. Ironisnya, konferensi itu diadakan guna menanggulangi ekstrimisme dan keencian [terhadap Islam].

Ketiga komentar di atas dipaparkan Obeidillah bukan untuk menarik simpati masyarakat. Sesungguhnya komentar-komentar itu adalah iklim nyata yang terjadi di AS saat ini. Pembunuhan Ahmed Al-Jumaili pada 5 Maret lalu adalah bagian dari gerakan pembenci Islam.

Bayangkan, bertahun-tahun Ahmed dan keluarganya hidup di daerah konflik. Tiba-tiba saja ketika mereka bersama-sama menikmati kebesaran Allah dalam turunnya salju dikejutkan sebuah tembakan. Innalillahi wainna ilaihi raaji’uun, suami dari Zahara tewas ditembak bukan di tengah peperangan.

Pasangan Irak ini, bermigrasi ke AS demi sebuah kebebasan yang selalu digaung-gaungkan Paman Sam. Namun, tak sampai satu bulan, kebencian warga Amerika anti-Muslim merenggut harapan Ahmed dan Zahra. Masihkah AS layak disebut negara pendukung keberagaman? Berapa banyak Muslim AS harus diejek, dilecehkan, didiskriminasi, bahkan dibunuh, sebelum pemerintah membekuk gerakan anti-Islam AS? (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...