Berita Dunia Islam Terdepan

Wawancara Media Al-Malahim bersama Syaikh Nashir bin Ali Al-Anasi seputar permasalahan Jihad Global (bag.2)

2

(Arrahmah.com) – Yayasan Media Al-Malahim, sayap media Mujahidin Al-Qaeda di Jazirah Arab atau Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP), pada Kamis (30/10/2014) telah melangsungkan wawancara bagian kedua yang membahas seputar permasalahan jihad global bersama Syaikh Nashir bin Ali Al-Anasi Hafizhahullah.

Sebelumnya, pada wawancara bagian pertama, Yayasan Media Al-Malahim bersama Syaikh Nashir telah membahas seputar operasi salibis di Irak dan Syam hingga permasalahan pemberontak Syiah Hautsi dan perkembangan kekuasaan mereka di Yaman.

Syaikh Nashir juga menyampaikan bahwa jihad pada saat ini adalah wajib karena mujahidin adalah bagian dari umat. Dia mengatakan bahwa bahkan seorang muslim yang tidak berjihad dengan dirinya dan hartanya, minimal ia harus menjadi pelayan para mujahid dan membantu mereka.

Wawancara bagian kedua ini di antaranya membahas seputar kelompok pemberontak Syiah Hautsi dan hubungan mereka dengan Zaidiyah, mengenai misi Amerika dan negara-negara teluk untuk mengaborsi revolusi Arab Spring melalui kudeta di Mesir dan peperangan militer di Libya, seputar pengepungan Gaza dan kondisi Tunisia, serta kelompok-kelompok jihad yang melakukan perlawanan.

Selain itu, terkait maraknya perdebatan yang terjadi di media jejaring sosial, yang sayangnya banyak dilakukan antar para pendukung mujahidin, Syaikh Nashir juga memberi nasihat bahwa kita wajib berupaya untuk mengobarkan semangat jihad dan membasmi perasaan dendam, bukannya menyebarkannya, serta bertaqwa kepada Allah dalam urusan komentar dan harus menjadikannya sebagai sarana dakwah dan jihad di jalan Allah.

Berikut ini merupakan rilis lengkap wawancara bagian kedua Yayasan Media Al-Malahim bersama Syaikh Nashir tersebut, yang diterjemahkan oleh Tim Muqawamah Media pada Sabtu (22/11).

YAYASAN MEDIA AL-MALAHIM

Mempersembahkan

Bagian Kedua dari Video Visual

WAWANCARA BERSAMA SYAIKH NASHIR BIN ALI AL-ANASI

-Hafizhahullah-

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah, beserta keluarga dan para sahabat beliau, wa ba’du:

Mari kita melanjutkan perbincangan kita bersama Syaikh Nashr bin Ali Al Anasi, ini adalah bagian kedua. Sebagai pemberitahuan, kami menyelenggarakan pertemuan kedua ini pada tanggal 6 Muharram 1436 H bertepatan dengan tanggal 30 Oktober 2014, yang kemudian pada bagian ketiga nantinya kami akan membahas khusus seputar pertanyaan yang diajukan oleh para followers, dengan izin Allah kami akan membuat hashtag di Twitter yang akan segera kami tampilkan pada akhir pertemuan ini, hashtag ini nantinya dapat digunakan untuk mengajukan pertanyaan kepada Syaikh Nashir Al-Anasi, selamat datang wahai Syaikh Nashir.

Terima kasih…

Yayasan Media Al Malahim:
Di akhir pertemuan pertama, kita telah berbincang-bincang mengenai kaum Hautsi dan perkembangan kekuasaan mereka di Yaman. Dalam beberapa hari terakhir terjadi pertempuran sengit di wilayah Rada’ di Al Baidha antara pasukan suku-suku bersama Anshar Syariah di satu kubu, melawan kelompok Hautsi di kubu seberang, bagaimana Anda menggambarkan kondisi kita di dalam peristiwa tersebut? Apa yang terjadi?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Segala puji bagi Allah rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau. Yang terjadi di Rada’a adalah Milisi Hautsi yang dibantu oleh Garda Nasional mendapatkan perlawanan yang gagah berani dari para mujahidin putra-putra suku dan saudara-saudara mereka dari Anshar Syariah, Hautsi berusaha menguasai Gunung Isbil yang berhadapan dengan Desa Al Manasih, namun mereka gagal menguasainya sehingga datanglah pesawat Amerika dan membombardir posisi para ikhwah mujahidin dan membuka jalan bagi Hautsi untuk menguasai Gunung Isbil, ketika itu banyak tank yang dikerahkan dan rudal yang ditembakkan ke arah Gunung Isbil, mereka mulai membombardir rumah-rumah yang masih berpenghuni di Desa Al Manasih, sehingga para mujahidin terpaksa melepaskan desa tersebut kemudian membentuk basis lain di wilayah yang bersebelahan dengan desa tersebut, mengingat desa itu sudah masuk dalam jangkauan tembak pasukan Garda Nasional dan Milisi Hautsi. Hautsi memblow up berita kemenangan ini seakan-akan ini adalah kemenangan besar, mereka membesar-besarkan kemenangan ini, padahal mereka tidak akan mampu mencapai kemenangan ini kalau saja Amerika tidak ikut campur dengan menggunakan pesawat tanpa awaknya.

Kami menenangkan kaum muslimin, bahwa berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, penduduk desa tersebut berhasil dievakuasi tanpa terjadi kerugian sedikitpun, dan para mujahidin dari putra-putra suku dan saudara-saudara mereka dari Anshar Syariah akan tetap teguh berada di posisi mereka. Berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, pertempuran sampai saat ini masih terus berlanjut, di front ini saja jumlah pasukan Hautsi yang tewas telah mencapai angka 300 dan terus bertambah.

Hautsi mengklaim bahwa ia menyerang Desa Al Manasih dengan mengerahkan tentara dan alat beratnya, kemudian didukung oleh pasukan Garda Nasional, serta diback-up dari udara dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur, untuk menghancurkan ruang operasi Amerika berdasarkan klaim mereka, padahal Amerika inilah yang menciptakan propaganda untuk menghancurkan kaum muslimin, menyerang Anshar Syariah dari kejauhan dengan menggunakan pesawat. Hautsi berpura-pura buta terhadap base camp militer Amerika di Shana’a. Di Hotel Sheraton, juga terhadap ruang operasi gabung di kementrian pertahanan, Hautsi juga buta dengan ruang kendali pesawat tanpa awak yang terletak di kantor pusat pemerintahan di wilayah yang ia kuasai, begitu pula dengan menara pengawas lalu lintas udara di Bandara Shana’a. Semua tempat tersebut tidak terlihat oleh Hautsi, namun Hautsi justru menyerang markas komando intelejen Amerika – kata mereka – di Desa Al Manasih! Tanpa merasa bersalah dan malu kita menyaksikan mereka mengucapkan kata-kata ini di dalam saluran berita mereka sambil memainkan opini masyarakat.

Yayasan Media Al Malahim:
Apa yang dapat diungkapkan dari dukungan pesawat Amerika bagi gerak maju kelompok Hautsi pada pertempuran ini?

Syaikh Nashir Al Anasi:

Abu Al Ahrar Muhammad bin Mahmud Az Zubairi Rahimahullah berkata:

Menyingkap sesuatu yang sudah sangat terang itu berarti mematikan faham orang-orang yang berakal…

Menetapkan kembali adanya cahaya matahari itu pengingkaran yang paling lemah dari para pembangkang…

Maksudnya apa yang membuktikan adanya dukungan Amerika bagi kelompok Hautsi untuk menguasai wilayah-wilayah Anshar Syariah? Saya kira hal ini tidak perlu dikomentari lagi, karena hal ini sudah sangat jelas, terakhir kali mereka menggaungkan semboyan “Matilah Amerika” dan “Matilah Israel”.

Yayasan Media Al Malahim:
Semenjak kelompok Hautsi menguasai Shan’a, banyak operasi yang dilancarkan oleh para mujahidin, mulai di Shan’a, Al Baidha’, Al Jauf, hingga Maarib, hingga setidaknya jumlah pasukan Hautsi yang tewas mencapai 500 orang. Pertempuran pun masih terus berlanjut bahkan ini masih terhitung permulaan. Yang menjadi pertanyaan, mengapa Hautsi mati-matian terjun ke dalam peperangan yang merugikan mereka ini?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Hautsi mati-matian berperang meskipun mereka banyak menderita kerugian dan mereka tahu betul seberapa besar jumlah kerugian mereka, sebab mereka tahu bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk melakukan perluasan kekuasaan, mereka tidak ingin kesempatan ini dilewatkan secara sia-sia tanpa melakukan usaha semaksimal mungkin. Saat ini yang terjadi adalah keruntuhan internal di dalam tubuh pemerintah, menteri pertahanan saat ini berubah menjadi menteri pertahanan yang menguntungkan kelompok Hautsi, bukan lagi menteri pertahanan bagi pemerintah Yaman. Kemudian kepentingan Amerika dan Iran sedang bertemu di persimpangan jalan, pesawat pemerintah dan Amerika juga memberikan dukungan udara kepada mereka, jadi ini adalah kesempatan yang tak tergantikan, Hautsi tidak akan pernah menemukan kesempatan semacam ini lagi pada masa mendatang.

Adapun mengenai kerugian dan korban jiwa, baik itu dari kalangan para pejuang mereka sendiri ataupun dari pihak rakyat sipil, maka bagi mereka itu tidaklah penting. Kepentingan mereka adalah bagaimana meraih keuntungan dan kemajuan, dan ini nantinya dengan izin Allah akan memberikan efek bumerang bagi mereka, karena keserakahan yang berlebih-lebihan akan membutakan pelakunya dan akan menyebabkan ia hancur. Dan apa yang dihadapi oleh Hautsi saat ini berupa momok, berupa kerugian, kemudian bersatunya pihak suku dengan kalangan orang-orang yang jujur untuk melawan dan membalas serangan mereka, meskipun mereka kebanjiran fasilitas dan dukungan dari pihak asing maupun lokal; adalah bukti akan tersingkapnya kebohongan, kecurangan dan tindakan mereka yang mempermainkan nyawa masyarakat, ini juga merupakan bukti akan bangkitnya kesadaran umat akan hal ini. Dan tidaklah bersatunya suku-suku untuk bergabung bersama saudara-saudara mereka para mujahidin untuk membalas serangan kelompok penyerang ini kecuali merupakan bukti akan bangkitnya kesadaran masyarakat.

Yayasan Media Al Malahim:
Bagaimana pendapat Anda mengenai kemurahan hati kelompok Hautsi yang bersedia merelakan sebagian besar kuota yang mereka raih di kursi pemerintahan baru, kemudian menyerahkannya kepada kelompok Al Harrak Al Janubiyyah (Gerakan Pemberontak Selatan)?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Hautsi mengetahui bahwa saat ini, apapun pemerintahannya tidak akan bisa mewujudkan harapan mereka, disebabkan keruntuhan sistemik yang tengah terjadi baik itu di bidang ekonomi maupun pelayanan masyarakat, Hautsi tidak ingin memikul tanggung jawab apapun terhadap hal-hal negatif dan tantangan yang akan dihadapi oleh pemerintah pada tahapan ini, ia ingin terus memelihara kobaran kritik yang bersumber dari penderitaan-penderitaan rakyat, sementara ia lah yang menggerakkan dan mengambil keuntungan riil dari balik tabir. Buktinya adalah pelantikan perdana menteri tidak akan dilakukan kecuali setelah mendapatkan persetujuan dari Hautsi, saat ini Hautsi lah yang menjadi penguasa sebenarnya, ia lah yang menjadi penentu kebijakan, namun di saat yang sama ia tidak bersedia untuk tampil di permukaan, karena ia tidak mau memikul segala tanggung jawab yang ada, ia hanya ingin memanfaatkan pemerintah beserta kelemahannya demi memperkuat posisinya, dan ini adalah bentuk kezhaliman yang paling buruk.

Jadi Hautsi tidak sedang bermurah hati sehingga bersedia merelakan jatah kursinya di pemerintahan, akan tetapi ini adalah upaya untuk melarikan diri dari tanggung jawab sehingga ia dapat terus fokus mengakuisisi wilayah-wilayah yang ada, berkuasa dan mengembangkan kekuasaannya. Sebelumnya Partai Al Liqa’ Al Musytarik (koalisi dari berbagai partai di Yaman – red.) juga telah memperingatkan akan bahaya dari trik yang diterapkan oleh Hautsi, namun partai itu juga pada akhirnya berusaha lari dari tanggung jawab dengan menuntut pembentukan pemerintahan berbasis kompetensi (pemerintahan yang tidak ada unsur partai di dalamnya – red.). Artinya adalah partai ini tidak ingin memikul tangung jawab sebagaimana yang dilakukan oleh Hautsi. Rakyat tidak akan menemukan individu, atau kelompok, atau organisasi yang mau bertanggung jawab atas kegagalan yang ada dan mau memperjuangkan hak-hak rakyat, bahkan rakyat lah yang akan menanggung kerugian besar dari pelepasan tanggung jawab politik seperti ini. Pada akhirnya mereka akan menuntut pertanggung jawaban dari Mansour Hadi dan menuntutnya agar membentuk pemerintahan yang serupa dengan pemerintahan berbasis kompetensi (yang baru dibentuk oleh Mansour Hadi – red.), dimana pemerintahan ini nantinya akan membebaskan Partai Al Liqa’ Al Musytarikah dan Hautsi dari tanggung jawab di hadapan rakyat, dan ini akan terjadi dalam waktu dekat.

Yayasan Media Al Malahim:
Sekarang kita ingin memperbincangkan beberapa fokus seputar kelompok Hautsi dan hubungan mereka dengan Zaidiyah. Hautsi mengklaim bahwa ia merupakan bagian dari sekte Zaidiyah, dan ia selalu berbicara dengan mengatas namakan Zaidiyah. Ada pula sebagian orang yang berpendapat bahwa perang yang terjadi hari ini adalah perang antara Zaidiyah melawan Syafi’iyyah, jadi apa deskripsi yang tepat bagi kelompok Hautsi ini?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Permisalan Hautsi ketika ia mengklaim sebagai bagian dari Zaidiyah seperti serigala yang memakai baju domba, agar reputasinya terlihat bagus dan agar diterima oleh masyarakat. Dari sisi mana keyakinan Hautsi dan para pengikutnya terhadap Sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan para ummahat mukminin yang memiliki kesamaan dengan apa yang diyakini oleh Zaidiyah? Bahkan dari sisi mana keyakinan Hautsi beserta kelompoknya terhadap Rafidhah Itsna Asyariyah yang memiliki kesamaan dengan apa yang diyakini oleh Zaidiyah? Hautsi beserta para pengikutnya mengingkari dengan keras bahwa mereka adalah Rafidhah, karena mereka tahu bahwa Zaidiyah mengkafirkan Rafidhah Itsna Asyariyyah, fatwa Imam Al Hadi mengenai hal ini sudah banyak diketahui oleh semua orang.

Taruhlah kita menganggap bahwa mereka bukan termasuk bagian dari Rafidhah akan tetapi mereka adalah bagian dari Zaidiyah sebagaimana yang mereka klaim, lalu bagaimana halnya dengan kecintaan mereka yang sangat kepada Khomeini, Hassan Nashrullah serta para pemuka kontemporer sekte Itsna Asyariyyah lainnya? Kalau mereka benar-benar Zaidiyah, tentulah mereka mau mengkafirkan dan memusuhi para pemuka Itsna Asyariyah tersebut, namun mereka mengagung-agungkan para pemuka tersebut dan mengutip pernyataan mereka, bahkan Letnan Husain Al Hautsi sangat terkesan dengan para pemuka tersebut sampai-sampai ia ikut-ikutan mencela para sahabat; ini semua menjelaskan bahwa sejatinya mereka bukan bagian dari Zaidiyah. Dimanakah keyakinan Zaidiyah mereka terhadap Itsna Asyariyah, misalkan kita beranggapan sebagaimana yang mereka katakan bahwa mereka tidak terpengaruh oleh Itsna Asyariyah? Kenyataannya sekarang mereka mengagung-agungkan para pentolan Itsna Asyariyah, memajang foto-foto mereka, dan mengutip pernyataan mereka. Jadi sekarang ini sebenarnya kelompok Hautsi berkeyakinan dengan keyakinan Itsna Asyariyah namun mereka menyamar di hadapan masyarakat dengan menggunakan madzhab Zaidiyah.

Yayasan Media Al Malahim:
Kita beralih ke topik lain, yaitu mengenai misi Amerika dan negara-negara teluk untuk mengaborsi revolusi arab spring melalui kudeta di Mesir dan peperangan militer di Libya, sebelumnya kita juga telah berbincang-bincang mengenai apa yang terjadi di Yaman, dan nantinya kita akan membahas seputar kondisi Tunisia.

Coba kita mulai dari Mesir, As Sisi melancarkan peperangan yang membabi-buta terhadap seluruh kalangan yang berbau Islam, khususnya saudara-saudara kita para mujahidin di semenanjung Sinai. Pemerintah Mesir berusaha memainkan perang penting di kawasan tersebut melalui peperangannya melawan para mujahidin, bagaimana anda membaca situasi perjalanan revolusi arab secara umum dan peristiwa-peristiwa di bumi Kinanah secara khusus?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Ketika revolusi pecah, ia merupakan revolusi kerakyatan, yaitu revolusi yang mencerminkan kehendak sejati dari rakyat dan ia menuju ke arah yang berlawanan dari arah karakter Isami. Jika kita memperhatikan siapa saja yang mendukung revolusi ini, maka kita akan menemukan bahwa pihak yang mendukungnya adalah musuh sejati bagi umat ini, yaitu Amerika, kalangan-kalangan sekuler, keluarga Su’ud, dan para penguasa negara teluk. Mereka-mereka inilah yang mendukung Prancis untuk menjalankan misinya melawan umat Islam di Mali dan Maghribi, sebelumnya mereka juga mendukung Amerika dan NATO dalam melancarkan di Afghanistan, mereka jugalah yang mendukung dan bergabung dengan Amerika dan NATO dalam memerangi para mujahidin di Syam dan Iraq, memerangi Jabhah Nushrah dan ISIS, mereka jugalah yang mendukung Haftar untuk memerangi Anshar Syariah dan Koalisi Fajr Libya.

Konteks ini pula yang berlaku bagi revolusi di Mesir, yang juga menuju ke arah tadi; sehingga terjadilah kudeta militer dan diskriminasi brutal yang didukung oleh gerakan sekuler dan didukung oleh barat serta dibantu dan diakui oleh negara-negara teluk. Dan ini memicu kembalinya eksistensi undang-undang darurat, kembalinya kesewenang-wenangan dan ketidakadilan, kembalinya tatanan yang sama dengan tatanan pra revolusi kaum muslimin. Namun di masa yang akan datang dengan izin Allah, revolusi tidak akan sama dengan yang sebelumnya, khususnya setelah adanya kaum muslimin mendapatkan pembelajaran dari pengalaman pahit dan penuh penderitaan, yang disebabkan karena mereka meremehkan sektor persiapan kekuatan.

Dengan izin Allah revolusi kerakyatan nantinya akan menuju ke arah kekuatan sejati yang dipandu oleh para mujahidin, dan hal ini difahami dengan baik oleh para thaghut dan barat, sehingga mereka bersungguh-sungguh dalam memerangi jamaah-jamaah yang ada mulai dari sekarang.

Yayasan Media Al Malahim:
Jadi dari sini dapat kita fahami bahwa langkah yang diambil oleh As Sisi dalam memerangi para mujahidin adalah langkah pro aktif untuk menyongsong masa yang akan datang, di mana dengan izin Allah, rakyat akan berpihak dengan para mujahidin.

Syaikh Nashir Al Anasi:
Benar, ini sungguh jelas dan nyata. Jamaah-jamaah yang ada ini, di mana dan mengapa ia muncul, jamaah-jamaah– yang saya maksudkan adalah jamaah-jamaah jihad – yang ada di Semenanjung Sinai, di Baitul Maqdis, dan di wilayah serambi Baitul Maqdis, memulai operasi dan jihad mereka dengan misi menargetkan bangsa yahudi di Palestina yang terjajah, mereka melaksanakan operasi heroik untuk melawan yahudi yang ada di perbatasan dan lokasi-lokasi wisata yang bisa mereka jangkau di wilayah Semenanjung Sinai. Pemerintah Mesir sendiri bertugas untuk menjaga yahudi dan kepentingan mereka di sepanjang jalur pipa gas yang menuju ke perbatasan dan lokasi-lokasi wisata serta hotel-hotel yang biasa digunakan oleh yahudi, ia membuka pertempuran secara menyeluruh terhadap para mujahidin di Sinai dengan tujuan mengalihkan perhatian jihad mereka yang sebelumnya ditujukan untuk melawan yahudi, menjadi melawan tentara Mesir. Semua ini dilakukan demi mencapai target yang ditugaskan kepada pemerintah Mesir, yaitu untuk melindungi Israel.

Semua upaya dan misi ini telah ada sejak zaman Husni Mubarak, dan sayangnya semenjak revolusi dan kejatuhan Husni Mubarak intensitasnya semakin bertambah. Manuver politik yang akut semacam ini dilakukan demi mendapatkan keridhaan barat yang sampai saat ini belum merasa ridha dan tidak akan merasa ridha terhadap mereka meskipun mereka selama ini telah banyak melayani barat, intensitas dari upaya ini semakin bertambah dahsyat seiring datangnya era si pengkhianat As Sisi yang tega mengkhianati agama dan bangsanya, tega mengkhianati ketua yang mengangkat dan mempercayakan kemiliteran kepadanya.

Berkat karunia Allah, operasi-operasi para mujahidin di Baitul maqdis dan serambi Baitul Maqdis yang menargetkan para agresor zionis terus saja bertambah, semangat perjuangan mereka untuk menyerang bangsa yahudi tidak mengendor meskipun upaya musuh ini terus menggila, mereka terus menggempur pasukan As Sisi, mereka memberikan pelajaran yang keras kepada para pasukan tersebut, bahwa tidak ada perbedaan bagi kami antara perang melawan para penjajah atau melawan siapa saja yang melindungi mereka, karena keduanya adalah sama, semuanya adalah jihad yang wajib dilaksanakan tidak ada udzur untuk tidak melaksanakannya.

Yayasan Media Al Malahim:
Jadi apakah tentara Mesir melancarkan perang dan pengepungan terhadap Gaza berdasarkan tujuan ini? Yaitu demi menjaga keamanan negara yahudi?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Tentu saja, ini adalah hal yang jelas, dan sikap As Sisi terhadap perang melawan Gaza ini juga jelas, tindakannya yang memerangi penduduk Gaza dengan cara mengepung dan menghancurkan terowongan bawah tanah mereka di tengah peperangan antara Israel atau yahudi melawan kaum muslimin di Gaza merupakan tindakan yang berasal dari sikap yang jelas dan gamblang, bahkan sekarang As Sisi melakukan kejahatan terhadap para penduduk Gaza dan Rafah dengan cara membentuk daerah penyangga, ini sangat mencekik jalur Gaza dan kaum muslimin yang ada di kawasan tersebut. Terowongan yang sudah dianggap sebagai jalur pernapasan bagi penduduk Gaza, serta jalur perbatasan Shalahuddin yang lebih dikenal dengan nama jalur perbatasan Rafah ini ditutup, ini sama saja hendak mengepung kaum muslimin di Gaza, alasannya adalah demi keamanan rakyat Mesir.

Mesir membuka perbatasan mereka terhadap negara-negara di tiga benua, di sepanjang ribuan kilometer, yang terbentang dari laut merah, kemudian melewati laut tengah, gurun Sahara, hingga perbatasan Libya, ratusan mil ini tidak ia anggap memiliki resiko yang membahayakan kecuali perbatasan yang panjangnya hanya 13 kilometer ini, apakah semua resiko yang membahayakan hanya ada di perbatasan (Rafah) yang sempit ini? Apakah resiko yang membahayakan tidak datang dari para pejabat militer yahudi yang bercuti dan bersenang-senang di Sharm El Sheikh, El Arish dan seluruh tempat-tempat wisata yang ada di wilayah semenanjung Sinai? Bagi mereka resiko yang membahayakan hanya datang dari dalam terowongan yang menjadi tulang punggung bagi kehidupan di para penduduk Gaza yang terkepung. As Sisi juga mengajukan proyek pembangunan pelabuhan di Gaza, kemudian bandara, semua ini ia lakukan karena ia menjaga dan melindungi keamanan para agresor zionis tersebut, bukan seperti yang ia katakan yaitu demi menjaga stabilitas keamanan Mesir.

Yayasan Media Al Malahim:
Karena kita membicarakan seputar Gaza dan Palestina, kami ingin mengajukan pertanyaan yang sering ditanyakan oleh sebagian orang; dimanakah para mujahidin? Dimanakan tanzhim Al Qaeda di Pelestina? Mengapa mereka tidak melakukan operasi di Palestina atau menyerang yahudi? Bagaimana anda menjawab pertanyaan yang sering dikemukakan oleh banyak orang ini?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, ajakan para mujahidin untuk berjihad melawan yahudi dan salibis sudah banyak diketahui dan sudah berjalan lama. Adapun ketika para mujahidin diberikan kemudahan untuk menyerang kepentingan salibis dan Amerika di berbagai wilayah namun mereka masih tidak mampu untuk masuk ke dalam kawasan Palestina yang terjajah, maka mereka mendapat udzur dalam hal itu, mengingat mereka tidak pernah berhenti walaupun sehari untuk terus membangkitkan semangat masyarakat, mengajak mereka untuk berjihad di jalan Allah dan membebaskan Baitul Maqdis. Bahkan tentara Mesir sendiri menetapkan dan menyatakan bahwa tujuan dari pembentukan zona penyangga adalah untuk menghambat para mujahidin dari mewujudkan lingkungan yang memudahkan mereka untuk mendapatkan dukungan dari penduduk Rafah, serta mencegah mereka dari melakukan penetrasi ke dalam kawasan Palestina yang terjajah.

Peran mujahidin dalam memerangi yahudi serta operasi-operasi mereka sangat besar dan sudah banyak terdokumentasikan dan disebarkan di situs-situs internet. Begitu juga sebaliknya ketika para mujahidin dibombardir oleh Israel dengan menggunakan pesawat drone di Sinai, kemudian operasi pembunuhan yang dilakukan oleh intelejen sehingga menyebabkan sejumlah mujahidin tewas di Sinai merupakan bukti bahwa perang ini sedang memanas dan para mujahidin memiliki upaya yang kuat dan luar biasa dalam memerangi Yahudi di Palestina.

Yayasan Media Al Malahim:
Dari dalam sendiri seperti di Gaza dan di kawasan lainnya, ada beberapa kelompok yang melakukan perlawanan.

Syaikh Nashir Al Anasi:
Benar, ada kelompok-kelompok di dalam wilayah Baitul Maqdis dan di serambi Baitul Maqdis yang kesemuanya adalah para mujahidin, mereka memikul ideologi dan dakwah yang sama, jihad mereka terus berlanjut berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan juga: apa perbedaan antara menyerang yahudi dengan menyerang Amerika? Amerika sebagaimana yang diketahui oleh semua orang, merupakan penjaga Israel, ia adalah pelindung bangsa yahudi, sebagaimana negara-negara yang terletak di pinggiran Israel membentuk barikade di hadapan para mujahidin yang ingin mencapai wilayah Palestina yang terjajah, kemudian Sinai yang dijadikan sebagai kawasan penyangga berdasarkan perjanjian Kamp David, begitu juga dengan wilayah selatan Lebanon yang menjadi wilayah penyangga pasca perang tahun 2006, semua itu adalah demi melindungi Israel dari penetrasi para mujahidin. Jadi apabila ada kemungkinan untuk menyerang Amerika, maka lakukanlah, karena itu sama saja sebagai pukulan secara langsung kepada yahudi beserta kepentingan mereka yang tersebar dimana-mana.

Yayasan Media Al Malahim:
Kembali lagi kepada pebincangan seputar revolusi arab spring; tadi kita sudah membicarakan seputar Mesir, kini kita berbicara tentang tetangganya yaitu Libya, kalangan sekuler yang dikomandoi oleh Haftar dan didanai oleh Amerika dan negara-negara teluk melancarkan peperangan yang sengit untuk melawan para mujahidin dari Anshar Syariah dan kelompok-kelompok lainnya yang berkoalisi dengan mereka. Pertanyaannya adalah; mengapa Amerika mempertaruhkan dirinya demi mengambil solusi secara militer di Libya?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Apa yang terjadi di Libya adalah seperti yang telah kami sebutkan, merupakan bagian dari rangkaian revolusi yang bertentangan dengan karakter Islami dan revolusi yang didukung oleh pihak yang juga telah kami sebutkan sebelumnya, yaitu Amerika, barat, negara-negara teluk, kaum sekuler dan golongan kiri. Revolusi Libya adalah revolusi yang kuat, kelompok-kelompok yang membela rakyat Libya yang tengah berevolusi Qadzafi dan berhasil menggulingkan rezim Qadzafi dalam pertempuran yang sengit dan heroik, meningkatkan kekuatan para pejuang revolusi dan kekuatan revolusi di Libya. Mereka berusaha menerapkan blue print proyek As Sisi di Libya melalui tangan Haftar, namun ketika metode tersebut gagal mereka terpaksa mengambil jalan konfrontasi langsung dan pertempuran, keunggulan inilah yang membedakan rakyat Libya, karena sebagaimana yang diungkapkan bahkan oleh para pakar Amerika, bahwa eksistensi Islam di Libya kuat, inilah yang menjadikan mereka gelisah, rakyat muslim di Libya memiliki kelompok yang terorganisir dan memiliki senjata dan kekuatan untuk menjaga diri mereka, sehingga musuh-musuh revolusi di Libya terpaksa menggulingkan revolusi tersebut dengan cara kekerasan yang bengis dan kejam, karenanya Amerika berani mempertaruhkan dirinya untuk mengambil solusi secara militer, karena itu merupakan solusi yang paling tepat, tentu kita tidak lupa bahwa ada keinginan Amerika yang sangat kuat untuk mendisiplinkan rakyat Libya yang ingin bangkit melawan anak buah dan antek-anteknya.

Karena itulah mereka menyiapkan segala rencana kudeta terhadap rakyat muslim ini dan khususnya para mujahidin yang memainkan peran penting dalam membantu permasalahan umat. Contoh-contoh pengorbanan putra-putra libya sudah tidak dapat dihitung lagi, dan tidak ada yang bisa mengingat berapa front pertempuran yang berlalu kecuali para pejuang Libya dan Maghribi dan secara umum, baik itu wilayah Maghribi Adna (dekat), Maghribi Awsath (tengah), maupun Mahgribi Aqsha (jauh), mereka semua berada di garis depan untuk membela kaum muslimin yang tertindas. Karena inilah kami ingin memotivasi rakyat Libya dan mengajaknya untuk bersanding di sisi para mujahidin yang tulus dalam berjuang, yaitu mereka yang dikenal kedudukannya, kejujurannya, dan pertolongannya kepada kaum muslimin walaupun di waktu sulit. Hendaknya rakyat Libya menolong mereka dan tidak terseret serta tertipu dengan revolusi yang bertentangan dengan karakter Islami dan kudeta militer, dimana nantinya rakyat Libya lah yang akan mendapatkan kerugian terbesar. Jelas sekali parlemen mengundang pihak asing untuk melakukan campur tangan dalam urusan Libya, begitu pula dengan mayoritas kebijakan memalukan yang ia buat, yang sebenarnya hanya dilakukan demi melayani kepentingan Barat dan kroni-kroninya.

Yayasan Media Al Malahim:
Membicarakan mengenai pengalaman di Mesir dan Libya, kemudian mengenai upaya militer dan pasukan keamanan yang telah disetir oleh kaum sekuler dan didukung oleh barat untuk mengaborsi revolusi; apakah solusi damai, slogan-slogan perdamaian dan seruan untuk hidup berdampingan masih memiliki pengaruh di lapangan? Khususnya setelah kelompok-kelompok aksi damai mencapai titik kritis dan menelan pil pahit, yaitu ketika mereka dijebloskan ke dalam penjara, dibunuh, dan diculik.

Syaikh Nashir Al Anasi:
Yang pasti, banyak persepsi yang berubah, terutama setelah apa yang kita saksikan di seluruh negara yang ber-revolusi. Kita juga menyaksikan bagaimana aksi damai tersebut mengalami kegagalan dan bagaimana ia disingkirkan. Bahkan banyak persepsi yang telah berubah seputar konsep yang selama ini telah menipu rakyat seperti konsep demokrasi dan HAM, rakyat sudah mengerti bahwa demokrasi yang dikembangkan untuk menjadikan rakyat dapat mencapai kekufuran serta dikembangkan untuk membangun eksistensi kekufuran ini, tidak mungkin menjadi sarana bagi rakyat untuk mencapai keislaman. Rakyat juga sudah mengerti bahwa hak asasi manusia yang selama ini digembar-gemborkan oleh barat, sejatinya adalah hak asasi manusia yang diperuntukkan bagi barat, bukan kita; sehingga ketika kepentingan mereka berbenturan dengan hak asasi kita, maka mereka tidak akan menunaikan hak asasi tersebut walaupun hanya sedikit.

Yayasan Media Al Malahim:
Akan tetapi kondisi Tunisia pasca revolusi menjadikan Tunisia dapat membanggakan dirinya karena situasi yang ideal berhasil dicapai, sehingga seolah-olah ini menunjukkan bahwa revolusi dengan cara damai dapat menggulingkan diktator dengan sukses. Pemilihan parlemen untuk menetukan kabinet pemerintah yang saat ini digelar juga berhasil mendapatkan partisipasi dari rakyat seperti yang mereka katakan. Situasi yang dapat digambarkan adalah, Tunisia telah berhasil meraih kesuksesan dan kondisinya sangat mengesankan. Apa komentar Anda tentang situasi di Tunisia?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Yang terjadi di Tunisia itu adalah kudeta dengan cara lunak. Apa maksudnya dengan kembalinya As Sibsi (Baji Qaid As Sibsi) menjadi perdana menteri, padahal ia adalah salah seorang anggota dari rezim sebelumnya? Ia adalah menteri dalam negeri sekaligus sebagai menteri luar negeri, ia lahir pada era dekade 20-an, jadi ke mana perginya revolusi para pemuda? Dimanakah hasil dan kesuksesan yang sejati? Apakah kembali berkuasanya sampah (sisa-sisa rezim sebelumnya) di Mesir dan Tunisia dianggap sebagai kesuksesan? Apakah ini yang namanya keberhasilan yang sejati? Apakah kemudian demokrasi bisa dikatakan telah berhasil? Tunisia saat ini tengah menghadapi gelombang baru dari perang terhadap kalangan Islam, dengan dalih memerangi terorisme dan pemerintahan represif mulai kembali sedikit demi sedikit. Pada hari H pemilihan umum, pasukan keamanan Tunisia membunuh 5 orang wanita dengan alasan bahwa mereka semua adalah teroris, kaum sekuler juga mulai kembali mencengkeram melalui kotak-kotak suara, Partai An Nahda sendiri telah berulang kali mengumumkan bahwa ia tidak akan berjuang untuk menegakkan Syariat Islam, dan ini bukan bagian dari program pemilunya.

Yayasan Media Al Malahim:
Ada orang yang ketika mendengarkan argumen Anda ini, ia akan berkata: “Kalian menyulut revolusi dan memberkahinya, sementara situasi di seluruh negara yang tengah bangkit melawan para penguasanya sedang memburuk, apakah semua pengalaman ini tidak cukup?” Ada yang mengucapkan perkataan seperti itu, jadi bagaimana anda menjawabnya?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Tidak diragukan lagi bahwa revolusi itu adalah sesuatu yang baik; banyak konsep yang mulai dimengerti dan banyak gambaran yang mulai terbuka bagi masyarakat. Rakyat dapat merasakan arti dari kebebasan, rakyat mudah untuk dipersenjatai, dan masih banyak lagi kemaslahatan lain yang merupakan dampak positif dari revolusi. Namun kita sedang berbicara tentang harapan dari pergerakan rakyat yang besar ini, tentu saja kondisi Tunisia yang sekarang para beberapa sisi jauh lebih baik dari pada masa pemerintahan Zein Al Abidin Ben Ali, namun tolok ukur ini merupakan tolok ukur yang sangat parsial dan sempit. Tolok ukur yang menyeluruh dan tepat adalah ketika kita mengukur segala sesuatu dengan menggunakan tolok ukur syariat: apakah revolusi ini berhasil mewujudkan harapan yang syar’i? Kami katakan, revolusi berhasil mewujudkan sebagian dari dari harapan syar’i, yaitu menggulingkan penguasa thaghut, Ben Ali. Namun apabila muncul sosok thaghut yang baru, maka kondisinya berubah. Revolusi juga wajib diteruskan hingga Syariat Islam berhasil diterapkan, sehingga ketika Tunisia dikatakan sebagai pilot project dari revolusi, maka tentu saja kami katakan tidak, bahkan sebaliknya kami akan mendorong rakyat Tunisia agar menolak kondisi ini dan menuntut serta berusaha untuk menerapkan Syariat Islam hingga mereka berhasil mendapatkan semua hak-hak yang telah dijaminkan oleh syariat bagi mereka, hingga mereka bisa memastikan para perusak dan kaum sekuler tidak kembali berkuasa melalui kotak-kotak suara, dan hingga mereka bisa memastikan sistem Negara Polisi (Polizei Staat) tidak kembali berkuasa pada kesempatan lain.

Kemudian argumen yang dikemukakan pada pertanyaan tadi, maka itu adalah hal yang ingin diterapkan oleh penguasa barat dan negara-negara teluk kepada kita. Maka kami katakan; apakah manfaat dari revolusi ini bagi para penguasa tersebut? Seringkali revolusi itu berlangsung dalam beberapa tahapan, sampai-sampai revolusi barat, yaitu revolusi Prancis yang merupakan model yang selama ini dibangga-banggakan oleh barat, juga melewati beberapa tahapan. Napoleon pun kembali berkuasa dengan Pemerintahan Konsul dan kediktatoran lain yang bahkan kejahatan dan keburukannya lebih besar dari pada raja yang tirani ketika itu, lalu kondisinya pun mulai berubah setelah itu, perbuahan-perubahan ini membutuhkan fase-fase, tahapan-tahapan dan waktu. Yang terpenting ketika kita dihadapkan kepada situasi baru, jangan sampai kita lupa apa sebenarnya tujuan kita, tidak cukup hanya dengan membandingkan antara era sekarang dan era yang lalu. Kita wajib untuk menerapkan Syariat Islam yang akan menjamin seluruh hak-hak manusia dan bukan kaum muslimin saja, Syariat Islam yang menjamin adanya kebebasan yang teratur, yang menjamin kedaulatan rakyat akan terwujud di tanah airnya sendiri, yang menjami adanya keadilan yang diatur melalui aturan-aturan syariat, yang membatasi seorang penguasa sehingga ia tidak bisa bersikap tirani, dan yang menjamin adanya amar makruf dan nahi mungkar, inilah tuntutan dan harapan (dari revolusi).

Yayasan Media Al Malahim:
Tadi Anda berbicara mengenai perdamaian, ada sebagian orang yang mengatakan, “Mengapa kalian memerangi gerakan perdamaian dan menyikapi mereka dengan keras padahal ada hadits yang berbunyi:

سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، وَرَجُلٌ قَالَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ

“Penghulu para Syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa zhalim lalu ia menyuruhnya dan melarangnya, lalu pemimpin itu membunuhnya.” [HR Imam Al Hakim no. 4884]

Mungkin orang ini ingin menggambarkan bahwa apa yang telah dilakukannya adalah bagian dari protes secara damai (terhadap penguasa). Bagaimana Anda menanggapi syubhat ini?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Tidak diragukan lagi bahwa kedudukan amar makruf dan nahi mungkar di dalam Islam adalah agung dan tinggi, dan tidak diragukan lagi bahwa barang siapa yang menegakkannya di hadapan seorang penguasa yang tiran, maka ia menempati derajatnya dan kedudukan yang paling agung. Jikalau kita perhatikan di dalam hadits, disebutkan di sana bahwa “Penghulu para Syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan orang yang berdiri di hadapan penguasa zhalim lalu ia menyuruhnya dan melarangnya, lalu pemimpin itu membunuhnya.”, kita tidak boleh luput terhadap bagian yang pertama, bahwa penghulu para Syuhada adalah Hamzah, dan Hamzah sudah sangat terkenal bagaimana ia dibunuh dan bagaimana ia gugur syahid, jadi kita tidak boleh mengabaikan makna global dari hadits ini kemudian kita hanya meyakini sebagian darinya lalu melupakan sebagian yang lainnya. Apabila kita melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar kemudian hal ini menyebabkan kebenaran ditegakkan, maka kita cukup melakukan hal itu dan kita tidak perlu berperang, akan tetapi apabila sang penguasa tersebut enggan untuk menerapkan syariat Allah dan pemerintahannya menolak untuk patuh kepada hukum Allah, maka saat itulah giliran tugas penghulu para syuhada Hamzah dilaksanakan, saat itulah pedang dan perang di jalan Allah bertindak, demi menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman:

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ

“dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah…” [Qs. Al Anfal: 39]

Yayasan Media Al Malahim:
Hadits ini disebutkan berulang-ulang beberapa tahun silam, khususnya pasca revolusi musim semi arab, revolusi perdamaian menarik karpet dari bawah pijakan Al Qaeda dan kelompok-kelompok aksi jihad lainnya, kini setelah berlalu sekian tahun sejak pecahnya revolusi, bagaimana Anda menaggapi hal ini?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Perkataan ini tidak benar, buktinya dapat kita saksikan hari ini, dan ketika revolusi terpaksa menggunakan kekerasan, kalau bukan dengan cara ini, bagaimana bisa Qadzafi terguling? Apa yang terjadi pada hari ini di Suriah? Kemudian sekarang revolusi Hautsi yang bertolak belakang dengan karakter Islam di Yaman yang bekerjasama dengan Ali Abdullah Saleh. Taruhlah kita sepakat dengan perkataan ini, tentu revolusi yang bertentangan dengan karakter Islami akan menarik karpetnya dari bawah pijakan para pengusung revolusi damai kemudian menghamparkannya kepada Al Qaeda, dan harus kita ketahui bahwa apa yang diserukan oleh para mujahidin bukanlah pandangan ataupun dakwah basyariah (non-ilahiah – red.), apa yang kami serukan adalah syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, yang telah memerintahkan kita untuk berjihad dan ber-i’dad, membalas serangan agresor dan menjelaskan kepada kita bahwa ini adalah kewajiban yang tidak ada udzur bagi seorang pun untuk meremehkannya. Urusannya bukanlah mengenai karpet yang ditarik dari bawah kaik Al Qaeda ataupun dari bawah kaki kalangan pengusung revolusi damai atau pun yang lainnya, permasalahannya adalah permasalahan agama, tugas kita adalah mengingatkan, bukan melakukan debat kusir yang tidak ada gunanya.

Yayasan Media Al Malahim:
Sekarang kita ingin membicarakan mengenai Bilad Al Haramain dan mengenai pemerintahan keluarga Su’ud yang menindas saudara-saudara kita kaum muslimin dan berbuat kerusakan di muka bumi. Peristiwa paling menghebohkan yang terbaru adalah penangkapan kembali secara besar-besaran terhadap para mantan narapidana yang baru mereka bebaskan, dengan alasan operasi kontra terorisme, di antara mereka yang ditangkap yang paling menonjol adalah Syaikh Al Allamah Sulaiman Al Ulwan beserta para ahli ilmu dan jihad yang lainnya.

Syaikh Nashir Al Anasi:
Pada awalnya, mereka memenjarakan para pemuda, para ulama dan para sosok pilihan umat tersebut tanpa ada kesalahan dan tuduhan, setelah itu mereka dibebaskan kemudian ditangkap kembali tanpa ada alasan yang baru, ini merupakan kesewenang-wenangan terhadap para pemuda yang terhormat tersebut.

Tidak diragukan lagi bahwa menolong orang yang tertawan adalah kewajiban yang besar, dan ia merupakan salah satu kewajiban yang paling besar, mereka harus dibebaskan melalui segala cara yang mungkin untuk dilakukan. Isu tawanan ini sendiri telah menjadikan dakwah ini tersebar dan menjadikan pendukungnya bertambah, sehingga dari yang tadinya hanya sekedar isu, ia akan menjelma menjadi opini publik yang membuat pemerintah Saudi cemas. Kami mengingatkan kepada pemerintah Saudi bahwa mayoritas revolusi di seluruh dunia terjadi, faktor utamanya adalah penjara.

Yayasan Media Al Malahim:
Pemerintah juga meneruskan aksinya dengan menangkap kaum wanita, kabar terakhir mereka menangkap sekelompok wanita baik-baik dengan alasan mereka mempersiapkan putera-putera mereka untuk berjihad di Suriah dan negara-negara kaum muslimin lainnya, apa komentar Anda?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Raja (Saudi) dan pemerintahan tersebut harus sadar bahwa mereka dan siapapun tidak bisa mengendalikan urusan ini, karena sebenarnya mereka sedang berurusan dengan putera-putera Jazirah Arab yang merupakan amunisi bagi umat. Putera-putera tersebut adalah kabar gembira yang pernah diberitakan oleh RasulullahShallallahu alaihi wa sallam, mereka sedang berurusan dengan putera-putera para sahabat yang telah menyebarkan agama Islam ke seantero dunia, mereka mengaduk lingkungan mereka dengan darah mereka demi membela agama dan kaum yang tertindas. Sehingga seharusnya pemerintahan Saudi tidak memperlakukan para manusia pilihan tersebut dengan cara seperti ini. Orang-orang bodoh itu tidak menyadari dengan siapa sebenarnya mereka sedang berurusan, mereka tengah berurusan dengan para pembela agama Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka justru melarang jihad di jalan Allah, mereka melarang adanya dukungan terhadap para mujahidin yang sedang berjuang di jalan Allah, mereka melarang para wanita untuk mempersiapkan putera-putera mereka untuk kelak turut berjihad di jalan Allah, mereka melarang para mujahidin untuk pergi meninggalkan kerajaan Saudi untuk berjihad, jadi bagaimana kaum muslimin akan mendapatkan pertolongan? Bagaimana mereka bisa menunaikan perintah Allah? Kebodohan dan sikap tirani yang dipelihara oleh pemerintah keluarga Saudi ini dengan izin Allah akan menjadi kabar gembira yang pasti akan kejatuhan dan keruntuhan dari kerajaan mereka yang penuh dengan kezhaliman dan ketiranian.

Yayasan Media Al Malahim:
Kemudian ada juga kabar yang sangat mengejutkan, yaitu terjadi beberapa penangkapan yang melanda sejumlah aktivis, wartawan, pengacara dan ahli hukum bahkan beberapa pendakwah terkenal yang tidak pernah menunjukkan simpatinya terhadap jihad dan mujahidin, tidak luput dari penjara, itu semua disebabkan beberapa tweet yang mereka tulis baru-baru ini. Bahkan ada yang tindakannya lebih remeh dari itu; ada beberapa orang biasa yang berpartisipasi dalam hashtag yang tengah hot di Twitter yaitu: #الشعب_يقول (rakyat berbicara), mereka menyampaikan uneg-uneg dan menuntut hak-hak hidup mereka yang itu merupakan tunututan sederhana, kini mereka mendekam di dalam penjara, pertanyaannya adalah: sejauh mana kebijakan membungkam mulut yang diberlakukan oleh pemerintah ini akan berhasil? Dan apa saja kewajiban yang harus dilakukan terhadapnya?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Sejak 50 tahun, Amerika sudah mendukung kediktatoran di kawasan ini, sedangkan kediktatoran yang ada pada pemerintah Saudi menunjukkan bahwa sebenarnya ia adalah Polizei Staat kelas pertama, kebijakan represif yang selama ini biasa ia berlakukan tidak akan pernah berhasil, karena tekanan hanya akan menimbulkan ledakan, dan tindakannya yang melanjutkan kebijakan represif dan membungkam mulut akan memicu timbulnya dendam dan kebencian terhadap pemerintah thaghut ini. Dan sebagaimana yang telah kita sampaikan, dengan izin Allah situasi ini mengindikasikan bahwa pemerintah thaghut ini akan segera berakhir, keluarga penguasa yang selama ini selalu menimpakan penderitaan kepada kaum muslimin ini akan segera usai.

Yayasan Media Al Malahim:
Apa pendapat Anda mengenai situs-situs jejaring sosial?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Situs-situs jejaring sosial merupakan salah satu sarana terpenting untuk menyebarkan dakwah dan menekan pemerintahan ini, kami mendorong kaum muslimin agar terus memberikan tekanan kepada pemerintahan melalui media dan sarana ini, mereka juga harus memberontak dari permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan tindakan kezhaliman terhadap kaum muslimin, mereka juga harus membangun kesadaran masyarakat melalui media ini.

Yayasan Media Al Malahim:
Pemerintah Saudi mengumumkan keputusan pengadilan yang menjatuhkan hukuman eksekusi mati kepada beberapa orang mujahidin, di antara mereka yang terkenal adalah Syaikh Faris Az Zahrani, Syaikh Abdul Aziz Ath Thuwaila’i dan selian mereka berdua, apa komentar Anda mengenai perkara ini?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Ini merupakan salah satu bentuk tindakan yang zhalim dan sewenang-wenang, apa sebenarnya kondisi dari peradilan tersebut? Kondisinya tidak transparan, bisa saja seseorang ditahan selama 10 tahun setelah itu tiba-tiba datang keputusan eksekusi mati kepadanya, mengapa keputusan ini tidak dijatuhkan sebelum 10 tahun tadi? Kondisi peradilan tersebut tidak transparan, penuh ketiranian dan kesewenang-wenangan, dan tidak memiliki landasan hukum yang tepat, kami juga pernah menyebutkan sebelumnya bahwa eksekusi-eksekusi yang terjadi sebelum-sebelum ini, memiliki dampak yang besar di mata masyarakat, sehingga besarnya dampak itu merubah pandangan masyarakat terhadap pemerintahan ini.

Yayasan Media Al Malahim:
Pindah ke pembicaraan lain, saat ini marak terjadi perdebatan di media jejaring sosial yang sayangnya banyak dilakukan antar para pendukung mujahidin, dan pemandangan ini sangat jelas terlihat, apa nasehat Anda kepada mereka wahai Fadhilatusy Syaikh?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Kepada seluruh ikhwah para pendukung mujahidin, hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika sedang berada di ranah tersebut, mereka harus tahu bahwa mereka akan mempertanggung jawabkan dan mereka akan dihisab atas setiap komentar yang mereka berikan, mereka harus mengobarkan semangat keakraban dan semangat beramal demi membela para mujahidin, bukannya memelihara fitnah dan menebarkan perseteruan di antara mereka, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ

“dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…” [Qs. Al Anfal: 46]

Mereka wajib berupaya untuk mengobarkan semangat jihad dan membasmi perasaan dendam, bukannya menyebarkannya, mereka harus bertaqwa kepada Allah dalam urusan komentar dan tweet ini, mereka harus menjadikannya sebagai sarana dakwah dan jihad di jalan Allah.

Yayasan Media Al Malahim:
Media massa musuh selalu berupaya untuk menyingkirkan para mujahidin dari umat mereka, sehingga musuh mudah untuk menghabisi mereka, mencari-cari celah dari beberapa kesalahan yang dilakukan oleh para mujahidin. Bagaimana menghadapi pergerakan yang berbahaya ini, dan menutup setiap kesempatan dari sisi ini agar tidak dijangkau oleh musuh?

Syaikh Nashir Al Anasi:
Usaha seperti ini bisa saja ditanggulangi. Pertama dengan cara mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, seorang mujahid harus tahu bahwa ia sedang melaksanakan ibadah, ia sedang melaksanakan ketaatan dan berdekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia sedang mencari keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga ia harus menjaga hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh syariat dalam setiap tindakan dan gerak-geriknya. Yang kedua adalah berlaku disiplin terhadap arahan dan petunjuk dari atasan dan pemimpin, khususnya ketika sedang bergaul dengan orang-orang yang termotivasi untuk memprovokasi mujahidin dan memikat mujahidin untuk melakukan gesekan terhadap mereka, yang itu mereka lakukan demi merubah arah jihad. Selain itu para mujahidin juga harus menggunakan media massa untuk menghilangkan syubhat yang menjadi stigma di dalam pikiran banyak orang karena pengaruh dari media yang menyesatkan dan memusuhi mujahidin. Begitu pula ketika mujahidin melakukan suatu kesalahan, mereka harus segera meminta maaf.

Yayasan Media Al Malahim:
Di akhir pertemuan ini, Syaikh dimohon untuk menyampaikan risalah kepada para mujahidin di seluruh dunia dan umat Islam secara umum.

Syaikh Nashir Al Anasi:
Kami mengingatkan saudara-saudara kita para mujahidin, yang semoga senantiasa ditolong Allah, hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menjalankan jihad, hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menghadapi umat yang menaruh harapan mereka kepada para mujahidin. Kemudian nasehat saya kepada umat Islam, hendaknya umat Islam menolong para mujahidin, mendukung, memberikan supportnya kepada mereka, memihak kepada mereka dan menjadi tulang punggung bagi mereka.

Yayasan Media Al Malahim:
Semoga Allah membalas amal anda dengan kebaikan wahai Syaikh Nashir, kini kita sampai di penghujung acara pertemuan kedua dari rangkaian perbincangan kita, semoga kita dapat melanjutkannya pada pertemuan ketiga, yang dikhususkan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para penonton, nantinya kami akan membuat sebuah hashtag khusus bagi siapa saja yang ingin bergabung, nantinya pertanyaan yang masuk akan dibatasi dengan waktu, terakhir kami ingin mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Syaikh Nashir karena telah bersedia meluangkan waktunya.

Syaikh Nashir Al Anasi:
Semoga Allah membalas amal Anda dengan kebaikan.

Sampai jumpa pada pertemuan yang akan datang, Assalamualaikum Warahmatullahi wa Barakatuhu.

Hashtag untuk mengajukan pertanyaan di Twitter:

#س_للشيخ_الآنسي

Waktu untuk mengajukan pertanyaan:
72 jam sejak hari Ahad 16 Muharram 1436 H / 9 November 2014

Jangan lupakan saudara-saudara kalian dari do’a kalian yang shalih

Tanzhim Al-Qaeda di Jazirah Arab

(banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...