Berita Dunia Islam Terdepan

Esok, deklarasi anti Syiah di Subang

Ketua Umum ANNAS Pusat KH. Athian Ali M Da’i Lc. MA
4

JAKARTA (Arrahmah.com) – Deklarasai Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) daerah Subang Wilayah Jawa Barat akan diselenggarakan esok, Ahad (23/11/2014) jam 08.00 WIB bertempat di Masjid Agung Subang Jawa Barat dan akan segera menyusul daerah-daerah lain di wilayah Jawa Barat. Hal itu dikemukakanTardjono Abu Muas, Sekretaris ANNAS dalam keterangan tertulis kepada redaksi Sabtu.

Menurutnya, dari hari ke hari, aktivitas gerakan sesat Syi’ah kini terasa semakin berani. Salah seorang dedengkot Syiah yang selama beberapa puluh tahun bertaqiyyah, kini telah berani tampil membuka baju kemunafikkannya dan membusungkan dada menyatakan “kamiSyi’i”, merayap memasuki ranah politik menyusup di lembaga politik strategis.

Bertitik tolak dari realita tersebut, imbuh Tardjono, sekaligus sebagai realisasi dari amanah Musyawarah Ulama pasca Deklarasi ANNAS, 20 April 2014 dan hasil Diklat ANNAS, 20-21 September 2014 dengan terbentuknya beberapa halaqoh ANNAS di berbagai wilayah, maka ANNAS telah melakukan Roadshow ke beberapa daerah di wilayah Jawa Barat untuk menyampaikan pencerahan kepada ummat tentang betapa pentingnya membentengi Aqidah Ummat dari Bahaya Syiah.

Di antara Wilayah Jawa Barat yang telah menjadi tempat kegiatan yang dimaksud adalah Desa Cangkuang Kecamatan Leles Daerah Garut, Sabtu (1/11/2014), Kota Garut dan sekitarnya, Ahad (2/11/2014), Desa Jatinangor Daerah Sumedang, Kamis (13/11/2014), Daerah Subang, Ahad (16/11/2014) dan Daerah Sukabumi, Selasa (18/11/2014).

Taushiyah Ketua ANNAS

Dalam taushiyahnya di beberapa daerah tersebut, Ketua ANNAS, K.H. Athian Ali M. Da’i, Lc. MA menyampaikan betapa indahya gambaran keimanan yang dianugerahkan Allah SWT lewat firman-Nya pada ayat 24-25 Surah Ibrahim atas keberadaan orang-orang bertakwa yang digambarkannya seperti keberadaan sebuah pohon yang baik, “Akarnya sangat kuat menghujam ke dasar tanah. Sementara dahan dan rantingnya menjulang tinggi ke langit. Pohon ini tumbuh dengan subur lalu dia berdaun rindang dan berbuah yang buahnya setiap saat dapat dinikmati oleh masyarakat yang hidup di sekitarnya dengan seizin Allah, Tuhannya” (Ibrahim, 14: 24-25).

K.H. Athian menegaskan, makna akar yang tersirat dan tersurat pada ayat di atas adalah akidah. Kalimat thayyibah,la ilaha illallahu, diibaratkan sebagai akar dalam sebuah pohon yang menghujam sangat kuat ke dasar tanah. Sehingga dia berdiri kokoh yang tidak mudah tumbang bila diterpa angin. Untuk itu kita bisa menyimpulkan bahwa seorang manusia yang dalam hidupnya tidak berpegang dengan prinsip kalimat thayyibah, la ilaha illallahu, maka dia tidak ada ubahnya seperti pohon yang tidak berakar.

Ditekankannya pula bahwa pohon yang tidak berakar, bagaimana mungkin dia dapat mempertahankan hidupnya seperti yang tersirat dan tersurat dalam firman-Nya: “Dan perumpaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun” (Ibrahim, 14 : 26).

Lebih lanjut ditegaskan perumpamaan pohon yang buruk itu adalah pohon yang akarnya sudah terangkat dari permukaan bumi yang esok atau lusa, mati. Keberadaan pohon semacam ini tidak ada artinya. Dia tidak mungkin membawa manfaat, jangankan untuk berbuah, bertahan untuk hidup pun tidak bisa. Keberadaan pohon semacam ini paling bermanfaat hanya sebagai kayu bakar.

Kata K.H. Athian, orang-orang yang tidak mau berpegang dengan kalimat thayyibah, la ilaha illallahu, maka dia seperti pohon yang tidak ada akarnya, sebagaimana layaknya kondisi orang-orang kafir. Dia tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah. Tidak ada buah pohon tersebut yang bisa dinikmati, jangankan berbuah, untuk hidup pun tidak bisa.

Gambaran hidup orang-orang yang tidak berpegang pada kalimat thayyibah, la ilaha illallahu, sebagaimana gambaran hidup orang-orang kafir, mereka adalah termasuk, Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya” (QS. Al Kahfi, 18 : 104).

Dikatakan oleh K.H. Athian, bahwa aqidah adalah suatu yang termahal dalam kehidupan seorang mu”min. Tapi ironisnya, negeri ini yang mayoritas penduduknya muslim telah begitu banyak yang ingin menggerogoti aqidah ummat ini. Baik mereka yang terang-terangan memakai baju kafir, maupun mereka yang memakai baju Islam. Yang kedua inilah sangat berpontensi menyesatkan aqidah ummat, karena di mata ummat ia berbaju Islam. Tokohnya pun telah terlanjur disebut cendekiawan muslim, bahkan sebagian masyarakat menyebutnya Kiai. Menurutnya, yang sangat berbahaya sekali menyesatkan aqidah ummat dan dapat mengganggu kestabilitasan NKRI adalah Syiah. (azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...