Berita Dunia Islam Terdepan

Turki beri kesempatan anak-anak pengungsi Suriah belajar di kamp atau di sekolah umum

anak-anak suriah diberi kesempatan belajar oleh turki di kamp pengungsian dan di sekolah-sekolah umum, courtesy world bulletin
1

ISTANBUL (Arrahmah.com) – Sepertinya baru kemarin Erdogan membuka Turki bagi para pengungsi Suriah korban kekejaman rezim Assad dengan sangat terbuka. Kini Pemerintah Turki tak tanggung-tanggung menawarkan berbagai layanan pendidikan untuk lebih dari 150.000 anak-anak pengungsi Suriah, sebagaimana dinyatakan Menteri Pendidikan Nasional Turki, Senin (10/11/2014), pada laporan World Bulletin.

“Saya mendesak seluruh dunia untuk peka terhadap kebutuhan anak-anak pengungsi Suriah untuk [mendapatkan] pendidikan,” ujar Menteri Nabi Avci dalam pidato pada Konferensi Dunia UNESCO 2014 tentang pendidikan.

Avci menunjukkan bahwa Pemerintah Turki telah memainkan peran penting dalam menyediakan pendidikan untuk pengungsi anak Suriah.

Menteri itu juga mengatakan bahwa mengapa dunia tetap diam, padahal anak-anak pengungsi Suriah terus membayar harga kebebasan mereka dengan darah dan nyawa.

seorang bocah pengungsi  suriah mengibarkan kebebasan (sementara) di kamp pengungsian turki
seorang bocah pengungsi suriah mengibarkan kebebasan (sementara) di kamp pengungsian turki

Setidaknya 1,5 juta pengungsi Suriah saat ini tinggal di Turki. Smentara, pemerintah Turki telah menghabiskan lebih dari $ 4500000000 untuk membantu mereka, ujar Pak Menteri.

“Banyak anak-anak lainnya berada dalam komunitas tuan rumah daripada di kamp-kamp pengungsi di Turki. Saat ini 70.000 anak-anak menerima pendidikan di kamp-kamp, sementara 71.500 lainnya pergi ke sekolah di luar kamp.”

Ia menambahkan, “Namun, hanya sekitar 150.000 anak-anak ini mampu menerima pendidikan, dengan sisanya 200.000 dapat mendaftar di sekolah.”

Suriah telah dicengkeram oleh pertempuran secara konstan sejak rezim melancarkan tindakan kekerasan dalam menanggapi protes anti-pemerintah pada Maret 2011, memicu konflik ideologis berkepanjangan.

Setidaknya lebih dari 100.000 kematian telah dihitung dalam konflik sejak Juli 2013. PBB telah berhenti memperbarui jumlah korban tewas bagi negara karena kesulitan dalam memverifikasi korban. Innalillahi wainna ilayhi raaji’uun. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...