Berita Dunia Islam Terdepan

Rumus musuh Islam dalam memanfaatkan para Ghulat Takfir untuk menghancurkan Islam (bag.1)

16

(Arrahmah.com) – Musuh-musuh Islam bukan hanya memerangi umat Islam secara langsung, namun juga melalui berbagai strategi licik mereka dengan memanfaatkan potensi konflik internal umat.

Tindakan mereka itu bertujuan untuk ‎menguras energi kita dan menyibukkan kita dari musuh utama kita sehingga kita tidak pernah menang dalam segala bidang, baik dalam memilih pemimpin, maupun meraih kemenangan jihad, sebagaimana yang terjadi di Syam, Irak, Mesir dan Indonesia ini.

Ketika musuh menemukan rumus ini, maka mereka mengulangi kesuksesan mereka ‎dengan memanfaatkan kaum ekstremis di dalam menggebuk aliran jihad yang berpotensi menjadi ancaman, mereka menciptakan tokoh dengan “tim sukses” nya untuk memutuskan langkah skenario mereka, mereka membuat aqidah dan manhaj sendiri, pedoman pergerakan dan persiapan dana agar simpul kaum ekstrem/ghulat berkumpul dan biasanya mereka akan digunakan untuk proyek-proyek jangka pendek dan digunakan untuk menggebuk lawan politik.

Studi kritis Abu Ayyash Al-Indunisy berikut mengupas rumus musuh Islam dalam memanfaatkan para ghulat takfir. Studi ini dipublikasikan oleh Muqawamah Media pada Sabtu (24/1/2015). Kami membaginya menjadi dua bagian, berikut bagian pertamanya.

RUMUS MUSUH ISLAM MEMANFAATKAN PARA GHULAT TAKFIR

Studi Kritis Mengungkap Makar Musuh-Musuh Islam Dalam Memanfaatkan Potensi Konflik Pada Tubuh Umat Islam

Oleh: Abu Ayyash Al-Indunisy

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang memberikan hikmah kepada saja yang dikehendaki, salam dan shalawat terlimpah kepada Qudwatuna wa Uswatuna nabi Muhamad shalallahu alaihi wassalam, kepada keluarga dan kepada sahabat juga kepada umatnya yang senantiasa sabar, istiqamah dan teguh di jalan Dakwah dan Jihad.

Allah ta’ala berfirman :

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”.(QS. Ash-Shaff [61] : 7-8)

Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala menegaskan pula:

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai”. (QS. At-Taubah [9] : 32)

Allah Ta’ala juga berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan, supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi”. (Q.S. Al-Anfal : 36-37)

Allah Ta’ala di sini menjamin dan berjanji untuk menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun musuh-musuhnya tidak menyukai, daya dan upaya terus dilakukan dengan harta dan jiwa, makar dari yang paling lembut hingga yang paling keji dilakukan oleh musuh-musuh-Nya tetapi Allah Ta’ala menyempurnakan cahaya-Nya, terbukti Makar Allah lebih baik dari orang-orang kafir.

Kebangkitan Islam Akan Terulang

Siapakah yang lebih menepati janjinya selain dari Allah Ta’ala? Janji itu amat sangat dekat tetapi terkadang kita tidak sabar ingin meraih buah yang belum masak, kita terburu-buru mengambilnya dan memanennya. Padahal jikalau kita sedikit bersabar tentu itu akan lebih baik bagi diri kita.

Allah Ta’ala Berfirman :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik”. (QS: An-Nuur Ayat: 55)

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam bersabda:

“Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode Mulkan Aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam”. (HR Ahmad 17680).

Kita akan membagi hadits ini dengan 5 periodisasi perjalanan umat Islam dan kami akan mencukupkan pada pembahasan zaman kita hidup.

1. Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya…

Yaitu masa kepemimpinan langsung Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘Alahi Wassalam yang disebut sebagai masa An-Nubuwwah (Kenabian) selama 23 tahun. Para ahli sejarah membagi periode ini dengan 2 (dua) fase yaitu fase:

  1. Fase Makkiyah, ini adalah fase ketika Rasulullah menempa aqidah dan mentarbiyah sahabatnya dengan tarbiyah langsung, para ahli sirah menyebut sebagai Marhalah ” Sirriyatu Da’wah wa Sirriyatut Tanzhim.” Yaitu biasa kita sebut masa menyembunyikan struktur organisasi dan menyembunyikan da’wah yang dalam perkembangannya berubah menjadi ” Sirriyatu Tanzhim wa Jahriyyatud Da’wah” yang biasa kita sebut sebagai merahasiakan struktur organisasi dan menampakkan dakwah. Fase ini adalah fase menanamkan keyakinan, di dalamnya terdapat pemberitahuan adanya ancaman Allah bagi mereka yang menyekutukan-Nya dan ada kabar gembira dari Allah bagi mereka yang bertauhid, beriman dan beramal shalih.
  2. Fase Madaniyah. Adapun fase Madaniyah adalah fase “Jahriyyatut Tanzhim wa Jahriyyatu Da’wah” yaitu menampakkan struktur dan menampakkan dakwah, dari sinilah taklif atau beban syariat mulai diperintahkan kepada orang-orang beriman dari Puasa di bulan Ramadhan, Zakat, Haji dan Jihad, pada fase inilah syariat Jihad diberlakukan, sehingga selama 13 tahun seluruh jazirah Arab takluk kepada pemerintahan di Madinah

2. Setelah itu datang periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah Ta’ala mengangkatnya…

Ini adalah periode kedua, yang merupakan kepemimpinan para sahabat utama yakni Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib yang dikenal dengan julukan Khulafaur Rasyidin (Para khalifah yang adil, jujur, benar dan terbimbing oleh Allah SWT) sehingga masa mereka adalah sebaik-baik qurun dan predikat Khairu Ummah / umat terbaik melekat kepada mereka. Di dalam hadits tersebut periode ini dikenal sebagai periode Khilafatun ‘ala Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang mengikuti Manhaj/Sistem/Metode/Cara Kenabian).

3. Kemudian datang periode Mulkan Aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa…

Yaitu masa kekuasaan bani Ummayah (100 tahun), Masa Abbasiyyah 450 tahun, Masa Utsmaniyah Turki Saljuk (700 tahun). Dikatakan Aadhdhon (menggigit) karena walaupun sistem monarki akan tetapi mereka masih menegakan hukum-hukum Allah ta’ala.

4. Selanjutnya datang periode Mulkan Jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah ta’aala…

Adalah masa kita hari ini dimana syariat Islam telah dicampakan, kita hidup pada titik nadir terendah dalam perjalanan umat Islam, kezhaliman, dan pembantaian umat Islam terjadi di mana-mana mewarnai periode ini.

5. Setelah itu akan terulang kembali periode Khilafatun ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam”.

Inilah masa yang kita nanti-nantikan, kita tunggu, masa ini kegelapan akan terangkat menjadi masa kecahayaan dan keemasan, kemenangan, kebahagiaan, kesejaterahan melanda ke seluruh negeri. Akan tetapi peristiwa yang mengiringi kemenangan ini bukanlah barang gratis begitu saja, masa-masa kritis umat menjadi menu pelengkap di dalam menyongsong kejayaan Islam ini. Pembataian dan pembunuhan yang sebelumnya diderita umat ini, menjadi syarat kemenangan agama ini, semuanya adalah ujian Allah Ta’ala, semuanya saringan, ujian kesabaran adalah hikmah, bahwa Allah akan menyiapkan generasi yang membawa panji-panji hitam dari timur untuk melicinkan jalan Imam Mahdi yang akan mendobrak keangkuhan materialistik dunia hari ini.

Janji Allah Pasti Terwujud

Allah Ta’ala Berfirman : “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS: An-Nuur Ayat: 55)

Dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menceritakan tentang ayat ini, yakni bahwa ketika di Makkah dulu para shahabat selalu membawa pedang karena jiwa mereka terancam gangguan orang Musyrik Quraisy Makkah.

Kisah tentang hal tersebut juga diriwayatkan oleh Hakim dengan sanadnya yang sampai kepada Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam dan para shahabatnya datang ke Madinah, maka orang-orang Anshar mendatangi mereka. Orang-orang Arab kemudian melempar panah dari satu busur, di mana mereka tidak bermalam kecuali dengan senjata dan tidak berada di pagi hari kecuali dengannya, maka mereka berkata, ‘Tidakkah kamu melihat bahwa kita bangun sampai tidur malam dalam keadaan aman, tenang dan tidak takut kecuali kepada Allah.’ Maka turunlah ayat, ‘Wa’adalahulladziina aamanuu minkum…dst’.” (Hadits ini menurut Hakim shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari-Muslim) tidak menyebutkannya dan didiamkan oleh Adz Dzahabi).

Hal ini kita alami sehingga hari ini kita memegang ajaran agama kita laksana memegang bara api Rasulullah shallahu alaihi wasalam bersabda: “Akan datang suatu zaman dimana orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Hadits ini merupakan berita tentang masa-masa sulit yang akan dilalui oleh orang-orang yang ingin tetap menegakkan kebenaran dan teguh di atas prinsip hidup para salafus shalih. Prinsip untuk tetap meniti jalan kebenaran meskipun terjal dan berbatu. Prinsip untuk tetap memelihara kejujuran di tengah arus kebohongan dan kepalsuan. Prinsip untuk tetap memelihara amal kebajikan di tengah gelombang kemaksiatan dan pasang surut keimanan. Kondisi saat inilah kita merasakan bahwa memegang agama kita laksana memegang bara api yang panas.

Dalam salah satu riwayat disebutkan: Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Akan datang kepada manusia suatu masa yang ketika itu orang yang sabar di atas agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR. At-Tirmidzi no. 2260. Dishahihkan oleh al-Albani di as-Silsilah ash-Shahihah 2/645).

Inilah keadaan yang hari ini kita alami, dan zaman yang kita hidup di dalamnya. Sebuah keadaan dan kondisi zaman yang penuh dengan fitnah dan kerancuan. Sungguh, hanya dengan berbekal kesabaran untuk terus menempuh jalan-Nya dan berharap kepada pertolongan-Nya lah kita baru bisa melewati segala fitnah tersebut.

Salah Satu Bibit Fitnah itu Bernama Ghulat Takfiri (Pengkafiran Ekstrem)

Salah seorang Ikhwah bercerita ketika berada di Afghanistan, pada tahun 1994 di camp Arab Peshawar Pakistan ‎ada sekelompok orang-orang yang hidupnya eksklusif (sangat tertutup), mereka hidup menyendiri menjauhi keramaian manusia, jarang bersosialisasi, ikhwah-ikhwah Arab tersebut berasal dari Aljazair. Bahkan tempat tinggal mereka sudah dibuat menjadi semacam benteng pertahanan.

Suatu hari salah seorang ikhwah dari kelompok Ikhwah eksklusif Aljazair ini, ada satu orang yang keluar dari pemahaman kelompok ini, entah mengapa dan apa alasannya, Ikhwah Aljazair ini ditembak mati ketika berjalan melewati sebuah gang di depan kamp Aljazair tersebut.

Pada waktu itu, ikhwah-ikhwah arab ‎lainnya ingin menolong, tetapi ditembaki dari depan markas kelompok eksklusif tersebut, sehingga tidak ada yang berani mengevakuasinya, sampai akhirnya istri ikhwah tersebut yang menyeret mayat sang suami sendirian.

Kejadian tersebut memancing ikhwah-ikhwah arab lainya dan ikhwah-ikhwah Afghanistan untuk mengepung kamp kelompok Aljazair yang dikenal membatasi pergaulannya. Karena ikhwah-ikhwah Aljazair menolak menyerah maka terjadi baku tembak sengit. Untuk menghindari fitnah tersebut ikhwah-ikhwah Arab keluar dari operasi pengepungan dan tinggallah ikhwah-ikhwah Afghanistan yang pada akhirnya juga menghindari kontak senjata ini.

Tidak lama kemudian Pasukan Elit Pakistan datang mengepung tempat tersebut dan terjadilah baku tembak sengit yang akhirnya 6 (enam) dari delapan orang ‎tewas dan 2 dua orang lainnya dapat meloloskan diri. Setelah kejadian tersebut, barulah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang dari Jamaah Khilafah yang berasal Aljazair dan mereka membunuh bekas mantan anggota kelompok ini yang divonis murtad dikarenakan telah keluar dari Jamaah Khilafah ini. (Sumber : wawancara anonim Ikhwah Alumni Afghanistan).

Keterangan yang sama juga diceritakan oleh ustadz Imran Baihaqi alias Musthafa atau yang kita kenal dengan nama Ustadz Abu Thalut, saat ditanya mengenai sepak terjang kelompok ekstrim/ahlul ghulat takfiriyun di dunia jihad, beliau mengatakan:

“…(keterangan tentang munculnya kelompok takfiri sejak zaman jihad Afghan pertama) itu benar, saya sendiri waktu itu ada di sana dan mengalami. Kita waktu itu sampai mukafaah kita hilang mereka rampok! Ya, mereka anggap fa’i itu, saya dan beberapa ikhwan mengalami itu, jadi korban dari perampokan mereka itu. Jadi ketika sebulan sampai 2 bulan kok kita nggak dapat mukafaah, kemudian saya dan pak Zulkarnain mendatangi bendaharanya itu yang itu, apa namanya, maktabnya syaikh Abdullah Azzam, Usamah bin Ladin dan kawan-kawan itu (maksud beliau adalah Maktab Khidmat al Mujahidin-Peshawar, Pakistan,-red). Mereka mengatakan, ‘Kami baru saja dirampok sama orang-orang itu.’ Jadi di-fa’i iya…

Kemudian, dalam perkembangannya, mereka nggak laku di Peshawar, di Pakistan itu mereka nggak laku, nggak laku nggak ada yang ngikutin terus bubar mereka. Nah, ketika ada jihad di Aljazair, mereka kemudian ke Aljazair sana, gabung. Akhirnya kemudian di antara mereka ada yang jadi pimpinan bahkan Amir, Amir Jamaah Salafiyah lid Dakwah wal Qital di sana itu (maksud beliau adalah Al-Jama’ah Al-Islamiyah Al-Musallahah. karena pada periode tersebut belum muncul Jamaah As-Salafiyah lid Dakwah wal Qital-silakan cek Dakwah Muqawamah Al-Islamiyah Al-Alamiyah karya syaikh Abu Mush’ab As-Suri-wallaahu a’lam,-red), petinggi-petingginya dari kalangan mereka. Setelah itu, terjadilah pembunuhan-pembunuhan seperti yang dilakukan ISIS sekarang ini kepada sesama Mujahidin. Habis itu, apa namanya…ada reaksi dari Mujahidin, terus mereka terbunuh pimpinannya itu. Akhirnya, mereka geger…bubar.

Habis itu, kemudian di Irak muncul jihad Irak, di antara mereka yang masih hidup ikut jihad di Irak. Nah, sekarang orang-orang itu menjadi petinggi di ISIS, menjadi muftinya ISIS, ada yang menjadi salah seorang panglimanya. Jadi, ya…wajarlah kalau ISIS punya pandangan semacam itu karena ada orang-orang itu…”. ­– Sampai disini perkataan Ust. Abu Thalut , fakallahu asrah-.

Kebenaran cerita juga kita dapatkan dari Syaikh Al-Maqdisi dan Syaikh Ayman Adz-Dzawahiri Hafizhahullah. Api fitnah ini juga sudah diprediksikan. Syaikh Ayman berkata:

“Beliau [Syaikh Abu Khalid As-Suri] memberitahukan kepadaku bahwasanya ia melihat di negeri Syam bibit-bibit fitnah, yang dahulu beliau pernah menyaksikannya secara langsung di Peshawar [Pakistan], yaitu fitnah kebodohan, hawa nafsu, dan kezaliman yang menghalalkan darah dan kehormatan atas dasar klaim-klaim, syubhat-syubhat, hawa nafsu dan ambisi [terhadap kekuasaan].”

Syaikh Aiman Az-Zhawahiri melanjutkan kisahnya :

“Hal ini mengingatkanku dengan sebuah kisah yang membuat tertawa sekaligus membuat tangisan, yang aku alami sendiri di Peshawar. Ringkas cerita, saya bertemu dengan saudaraku tercinta Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi semoga Allah menjaganya dari segala keburukan dan menyegerakan kebebasan beliau dari penjara. Saya katakan kepadanya: ‘Ada satu kelompok yang mengkafirkan saya karena saya tidak mengkafirkan mujahidin Afghanistan.’ Maka Abu Muhammad Al-Maqdisi tertawa dan berkata kepadaku, ‘Engkau tidak tahu kalau mereka itu mengkafirkan aku karena aku tidak mengkafirkan kamu.’ Semoga Allah menerima Syaikh Abu Khalid As-Suri rahimahullah dalam golongan syuhada’, menerima amal kebaikannya, mengampuni kesalahannya dan menempatkannya dalam surga yang tertinggi Al-Firdaus.”

Gerakan Ekstrimis Takfiri dan Kemiripannya dengan Prinsip-Prinsip Khawarij Modern Jamaah Takfir wal Hijrah di Mesir

Diantara ciri-ciri ushul atau dasar Jama’ah Takfir wal Hijrah adalah menjauhi masyarakat dan meninggalkannya dengan alasan bahwa masyarakat ini telah kafir. Karena itu kita harus mengetahui perkembangan jama’ah ini dan mengetahui asal-usul mereka serta ciri-cirinya.

Jama’ah Takfir wal Hijrah dikategorikan sebagai cerminan Khawarij modern, mereka bahkan menamai dirinya sendiri dengan nama Jama’atul Muslimin, sebuah nama yang hanya pantas disandang oleh Imamatul Udzhma/Khalifah Kaum Muslimin? Jama’ah ini telah berkembang di Mesir di bawah pimpinan seorang mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Asyut yang bernama Syukri Mustofa. Ia telah memunculkan kembali pemikiran Khawarij setelah penahanannya sekitar tahun 1385 H. Demikianlah, kebanyakan pemikiran ini tumbuh berkembang ketika berada dalam penjara hingga tahun 1391 H. Kemudian, berkembanglah jamaah ini dan meluaslah pemikirannya menuju sikap ghuluw hingga para tokohnya dibunuh akibat dari penculikan dan pembunuhan terhadap Dr. Muhammad Husain adz-Dzahabi. (Lihat kitab al-Khawarij, Dr. Nashir al- Aql, hal. 132.)

Ciri-ciri khawarij pada jamaah modern pimpinan Syukri Musthofa adalah sebagai berikut:

1. Prinsip At-Takfir

Hal itu menurut mereka meliputi:

  1. Mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar dan mengatakan dia telah keluar dari agama, dan ia kekal dalam neraka, seperti dikatakan Khawarij dulu.
  2. Mengkafirkan orang yang menyalahi mereka dari orang-orang Muslim (ulama dan selainnya) serta mengkafirkan orang tertentu.
  3. Mengkafirkan orang yang keluar dari jama’ah mereka atau orang-orang yang menyalahi sebagian usul-usul mereka.
  4. Mengkafirkan masyarakat Muslim (selain mereka) dan mengklaim bahwa mereka merupakan masyarakat jahiliyah.
  5. Mengkafirkan dengan mutlak setiap orang yang menghukumi dengan selain apa yang diturunkan Allah.
  6. Mengkafirkan orang yang tidak hijrah kepada mereka dan orang-orang yang tidak hijrah dari masyarakat dan lembaga-lembaga.
  7. Mengkafirkan orang-orang yang tidak mengkafirkan orang yang kafir menurut mereka secara mutlak.

2. Prinsip Wajib Hijrah dan Uzlah

Menurut mereka prinsip wajibnya hijrah dan uzlah ini meliputi:

  1. Hijrah dari masjid orang-orang Muslim dan tidak melaksanakan shalat di dalamnya, serta tidak melaksanakan shalat Jum’at.
  2. Hijrah dari masyarakat Muslim yang ada di sekitar mereka.
  3. Hijrah dari belajar dan mengajar dan mengharamkan masuk ke universitas-universitas dan sekolah-sekolah.
  4. Hijrah dari jabatan-jabatan pemerintah dan bekerja di yayasan-yayasan masyarakat dan mengharamkan berinteraksi dengan masyarakat yang mereka sebut dengan masyarakat jahiliyah yaitu setiap orang selain jama’ah mereka, yakni Jama’ah Takfir Wal Hijrah (Lihat Kitab al-Khawarij, Dr. Nashir al- Aqli, hlm. 132.)

Sebagai akibat dari penahanan, penindasan dan sikap represif rezim Thagut Mesir kepada gerakan Islam ini maka lahirlah gerakan-gerakan aneh lagi menyimpang semacam Jamaah Takfir wal Hijrah ini.

Hal ini menjadi kajian dan dianalisa oleh Rezim Thaghut Saudi, Yordan dan Mesir yang dibiayai pangeran Nayef. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Abu Mus’ab As-Suri bahwa Badan Intelijen Saudi Arabiya yang berada di bawah Menteri Dalam Negeri Pangeran Nayif bin Abdul Aziz sejak 1991 (beberapa tahun paska insiden Jamaah Takfir wal Hijrah) telah mendirikan badan intelijen yang represif, keputusan ini diambil berkat masukan dari tim kerja intelijen Mesir berserta mantan menteri dalam negeri Mesir yang bercitra buruk bernama Zaki Badr dan tim intelijen Yordan tentang metode untuk memunculkan dan memanfaatkan gerakan semacam ini untuk dibenturkan kepada musuh-musuh negara dari gerakan Islam itu sendiri.

Maka dimulailah proyek untuk melahirkan gerakan takfiri sekaligus memberangus gerakan jihad…

Asy-Syaikh Abu Mush’ab As-Suri, sebagai salah seorang ulama jihadis modern mengatakan :

“Sejumlah aktifis jihad, baik di Saudi ataupun lainya, yang selamat dari penjara Ruwais di kota Jeddah yang terkenal kekejamannya bercerita bahwa paska peristiwa dua peledakan di Riyadh dan Al-Khaibar tahun 1994, Ribuan pemuda yang mempunyai latar belakang Jihad, atau dicurigai berpaham Jihadi diinterogasi oleh aparat. Para pemuda tadi mengalami berbagai macam penyiksaan dari badan keamanan Saudi Arabia juga dari petugas bayaran dari Mesir,Tunisia, Suriah dan negara-negara yang piawai dalam ilmu penyiksaan.

Badan Intelijen Saudi Arabia benar-benar mengambil pelajaran dari eksperimen keamanan Aljazair dan kesimpulan yang mereka ambil adalah Kegunaan Aliran Takfiri untuk Membinasakan Jihad! Inilah eksperimen terpenting sehingga para intelijen gigih mengcopy paste dan membangkitkan aliran Takfir dengan mewujudkan sayap kanan sebagai penyeimbang”. (lihat kembali buku Dakwah Muqawamah karya Abu Mush’ab As-Suri dan diterjemahkan dengan judul Perjalanan Gerakan Jihad 1930-2003 penerbit‎ Jazeera-Solo hlm. 34 -35 )

Dengan melihat kembali buku Perjalanan Gerakan Jihad maka kita akan memahami konspirasi jahat ini. Inilah salah satu makar musuh-musuh Islam Global dari kalangan Rezim Thaghut Murtad yang memanfaatkan sikap-sikap aneh di dalam beragama.

Bibit Ghulat Takfir Menurut Syaikh Abu Mus’ab As-Suri

Syaikh Abu Mus’ab As-Suri Fakallahu Asrah, beliaulah guru kita dan Hudzaifah Al-Yamani jaman kita sekarang ini. Beliau telah mengetahui makar busuk dan jahat ini. Bahwa tindakan-tindakan represif Rezim Murtad telah menghasilkan bibit Takfiri secara tidak langsung, persoalan ini telah menjadi rumus baku, dan bagaimana dengan rumus tersebut, gerakan takfiri bisa dikuasai dan ditunggangi untuk kepentingan jangka panjang demi untuk mempertahankan status quo rezim murtad ini.

Demikianlah, thaghut pun mengulangi kesuksesan mereka. Setelah sebelumnya mereka sukses membuat aliran Salafi (Salafi Maz’um) untuk dibenturkan dengan pemikiran IM (Ikhwanul Muslimin) yang kian menggurita dan menguasai berbagai sektor di seluruh jazirah Arab, maka menghadapi kaum “Radikal” semacam Al-Qaeda yang telah menjadi ancaman nyata juga sudah di rancang cukup lama, apalagi Al-Qaeda merupakan buah dari Rahim Ikhwanul Muslimin (lihat kembali kitab Dakwah Muqawamah) yang secara pemikiran dan gerakan adalah bahaya laten bagi para thaghut sehingga harus selalu diwaspadai pertumbuhan dan penyebarannya.

Para tokoh intelijen di berbagai negara pun saling berlomba untuk memprediksi pertumbuhan dan perkembangan gerakan Al-Qaeda, sekaligus menentukan faktor alami yang tepat untuk dibenturkan dengan gerakan ini. Oleh sebab itu, rezim thaghut menciptakan tokoh dan simpatisan guna dibenturkan untuk memperlemah gerakan ini menjadi agenda penting musuh-musuh gerakan ini, dimulai dari pangeran Nayef yang berkerja sama dengan agen intelijen Mesir dan intelijen Yordan untuk memilih salah satu aliran menyimpang dalam tubuh umat Islam untuk dibenturkan demi menghancurkan Al-Qaeda pada khususnya dan Jihad pada umumnya.

Dan pilihan mereka pun jatuh kepada aliran gerakan takfiri ini…

Berkenaan dengan hal tersebut, Syaikh Abu Mush’ab as-Suri mengatakan di dalam kitab Dakwah Muqawamah :

“Untuk memahami fenomena lahirnya Aliran Takfiri, harus kita pahami rumus pembentuk aliran tersebut, kami telah memformulakan hal itu, yaitu:

Penguasa Kafir dan Zhalim + Algojo bengis dan jahat + Kebangkitan Islam yang lemah + Masyarakat awam yang rusak + Kelompok pemuda yang bersemangat tetapi bodoh dan terzalimi = Kelahiran Aliran Takfiri

Kesimpulan apa yang di alami oleh fenomena ‎ini sejak kelahirannya pada awal tahun 1970 an hingga hari ini adalah bahwa aliran ini masih bersifat terbatas dan terisolir, aliran ini tidak populer dan tidak menyebar luas, baik di tengah-tengah aktivis Ash-Shahwah Al-Islamiyah (Kebangkitan Islam) maupun di kalangan masyarakat awam”. (Perjalanan Gerakan Jihad (1930-2002) Sejarah, Eksperimen, dan Evaluasi penerbit Jazeera hal. 31)

Analisa ini juga pernah saya muat dalam tulisan analisa saya pada serial Komunikasi Politik Al-Qaeda bagian ke dua dalam bab Jihad Suriah :

“Ketika badan intelijen mempelajari fenomena ini, mereka menemukan formula dan rumus lahirnya gerakan ini, badan-badan intelijen ini memprediksikan akan lahirnya gerakan jihad beraliran takfiri karena faktor penjajahan pasukan asing dan tindakan represif rezim thaghut, serta jauhnya para aktivis jihad dari ulama yang tulus. Sehingga merekapun terjebak dalam takfir yang berlebihan karena dangkalnya ilmu serta kekecewaan terhadap mereka yang tidak sepaham.

Kehadiran bibit-bibit gerakan takfiri ini terus dikontrol dan dibina oleh intelijen, mereka menjadi alat kepentingan intelijen. Kehadiran mereka dibutuhkan seiring tumbuhnya bibit-bibit ekstrim dengan pola yang sudah dikenali oleh pihak intelijen. Intelijen pun kemudian dengan mudah melakukan operasi infiltrasi kedalamnya, mengambil data-datanya, jaringannya dan dengan keberadaan mereka, intelijen merancang skenario untuk membuat stigma buruk bagi gerakan Islam lainnya untuk menggulung habis mereka. Demikianlah yang pernah terjadi di Aljazair.

Copy-paste benih-benih takfiri ini kemudian diadopsi sisa-sisa rezim Baghdad era Saddam Husein dan Rezim murtad Nushairiyah Suriah hari ini, yang dalam dekade sebelumnya telah menanam agennya di Daulah Islam Iraq, yang keberadaannya semakin menguat paska habisnya elemen Al-Qaeda di tubuh Daulah Islam Iraq, baik karena terbunuh maupun tertawan.” (‎http://m.muqawamah.com/sangat-penting-mengenal-komunikasi-politik-al-qaeda-dalam-memimpin-umat-bag-2.html)

Akar Idiologi dan Bibit Kerusakan Gerakan Takfiri

Syaikh Athiyyatullah Al-Libi rahimahullah mengatakan didalam Jawabus Su’al fi Jihad Difa’i:

“Kami pernah menemui orang-orang seperti mereka, dan orang-orang lain pun pernah menemui orang-orang seperti mereka di banyak negara; Mesir, Libya, Aljazair, Afghanistan, Pakistan dan lain-lain. Sunnatullah tentang orang-orang seperti mereka sudah ditetapkan, ditulis dan dikenal luas oleh para ulama, orang-orang yang berakal sehat dan orang-orang yang berpengalaman; yaitu mereka mengkafirkan para ulama, penuntut ilmu, mujahidin dan seluruh masyarakat. Lalu sebagian mereka mengkafirkan sebagian lainnya.

Pada akhirnya keadaan mereka menjadi sangat buruk sekali, sampai-sampai mereka terkadang menghalalkan banyak perkara yang keharamannya telah qath’i (tegas dan pasti), seperti khamr, narkoba dan zina secara terang-terangan serta hal-hal lainnya. Kami telah melihat mereka di Pakistan menghalalkan opium dan narkoba. Pada awalnya mereka meyakini kehalalan memperjualbelikannya, lalu secara bertahap meyakini kehalalan mengkonsumsinya dan meyakini ia bukan hal yang haram; atau mereka mengatakan bahwa saat ini mereka berada di sebuah zaman yang menyerupai zaman Makkah, itulah zaman dakwah kepada tauhid semata dan tidak ada tasyri’ (penetapan hukum) yang mengharamkan perkara-perkara (opium, ganja dan narkoba) ini. (Jawabus-Su’al fi Jihad Difa’i hlm. 18)

Saya katakana : “Sungguh! demi Allah kami menemui ‎banyak orang seperti mereka di negeri kami Indonesia. Jelas bahwa aqidah nyeleneh ini merupakan celah konflik yang akan dimanfaatkan musuh untuk ditunggangi.”

Karena sikap ekstrem dalam beragama berbanding lurus dengan kepentingan musuh, ketika musuh kita tidak mampu menjangkau kita, maka mereka akan mempergunakan orang-orang ghuluw ini untuk kepentingan sesat mereka tanpa mereka sadari, bibit-bibit kerusakan ini sudah biasa kita rasakan di Suriah, Iraq dan Aljazair.

Benang Merah Ghulat Takfir dan Intelijen

Syaikh Athiyyatullah Al-Libi Rahimahullah, mengisahkan sebuah pengalaman berharga ketika beliau diutus oleh Komando Pusat Al-Qaeda ke Aljazair dan Libya. Beliau mengatakan:

“Demi Allah, kami telah melihat mereka dan bergaul dengan mereka di lebih dari satu negara. Para Thaghut murtad membiarkan saja mereka itu berkeliaran bebas, bergerak bebas, tidak diapa-apakan sama sekali.

Kami melihat hal itu dengan mata kami sendiri dan kami bergaul dengan mereka di Libya pada akhir-akhir tahun 80-an abad ke-20 Masehi yang lalu, saat itu serangan-serangan terhadap saudara-saudara kami yang berkomitmen dengan Islam mencapai puncak keganasannya oleh thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya. Meski begitu, thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya membiarkan begitu saja para Khawarij “Takfiriyyun”, tidak mendekati mereka, bahkan mereka diberi peluang di setiap bidang.

Mengapa demikian? Karena thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya mengetahui bahwa para Khawarij “Takfiriyyun” memberikan bantuan penting bagi mereka. Para Khawarij “Takfiriyyun” itu tidak menimbulkan bahaya apapun bagi thaghut Moammar Qaddafi, para tentara dan dinas intelijennya. Bahkan para Khawarij “Takfiriyyun” itu sebenarnya membantu mereka dalam memerangi kaum muslimin yang tertindas!

Bagaimana tidak, sedangkan sifat para Khawarij “Takfiriyyun ” itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah Alaihi Wa Sallam : “Mereka memerangi umat Islam dan membiarkan para penyembah berhala.” (. HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, An-Nasai dan ahmad )

Demikianlah, wahai ikhwah! Potensi konflik internal umat Islam digunakan musuh Islam untuk ‎menguras energi kita, menyibukkan kita dari musuh utama kita. Hal semacam inilah yang membuat kita tidak pernah menang dalam segala bidang, baik dalam memilih pemimpin, maupun meraih kemenangan jihad, sebagaimana yang terjadi di Syam, Iraq, Mesir dan Indonesia ini.

Sikap Ghuluw / Ekstrem Adalah Kartu As Musuh

Ketika musuh menemukan rumus ini, maka mereka mengulangi kesuksesan mereka ‎dengan memanfaatkan kaum ekstremis di dalam menggebuk aliran jihad yang berpotensi menjadi ancaman, mereka menciptakan tokoh dengan “tim sukses” nya untuk memutuskan langkah skenario mereka, mereka membuat aqidah dan manhaj sendiri, pedoman pergerakan dan persiapan dana agar simpul kaum ekstrem/ghulat berkumpul dan biasanya mereka akan digunakan untuk proyek-proyek jangka pendek dan digunakan untuk menggebuk lawan politik.

Intelijen Thaghut Tunggangi Kaum Ghulat Demi Memadamkan Jihad Bumi Syam

Wilayah Syam adalah proyek sukses dalam eksperimen thaghut menggunakan kartu kaum ekstrimis, hal ini sebetulnya amat wajar karena wilayah Syam (Suriah) adalah safe house dan transit para jihadis yang ingin memasuki Iraq waktu itu. Selama 1 dekade (10 tahun sejak 2003) sejak invasi Iraq dan belakangan ini ancaman penjajah Amerika yang bercokol di Iraq menjadi alasan untuk menggalang kekuatan rakyat yang militan dalam menghadapi agresor penjajah Amerika pada waktu itu.

Walau ancaman tersebut tidak memasuki Suriah, akan tetapi perkembangan yang terjadi dalam ranah jihad Iraq menjadi pengalaman Suriah untuk menggalang kekuatan kaum Ghulat/Ekstremis, sekaligus menjadi detonator yang siap digunakan untuk menghadapi ancaman selanjutnya. Melalui jaringan database milik partai Ba’ats yang pernah menguasai Iraq dalam beberapa dekade, membuat Suriah amat mudah mencari nama-nama DPO musuh-musuh politik mereka.

Kasus pembunuhan seluruh Komandan Ahrar Syam, pembunuhan sejumlah Komandan Jabhah Nusrah dan Liwa’ Tauhid bukanlah perkara mudah, akan tetapi menjadi sangat mudah ketika memanfaatkan potensi kekuatan kaum ekstrimis yang militan berkedok Daulah Islamiyah ini. Karena mereka terkenal memiliki keberanian dan kecermatan serta kesabaran. Peranan mereka dalam pembunuhan para komandan tersebut, memberikan keuntungan bagi rezim Bashar Assad, baik secara langsung atau tidak langsung.

Geopolitik dan pengaruh kawasan yang sarat konflik membuat ketajaman intelijen Suriah ‎menjadi terasah, dari konflik Israel dan peperangan di Libanon adalah latihan sesudah pemantapan teori, potensi kekuatan digalang, dirawat dan digunakan untuk melanggengkan kekuasaan Nushairiyah di kawasan tersebut.

Walau teori ini sempat digunakan dalam program politik praktis di dalam memberangus lawan-lawan politik seperti yang terjadi Suriah hari ini, terkadang kelompok Daulah yang dalam program perangnya sejalan dengan rezim Assad itu (sama-sama memberangus kelompok militer di luar mereka) terbukti ampuh di dalam menghajar musuh-musuh utama rezim Bashar Assad. Lihatlah bagaimana rezim Assad meminjam kekuatan kelompok ini, sehingga mereka dapat menikmati hasilnya, berupa terbunuhnya para komandan lapangan Al-Qaeda di Raqqah dan Idlib (lihat kasus Abu Khalid As-Suri, Abu Saad Al-Hadrami, dan Abu Muhamad Al-Fatih, dll).

Pembunuhan para komandan jihad ini terbukti ini menaikkan nilai tawar Suriah dihadapan Amerika untuk menjadikan kawasan ini menjadi status quo, yakni mengembalikan posisi rezim Assad ke tampuk kepemimpinan. Kekhawatiran Amerika dan Israel jika Suriah jatuh ke tangan gerakan Islam menjadi cerita horror selanjutnya, maka kita bisa melihat kasus Suriah akan menjadi konflik berkepanjangan kedepannya karena sikap standar ganda Amerika yang berlagak seperti Polisi Dunia. Membaca situasi seperti ini hendaknya gerakan Islam lebih berhati-hati untuk tidak berkonfrontasi kepada peperangan antar sesama mujahidin di Suriah yang seharusnya bisa dihindari.

Sikap cerdas ini seharusnya menjadi standar baku bagi semua gerakan jihad di sana. Karena musuh seperti rezim murtad Suriah mengerti betul cara memanfaatkan potensi konflik ini, dan inilah yang digunakan Assad di dalam memukul lawan-lawan politiknya di Suriah.

Semoga para qiyadah jihad di bumi Syam senantiasa dalam kewaspadaan akan hal ini, dan dia harus memahami geoplitik dan sosial disana, harus bisa memahami masyarakat disana, karena disitulah kekuatan sesungguhnya, terpisahnya mujahidin dengan masyarakat Syam adalah malapetaka bagi Jihad.

(aliakram/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...