Rusak remaja, JIL sebar buku "Putusin Nggak Ya?" secara gratis di SMA se-Jabodetabek

Putusin Nggak Ya?
82

JAKARTA (Arrahmah.com) – Baru saja pelajar SMA Muslim dipropagandai “pacaran sehat” dalam buku pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan, pada Kurikulum 2013. Kini, mereka dicekoki racun pacaran itu dengan buku “Pacaran Nggak Ya?” karya Liberalis Edi Akhiles. Buku tersebut kini dibagikan secara gratis oleh JIL di SMA se-Jabodetabek, sebagaimana dilaporkan seorang aktivis dakwah -dengan syarat anonimitas- kepada Redaksi Arrahmah pada Sabtu (20/12/2014).

Edi Akhiles sendiri sempat menuliskan latar belakang dari penulisan bukunya itu. Berikut pernyataannya, yang Tim Arrahmah kutip sesuai aslinya dari blog penulis yang merupakan CEO Divapress, pada 7 Mei lalu. Selamat menilai betapa melencengnya pemikiran Edi Akhiles, sementara dia dan JIL hendak menularkannya kepada pemuda-pemudi Muslim se-Jabodetabek.

Sampul buku "Putusin Nggak Ya?"
Foto buku “Putusin Nggak Ya?” yang dikirimkan aktivis dakwah kepada Redaktur Arrahmah

“Tidak diragukan lagi bahwa pacaran dalam segala bentuknnya adalah pintu menuju kemaksiatan. Karenanya, ia haram! Jika kau mencintai seseorang, datangi walinya, lamar, nikahin.” (Felix Y. Siauw)

Penting untuk memahami epistemologi (definisi dan cakupan) istilah apa pun, termasuk pacaran dan ta’aruf, sebab ini akan mempengaruhi kesimpulan akhirnya. Ketidakutuhan memahami epistemologi akan melahirkan kesimpulan hukum (fiqh) yang kurang detail dan obyektif, sehingga berisiko gebyah-uyah. Pacaran pada sebagian bentuknya itu haram, tapi pada sebagian bentuk lainnya itu halal.” (Edi Akhiles)

Sudah cukup lama saya berpikir secara mendalam tentang tema yang ditulis dalam buku ini. Saya merenung dalam-dalam, berbicara dengan beberapa kawan, hingga akhirnya saya memutuskan untuk meneliti dan menuliskan kajian ini.

Terhitung sejak Desember 2013, setelah saya memposting tulisan di blog mengenai Studi Hukum Islam tentang Kebolehan Mengucapkan Selamat Natal, yang ramai menuai pro dan kontra, saya ketemu dengan buku Felix Y. Siauw, Udah, Putusin Aja! Ya, saya tahu beliau, meski beliau pasti nggak tahu saya (hiiii…).

Hasrat saya kian menggebu setelah ketemu buku Halaqah Cinta karya Arif Rahman Lubis. Kedua buku tersebut memiliki kesimpulan yang sama: “Pacaran itu haram”.

Saya memiliki banyak kawan nyata, yang saya tahu mereka termasuk muslim baik-baik, rajin shalat pula, yang tengah menjalin hubungan pacaran dengan serius. Saya prihatin dengan kenyataan ini. Satu sisi, saya tahu mereka adalah orang-orang muslim yang taat beribadah. Namun, di sisi lain, jika mengikuti buku Felix dan Rahman, mereka ter-judge melenceng dari ajaran Islam karena berpacaran.

Lalu, saya pun teringat dengan makalah panjang yang pernah saya buat untuk presentasi kelas doktoral tentang Studi Hukum Islam tentang Hukuman Potong Tangan bagi Pencuri. Saya menukil tafsir Abdullah Saeed yang menyimpulkan bahwa hukuman penjara sudah memadai sebagai fiqh baru terhadap ayat potong tangan itu.

Iya, ya, di Indonesia yang saya huni ini, tidak mengenal hukuman potong tangan. Apa iya, karena kita tidak menerapkan potong tangan sesuai dengan makna tekstual ayat 38 dari surat al-Maa’idah itu, lantas kita jatuh dalam kesesatan dan kekufuran?

Seluruh muslim Indonesia sesat begitu?

Ah, saya pun kian galau. Terlalu banyak orang mulia di negeri ini yang sulit saya (dan insya Allah kalian) terima untuk disebut muslim sesat lantaran masalah fiqh sejenis itu.

Saya pun berjumpa taushiyah Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah, yang mengatakan, “Siapa yang ber-ta’ashab (fanatik) kepada salah satu dari para imam madzhab tanpa mengetahui yang lainnya, maka ia bagaikan ber-ta’ashab pada salah seorang sahabat tanpa yang lainnya.

Begitulah riwayat buku ini saya putuskan untuk ditulis, Kawan.

Pertama, niat saya semata dalam maksud memberikan analisis menyeluruh terhadap ragam dalil dan paham salafush shalih tentang hukum hubungan laki-wanita dalam Islam. Bahwa di satu sisi ada “fiqh Felix“, sebutlah demikian, ya itu patut dihormati sebagai sebuah pemikiran. Namun, itu bukanlah wajah Islam satu-satunya, dan itu muncul di dalam buku ini. Tujuannya: agar kalian tidak hanya melihat hukum Islam dari satu wajah, sebagaimana dinasihatkan Ibnu Taimiyah itu. Insya Allah, tidak ada kepentingan secuil pun pada diri saya untuk mengakali dalil-dalil al-Qur’an dan hadits Nabi-Nya. Na’udzubillah min dzalik.

Kedua, segala penyimpulan saya dalam buku ini jelas sangat dialogabel, debatable, sebab ia hanya sebuah tafsir/paham/wacana tentang hal furu’ (cabang), bukan ushul (pokok) dalam hukum Islam. Sungguh sangat penting bagi kita untuk terlebih dahulu memahami perbedaan mendasar antara syariat yang tetap dan mutlak dengan fiqh yang dinamis.

Ketiga, saya tidak berhasrat buku ini untuk diamini. Namanya wacana tidaklah bakal berdiri di atas kakinya sendiri, bukan? Karena itu, diskusi lanjutan tentang muatan buku ini sangat patut diapresiasi. Diskusi dan sharing ilmu dalam semangat adab ikhtilaf (etika berbeda pendapat), dengan spirit akhlaqul karimah.

Keempat, kepada semua sahabat muslim yang saya kutip pemikiran dan namanya di dalam buku ini, saya ucapkan terima kasih dan jazakumullah biahsanil jaza’.

Semoga buku yang tuntas saya tulis dalam 10 hari ini tepat hari Kamis (malam Jum’at, setelah shalat jamaah dan ngaji Yaasiin bersama keluarga) membawa manfaat, menjadi jariyah. Jika ada kebaikan di dalamnya, dan itu bernilai pahala di sisi-Nya, saya meniatkannya sebagai tambahan amal baik almarhumah ibu. I love you, Mom…. Juga buat almarhum bapak dari Indramayu, H. Nashir. Jika ada keburukan di dalamnya, biarkan itu menjadi tanggungjawab saya personal.

Buku ini dimulai dengan mengulas (1) Cinta dan syahwat itu sejatinya adalah sunnatullah, (2) Jatuh cinta dan jatuh syahwat itu dua hal yang berbeda esensi dan hukumnya, (3) Apa benar pacaran itu haram ya? (Ini porsi paling besar karena meneliti khusus mulai khalwat, ta’aruf, solusi pernikahan, dan fenomena pacaran di negeri kita.), (4) Beneran sudah siap menikah? (Menakar ukuran siap menikah sebagai bagian mutlak dari pernikahan yang disunnahkan Rasulullah Saw.), (5) Apa bener menikah itu kan buatmu kaya?, dan (6) Tips atasi cekcok jika kau sudah menikah (lhaaa, ini curcol pengalaman saya personal nih J).

Oh ya, saya sengaja pakai bahasa yang ringan, agar lebih mudah dicerna. Juga pakai sebutan kau dan kalian di sini, bukan Anda ataupun antum, semata demi mendekatkan gagasan ini kepadamu.

Ilaahii anta maqshuudii wa ridhaaka mathluubii, a’thinii maghfirataka wa mahabbataka birahmatika yaa arhamar raahimiin. Amin. (Duhai Tuhanku, Engkau-lah tujuanku dan ridha-Mu adalah pencarianku, berilah aku ampunan-Mu dan cinta-Mu dengan rahmat-Mu. Amin).

Last, “A book is a home of knowledge. The civilized people never burn a book, however you think it is so stupid….

****

Dan berikut info teknis detail tentang buku ini:

  • Buku ini sebaiknya dibaca dulu sebelum disimpulin. Jangan dibalik lho. Yang benar itu, mandi dulu baru pakai baju. Jangan pakai baju dulu, baru mandi.
  • Insya Allah buku ini saya putuskan untuk ditulis dengan niat baik. Bukan ngakal-ngakali dalil. Siapa tahu, Om? Yeee, Gusti Allah yang tahulah kalau tentang bab hati. Dalamnya hati dan kesetiaannya siapa sih tahu, eaaaakkkk….
  • Buku ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab saya secara ilmiah. Saya menuliskannya dengan pertanggungjawaban itu. Ada banyak dalil dan pendapat salafus shalih yang saya teliti di sini.
  • Saya menerapkan pola pendalaman epistemologi pacaran dalam buku ini (definisi dan cakupannya). Tidak digebyah-uyah. Ada 3 peta pacaran yang saya buat. Nah, tiga peta inilah yang harus dipahami dulu sebelum nyimpulin. Dan di antara tiga peta, hanya satu yang saya simpulin boleh dilakukan.
  • Tidak ada hak bagi saya untuk memaksa siapa pun bersetuju dengan buku ini. Saya selalu nempatin ini di maqam al-khitab al-fiqhi (wacana fiqh), sehingga dialogable.
  • Poin terbesar saya dari buku ini ialah agar khalayak mendapatkan sebuah sudut pandang di hadapan sudut pandang yang sudah ada tentang hukum khalwat, ta’aruf, pernikahan, dan pacaran itu. Bahwa sangatlah penting bagi setiap kita untuk mengerti selalu perbedaan mendasar antara syariat yang mutlak dengan fiqh yang dinamis dan dialogis.
  • Ada sharing lanjutan yang saya sediakan buat kawan-kawan yang ingin berdiskusi lebih lanjut setelah membaca buku ini. Ada ketentuannya di halaman belakang buku ini. Apa pun sharing itu, mari selalu berada dalam adab ikhtilaf sebagai cermin kualitas iman dan akhlak kita lho.
  • Buku ini didesain luar dalam dengan tampilan unyu. Di dalam, banyak ilustrasi penunjang dan tata lay out yang nyenengin mata.
  • Insya Allah, edar serentak di seluruh toko buku tanggal 15 Juni 2014, dengan harga yang tidak akan mahal.
  • 5 Juni 2014 akan saya buka Pre Order spesial bertandatangan saya dan quote untuk kalian. Baik, semoga buku ini membawa manfaat buat kita semua. Amin.

Jogja, 7 Mei 2014

Dengan demikian, aktivis dakwah sumber kami menyerukan para penggiat dakwah dan guru di sekolah-sekolah, serta para orang tua Muslim untuk mengantisipasi pelegalan zina berkedok pacaran tersebut. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.