Berita Dunia Islam Terdepan

Wawancara Media Al-Malahim bersama Syaikh Nashir bin Ali Al-Anasi seputar permasalahan Jihad Global (bag.1)

8

(Arrahmah.com) – Yayasan Media Al-Malahim, sayap media Mujahidin Al-Qaeda di Jazirah Arab atau Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP), pada Kamis (16/10/2014) telah melangsungkan wawancara bersama Syaikh Nashir bin Ali Al-Anasi Hafizhahullah. Wawancara tersebut membahas seputar permasalahan jihad global dan operasi salibis di Irak dan Syam, serta jalannya peperangan musuh melawan mujahidin secara umum.

Dalam wawancara ini Syaikh Nashir menyatakan bahwa dari kondisi saat ini, yaitu perang musuh Islam terhadap siapa saja yang identik dengan Islam meskipun dari kalangan moderat, kita dapat mengetahui bahwa perang ini adalah menyeluruh tidak membedakan antara satu kelompok atau organisasi kaum muslimin dengan yang lainnya.

Syaikh Nashir juga menyatakan bahwa jihad pada saat ini adalah wajib karena mujahidin adalah bagian dari umat. Dia mengatakan bahwa bahkan seorang muslim yang tidak berjihad dengan dirinya dan hartanya, minimal ia harus menjadi pelayan para mujahid dan membantu mereka.

Berikut ini merupakan rilis lengkap Yayasan Media Al-Malahim yang diterjemahkan oleh Tim Muqawamah Media pada Kamis (13/11) tersebut.

 

YAYASAN MEDIA AL-MALAHIM

Mempersembahkan :

Bagian Pertama dari Versi Visual

WAWANCARA BERSAMA SYAIKH NASHIR BIN ALI AL-ANASI

-Hafizhahullah-

BIODATA SYAIKH NASHIR BIN ALI AL-ANASI

Syaikh Nashr bin Ali Al-Anasi, beliau dilahirkan di Kota Taiz pada tanggal 8 Oktober 1975. Masa kecilnya dihabiskan untuk belajar di madrasah-madrasah Shan’a, setelah menyelesaikan jenjang tsanawiyah, beliau melanjutkan studinya di Jami’ah Al Iman pada tahun pertama ia didirikan, yaitu tahun 1993.

Selain menekuni studi reguler, saat itu beliau juga menuntut ilmu syar’i kepada sejumlah masyayikh, di antara mereka yang terkenal adalah Syaikh Muhammad bin Ismail Al Imrany, Syaikh Husain bin Syu’aib, dan Al Qadhi Ali bin Nasr Al Anasi. Pada tahun 1995, beliau berangkat ke Bosnia untuk ikut berperang melawan Serbia, di sana beliau bertemu dengan Komandan Abu Tsabit Al Mishri, Abu Yusuf Al Kuwaiti, Abu At Tunisi, dan beberapa ikhwah pelatih. Dari tangan mereka, beliau banyak belajar ilmu-ilmu militer spesialis dalam masalah taktik, penaggulangan situasi, dan program khusus untuk mempelajari seputar Topografi. Beliau turut serta dalam operasi Al Karamah dan operasi Badr Al Busnah. Setelah terjadi perjanjian Daytone dan banyak para mujahidin yang kembali ke negeri mereka masing-masing, beliau pun kembali ke Yaman.

Pada tahun 1996 beliau bersama sekelompok mujahidin arab yang berjumlah 12 orang berangkat ke Azad Kashmir, beliau menetap di sana selama 5 bulan dan sibuk melatih serta mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam negeri Kashmir yang terjajah, namun pemerintah Pakistan menolak untuk membuka front pertempuran dan bersikeras agar perang melawan India di Kashmir haruslah menggunakan taktik perang gerilya, sehingga para mujahidin kesulitan untuk menjalankan taktik perang tersebut karena penampilan mereka yang asing. Maka syaikh bersama 8 orang saudaranya pun pindah ke Afghanistan, 4 orang dari kelompok tersebut telah gugur di Kashmir.

Di Afghanistan, beliau mendatangi kamp militer Surobi di Jalalabad untuk mempersiapkan dan menambah pengalaman militer. Saat itu beliau bersama saudara-saudaranya mendengar bahwa ada sekelompok mujahidin dari Tanzhim Al Qaeda yang dipimpin oleh komandan Abdul Hadi Al Iraqi akan segera berangkat ke Tajikistan – semoga Allah segera membebaskan beliau – untuk membuka celah yang dijaga oleh Rusia, yaitu di perbatasan Tajikistan Selatan yang bersebelahan dengan Afghanistan. Misi kelompok ini adalah melaksanakan operasi dengan berkoordinasi bersama kelompok Komandan Khattab Rahimahullah yang telah lebih dahulu tiba di Tajikistan untuk membuka front dari arah utara. Dan setelah Syaikh Nashir Al Anasi bertemu dengan Syaikh Komandan Abu Hafsh Al Mishri Rahimahullah, beliau diizinkan untuk bergabung dengan kelompok ini, maka mereka pun berangkat ke Tajikistan, di kalangan mujahidin perjalanan ini dikenal dengan nama perjalanan utara. Namun mereka ditakdirkan untuk kembali sebelum sampai ke tempat tujuan, sebabnya adalah musim dingin dan tebalnya salju.

Pada tahun 1997 Syaikh kembali ke Yaman dan diberikan kemudahan oleh Allah untuk melangsungkan pernikahan, kemudian atas permintaan dari Komandan Khattab Rahimahullah, Syaikh pun berangkat ke Suriah, kemudian melanjutkan ke Turki dengan tujuan berhijrah ke Chechnya, namun ternyata beliau mengalami kesulitan sehingga beliau pun kembali ke Yaman.

Pada tahun 1998 Syaikh bersama keluarganya berhijrah ke Afghanistan, di sana beliau bertemu dengan Syaikh Usamah bin Laden Rahimahullah dan beliau sempat mendampingi Syaikh Usamah dalam sebuah perjalanan ke Kabul, saat itulah Syaikh Usamah bin Laden Rahimahullah menyerahi beliau tugas administrasi di Kabul yang termasuk administrasi yang paling penting, tugasnya adalah membagi-bagikan para mujahidin ke kamp-kamp militer dan front-front pertempuran, bertanggung jawab terhadap mereka yang terluka, dan beberapa urusan Humas dengan jamaah-jamaah lain.

Pada tahun 1999 Syaikh dipindah tugaskan dari bidang administrasi ke bidang militer. Saat itu ada 24 orang mujahid yang dipilih untuk mengikuti sebuah program intensif paling penting yang pernah diselanggarakan di Afghanistan, program tersebut dikenal dengan program rehabilitasi para kader, di mana ada beberapa pelatih besar yang berkontribusi untuk melatih di dalam program tersebut, semisal Syaikh Abu Abdurrahman Al Muhajir, Abu Al Faraj Al Libi, Abu Khalid Al Habib, Abdul Wakil Al Mishri, dan Muhammad Fadhl. Program tersebut diawasi langsung oleh Syaikh Abu Muhammad Al Mishri – semoga Allah segera membebaskan beliau –, program tersebut juga diikut sertai oleh sejumlah petinggi jamaah-jamaah Islam yang ada pada saat itu, seperti amir Jamaah Mujahidin Uzbekistan, amir Jamaah Al Libiyah Al Muqatilah, amir mujahidin di Tajikistan, serta amir mujahidin di Turkistan Timur yang terjajah. Di antara mujahid yang berlatih bersama Syaikh ketika itu adalah Komandan Abu Khalid At Ta’azzi Rahimahullah dan Komandan Qasim Ar Rimi. Setelah program tersebut usai, dipilihlah 7 orang dari lulusan program tersebut untuk mengikuti pelatihan di kamp militer Al Faruq di Helmand. Pada kesempatan tersebut Syaikh membantu Yayasan Media As Sahab untuk mempersiapkan dan mengedit dua buah rilisan As Sahab yang berjudul: At Tadakhkhul Al Amriki(intervensi Amerika) dan Waqi’ Al Ummah Al Islamiyyah (Realitas Umat Islam).

Pada tahun 2001 Syaikh Usamah bin Laden menugaskan beliau bersama sekelompok mujahidin untuk berangkat ke Filipina dengan misi menjalin kerjasama dengan saudara-saudara mujahidin di sana dan memberikan kontribusi untuk meningkatkan kemampuan mereka dari segi syar’i, militer dan manajemen. Namun setelah mereka sampai ke Filipina, mereka diberi kabar mengenai terjadinya operasi 11 September, maka setelah beliau menyelesaikan tugasnya dan setelah operasi salibis dilancarkan untuk menyerang Imarah Islam Afghanistan, beliau pun memutuskan untuk kembali ke Afghanistan dan bergabung bersama para mujahidin lainnya untuk mempertahankan Afghanistan. Namun setibanya di Bandara Shan’a beliau tertangkap dan ditahan di markas Keamanan Politik di Shan’a, hal ini berlangsung pada permulaan tahun 2002.

Setelah menjalani hukuman selama 6 bulan, beliau dibebaskan dan dikenakan larangan bepergian, maka beliau memanfaatkan waktu yang ada untuk menyiapkan kurikulum akademi militer jihadi dan menuntut ilmu, beliau belajar secara mulazamah kepada sejumlah masyayikh hingga berhasil mendapatkan ijazah dalam ilmu pemikiran Syafi’i, beliau juga menuntut ilmu kepada Al Allamah As Sayyid Muhammad Al Kabsiy, seorang ulama terkenal di kalangan madzhab Zaidiyah.

Pada tahun 2011 setelah Revolusi Musim Semi Arab yang diberkahi usai, beliau bergabung dengan para mujahidin yang ada di Tanzhim Al Qaida di Jazirah Arab untuk menyempurnakan karier jihadnya bersama saudara-saudaranya.

Kami mempersilahkan anda untuk menyimak wawancara ini…

Yayasan Media Al-Malahim :

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, segala puji bagi Allah rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi dan Rasul yang paling mulia, amma ba’du:

Dengan senang hati kami menyambung kedatangan Syaikh Nashir bin Ali Al Anasi, kami ingin berbincang-bincang dengan beliau mengenai sejumlah problematika dan beberapa topik, perlu disebutkan bahwa wawancara ini diselenggarakan pada tanggal 22 Dzul Hijjah 1435 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Oktober 2014. Semoga Allah memberkahi anda wahai Syaikh Nashir.

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Semoga Allah memberkahi kalian semua.

Yayasan Media Al-Malahim :

Kita masuk ke dalam topik pertama mengenai operasi salibis di Iraq dan Syam, serta jalannya peperangan melawan mujahidin ini secara umum. Operasi salibis di Iraq dan Syam; mengapa dilakukan pada momen seperti ini dan apa tujuannya?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Segala puji bagi Allah rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, berserta keluarga dan para sahabat beliau, amma ba’du:

Tidak diragukan lagi bahwa tujuan utama dari operasi dan perang melawan kaum muslimin yang berskala internasional ini adalah agama dan tauhid, Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا يَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمۡ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمۡ عَن دِينِكُمۡ إِنِ ٱسۡتَطَٰعُواْۚ

“…mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup…” [Qs. Al Baqarah: 217]

Allah Ta’ala juga berfirman:

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمۡۗ

“…orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka..”[Qs. Al Baqarah: 120]

Kaum kafir barat beserta pasukannya yaitu orang-orang munafik tidak sudi menerima keseluruhan dari Islam, mereka tidak menerima segala sesuatu yang berhubungan dengan Islam. Perang melawan kaum muslimin yang berskala internasional ini hanya mengikuti prinsip prioritas saja, tidak lain. Ketika mereka menyaksikan kekuatan mujahidin di Iraq dan Syam telah menguat dan dukungan rakyat kepada mereka terus bertambah dan mereka merasakan bahwa kenyataan ini semakin berbahaya, mereka pun bergerak untuk menggempur kekuatan baru ini, faktor inilah yang menjelaskan kepada kita mengapa serangan ini terjadi pada momen sekarang, bahkan lingkup kerja geografis juga menjelaskan apa sebenarnya prioritas dari serangan ini bagi mereka. Namun apabila kita mengamati apa yang terjadi di negara-negara yang melakukan Revolusi Musim Semi Arab dan kondisi saat ini yaitu perang terhadap siapa saja yang identik dengan Islam meskipun dari kalangan moderat, maka kita akan mengetahui bahwa perang ini menyeluruh tidak membedakan antara satu kelompok atau organisasi kaum muslimin dengan yang lainnya. Tentu saja kami tidak mengabaikan kondisi khusus Amerika, saat ini Amerika tengah dilanda krisis ekonomi besar-besaran dan sudah berada di pinggir jurang kehancuran, namun ia masih berusaha untuk bermain-main dengan kertas krisis global dan menciptakan suasana panik dan kacau di kancah global untuk membuka peluang pasar yang luas untuk melakukan bisnis perang, sebagai usaha untuk mendukung sikap politiknya serta menstimulan ekonominya yang kacau-balau.

Yayasan Media Al-Malahim :

Banyak kaum muslimin yang bertanya-tanya mengenai cara atau metode untuk menghadapi operasi salibis ini, apakah anda memiliki nasehat seputar kebingungan ini?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Pertama, umat Islam harus mengetahui bahwa perang ini adalah perang antara umat Islam mennghadapi kekuatan kufur global, karenanya sudah seharusnya ia menyambut perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tertera di dalam firman-Nya:

ٱنفِرُواْ خِفَافٗا وَثِقَالٗا وَجَٰهِدُواْ بِأَمۡوَٰلِكُمۡ وَأَنفُسِكُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٤١

“Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” [Qs. At Taubah: 41]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

فَقَٰتِلُوٓاْ أَئِمَّةَ ٱلۡكُفۡرِ إِنَّهُمۡ لَآ أَيۡمَٰنَ لَهُمۡ لَعَلَّهُمۡ يَنتَهُونَ ١٢

“jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.” [Qs. At Taubah: 12]

Adapun jikalau kita berbicara menganai rincian cara dan metode, maka di sana terdapat beberapa kewajiban yang harus dipenuhi. Ada kewajiban yang harus dilaksanakan oleh para ulama, ada kewajiban yang harus ditunaikan oleh para hartawan, ada juga yang dijalankan oleh jamaah-jamaah Islam dan organisasi-organisasi jihad, bahkan ada pula kewajiban yang harus dilakukan oleh masing-masing personal umat, yaitu jihad secara personal dan lain sebagainya.

Yayasan Media Al-Malahim :

Mari kita mulai dari para ulama, apa saja kewajiban yang harus mereka lakukan untuk melawan operasi salibis ini?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Sebagaimana yang sudah diketahui bersama, bahwasanya kewajiban para ulama dan da’i adalah memberikan penjelasan dan motivasi, serta memperjelas hukum syariat yang berkaitan dengan operasi salibis ini. Karena di sana terdapat kubu kekufuran dan nifaq tengah datang bersama pasukannya di bawah panji kekufuran dan panji salib apapun itu namanya, dengan alasan untuk memerangi Islam atau alasan untuk memerangi terorisme, atau atas nama HAM, atau menyebarkan demokrasi atau apapun itu embel-embelnya yang mereka dan nenek moyang mereka ada-adakan, namun Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun mengenainya.

Karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan cap orang-orang kafir kepada mereka, dan hukum yang diberikan kepada orang-orang yang loyal kepada mereka adalah sama seperti hukum yang diberikan kepada mereka. Jadi hukum-hukum seputar ini harus dijelaskan oleh para ulama, dan bagaimana menyikapinya dalam fase seperti sekarang ini. Allah Ta’ala berfirman:

وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٍۚ إِلَّا تَفۡعَلُوهُ تَكُن فِتۡنَةٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَفَسَادٞ كَبِيرٞ ٧٣

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” [Qs. Al Anfal: 73]

Allah Ta’ala juga berfirman:

۞أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ نَافَقُواْ يَقُولُونَ لِإِخۡوَٰنِهِمُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ لَئِنۡ أُخۡرِجۡتُمۡ لَنَخۡرُجَنَّ مَعَكُمۡ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمۡ أَحَدًا أَبَدٗا وَإِن قُوتِلۡتُمۡ لَنَنصُرَنَّكُمۡ

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu.”…” [Qs. Al Hasyr: 11]

Hanya dengan perkataan tersebut, hanya dengan janji dari kaum munafikin tersebut, mereka rela menyumbangkan kekuatan mereka kepada orang-orang kafir sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُواْ ٱلۡيَهُودَ وَٱلنَّصَٰرَىٰٓ أَوۡلِيَآءَۘ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَإِنَّهُۥ مِنۡهُمۡۗ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka…” [Qs. Al Maidah: 51]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّخِذُوٓاْ ءَابَآءَكُمۡ وَإِخۡوَٰنَكُمۡ أَوۡلِيَآءَ إِنِ ٱسۡتَحَبُّواْ ٱلۡكُفۡرَ عَلَى ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ٢٣

“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan…” [Qs. At Taubah: 23]

Ini adalah peringatan keras dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi siapa saja yang jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaranya wali karena faktor kedekatan dan karena mereka lebih mengutamakan kekafiran dan condong kepadanya. Maka bagaimana halnya dengan orang yang menjadikan orang-orang kafir yang asing lagi musuh bagi umat ini sebagai wali?

Ulama juga harus menjelaskan hukum membantu rang-orang kafir, menolong mereka serta bersekutu dengan mereka untuk melawan kaum muslimin, karena perbuatan ini seperti yang dituturkan oleh bukan hanya satu ulama; adalah perbuatan riddah yang jelas dan kekufuran yang nyata, sedangkan perkataan para imam Islam dalam hal ini tidak ada keraguan lagi.

Di hadapan kubu kekufuran ini ada kubu keimanan dan tauhid, para pengikunya berperang di jalan Allah dan tidak takut dengan celaan orang yang mencela, mereka tidak terpengaruh dengan orang yang merendahkan dan menentang mereka, mereka adalah orang-orang pilihan dan mereka adalah orang-orang yang beruntung, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَٰكِنِ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَعَهُۥ جَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡخَيۡرَٰتُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٨٨

“Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Qs. At Taubah: 88]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِ ٱلطَّٰغُوتِ فَقَٰتِلُوٓاْ أَوۡلِيَآءَ ٱلشَّيۡطَٰنِۖ إِنَّ كَيۡدَ ٱلشَّيۡطَٰنِ كَانَ ضَعِيفًا ٧٦

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” [Qs. An Nisa’: 76]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ

“dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah…” [Qs. Al Anfal: 39]

Bahkan para ulama pun harus menjelaskan hukum menolong para mujahidin dan mengatakan bahwa hal itu wajib atas kaum muslimin.

Yayasan Media Al-Malahim :

Apakah maksud anda adalah bahwa jihad pada saat ini adalah wajib, sesuai dengan makna syar’i dari definisi wajib? Sehingga orang yang melaksanakannya mendapat ganjaran dan orang yang meninggalkannya mendapatkan dosa?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Benar, karena mereka adalah bagian dari umat. Maksudnya para mujahidin itu adalah bagian dari umat, mereka adalah para wali mereka sesuai dengan ketentuan dan firman dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ إِخۡوَةٞ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara, sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Qs. Al Hujurat: 10]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتُ بَعۡضُهُمۡ أَوۡلِيَآءُ بَعۡضٖۚ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain…” [Qs. At Taubah: 71]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَواْ وَّنَصَرُوٓاْ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ
حَقّٗاۚ لَّهُم مَّغۡفِرَةٞ وَرِزۡقٞ كَرِيمٞ ٧٤

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka Itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” [Qs. Al Anfal: 74]

Bahkan seorang muslim yang tidak berjihad dengan dirinya dan hartanya, minimal ia harus menjadi pelayan para mujahidin dan membantu mereka. Jika tidak maka ia diancam dengan adzab, tidak ada bedanya antaranya dirinya dengan orang yang mati dalam keadaan berbuka puasa di siang hari bulan Ramadhan, karena keduanya sama telah melalaikan kewajiban yang agung, karena Dzat yang telah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ ١٨٣

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [Qs. Al Baqarah: 183], adalah Dzat yang sama yang juga telah berfirman:

كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡقِتَالُ وَهُوَ كُرۡهٞ لَّكُمۡۖ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci…” [Qs. Al Baqarah: 216]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dengan jelas dan sambil memperingatkan:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مَا لَكُمۡ إِذَا قِيلَ لَكُمُ ٱنفِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ ٱثَّاقَلۡتُمۡ إِلَى ٱلۡأَرۡضِۚ أَرَضِيتُم
بِٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا مِنَ ٱلۡأٓخِرَةِۚ فَمَا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا فِي ٱلۡأٓخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ ٣٨ إِلَّا تَنفِرُواْ يُعَذِّبۡكُمۡ
عَذَابًا أَلِيمٗا وَيَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيۡ‍ٔٗاۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ٣٩

“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Qs. At Taubah: 38-39]

Yayasan Media Al-Malahim :

Apabila kondisi orang yang merendahkan para mujahidin seperti ini, maka bagaimana dengan kondisi tentara yang berperang dan bersekutu dengan kaum nashara untuk melawan para mujahidin?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Ini adalah musibah dan bencana yang besar, tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah. Banyak para ulama yang lalai memberikan penjelasan tentang hal ini, ini adalah salah satu kewajiban ulama yang terpenting, yaitu melakukan antispasi dalam hal ini, karena tentara tersebut diseret ke arah kemurtadan dikarenakan amalan seperti ini, sedangkan masyarakat sendiri lalai dalam memperhatikan musibah besar yang melanda umat ini. Bagaimana bisa bencana dan musibah yang melanda umat ini dibiarkan begitu saja? Namun atas karunia Allah banyak para pejabat militer dan prajurit yang setelah mengetahui hukum dari perbuatan semacam ini dan setelah terjadi perbincangan dan dakwah bersama mereka, mereka memilih untuk meninggalkan ketentaraan dan berlepas diri darinya, bahkan di antara mereka ada yang berjihad di jalan Allah bersama para mujahidin di berbagai penjuru dunia.

Para ulama wajib untuk menerangkan hukum dari persekutuan semacam ini, mereka juga harus menjelaskan kepada umat dan para kesatuan bersenjata yang bergabung dengan pasukan ini, bahwa persekutuan antara pemimpin dan para penguasa dengan Amerika dan kaum nashara lainnya adalah perbuatan riddah yang jelas sehingga menyebabkan tentara tidak akan diampuni, mereka harus memiliki sikap dan harus berlepas diri dari hal ini. Jika tidak, maka mereka terlibat dalam problem yang sangat berbahaya. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah.

Yayasan Media Al-Malahim :

Anda berbicara mengenai kewajiban jihad dan keharusannya untuk dilaksanakan oleh kaum muslimin, namun ada sebagian kaum muslimin yang tidak mampu untuk berjihad dengan jiwa raganya, akan tetapi ia sudah memberikan dukungannya berupa harta, atau masukan, atau yang lainnya.

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Syariat itu sempurna, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ

“…Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab…” [Qs. Al An’am: 38]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

لَّيۡسَ عَلَى ٱلضُّعَفَآءِ وَلَا عَلَى ٱلۡمَرۡضَىٰ وَلَا عَلَى ٱلَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُواْ لِلَّهِ وَرَسُولِهِۦۚ مَا عَلَى ٱلۡمُحۡسِنِينَ مِن سَبِيلٖۚ

“Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik…” [Qs. At Taubah: 91]

Mereka adalah orang-orang yang dimaafkan apabila mereka memberikan nasehat karena Allah dan Rasul-Nya. Nasehat di sini maksudnya adalah dakwah, motivasi dan do’a, mereka adalah orang-orang yang dimaafkan. Adapun bagi orang yang tidak mampu berjihad dengan jiwa dan raganya, maka ia bisa berjihad dengan hartanya, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mendahulukan jihad dengan harta di seluruh ayat yang memerintahkan untuk berjihad dengan harta dan jiwa, kecuali pada ayat bai’at, sebagaimana yang diketahui, dan para hartawan yang tidak bisa berjihad dengan jiwa mereka, maka sekurang-kurangnya mereka harus berjihad dengan hartanya.

Yayasan Media Al-Malahim :

Apabila kewajiban-kewajiban yang anda sebutkan tersebut ditujukan kepada kaum muslimin, maka apa kewajiban yang harus dikerjakan oleh para mujahidin yang menghadapi operasi salibis ini secara langsung, tepatnya di Iraq dan Syam?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Adapun para mujahidin yang semoga senantiasa ditolong oleh Allah, mereka wajib merapatkan barisan, mudah bergaul dengan sesama saudara, bersikap rendah hati terhadap sesama, melupakan perselisihan dan godaan setan manusia dan jin, menghapus khayalan dan menjaga diri, karena ini adalah permasalahan serius dan bukan main-main. Pertempuran terus memanas dan terus berlangsung tanpa henti, pertempuran antara iman dan kufur, pertempuran tauhid dan syirik, tidak ada kata-kata lain selain kata-kata ini, tidak ada kata-kata kelompok, organisasi, negara, suku, atau keturunan, tidak ada waktu untuk mengurusi loyalitas yang lemah dan fanatisme yang sifatnya duniawi ini, bahkan seperti yang difirmankan oleh Rabb kita Azza wa Jalla:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِي سَبِيلِهِۦ صَفّٗا كَأَنَّهُم بُنۡيَٰنٞ مَّرۡصُوصٞ ٤

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” [Qs. Ash Shaf: 4]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَقَٰتِلُواْ ٱلۡمُشۡرِكِينَ كَآفَّةٗ كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمۡ كَآفَّةٗۚ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلۡمُتَّقِينَ ٣٦

“…dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” [Qs. At Taubah: 36]

Yayasan Media Al-Malahim :

Di sini ada satu poin yang sangat penting, kami sering mendengar kalian mendorong para mujahidin agar merapatkan barisan untuk menghadapi operasi salibis ini, namun ada orang yang merasa kaget dengan ajakan kalian ini dan mengatakan, “bagaimana mungkin kalian mengajak kami untuk merapatkan barisan dengan orang yang berbeda pemahaman dengan kami dalam urusan visi atau manhaj, atau dengan orang yang di antara kami dengannya sudah terjadi saling perang dan menumpahkan darah?”. Bagaimana anda menanggapi permasalahan ini?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Ketika kita berbicara tentang merapatkan barisan untuk memerangi musuh yang melakukan agresi, maka kita sedang berbicara tentang menyatukan usaha dan mengkoordinasikannya untuk sama-sama melawan musuh yang bekerjasama untuk menyerang kaum muslimin serta menciptakan konflik internal dan peperangan horizontal antar faksi-faksi islam dan jihadi, tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah.

Apabila tidak ada kemungkinan untuk bersatu di bawah satu panji dan satu pimpinan, maka minimal harus ada penyatuan usaha dan menghimpun kekuatan untuk menghadapi musuh ini, karena sesuatu yang mudah itu tidak bisa gugur karena sesuatu yang sulit.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا لَقِيتُمۡ فِئَةٗ فَٱثۡبُتُواْ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرٗا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٤٥ وَأَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُواْ فَتَفۡشَلُواْ وَتَذۡهَبَ رِيحُكُمۡۖ وَٱصۡبِرُوٓاْۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ٤٦

“Hai orang-orang yang beriman. Apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Qs. Al Anfal: 45-46]

Bertaqwalah kepada Allah wahai para mujahidin, orang-orang kafir tidak akan bisa bersatu di dalam kebathilan dan kekufuran mereka, dan kalian justru berpecah-belah di atas kebenaran dan tauhid. Bertaqwalah kepada Allah dan urusan darah yang haram untuk ditumpahkan, bertaqwalah kepada Allah dan berusahalah sebisa mungkin untuk tidak mencari-cari masalah, waspadalah terhadap kezhaliman, karena hal-hal krusial seperti inilah yang menjadi sebab kehancuran yang paling utama. Setiap personal juga harus sadar bahwa kelak ia akan menemui Rabb-Nya seorang diri, Allah Ta’ala berfirman:

وَكُلُّهُمۡ ءَاتِيهِ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَرۡدًا ٩٥

“dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [Qs. Maryam: 95]

Yayasan Media Al-Malahim :

Kita sudah membahas poin yang berkaitan dengan mujahidin di medan tempur nyata, baiklah, sekarang apa peran jamaah-jamaah Islam dan organisasi-organisasi jihad yang tersebar di seluruh dan dunia Islam secara umum?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Jamaah-jamaah Islam dan organisasi-organisasi jihad memiliki kewajiban yang besar, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memudahkannya untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh individu kaum muslimin. Jamaah-jamaah tersebut memiliki kemampuan dan jaringan yang tidak dimiliki oleh banyak kalangan untuk membela agama, sehingga mereka harus berkonsentrasi untuk menyerang kepentingan-kepentingan dan target-target barat dimanapun ketika ada kesempatan untuk melakukannya, dan target yang harus mereka prioritaskan adalah negara-negara yang bergabung bersama koalisi yang memerangi kaum muslimin ini, serta memilih target-target strategis dan persendian musuh yang menyebabkan kematian.

Di sini kami juga ingin mengingatkan jamaah-jamaah Islam bahwa jihad bukanlah terbatas milik organisasi-organisasi jihad saja, akan tetapi ia adalah sebuah bentuk ibadah yang harus diniatkan ikhlash untuk Allah semata, dan ia adalah kewajiban bagi setiap muslim dan setiap jamaah, jadi mengapa mereka tidak menjalankan kegiatan dalam bidang ini walaupun harus secara rahasia dan tidak diumumkan, dengan tujuan menolong Allah, Rasul-Nya, agama-Nya dan orang-orang yang beriman?

Yayasan Media Al-Malahim :

Bagaimana halnya dengan para pahlawan yang berjihad secara individu, atau yang biasa dijuluki ‘The Lone Wolf’ (orang yang suka bekerja sendirian), apakah ada kemungkinan bagi mereka untuk memberikan kontribusi dalam melawan operasi salibis ini?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Saya sampaikan kepada singa-singa Allah yang tersebar di berbagai belahan dunia, yang memilih untuk menjadi pahlawan yang berjihad secara individu, atau seperti yang anda sebutkan sebagai The Lone Wolf ini, mereka harus tahu bahwa mereka adalah mimpi buruk yang menghantui barat, kini mereka telah menebarkan kekhawatiran bagi barat dan mewaspadainya di seluruh penjuru dunia, maka janganlah kita meremehkan pekerjaan mereka dan menyepelekan jihad mereka. Ketika kita menyaksikan jasad kekafiran global bergelimpangan di mana-mana, kami memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberkahi amalan mereka, kami juga mendorong saudara-saudara kita untuk memanfaatkan kesempatan semacam ini, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memudahkan mereka untuk melakukan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh kaum muslimin selain mereka, mereka memiliki kemampuan untuk masuk ke dalam wilayah musuh yang paling dalam dan menyerang target vitalnya.

Yayasan Media Al-Malahim :

Seberapa besar kemungkinan berhasilnya operasi salibis ini untuk mencapai targetnya, khususnya setelah para komandan perang koalisi barat ini menyatakan bahwa perang melalui udara tidaklah cukup, dan mereka mengatakannya secara berulang-ulang?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Atas karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, dahulu operasi semacam ini tidak berhasil, padahal ketika itu Amerika sedang berada di puncak kejayaannya, namun itu tetap saja ia keluar dari peperangan tersebut dan dari koalisi tersebut dalam kondisi hancur dan menyeretnya ke dalam kekalahan dan rasa malu, padahal para mujahidin mengalami kekurangan personel dan persenjataan. Maka apalagi dengan koalisi yang ada sekarang, sedangkan Obama mengangkat salib dengan tangannya yang gemetaran karena terluka dan berdarah-darah, dengan izin Allah serangan udara mereka tidak akan membawa keuntungan bagi mereka, begitu juga dengan serangan darat yang tidak diragukan lagi bahwa mereka akan terpaksa melakukannya meskipun mereka selalu menghindarinya. Ketika itulah dengan izin Allah, mereka akan mengetahui bahwa ada neraka yang berupa singa-singa tauhid dan para penjaga aqidah yang sedang menanti mereka di Iraq dan Syam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلۡ هَلۡ تَرَبَّصُونَ بِنَآ إِلَّآ إِحۡدَى ٱلۡحُسۡنَيَيۡنِۖ وَنَحۡنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمۡ أَن يُصِيبَكُمُ ٱللَّهُ بِعَذَابٖ مِّنۡ عِندِهِۦٓ أَوۡ بِأَيۡدِينَاۖ فَتَرَبَّصُوٓاْ إِنَّا مَعَكُم مُّتَرَبِّصُونَ ٥٢

“Katakanlah: “Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.”” [Qs. At Taubah: 52]

Yayasan Media Al-Malahim :

Ada sejumlah negara arab yang mendukung dari sisi udara secara terbuka maupun secara terselebung, ada juga pengeboman yang dilancarkan secara langsung terhadap posisi-posisi para mujahidin di Suriah, bahkan media massa sempat mengekspos seorang wanita UEA yang bergabung dengan Angkatan Udara dan turut serta dalam melakukan pengeboman melalui kesatuannya di AU UEA, ada pula seorang pangeran dari keluarga kerajaan Saudi yang turut serta dalam melakukan pengeboman, pertanyaannya adalah: mengapa negara-negara ini diikutkan dalam peperangan ini dan melakukan pengeboman secara langsung, kemudian kontribusinya di-blow-up oleh media?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Tentu saja negara-negara kecil tersebut diikutkan dalam peperangan semacam ini agar dapat melibatkannya dalam pertempuran yang mematikan bagi barat, serta mengajaknya untuk berperang secara langsung hingga ia harus mati-matian dalam mendukung operasi salibis yang melawan kaum muslimin ini. Ini menunjukkan akan lemahnya barat, terlebih lagi Amerika, khususnya di bidang materil dan dukungan ekonomi.

Adapun melakukan blow-up terhadap orang-orang seperti ini dan menggambarkannya seolah-olah seorang pahlawan, maka ini adalah upaya untuk menyerang aqidah rakyat muslim dan aqidah al wala’ wal bara’ yang diyakini oleh kaum muslimin. Namun dengan melakukan blow-up terhadap seorang pengkhianat seperti ini dan menggambarkannya seolah-olah seorang pahlawan yang patut dijadikan panutan, mereka sebenarnya tidak menyadari bahwa tindakan semacam ini menjelaskan kepada masyarakat mengenai seberapa besar tingkat ketundukan kepada barat dan keburukan yang dicapai oleh pemerintahan tersebut.

Yayasan Media Al-Malahim :

Pada saat acara peringatan 13 tahun serangan 11 September, Obama berbicara dengan nada penuh kemenangan, ia mengatakan bahwa ia telah berhasil memusnahkan Tanzhim Al Qaeda. Yang menjadi pertanyaan: setelah hampir satu setengah dekade, kemana arah perang ini bermuara? Siapakah yang akan meraih hasil dari peperangan ini? Apakah Amerika, ataukah mujahidin?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Tentu saja di tengah peperangan dan di tengah hiruk-pikuk dan keramaiannya, tidaklah heran apabila masing-masing kubu mengklaim bahwa ia menang, karena itu adalah bagian dari perang informasi dan psikologi serta mengangkat moral para sekutunya. Namun apabila kita melihat setelah kurang lebih 13 tahun sejak berlangsungnya perang melawan terorisme, apa yang tersisa dari Amerika? Bagaimana kondisinya sekarang? Apakah ada krisis yang melandanya?

Sebaliknya mari kita perhatikan perkembangan para mujahidin, perkembangan risalah yang diperjuangkan oleh Syaikh Usamah Rahimahullah untuk disampaikan, bahkan sudah dapat dipastikan bahwa pengikut risalah ini jauh lebih banyak dari pada pengikut organisasi. Atas karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala dakwah mengenai jihad ini telah tersebar, umat berbondong-bondong berangkat berjihad di jalan Allah, dan ini adalah kemenangan yang besar.

Jikalau misalnya kita melihat apa yang terjadi di Afghanistan, ada Thaliban yang kembali berkuasa dan ada Amerika yang menarik mundur pasukannya, ini adalah indikator yang jelas yang dapat menyatakan siapakah pemenangnya, siapakah yang masih berkuasa di kawasan tersebut dan siapakah yang mundur dan angkat kaki merasakan kekalahan dan kehancuran.

Begitu juga runtuhnya alternatif yang diterapkan oleh barat bagi kaum muslimin untuk membendung revolusi mereka, mulai dari kampanye perdamaian, mendirikan negara kerakyatan, runtuhnya alternatif dan ide semacam ini menambah keseimbangan umat yang jihadis ini, dan menjadikan para individu umat ini khususnya para pemuda bertambah yakin bahwa apa yang diperjuangkan oleh para mujahidin itulah yang benar. Mereka juga yakin bahwa para mujahidin – atas izin dan karunia dari Allah – akan terus berjalan di atas manhaj sunnah kauniyyah dan syar’iyyah yang telah ditunjukkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam kepada kita, ini semua menambahkan keseimbangan bagi umat yang jihadis ini dan menjaga kemaslahatan umumnya dengan izin Allah, serta akan merubah komposisi kekuatan di muka bumi ini.

Yayasan Media Al-Malahim :

Namun Obama menggembar-gemborkan akan kesuksesan perang yang ia lancarkan melawan para mujahidin, dengan fakta bahwa Amerika berhasil membunuh Syaikh Usamah bin Laden Rahimahullah, mengingat sosoknya sebagai lambang simbolis dari peperangan ini.

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Benar bahwa Syaikh Usamah Rahimahullah adalah lambang terpenting dalam peperangan antara Islam dan kekufuran, namun kami tidak mengabaikan bahwa tidaklah beliau Rahimahullah keluar berangkat berjihad di jalan Allah sejak masa mudanya dahulu, kecuali ia mencari kesyahidan di jalannya, ini adalah akhir yang tidak diduga-duga bagi siapa saja yang menempuh jalan ini. Kita semua mengharapkan kesyahidan seperti ini bagi para komandan dan para masyayikh kami, agar mereka gugur secara mulia, sebagai seorang yang syahid di jalan Allah.

Adapun peristiwa pembunuhan Syaikh Usamah Rahimahullah, maka itu adalah upacara penobatannya sebagai seorang pahlawan karena risalah yang beliau perjuangkan, ia juga merupakan upacara penyucian manhajnya dengan menggunakan darah yang suci dan bersih, kami memohon kepada Allah agar menerimanya di dalam barisan para syuhada.

Kesyahidan Syaikh Usamah tidak akan membawa dampak buruk bagi umat, karena beliau pasti juga akan meninggal dunia, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٞ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ ٣٠

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).” [Qs. Az Zumar: 30]

Terbunuhnya para pahlawan, para komandan dan sosok simbolis seperti itu tidak akan merubah komposisi peperangan, dan tidak akan menghentikan jihad di jalan Allah, berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yayasan Media Al-Malahim :

Bulan lalu Syaikh Al Mujahid Abu Zubair Al Mukhtar, Amir Harakah Syabab Mujahidin di Somalia gugur syahid bersama sejumlah saudara-saudara beliau dalam sebuah serangan pengeboman yang licik yang dilancarkan oleh Amerika, apa komentar anda mengenai peristiwa ini?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Apabila komandan kita gugur maka muncullah komandan lainnya
Perkataan yang dikatakan oleh orang yang mulia itu biasanya terbukti

Barangsiapa yang membolak-balik lembaran sejarah, tepatnya sejarah Islam, maka ia akan menyaksikan keajaiban yang sangat mengagumkan. Tidaklah seorang komandan atau seorang pahlawan gugur, kecuali akan digantikan oleh komandan lainnya.

Adapun saudara kita Abu Zubair – kami memohon kepada Allah agar menerima beliau – maka kami ucapkan selamat atas akhir yang berbahagia ini, saya meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mempertemukan kita dengan beliau dalam kondisi yang baik dan tidak hina dan terkena fitnah. Sebagaimana mereka berkata: “Syahidnya para komandan Al Qaeda merupakan sunnah dan dasar perjuangan.” Semoga Allah merahmati mereka semua dan mengangkat derajat mereka kepada derajat para syuhada. Syaikh Abu Zubair memiliki andil di dalam jihad dan pengorbanan yang tidak bisa dianggap enteng.

Adapun kejadian ini, maka ia menguatkan fakta sebenarnya dari perang yang dilancarkan oleh Amerika terhadap para mujahidin, dimana ia berusaha menargetkan pimpinan para mujahidin dengan tujuan dapat mematahkan semangat mereka dan membelokkan perjalanan jihad mereka. Namun dengan izin Allah, Amerika gagal dalam hal ini, karena umat ini sangat subur dalam melahirkan para pahlawan dan komandan yang senantiasa berjihad di jalan Allah untuk mengangkat kalimat Allah dan menegakkan agama, dan apa yang terjadi kepada Syaikh Abu Zubair itu adalah penghormatan – Insya Allah – kami mengucapkan syukur kepada Allah karena beliau terbunuh dalam keadaan tetap teguh di atas jalan jihad yang telah lama beliau harapkan di dalam doa-doanya. Adapun saudara-saudaranya yang ditinggalkan oleh beliau, maka semoga mereka mendapatkan kebaikan dan keberkahan Insya Allah, sesungguhnya para pahlawan tersebut tidaklah terbunuh kecuali sebelumnya pasti mereka telah mempersiapkan kader prajurit dan komandan yang memiliki kemampuan untuk menyempurnakan perjalanan ini, bertekad kuat untuk terus berjuang, terjun ke tengah-tengah resiko dan kesukaran hingga mereka lulus dari kawah candradimuka.

Yayasan Media Al-Malahim :

Ini menggiring kami untuk mengajukan sebuah pertanyaan, apakah strategi Amerika untuk melancarkan peperangan dengan menggunakan pesawat tanpa awaknya serta menggunakan jasa informan di darat sudah mencapai kesuksesan? Khususnya metode ini telah digunakan di Afghanistan, Pakistan, Somalia, dan sekarang di Iraq dan Syam.

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Tentu saja semua orang yang memiliki dasar militer walaupun sedikit, ia akan tahu bahwa pertempuran tidak akan bisa diatasi hanya dengan pesawat. Benar mungkin ia bisa menyebabkan para komandan dan sebagian anggota terbunuh, namun kubu yang menguasai wilayah dan medan, kubu yang mengibarkan panjinya di lapangan, dan memiliki basis di dalamnya lah yang menjadi pemenang yang sejati. Seagaimana perang ini memberikan efek bumerang yang sangat bertentangan dengan apa yang diharapkan oleh Amerika, maka operasi-operasi seperti ini berkat karunia Allah hanya menambah kredibilitas para mujahidin di mata masyarakat dan individu umat, sehingga bertambah banyaklah orang yang berangkat berjihad di jalan Allah. Bahkan yang sangat mengagumkan adalah apabila ada seorang ikhwah yang terbunuh, maka datanglah 10 orang pengganti bahkan terkadang puluhan orang.

Jadi serangan ini berdampak bumerang bagi Amerika, baik itu di bidang media informasi, ataupun di sisi taktikal, ataupun di sisi perolehan kredibilitas mujahidin di mata umat. Bahkan kemampuan umat dalam menambal kekurangan tenaga dan kekurangan lainnya sangat mengagumkan berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala, khususnya ketika barat menerapkan kebijakannya untuk melibatkan umat ke dalam fase militer, bukan militer yang berbau anarkisme seperti yang diinginkan oleh Amerika, akan tetapi militer yang berbasis aqidah, dan ini adalah jihad yang berkesinambungan dan tidak akan terlepas dari tumbuhnya pengalaman dan kapabilitas. Apakah mungkin pesawat-pesawat dan serangan-serangan udara tersebut dapat mengimbangi hal-hal positif yang diraih oleh umat? Amerika telah gagal di awal sehingga kegagalan tersebut menggiringnya ke arah menggunakan metode seperti ini, dan metode ini akan menjadi neraka raksasa bagi Amerika dan menjadi rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para mujahidin

Yayasan Media Al-Malahim :

Pada bulan lalu Tanzhim Al Qaeda mengumumkan pembentukan cabang baru di Wilayah Sub Benua India, mereka juga menjelaskan mengapa cabang ini dibentuk, apa komentar anda mengenai pembentukan cabang baru ini?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Pertama-tama kami mengucapkan selamat kepada umat Islam atas dibentuknya cabang semacam ini di sebuah wilayah sensitif di dunia Islam. Siapa saja yang mengetahui perihal negeri tersebut dan mengetahui tabiat kaum muslimin yang ada di sana, ia pasti tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang ramah, lemah lembut, penuh emosional dan memiliki hasrat yang tinggi terhadap Islam. Mereka memiliki kelebihan dalam hal mendengar dan mematuhi serta semangat jihad di jalan Allah yang membedakan antara mereka dengan bangsa muslim lainnya di banyak negara.

Kondisi kaum muslimin di sana jelas tengah ditimpa dengan kezhaliman yang parah, seperti permasalahan Kashmir dan pemerintah Pakistan yang tidak serius menanganinya, begitu juga dengan permasalahan Bangladesh, yang mana pemerintahnya yang merupakan antek India menimpakan kezhaliman terhadap rakyat muslim di sana, dan juga pembantaian yang kita saksikan di Burma, serta berbagai permasalahan dan penderitaan yang ada di wilayah tersebut. Semuanya menjelaskan betapa pentingnya pembetukan cabang baru semacam ini, dan dengan izin Allah cabang ini akan menjadi faktor kemenangan bagi kaum muslimin di sana dan faktor penyelamat bagi kaum yang tertindas. Kami juga tidak bisa melupakan fakta mengenai betapa banyaknya kepentingan barat di wilayah tersebut, ia tersebar dimana-mana dan dalam skala yang besar.

Begitu pula dengan koalisi zionisme-hindu yang dampaknya sangat terasa oleh kaum muslimin yang tertindas di wilayah tersebut. Pembentukan cabang baru ini menguatkan kembali keyakinan bahwa ideologi jihad global masih diterima secara luas dan terus berkembang berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sungguh bertentangan dengan apa yang dinyatakan oleh Obama dan kepala-kepala negara kafir lainnya.

Yayasan Media Al-Malahim :

Kita beralih ke topik lain mengenai poros kekuatan lain yaitu antara Iran dan Amerika, serta mengenai kerjasama baru dan terbentuknya hubungan yang dekat di antara keduanya pada bulan-bulan terakhir ini. Tadi kita sudah berbicara tentang poros kekuatan pertama, yaitu koalisi salibis yang menyerang Iraq dan Syam, dan ini menggiring kita untuk membicarakan mengenai hubungan Iran-Amerika serta pembagian kepentingan di kawasan tersebut, dan apakah hubungan Amerika-Iran ini sedang memasuki tahapan yang baru?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Sebenarnya hubungan Iran-Amerika adalah hubungan yang sudah ada sejak lama, ini dibuktikan dengan jelas oleh sejarah kawasan tersebut, keberhasilan Amerika memasuki Afghanistan tidak mungkin dapat dicapai jika Iran tidak bekerjasama dengan Amerika. Begitu juga ketika Amerika memasuki Iraq, persoalan ini pun sudah dinyatakan oleh para penanggung jawab di Iran. Tahapan yang dicapai oleh Amerika dan Iran pada hari ini adalah memindahkan hubungan yang tadinya berada di ranah yang terselubung dan dari tahapan rahasia ke tahapan yang terbuka dengan alasan bahwa perkembangan situasi di kawasan tersebut dan kondisi global menuntut untuk menciptakan hubungan kerjasama dalam bentuk yang semacam ini.

Baru-baru ini Rouhani (Presiden Iran,-red) melakukan kunjungan ke Amerika, di dalam kunjungan tersebut ia mengatakan bahwa rakyat Iran memiliki beberapa permasalahan dengan Amerika dan itu harus diselesaikan namun membutuhkan beberapa waktu, hal ini menjelaskan bahwa pemerintah Iran tega melakukan penipuan walaupun terhadap rakyatnya sendiri, karena memang beginilah kebiasan Rafidhah, mereka mengangkat panji palsu. Negara yang pertama kali mengangkat panji “Matilah Amerika dan Matilah Israel” saat itu adalah Khomeini, awalnya semboyan ini tersebar luas di Iran, kemudian Iran mulai mengenalkannya seiring ia mengenalkan konsep revolusinya ke seluruh dunia Islam. Fakta mengenai hubungan ini, mengenai pertukaran peran dan penyelubungan terhadap ranah politiknya dapat kita ketahui secara jelas di dunia nyata, ketika Amerika bersepakat dengan Iran untuk bekerjasama dalam bidang tertentu, contohnya mendukung pemerintahan Iraq, dan di sisi lain mereka menutup mata mengenai isu tertentu, seperti Hizbullah dan lain-lain.

Begitu juga mereka bekerjasama untuk memerangi musuh bersama yaitu para mujahidin ahlus sunnah di Iraq dan Syam, ini semua menjelaskan kepada kita akan hakekat dan rupa dari hubungan antara dua kubu ini. Kenyataan bahwa para pengikut Iran dari berbagai penjuru dunia bersatu untuk berperang bersama Basyar sang tiran untuk melawan rakyat muslim Suriah merupakan bukti yang jelas akan adanya permainan dan pembiaran oleh Amerika terhadap permasalahan semacam ini, ini juga menujukkan dengan jelas bahwa terdapat kesepakatan yang terencana di antara keduanya.

Yayasan Media Al-Malahim :

Kita berbicara tentang Iran dan Amerika dan bagaimana keduanya membagi harta rampasan dan pengaruh; jamaah Hautsi menguasai Shan’a melalui persekongkolan dan pengkhianatan dari pemerintah boneka Yaman dan diiringi oleh sikap impoten dari PBB dan negara teluk yang tidak berkutik. Mungkin ini termasuk strategi baru untuk membagi-bagi kekuasaan antara Iran dengan Amerika. Dalam skala Yaman, apa faktor paling penting yang menyebabkan Shan’a jatuh dengan cara seperti ini?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Jelas sekali bahwa kesepakatan di tingkat internasional dan kondisi di tingkat lokal membawa dampak terhadap kondisi di Yaman, kegiatan politik baru-baru ini yang diawasi oleh 10 negara, dan didahului oleh prakarsa dari negara-negara teluk yang salah satu isinya adalah memberikan perlindungan kepada Ali Abdullah Saleh, kemudian proses mediasi Jamal Benomar serta dipilihnya orang ini untuk melakukan proses mediasi ini (mediasi antara pemerintah Abdu Rabbuh dengan kelompok Hautsi – red.), begitu juga dengan lembaga mediasi pusat dan kegiatan yang ia lakukan; semua pendahuluan tersebut adalah demi mewujudkan satu tujuan yang harus diraih, yaitu menjatuhkan Shan’a dan menyerahkannya ke tangan Hautsi.

Yayasan Media Al-Malahim :

Tindakan barbar yang digunakan oleh kelompok Hautsi untuk menginvasi Shan’a, merebut masjid-masjid dan kampus-kampus yang ada, dan penjarahan properti, bagaimana kita mentoleransi antara perbuatan dan tindakan seperti ini dengan semboyan-semboyan Hautsi seperti: “Matilah Amerika”, “Matilah Isarel”, “Terlaknatlah Yahudi” dan semboyan-semboyan lainnya?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Tentu saja tindakan ini menyingkap siapa sebenarnya Hautsi di hadapan semua orang serta para pengikutnya, dan siapa saja yang telah termakan umpannya, maka ia akan menyadari akan kepalsuan dari propaganda tersebut. Bagaimana bisa ia berteriak “Matilah Amerika” dan “Matilah Israel” sedangkan ia justru menyerang masjid-masjid ahlus sunnah dan lembaga Tahfizhul Quran serta Jami’ah Al Iman? Jadi semboyan-semboyan tersebut hanyalah dinamo yang digunakan oleh Hautsi untuk mengatasi akal masyarakat dan memancing emosi mereka sehingga mereka mengikutinya.

Yayasan Media Al-Malahim :

Maksudnya Hautsi yang selama ini melakukan protes demi kepentingan rakyat dan menggalang dukungan untuk menjatuhkan hegemoni, kini terlihat hakekatnya dan muka buruknya?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Iya tentu saja, dimana sekarang semua tuntutan Hautsi tersebut? Dimana sekarang semua kepentingan rakyat yang ia klaim ia perjuangkan tersebut? Sekarang ia hanya disibukkan untuk memperluas daerah kekuasaan dan menaklukkan wilayah-wilayah strategis mulai dari pelabuhan-pelabuhan hingga sumber-sumber minyak.

Yayasan Media Al-Malahim :

Beberapa pemimpin partai politik yang anti Hautsi mengeluarkan pernyataan yang lemah dan menandatangani serta ridha dengan Perjanjian Kemitraan Nasional yang bersedia mengabulkan tuntutan Hautsi, apakah faktor pendorong para pemimpin parpol tersebut mengambil sikap seperti ini?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Lemah, kelemahan lah yang menjadikan parpol-parpol tersebut mengambil sikap seperti ini. Apa yang bisa diharapkan dari komunitas yang tidak memiliki kekuatan secara riil di lapangan? Komunitas-komunitas yang hidup di alam hipotesa dan tidak mengambil langkah usaha yang sesuai dengan hukum syariat dan hukum alam, bahkan ia bekerja selama bertahun-tahun untuk menjauhkan para pemuda dan putra-putranya dari melakukan persiapan perang dan mempersenjatai diri, serta membujuk mereka untuk bersandar terhadap metode-metode barat yang jauh dari nash-nash Al-Quran dan As Sunnah, mereka melakukannya demi mendapatkan keridhaan dari Amerika dan menjauhkan mereka dari tuduhan terorisme; apa yang dihasilkan dari semua ini adalah generasi yang bermewah-mewahan dan jauh dari semangat berkorban, semangat perjuangan dengan gagah berani dan semangat jihad, mereka bersandar kepada kedamaian palsu yang kemudian menjadi agama dan syiar mereka.

Di sini kita harus menjelaskan kepada kaum muslimin bahwa memang ada yang namanya tata cara diplomasi dan berpolitik, namun ada juga yang namanya kekuatan militer, sehingga apapun diplomasinya, apapun sistem perpolitikannya, dan apapun ideologinya, apabila ia tidak memiliki kekuatan yang dapat menjaganya di dunia nyata, dan tidak memiliki basis ancaman yang dapat digunakan untuk menakuti musuh, maka seluruh usaha politik dan diplomasi ini hanya sebatas untuk membujuk musuh. Adapun apabila engkau memiliki kekuatan yang dapat menjaganya, dapat melindunginya, dan dapat menyebarkannya dengan menggunakan kekuatan senjata selain dengan kekuatan penjelasan, ketika itulah engkau memiliki kekuatan politik yang berkuasa di dunia nyata. Dan kondisi yang kita saksikan di berbagai negara Islam, merupakan hasil dari keteledoran mereka dalam memperhatikan poin penting ini.

Yayasan Media Al-Malahim :

Selama beberapa waktu terakhir ini, perlawanan terhadap Hautsi terus konsisten dilakukan di berbagai front, namun mayoritas front tersebut berhasil dikuasai dan Hautsi berhasil meraih kemenangan di medan tempur, apa sebab dari kekalahan yang terjadi beberapa waktu lalu ini?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Sebenarnya kemenangan Hautsi bukan disebabkan karena kekuatannya yang mampu melemahkan kaum muslimin, akan tetapi perselisihan antara jamaah-jamaah Islam, perpecahan di kalangan kaum muslimin, berbeda-bedanya misi mereka serta kecondongan mereka kepada kezhaliman dan negara-negara asing lah yang menyebabkan kekalahan. Kita juga tidak bisa memandang sebelah mata terhadap banyaknya suku yang pro terhadap terntara yang terbukti menjadi boneka, yang disetir melalui arahan asing, semua ini merupakan sebab dan faktor utama dari kemenangan Hautsi. Begitu pula dengan Komisi Kepresidenan (Yaman) yang hanya menjadi kendaraan yang disediakan bagi Hautsi untuk menghadapi kesulitan yang ia alami, belum lagi kebijakan yang salah dan keputusan yang mematikan yang diambil oleh beberapa jamaah, yang itu juga menyebabkan Hautsi menang.

Yayasan Media Al-Malahim :

Anda menyebut nama Komisi Kepresidenan, bagaimana Komisi Kepresidenan memainkan perannya untuk melayani kepentingan Hautsi?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Komisi Kepresidenan adalah jalur penyelamatan yang digunakan oleh Hautsi ketika krisis mulai bertambah dahsyat. Setiap kali Hautsi mendapatkan perlawanan yang sengit baik dari para kader ataupun dari beberapa jamaah Islam di setiap tempat atau di setiap front, secara spontan Hautsi akan berlindung di balik Komisi Kepresidenan, yang akan langsung melakukan penawaran perjanjian damai, memberikan janji dan bersandiwara untuk memecahkan masalah, tujuannya adalah demi memberikan kesempatan bagi Hautsi untuk menertibkan kekuatannya dan memusatkan kegiatan perlawanannya terhadap front pertempuran tertentu. Contohnya ketika Hautsi dikepung di 6 front pertempuran sedangkan 6 front lagi berhasil direbut dari mereka dan ia tengah terkepung di Dammaj, ia kekurangan sumber pasokan, posisinya pun sudah sangat terdesak, maka Komisi Kepresidenan langsung menengahi antar dua kubu, sehingga banyak front pertempuran yang mulai mereda dan tertutup, dampaknya Hautsi yang ada di Dammaj dan Kitaf menjadi terbengkalai. Ketika front pertempuran di Kitaf dibuka, maka Komisi Kepresidenan langsung terlibat untuk menengahi di wilayah Hashid dan Haradh, namun apabila Kitaf sudah mulai mereda, Hautsi akan membatalkan perjanjian dan menyerang Hashid. Beginilah, setiap kali Hautsi mendapatkan jalan buntu, ia akan meminta bantuan kepada Komisi Kepresidenan untuk menyelamatkannya dan mengeluarkannya dari sana.

Yayasan Media Al-Malahim :

Ada surat kabar Saudi yang memberitakan bahwa Komisi Kepresidenan Yaman berkomitmen untuk merekrut 15.000 anggota Hautsi untuk ditempatkan di kemiliteran dan pasukan keamanan, mengapa para anggota Hautsi berhasrat untuk direkrut ke dalam kemiliteran, padahal mereka adalah milisi yang memiliki persenjataan berlimpah?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Hasrat Hautsi untuk melakukan penetrasi ke dalam militer bukanlah keinginan Hautsi sendiri, melainkan itu adalah rencana Amerika yang sebelumnya telah berhasil diterapkan di Iraq, dan ini adalah rencana yang sudah disempurnakan sehingga kita harus mewaspadainya. Dengan langkah ini mereka yakin bahwa mereka mengambil langkah yang sesuai dengan metode yang mereka gunakan di Iraq. Adapun Hautsi, ia tahu bahwa ada banyak wilayah dan suku yang ia tidak mampu untuk menghadapinya, karenanya ia berencana untuk menyerangnya dengan mengatasnamakan militer, dan rencana ini mendapat restu global dari Amerika dan negara lainnya.

Yayasan Media Al-Malahim :

Secara khusus, Abdul Malik Al Hautsi telah mengumumkan bahwa tahapan selanjutnya yang akan ia jalankan adalah perang melawan Al Qaeda?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Ya tentu saja, ia telah mengumumkannya secara resmi dan menurut pandangan mujahidin, ini tidak ada bedanya. Sebelumnya Amerika memerangi mujahidin dengan menggunakan kekuatan pemerintahan boneka dan menggunakan pasukan kemiliterannya, dan kini Amerika ingin memerangi mujahidin dengan menggunakan Hautsi. Dengan izin Allah semua itu tidak akan membawa hasil bagi mereka, dan sebagaimana Amerika gagal dalam memerangi mujahidin dengan menggunakan pasukan kemiliteran Yaman, maka mereka pun akan gagal dan kalah ketika mereka menggunakan Hautsi untuk memerangi mujahidin. Mujahidin sendiri dengan izin Allah akan memaksa mereka dan komplotannya untuk merasakan pahitnya empedu, dan serangan Hautsi nantinya tidak akan seberapa dibandingkan dengan Amerika dan antek-anteknya.

Yayasan Media Al-Malahim :

Kini beranjak kepada pertanyaan yang banyak ditanyakan oleh kaum muslimin, apa saja kewajiban yang harus dilakukan untuk menghadapi serangan Hautsi, kejahatannya dan penaklukannya?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Yang wajib dilakukan adalah melawan serangannya dan menyingkap semboyan palsunya dan menyingkap konspirasi lokal dan internasional serta aliansi yang ada sekarang ini, yaitu antara Amerika dengan Iran yang bagi siapa saja yang masih belum mendapatkan gambaran yang jelas di Yaman, lihatlah dampaknya dapat kita saksikan dengan jelas di Iraq. Masyarakat wajib merapat ke sekitar mujahidin, mendukung dan menolong mereka, karena sejarah para mujahidin dalam menghadapi Hautsi tidak perlu diragukan lagi bagi siapa saja yang mengikuti perkembangan isu yang satu ini.

Yayasan Media Al-Malahim :

Ada banyak orang yang mengandalkan para mujahidin dari Tanzhim Al Qaeda dan Anshar Syariah untuk menghadang serangan Hautsi.

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Alhamdulillah, ini adalah sikap berbaik sangka kaum muslimin di Yaman terhadap saudara-saudara mereka para mujahidin, kami memberikan kabar gembira kepada mereka bahwa mujahidin dengan izin Allah mereka ahli dalam hal ini. Meskipun terdapat sikap dualisme dari beberapa lembaga atau beberapa kalangan yang mengandalkan para mujahidin untuk menghadapi gelombang serangan ini, namun sayangnya di sisi lain mereka jelas-jelas mengkhianati para mujahidin dalam berbagai kasus yang mendapat perhatian besar dari para mujahidin. Seperti kasus para mujahidin yang ditawan, berapa banyak para mujahidin pada hari ini yang mendekam di dalam tahanan negara? Begitu juga dengan persoalan pengeboman Amerika terhadap para mujahidin dengan menggunakan pesawat tanpa awak. Sayangnya banyak jamaah yang bersikap lemah terhadap sisi yang satu ini. Bahkan Hautsi mengambil keuntungan dari persoalan ini, menipu banyak orang dan mengumpulkan simpati untuk menolak intervensi ini, padahal yang dirugikan oleh kasus-kasus seperti ini secara keseluruhan atau secara global adalah Anshar Syariah.

Begitu juga dengan propaganda yang dilancarkan secara intensif dan instan terhadap para mujahidin tidak akan cocok dengan kondisi ekonomi Yaman dan tidak akan cocok dengan ancaman nyata dari meluasnya kekuasaan Hutsi, sehingga daripada kita mengurusi sikap yang dualisme ini, lebih baik kita memberikan kabar gembira kepada kaum muslimin dan khususnya yang ada di Yaman bahwa mujahidin akan melakukan antisipasi terhadap ancaman ini.

Yayasan Media Al-Malahim :

Ada beberapa orang yang berbicara secara berulang kali dan masih saja terus mengulanginya, mereka berbicara tentang bahaya dari konflik sektarian, dan mereka mengajak semua orang agar tidak terseret ke dalamnya, namun kini setelah Hautsi menguasai Shan’a dan melakukan kejahatan, bagaimana anda menanggapi hal ini?

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Subhanallah, apakah semua penyerangan dan kejahatan yang dilakukan oleh Hautsi sampai saat ini tidak dianggap sebagai konflik sektarian? Semua perang yang dilancarkan oleh Hautsi adalah perang sektarian, seluruh tujuannya adalah sektarian, seluruh permusuhannya adalah sektarian, seluruh dakwahnya adalah sektarian, dan sekarang ketika kaum muslimin ingin mempertahankan diri mereka dari serangan ini atau membalas serangan yang dilancarkan oleh penjahat ini, dan mereka mengancam dan menakut-nakuti dengan pernyataan larangan turut campur ke dalam perang sektarian. Sedangkan apabila Hautsi membunuh kami dan menyerang kami, masjid-masjid kami dan pusat-pusat keilmuan kami, semua ini sampai saat ini tidak dianggap sebagai perang atau konflik sektarian!? Mereka menyerang Jami’ah Al Iman, mereka menyerang tempat-tempat lingkar studi Al-Quran dan mereka menyerang sekolah-sekolah tahfizh Al-Quran, tentu saja semua ini adalah perang sektarian.

Yayasan Media Al-Malahim :

Jikalau kita merinci kembali wahai Syaikh, kita akan menemukan bahwa barat memerangi kita dengan menggunakan istilah-istilah seperti ini; konflik sektarian, terorisme, dan menentang perjanjian internasional. Seakan-akan barat memasukkan kita ke dalam lingkup yang sempit sehingga membatasi pandangan umat terhadap kita.

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Benar, tepat seperti yang anda katakan.

Yayasan Media Al-Malahim :

Kita sampai pada pertanyaan terakhir dalam sesi pertemuan kali ini, kita berbicara mengenai Yaman, beberapa waktu lalu pemerintah Yaman melancarkan beberapa serangan besar terhadap para mujahidin di Abyan, Syabwah, Bayda, dan juga Hadhramaut. Sekarang yaitu 6 bulan setelah serangan tersebut, bagaimana kondisi di lapangan khususnya ketika pemerintah mengumumkan bahwa pihaknya berhasil meraih kemenangan besar dan mengklaim berhasil menewaskan 500 orang mujahid.

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Alhamdulillah, kami memberikan kabar gembira kepada umat bahwa para mujahidin dalam keadaan baik, adapun kedustaan yang merupakan perangkat media massa corong penguasa ini dipercaya begitu saja oleh masyarakat, padahal mayoritas isinya adalah hal-hal yang dilebih-lebihkan. Namun jikalau kita memperhatikan 6 bulan terakhir ini saja, maka kita akan mendapati angka yang besar dari operasi-operasi yang telah dilakukan oleh para mujahidin di berbagai provinsi atau wilayah, ini merupakan bukti nyata yang menunjukkan bahwa serangan-serangan musuh tersebut berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak bisa menggeser eksistensi para mujahidin, semua itu menguatkan keyakinan bahwa para mujahidin akan terus melaksanakan jihad mereka dengan diiringi karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan operasi-operasi mereka masih terus mengalami perkembangan, kekuatan mereka juga mengalami peningkatan dari hari ke hari, berkat karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yayasan Media Al-Malahim :

Kita sampai pada penghujung sesi pertemuan kali ini, moga-moga kita dapat melanjutkan perbincangan kita pada pertemuan yang akan datang dengan izin Allah Azza wa Jalla. Kami mengucapkan terima kasih kepada Syaikh karena telah bersedia meluangkan waktunya, Assalamualaikum Warahmatullahi wa Barakatuhu.

Syaikh Nashir Al-Anasi :

Semoga Allah membalas amal kalian dengan kebaikan, Wa Alaikumus Salam Warahmatullahi wa Barakatuhu

Jangan lupakan ikhwan-ikhwan kalian dari do’a kalian yang shalih
Tanzhim Al-Qaeda di Jazirah Arab

 

(banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...