Berita Dunia Islam Terdepan

SMP Al Jannah: Tidak ada bullying terhadap Nadhira

Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) Al-Jannah melakukan kunjungan edukasi di fresh market Kota Wisata, Cibubur, Rabu (4/2/015). Rombongan anak-anak inklusi tersebut terdiri dari tingkat Pra Dasar, SD dan SMP, yang berjumlah lebih dari 60 anak.
9

JAKARTA (Arrahmah.com) – Pihak Sekolah Menengah Pertama (SMP) Al Jannah, Cibubur, Jakarta Timur mengaku bahagia dan bersyukur atas ditemukannya kembali salah satu siswi mereka, Nadhira Fajriani Ramadhan (14). Siswi kelas IX SMP Al Jannah, yang dinyatakan hilang sejak Sabtu (7/3/2015) pekan lalu itu akhirnya ditemukan dengan sehat dan selamat di kawasan Kota, Jakarta Barat pada Jumat (13/3/2015).

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pencarian sehingga siswa kami tersebut dapat ditemukan,” ungkap Koordinator Humas Al Jannah, Yossi Srianita, dalam siaran persnya di Jakarta, Sabtu (14/3/2015).

Secara khusus, Yossi meluruskan sejumlah pemberitaan yang menyebutkan bila perginya Nadhira pada Sabtu pekan lalu akibat dari bullying yang dilakukan teman-temannya di sekolah. Menurut Yossi tidak ada tindakan bullying yang dilakukan siswa/siswi SMP Al Jannah kepada Nadhira.

“Sesuai dengan fakta dan informasi di lapangan, bahwasanya apa yang telah disampaikan oleh orangtua ananda Nadhira tentang bullying seperti dijambak, ditendang dan diludahi itu sama sekali tidak pernah terjadi di Sekolah Al-Jannah,” kata Yossi.

Hubungan pertemanan antara Nadhira dengan kawan-kawannya, lanjut Yossi, hingga saat ini juga tidak ada masalah.

Nadhira, jelas Yossi, adalah siswi pindahan dari sebuah sekolah swasta di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, yang masuk ke SMP Al Jannah pada pertengahan tahun ajaran 2014-2015, tepatnya pada Januari 2014. Alasan kepindahan Nadhira ke SMP Al Jannah, berdasarkan informasi dari orang tua saat hendak memasukkan Nadhira ke SMP Al Jannah, adalah trauma atas hal-hal yang dia alami di sekolah sebelumnya.

SMP Al Jannah juga mendapatkan informasi dan data bila Nadhira termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Karena termasuk anak berkebutuhan khusus, maka pada saat mendidik sekolah berupaya semaksimal mungkin menciptakan kondisi yang nyaman bagi Nadhira.

“Bersama dengan tim di Sekolah Al-Jannah, seperti wali kelas, BK, tim inklusif, psikolog sekolah dan guru pendamping, kami senantiasa mengondisikan siswa/siswi lainnya agar dapat memahami kondisi ananda Nadhira, untuk itu Nadhira pun difasilitasi guru pendamping khusus dan diberikan program di unit inklusif, program untuk anak berkebutuhan khusus,” papar Yossi.

Dia mengungkapkan, setiap Nadhira berkeluh kesah tentang masalah di rumah maupun pertemanan di sekolah, pihaknya selalu melakukan kroscek lapangan dan pembinaan. “Sehingga tidak benar jika dikatakan Ibunda Nadhira bila sekolah tidak menanggapi keluh kesah Ananda Nadhira,” bantahnya.

Meski Nadhira termasuk anak berkebutuhan khusus, tambah Yossi, teman-temannya di kelas dapat menerima kondisi Nadhira apa adanya karena murid Al Jannah sudah terbiasa berteman dengan anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. (azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...