KH. Idrus Romli: "Kalau ada orang NU yang bela Syiah itu oknum"

KH Idrus Romli (bersarung) saat menyampaikan bamyak dusta Syiah dihadapan dua ribuan jmaah tabligh akbar dan sinergi umat dengan tema “Umat bersatu kokohkan ASWAJA (Ahlusunnah wal Jamaah).” Bogor, Ahad (22/2/2015).
119

BOGOR (Arrahmah.com) – Dalam pertemuan terbatas para ulama dan panitia acara serta diikuti pula oleh sejumlah jurnalis, usai acara tabligh akbar dan sinergi umat dengan tema “Umat bersatu kokohkan ASWAJA (Ahlusunnah wal Jamaah),” Bogor, Ahad (22/2/2015), Pengasuh Pondok pesantren Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur, KH Idrus Ramli didaulat menceritakan beberapa pengalamannya dalam menghadapi kelompok pendusta, Syiah.

Kiai getol menjelaskan dengan gamblang bagaimana Ormas Islam Nahdhatul Ulama (NU) sejak awal berdirinya menjadi benteng Ahlussunnah wal Jamaah secara aqidah, intelektual dan ilmiah dalam menghadapi aqidah sesat Syiah di seluruh penjuru Nusantara. Secara institusi NU anti Syiah.

“Kalau ada orang NU yang membela Syiah itu adalah oknum,” jelas anggota Dewan Pakar ASWAJA Center PWNU Jawa Timur ini.

Pernyataan Kiai itu diutarakan menjawab pertanyaan Ustadz Abdullah Robbani dari Majelis Mujahidin, bagaimana sikap NU sesungguhnya terhadap Syiah. Ini pertanyaan yang sama juga di benak banyak warga masyarakat terkait hal itu. Apalagi dalam tayangan di Youtube ada pernyataan ketua Umum PBNU Aqil Siradj yang membela Syiah dan menghina warga Nahdliyyin.

“Hadratus Syaikh (KH. Hasyim Asyari-red) telah menegaskan bahwa syiah sesat dan sebagian ajarannya kafir,” tambah KH. Idrus Ramli.

Anggota Bahtsul Masail NU ini juga mengungkapkan bahwa kultur muslim Indonesia adalah menolak Syiah. Hanya Syiah memutar balikkan informasi dan membuat dusta seputar umat Islam Indonesia dan NU.

Dia juga mengungkapkan dalam banyak perdebatan ilmiyah dengan Syiah di berbagai tempat dari sabang sampai Merauke yang telah di ikutinya, Syiah berdusta dan ngeles saat sudah terpojok dengan ditunjukkan kitab-kitab mereka sendiri. Biasanya mereka ngeles dengan mengatakan “Hadits dalam kitab itu tidak mu’tabar” dan “Itukan syiahnya Ijabi, ABI tidak demikian,” dan lain lain.

“Kalau bukan taqiyah bukan Syiah namanya,” simpul Kiai .(azmuttaqin/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.