Berita Dunia Islam Terdepan

Surat untuk presiden negeri kami tercinta Indonesia

2

Oleh: K. H. Muhammad Arifin Ilham

(Arrahmah.com) – Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. Semoga salam rahmat dan berkah Allah selalu menyertai ayahanda Jokowi tercinta, aamiin.

SubhanAllah ayahanda terpilih dan mengemban amanah Allah sebagai presiden negeri tercinta ini. Sungguh jabatan yang ayah emban hakekatnya amanah Allah yang ayah akan pertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Ingat ayah, ayah adalah hamba Allah, seorang Muslim yang punya tugas utama mengabdikan diri kepada Allah sebagai “Kholifah fil ardhi” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56).

Sadarilah ayahanda, kita semua tidak lama hidup di dunia ini, jabatan yang ayah emban juga tidak lama. Sungguh kita akan hidup selama-lamanya di akhirat. Dunia ini memang sebentar tetapi menentukan keadaan kita selama-lamanya, memang sebentar tetapi resikonya terlalu besar.

Ayahanda, jangan sia-siakan kesempatan hidup ini, ingat segala keputusan ayahanda berimplikasi pada kedudukan ayahanda di akhirat kelak. Bacalah Kalam Allah, Surah An-Nisa ayat 85:

Barang siapa memutuskan keputusan yang benar lalu banyak yang mengikutnya maka sebanyak itulah pahala yang ia peroleh, dan barang siapa memutuskan yang buruk lalu banyak yang mengikutnya maka sebanyak itulah dosa yang ia pikul…

Sungguh jika ayahanda jujur amanah maka ayah meraih kedudukan mulia, lebih mulia dari para syuhada dan satu derajat di bawah kedudukan para Nabi (Q.S. An-Nisa: 69), dan di akhirat kelak menjadi hamba utama yang meraih perlindungan Allah, “Imam yang ‘adil akan dinaungi oleh Allah (pada hari kiamat) di bawah naungan-Nya,” (H.R. Bukhari Muslim).

Tetapi kalau ayah khianat, berdusta, mohon ayah baca dengan hati yang dalam peringatan Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wa sallam) ini:

“Pemimpin mana saja yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (H.R. Ahmad)

“Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga.” (H.R. Bukhari-Muslim)

Dalam lafadh yang lain disebutkan: “Ia mati di mana ketika matinya itu ia dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan baginya surga”, “Barangsiapa yang melakukan perbuatan jahat atau melindungi pelaku kejahatan, maka baginya laknat dari Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya amal wajib maupun amal sunnah (yang ia kerjakan).” (H.R. Bukhari-Muslim)

Ayahanda sekarang presiden negeri ini, mayoritas penduduk negeri menunggu bukti janji ayahanda. Kini ayahanda bukan petugas partai lagi, bukan pelaksana koalisi, bukan pembela kepentingan kelompok siapapun, bukan pembawa pesan siapapun.

Ayah presiden, ayah harus punya kemandirian sikap, tegas, berani, jujur, jangan takut kepada siapapun. Takutlah hanya kepada Allah yang masih mengizinkan ayahanda bernafas. Mayoritas penduduk negeri ini susah, sogok menyogok dan korupsi membudaya, ma’siyat di mana-mana, inilah tugas utama ayahanda, ayahanada harus kuat dengan dukungan aparat yang kuat juga, menteri yang jujur, tentara yang kuat, polisi yang bersih, KPK yang berani.

Ayahanda, waktu terus berjalan, tumpukan kekecewaan, marah dan susah sudah bercampur, dan bisa tumpah. Segeralah ayah bersikap sebagai presiden negeri yang takut kepada Allah, berani, jujur, amanah dan mandiri memutuskan untuk kepentingan kemakmuran kesejahteraan rakyat ini.

Takutlah ayah kepada Allah dan Hari Pembalasan-Nya, ajaklah kami rakyat bangsa ini takut kepada Allah, hidup bahagia dalam hidayah Syariat dan Sunnah Nabi-Nya yang ayah dan nanda cintai bersama.

“Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, niscaya Allah turunkan keberkahan dari langit dan bumi, tetapi kalau menggunakan nikmat-Nya untuk berbuat zhalim, maka Kami azab mereka karena kejahatan mereka.” (Q.S. Al-A’raf: 96).

Allahumma ya Allah, kami rindu pemimpin yang berwibawa, yang sangat takut kepada-Mu dan mengajak kami takut kepada-Mu. Pemimpin yang mengajak kami hidup dalam Syariat-Mu dan bahagia dalam Sunnah Nabi-Mu. Allahumma ya Allah, selamatkanlah kami, negeri kami, dari murka-Mu, aamiin.

Dari rintihan hati seorang anak bangsa yang mencintai umat dan negeri ini.

(arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...