Berita Dunia Islam Terdepan

Pangdam Jaya: tak boleh biarkan Bandara Perintis bagi para misionaris

pangdam jaya memberikan pernyataan terkait bandara perintis
5

JAKARTA (Arrahmah.com) – Dunia mengalami ancaman krisis energi, pangan dan air. Sebagai salah satu negara yang kaya akan sumber daya alam, maka Indonesia akan menjadi rebutan. Inilah alasan proxy war kian dalam mengancam ibu pertiwi. “Semua negara ingin menguasai sumber daya alam Indonesia, kemudian bandara perintis dibangun untuk para misionaris,” sebagaimana disampaikan Pangdam Jaya Mayjen TNI Agus Sutomo saat memberi kuliah umum di Universitas Bung Karno (UBK), Jalan Kimia, Jakarta, Jumat (21/11).

“Semua negara ingin kuasai sumber daya alam di Indonesia. Malah sekarang sebagian besar sumber energi kita dikuasai asing,” paparrnya dalam Salam-Online, Ahad (24/11/2014).

Agus pun menyatakan kekecewaannya tentang PT Freeport di Papua yang 90 persen dikuasai asing, bahkan rencananya akan diperpanjang higga 2040. Tak hanya itu, di Bumi Cenderawasih juga ditemukan banyak bandara perintis yang dikuasai pihak asing.

“Kita sering menyamar ke sana menjadi Babinsa malah diusir, seperti orang asing di negeri sendiri. Biasanya bandara perintis itu buat para misionaris, ini tak boleh dibiarkan,” tegas mantan Danjen Kopassus ini.

Agus menambahkan, proxy war sudah melucuti satu persatu pulau terluar Indonesia. Menurutnya, kasus Timor Timur dan Sipadan-Ligitan seharusnya dapat menjadi pelajaran bagi pemerintah agar tidak terulang di kemudian hari.

“Sipadan dan Ligitan itu sekarang jadi pulau wisata termahal di dunia. Kalau mau ke sana harus booking enam bulan sebelumnya,” beber Agus.

Kepada rmol.com ia juga memaparkan bahwa, “Reklamasi pantai Indonesia oleh negara tetangga, penolakan nama kapal Usman-Harun, penyadapan telepon pejabat oleh intelijen Australia adalah deretan panjang proxy war yang sedang dihadapi Indonesia.”

“Negara-negara di sekitar khatulistiwa seperti Indonesia sekarang jadi rebutan. Tak hanya dari sumber daya alam, tapi dari bidang budaya, sosial, dan politik mau dikuasai,” ujarnya.

“Sekarang sudah lampu kuning, kita bisa tertawa bahagia sekarang, tapi nanti punya kita tidak ada lagi. Ini salah satu tantangan generasi muda yang makin berat,” pungkasnya. Wallahua’lam bish shawab. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...