Berita Dunia Islam Terdepan

Wawancara eksklusif perdana Yayasan Media Al-Manarah Al-Baidha’ dengan Syaikh Al-Fatih Abu Muhammad Al-Jaulani

11

(Arrahmah.com) – Yayasan Al Manarah Al Baidha’ mempersembahkan wawancara eksklusif perdana bersama Syaikh Al Fatih Abu Muhammad Al Jaulani Hafizhahullah, penanggung jawab umum Jabhah Nushrah. Wawancara ini membahas seputar perkembangan terakhir di kancah jihad Syam dan isu-isu serta tuduhan-tuduhan seputar Jabhah Nushrah yang tersebar akhir-akhir ini. Berikut hasil wawancara tersebut yang diterjemahkan oleh Tim Muqawamah Media pada Sabtu (8/11/2014).

***

Al Manarah Al Baidha’:

بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah, beserta keluarga, para sahabat dan siapa saja yang mengikuti beliau, wa ba’du:

Yayasan Al Manarah Al Baidha’ dengan bangga mempersembahkan kepada kalian pertemuan eksklusif bersama Syaikh Al Fatih Abu Muhammad Al Jaulani Hafizhahullah, penanggung jawab umum Jabhah Nushrah. Pertemuan ini akan membahas seputar perkembangan terakhir di kancah peperangan Syam dan isu-isu serta tuduhan-tuduhan seputar Jabhah Nushrah yang tersebar akhir-akhir ini, kami memohon kepada Allah agar memberikan berkah kepada beliau dan menjadikan beliau bermanfaat bagi kita beserta kaum muslimin. Kami merasa senang jika dalam pertemuan perdana ini kita bisa menyambut Syaikh Al Fatih, Assalamualaikum Warahmatullahi wa Barakatuhu, Syaikh kami yang mulia, sebagai tamu di Al Manarah Al Baidha, kami ucapkan selamat datang.

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Wa Alaikumus Salam Warahmatullahi wa Barakatuhu, ahlan wa sahlan.

Al Manarah Al Baidha’:
Syaikh Al Fatih, kemana arah kancah jihad Syam bermuara?

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Bismillah wa alhamdulillah, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah, beserta keluarga, para sahabat dan siapa saja yang mengikuti beliau, wa ba’du.

Kancah jihad Syam saat ini tengah menghadapi sejumlah tantangan. Yang pertama adalah koalisi internasional, sekutu-sekutunya di tingkat lokal, dan sekutu-sekutunya di dalam ranah internal Syam. Koalisi internasional ini telah menghimpun sekitar 60 negara dan mengumpulkan biaya sebesar 500 Milyar US Dolar. Jumlah negara dan biaya sebesar ini mengungguli koalisi internasional yang dibentuk pada saat perang teluk tahun 1991, saat itu hanya ada sekitar 32 negara yang bergabung dan 100 Milyar US Dolar yang terkumpul.

Ini menunjukkan bahwa koalisi ini dibentuk untuk menghadapi sesuatu yang lebih besar dari pada sekedar isu Jamaah Daulah, Jabhah Nushrah, serta organisasi-organisasi yang disebut sebagai organisasi ekstrim. Ini juga membuktikan bahwa pemerintah internasional memiliki tujuan besar di kawasan ini, sebuah kawasan yang memiliki dampak sensitif yang sangat luas, yaitu karena posisinya yang dekat dengan Israel, karena kancah jihad Syam menjadi ancaman bagi Eropa seiring dengan banyaknya jumlah para muhajirin berkebangsaan Eropa yang datang ke kawasan ini, dan karena ia berusaha melanggengkan rezim Assad mengingat rezim ini membentuk salah satu pasak yang dapat menopang pemerintahan internasional di kawasan ini, pasak tersebut adalah kelompok Nushairiyah yang ada di kancah peperangan Syam.

Tentu saja ini membutuhkan usaha yang sangat besar di kancah peperangan yang kompleks seperti kancah Syam ini, ia membutuhkan kemampuan dan biaya dalam jumlah yang besar hingga mereka bisa mengembalikan kondisi seperti semula sebelum jihad di Syam dimulai. Faksi-faksi yag berkoalisi dengan pemerintahan internasional akan diberikan dukungan seperti yang mereka katakan dan seperti yang mereka terapkan sekarang, sebagian faksi ini sudah ada yang mulai mengirimkan anggotanya untuk dilatih dan dipersenjatai, truk-truk penuh persenjataan dan amunisi pun berdatangan setiap hari untuk mendukung faksi-faksi ini agar ia menjadi kepanjangan tangan dari Amerika dan barat di dalam kancah peperangan Suriah.

Sehingga nantinya faksi-faksi ini akan beroperasi di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan, pemerintahan internasional akan menangani urusan pemberantasan para mujahidin di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan dan menggantikan mereka dengan faksi-faksi sekutu mereka yang saat ini telah menerima bantuan dari mereka.

Beberapa hari yang lalu John Allen, penanggung jawab yang ditunjuk oleh Amerika Serikat untuk memimpin koalisi ini, telah menyatakan bahwa mereka akan menggulirkan program pelatihan kepada pihak oposisi yang mereka anggap moderat, yaitu pihak-pihak yang bersedia menjadi agen dan sekutu bagi mereka, ungkapan ini lebih tepat jika dikatakan bahwa mereka melatih dan mempersenjatai faksi-faksi ini untuk melawan Jabhah Nushrah dan Jamaah Daulah, inilah tujuan yang sebenarnya dan tentu saja kelompok-kelompok islam atau organisasi-organisasi yang tidak patuh terhadap kebijakan barat yang akan diterapkan di kawasan ini tidak luput dari sasaran.

Adapun terhadap wilayah-wilayah yang di dalamnya terdapat para pemberontak namun masih didominasi oleh rezim seperti Damaskus, Homs, Hama, Latakia, Tharthus dan Qalamoun, wilayah-wilayah ini akan dikuasai kembali oleh rezim itu sendiri, dan ia akan memperluas kekuasaannya dari sana, tentu saja rezim akan menguasai kembali wilayah-wilayah yang ia dominasi dan memanfaatkan kelemahan yang terjadi di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan dan didominasi oleh jamaah-jamaah jihad.

Kemudian apabila kondisinya mulai pulih dan sesuai dengan rencana, mereka (koalisi pemerintahan internasional – red.) akan mengumumkan berakhirnya peperangan melalui cara yang serupa dengan Perjanjian Daytone yang terjadi di Bosnia. Mungkin mereka akan mempertimbangkan untuk membuat perjanjian serupa di kancah jihad Syam dan mulai melarang adanya situasi peperangan, kemudian mereka akan menggabungkan pemerintahan yang ada – yaitu pemerintahan rezim dan pemerintahan sementara – namun didesain agar kekuasaan yang sebenarnya tetap berada di tangan rezim. Sebabnya adalah mereka menduga bahwa rezim lebih mampu dan berkompeten dalam menjaga negara ini karena telah memiliki pengalaman dalam menjalankan pemerintahan selama lebih dari 40 tahun. Apalagi setelah mereka tahu bahwa mereka mengalami kegagalan berulang kali ketika mencoba untuk membentuk pemerintahan sementara dan menjalankan beberapa fungsi dan tugasnya di negara ini.

Selain dihadapkan pada ancaman-ancaman seperti ini, kancah jihad ini juga dihadapkan pada konflik internal, ada ancaman dari perbedaan manhaj antara jamaah-jamaah Sunni dengan jamaah-jamaah yang cenderung ekstrim dan jamaah-jamaah yang mengarah kepada sikap moderat. Jadi secara umum kancah jihad Syam saat ini tengah dihadapkan pada ancaman-ancaman yang serius, bahkan mungkin ancaman-ancaman tersebut terus berkembang.

Tidak lupa saya sebutkan, bahwa rezim juga memiliki sekutu yang melibatkan diri mereka di dalam peperangan ini, di antara mereka ada yang terlibat secara langsung, ada pula yang hanya memberikan bantuan logistik, atau amunisi, atau persenjataan, atau bahkan jasa intelejen dan kerjasama yang nyata. Sesungguhnya, pihak-pihak yang bekerjasama dengan rezim untuk memerangi ahlus sunnah di Syam juga merupakan ancaman yang harus dihadapi oleh rakyat Syam. Rezim ini disokong sepenuhnya oleh Iran, dipersenjatai oleh Rusia, dipasok logistiknya oleh China dan dibantu oleh milisi-milisi Rafidhah.

Intensitas milisi-milisi Rafidhah ini mulai berkurang setelah adanya perkembangan terakhir di Iraq dan kemenangan-kemenangan yang didapat di sana. Milisi yang paling kejam bukanlah Hizbullah, akan tetapi milisi-milisi Rafidhah yang ada di kawasan ini, mayoritas pembantaian yang terjadi di sini dilakukan oleh milisi-milisi tersebut. Meskipun Hizbullah tidak kalah kejam dari mereka, namun kekejamannya masih dianggap nomor dua setelah milisi-milisi lain, akan tetapi ia juga dianggap sebagai pelopor di kalangan mereka sehingga keberadaannya merupakan ancaman berbahaya yang harus dihadapi. Dan rakyat Syam wajib mempersiapkan diri untuk menghadapi setiap ancaman yang telah kami sebutkan.

Intinya adalah kami memandang bahwa dunia internasional telah terbagi menjadi dua sikap, semua orang bersepakat, hampir semua negara bersepakat bahwa mereka harus menghentikan atmosfer jihad yang ada di kancah jihad Syam, meskipun di antara mereka terdapat perbedaan pandangan, mereka tetap akan bersepakat dalam satu titik tertentu.

Tidak lupa kami katakan bahwa ada ketegangan yang mencapai titik klimaks setelah para mujahidin berhasil menjangkau jalur perbatasan yang memisahkan antara mereka dengan Israel, hal ini tidak diragukan lagi akan menimbulkan kekhawatiran bagi Israel, sehingga seluruh kalangan yang sebelumnya bersengketa berusaha untuk menjaganya, baik itu sekutu maupun lawan yang berusaha menguasai medan perang Syam, atau mudahnya pihak Amerika dan pihak Rusia. Kancah Syam ini kalau boleh dikatakan, menjadikan hitam dan putih bersatu. Ia menjadikan berbagai bangsa kafir bersatu.

Al Manarah Al Baidha’:
Sudah tiga tahun berlalu sejak pertama kali Jabhah Nushrah didirikan, selama itu pula ia sudah menghadapi berbagai rintangan yang telah anda sebutkan. Lalu sampai sejauh mana progres yang telah diciptakan oleh Jabhah Nushrah di Syam pada hari ini, baik di tingkat militer maupun di tingkat manajemen terhadap wilayah-wilayah yang telah dibebaskan?

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Pertama-tama, jika kita menelisik kembali kegiatan militer Jabhah Nushrah beserta perannya di kancah jihad Syam, maka tentu saja ia memiliki peran yang krusial dalam menghadapi rezim. Karena landasan peperangan ini adalah perang antara ahlus sunnah melawan rezim penguasa yang direpresentasikan pada Basyar Al Assad. Dalam kurun waktu tiga tahun ini Jabhah Nushrah memberikan dampak yang besar dalam melemahkan kekuatan rezim dan membebaskan banyak wilayah dan kota yang sebelumnya dikuasai oleh rezim Assad.

Apabila kita ingin meninjau secara bertahap, maka yang akan saya sebutkan adalah seputar apa-apa yang terjadi di bulan-bulan terakhir ini saja dan tidak perlu menelisik sampai kepada masa-masa yang lalu, karena yang lalu itu telah paripurna dan tidak ada waktu untuk menyebutkan segala apa yang telah dilakukan oleh Jabhah Nushrah.

Adapun seputar perkembangan terakhir di bulan-bulan ini, maka segala puji bagi Allah. Misalkan di wilayah Selatan Dar’a, di sana Jabhah Nushrah memiliki andil besar melalui kerjasama dengan banyak faksi dalam menaklukkan hampir seluruh wilayah pesisir Quneitra pada bulan-bulan terakhir ini, dimulai dari menaklukkan kawasan Pebukitan Merah hingga menaklukkan Bukit Al Harah, kemudian membuka pengepungan terhadap Kota Nawa dan kota-kota lainnya yang terkepung disebabkan keberadaan rezim di bukit-bukit tersebut, lalu memotong jalur yang digunakan oleh rezim untuk mengirimkan bom-bomnya ke kota-kota tersebut.

Kemudian jika kita berbicara tentang Damaskus, maka Alhamdulillah, Jabhah Nushrah dapat ditemui di Ghouthah Timur, sedangkan di wilayah selatan Damaskus, (Jabhah Nushrah masih terus berjuang untuk membuka – red.) dua pengepungan di sana. Di Ghouthah Timur sendiri Jabhah Nushrah memiliki andil besar dalam operasi terakhir yang terjadi di sana, di antaranya adalah operasi pembebasan mujahidin yang terkepung di Kota Maliha dan operasi-operasi lain yang dilaksanakan di areal markas Intelejen Angkatan Udara di Harasta dan lain-lainnya.

Sedangkan di Qalamoun sebagaimana yang diketahui, setelah Hizbullah melakukan penyerangan terhadap saudara-saudara kita di Syam, kami merasa harus memindahkan peperangan ini ke dalam teritorial Lebanon dan wilayah-wilayah yang menjadi basis Hizbullah, yaitu wilayah selatan dan wilayah Dhahiyah Janubiyah(wilayah perkotaan di pinggiran selatan Beirut – red.), kami juga berhasil menargetkan area-area vital mereka dan memindahkan peperangan ke dalam wilayah yang menjadi basis Hizbullah di Lebanon, dengan tujuan agar ia sadar akan resiko berbahaya yang ditimbulkan akibat turut campur dalam permasalahan Suriah dan menjadi sekutu bagi rezim Basyar untuk melawan ahlus sunnah wal jamaah di Syam.

Pergolakan-pergolakan ini membawa dampak positif yang sangat besar dan Alhamdulillah Jabhah Nushrah berada di garis terdepan untuk melindungi ahlus sunnah baik yang ada di Lebanon maupun yang ada di Qalamoun itu sendiri. Sebagaimana yang telah diketahui oleh semua, bahwa Syaikh Abu Malik Asy Syami lah yang menjalankan kepemimpinan Jabhah Nushrah di sana, semoga Allah membalas amal perbuatan beliau dengan kebaikan. Peristiwa-peristiwa terbaru ini membawa dampak positif yang sangat besar, Hizbullah mendapatkan tekanan setelah adanya beberapa operasi penyanderaan terhadap tentara Lebanon. Sedangkan dampak positif terbesar didapatkan setelah beberapa orang saudara kami menjalankan beberapa tindakan sederhana di sana sehingga berhasil mengungkap skandal pasukan Lebanon yang diperalat oleh Hizbullah, dan berhasil mengungkap besarnya kedengkian yang dipendam oleh Hizbullah, khususnya permusuhan yang ditampakkan terhadap ahlus sunnah di Lebanon. Di Tripoli, atau bahkan di kamp-kamp pengungsian yang dihuni oleh orang-orang yang terpaksa pergi dari kampung halamannya akibat ulah dari Hizbullah itu sendiri, Hizbullah telah menyebabkan para lansia, orang-orang miskin, anak-anak dan orang-orang yang sakit mendatangi kamp-kamp pengungsian, namun Hizbullah juga lah yang membakar kamp-kamp pengungsian tersebut.

Kini Hizbullah telah merasakan pahitnya akibat dari apa yang ia perbuat di kamp-kamp pengungsian tersebut setelah Jabhah Nushrah melancarkan operasi Brital yang diberkahi, yang baru-baru ini dilaksanakan. Dan saudara-saudara kami masih menyimpan banyak kejutan, karena peperangan di Lebanon sebenarnya belum dimulai, namun dengan izin Allah akan segera dimulai dan akan terasa lebih dahsyat dan lebih pahit bagi Hizbullah. Semoga saja Hassan Nashrullah menggigit jemarinya karena menyesal atas apa yang ia perbuat terhadap ahlus sunnah di Syam pada hari-hari mendatang, Insya Allah.

Adapun di Homs tercinta, Homs bumi Syuhada’, maka sebagaimana yang diketahui oleh semua orang, kami mengalami kemunduran militer di sana, rezim Assad sendiri baru-baru ini melakukan pembantaian terhadap saudara-saudara kita di Distrik Al Wa’r dengan cara mengepung mereka. Namun Jabhah Nushrah berhasil melaksanakan sejumlah operasi pembalasan dengan menargetkan basis-basis Syabiha di jantung pertahanan mereka di Distrik Az Zahra’ dan tempat-tempat lain.

Kami memohon agar Allah selalu menolong kita agar kita dapat membuka pengepungan di Homs, Ghouthah, Selatan Damaskus dan wilayah-wilayah yang terkepung lainnya pada bulan-bulan mendatang, dengan izin Allah Ta’ala.

Adapun di Hama, maka Alhamdulillah, Jabhah Nushrah memiliki andil terbesar berkat kerjasama dengan beberapa faksi dalam membebaskan Kota Khan Syaikhun dan kamp militer Khazanat yang merupakan kumpulan dari beberapa bangunan besar dengan bentang wilayah yang luas, serta menghadang gerak maju rezim di Mourek pada bulan-bulan terakhir ini.

Adapun di Aleppo, Alhamdulillah, Jabhah Nushrah dapat ditemui di Kota Aleppo. Baru-baru ini Jabhah Nushrah bekerjasama dengan faksi-faksi jihad juga melaksanakan beberapa operasi yang gagah berani untuk merespon serangan rezim di Handarat dan wilayah sekitarnya. Kami juga melaksanakan ribath di sejumlah titik perbatasan, baik itu yang ada di Ramusah maupun di Khan Thouman. Di Latakia, Jabhah Nushrah masih terus melakukan ribath di front Desa Dourin dan desa lainnya, Jabhah Nushrah juga masih terus mengusir setiap serangan yang dilancarkan oleh rezim untuk bergerak maju.

Adapun di wilayah timur Suriah, maka seperti yang diketahui oleh semua orang, setelah kami terlibat peperangan melawan Jamaah Daulah, kami memilih untuk menarik diri dan mundur ke wilayah lain sejak beberapa bulan yang lalu. Adapun di Idlib, maka Alhamdulillah kondisinya baik, operasi penyerbuan terakhir yang kami lancarkan di Idlib adalah penyerbuan di dalam Kota Idlib, yang menargetkan gedung kantor kegubernuran dan kantor keamanan angkatan udara. Secara umum keduanya merupakan pusat komando, para pahlawan dari pasukan berani mati kami melakukan penyerbuan di dalam Kota Idlib, kami juga memotong jalan raya yang menghubungkan antara Latakia dan Idlib, khususnya yang melewati bukit Al Masthumah yang susah ditembus, namun Alhamdulillah para ikhwah di Jabhah Nushrah berhasil menaklukkannya. Sementara para ikhwah tengah melancarkan penyerbuan di Kota Idlib tiba-tiba terjadi beberapa problem yang menyebabkan saudara-saudara kami tertunda untuk menyempurnakan misi mereka di Kota Idlib, problem tersebut ditimbulkan oleh beberapa faksi sehingga anggota kami yang ada di wilayah Idlib lainnya dirugikan, seperti di Gunung Zawiyah misalnya.

Al Manarah Al Baidha’:
Kami mendengar bahwa di Gunung Zawiyah terjadi pertempuran yang dahsyat antara kalian beserta sejumlah faksi melawan Jamal Ma’rouf dan kelompoknya, apa yang menyebabkan terjadinya pertempuran ini?

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Singkatnya, apa yang terjadi adalah Jamal Ma’rouf menebar permusuhan terhadap saudara-saudara kita di sana, seperti di Kota Al Barah dan Kota Kansafra, anggota kelompoknya berisi para pencuri dan para preman, ia melakukan penyerangan terhadap saudara-saudara kita di sana dan juga menyerang para anggota Jabhah Nushrah, ia dan kelompoknya sendiri telah mendapatkan balasan yang setimpal atas penyerangan yang ia lancarkan terhadap keluarga kami di Idlib dan Jabhah Nushrah beserta beberapa faksi lainnya itu sudah terjadi berulang kali. Tentu saja peperangan yang terjadi tidak seperti yang diisukan, yaitu hanya terjadi antara Jabhah Nushrah dengan SRF saja, akan tetapi ia juga diikut sertai oleh dua brigade dari Shuqur Syam, dua brigade lagi dari Ahrar Syam, Jundul Aqsha dan masyarakat sekitar Gunung Zawiyah. Jadi artinya ini adalah pemberontakan rakyat kecil-kecilan melawan pemimpin gerombolan pengacau. Tentu saja pemberontakan ini terjadi setelah faksi-faksi tersebut menyaksikan gerombolan ini melakukan penyerangan berulang kali terhadap saudara-saudara kita di Idlib.

Kami juga telah mengambil keputusan untuk memberantas SRF khususnya yang ada di wilayah utara Suriah, karena serangan paling intensif dari kelompok ini terjadi di wilayah ini. Kelompok ini tidak beraliansi dengan jamaah yang memerangi rezim, ia justru mendekat kepada kelompok-kelompok yang memusuhi kegiatan ini (memerangi rezim), sehingga memberangus keberadaannya merupakan satu hal yang urgen. Kami tidak memungkiri bahwa di dalam SRF yang ada di wilayah utara terdapat beberapa kelompok atau kesatuan yang berafiliasi kepada mereka yang mana masih terus berambisi untuk memerangi rezim dan tidak meninggalkan kancah peperangannya melawan rezim, maka tentu saja kami tidak akan melibatkan kelompok atau kesatuan tersebut, dan tidak menindaknya karena perbuatan Jamal Ma’rouf dan para pengikutnya.

Saya ingin menambahkan bahwa mayoritas faksi yang ada di utara Suriah telah meminta kepada kami untuk menyingkirkan Jamal Ma’rouf dan gerombolannya. Dan permintaan ini tidak hanya datang dari orang-orang yang memusuhinya saja, akan tetapi juga datang dari pihak-pihak yang beraliansi dengannya, bahkan dari beberapa faksi yang secara terang-terangan mengeluarkan pernyataan mengecam dan mengingkari peperangan ini, meminta kami agar meluruskan permasalahan ini serta tunduk kepada mahkamah syariat, dan tuntutan lainnya. Namun pada kenyataannya mereka meminta kepada kami agar membasmi Jamal Ma’rouf dan melanjutkan proses ini hingga ia hilang secara keseluruhan. Di antara mereka ada juga yang mengatakan bahwa kami terpaksa untuk mengambil sikap di media massa karena adanya tekanan dari Amerika, maka Maha Suci Allah.

Tentu saja sudah bukan menjadi rahasia lagi jika ada beberapa faksi yang ada di sini melakukan pertemuan di Turki, yang mana barat menganggap bahwa faksi-faksi tersebut adalah pihak oposisi yang moderat, yang menerima amunisi dan persenjataan serta dipersiapkan supaya dapat menjadi kepanjangan tangan bagi barat di kawasan ini, dan salah satu faksi yang menonjol dari faksi-faksi ini adalah kelompok Jamal Ma’rouf. Orang ini berusaha mempengaruhi faksi-faksi lain dengan mengatakan bahwa Jabhah Nushrah akan melanjutkan programnya hingga ia dapat menghabisi semua pihak. Kami tidak ingin menyeret kancah jihad ini ke dalam konflik internal baru sehingga memberikan keuntungan bagi rezim atau koalisi internasional, dan ini adalah keinginan banyak pihak yang tidak menginginkan kebaikan bagi kancah jihad ini. Namun terlepas dari itu, kami tetap berhak mencegah siapapun yang ingin menimpakan keburukan kepada rakyat Syam atau memerangi para pengikut kami atau Jabhah Nushrah, ini termasuk ke dalam kategori pembangkangan yang sikap kita adalah kita wajib membela diri dan keluarga kita darinya.

Al Manarah Al Baidha’:
Baik, Jamal Ma’rouf mengklaim bahwa Gunung Zawiyah telah dibebaskan sebelum Jabhah Nushrah dibentuk, bagaimana anda menanggapi poin ini?

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Subhanallah.. semua orang tahu bahwa ada beberapa operasi yang dilakukan oleh Jabhah Nushrah di Gunung Zawiyah ketika rezim masih menguasai area tersebut, operasi-operasi tersebut menyebabkan rezim harus angkat kaki dari Gunung Zawiyah. Saya akan menyebutkan satu contoh, yaitu operasi markas Balyun, di dalam markas tersebut terdapat 100 personel tentara rezim, kemudian berkat karunia Allah Jabhah Nushrah berhasil menyerang dan memusnahkannya. Selanjutnya ada operasi penyerangan markas Al Barah yang berdekatan dengan markas orang ini di Desa Deir Sunbul, bahkan di sana terdapat sebuah markas (rezim) yang dekat dengan Deir Sunbul yaitu markas Babila. Dan saya pikir dia mendengar berita operasi peyerangan terhadap markas ini, namun ia justru menghindari lewat di dekatnya untuk dapat sampai ke markasnya di Deir Sunbul. Begitu pula dengan operasi penyerangan pabrik Al Lawis, belum lagi puluhan operasi di Hama dan di sekitar area Gunung Zawiyah yang menyebabkan rezim terpaksa angkat kaki dan pindah ke tempat lain.

Tentu saja saya tidak memungkiri bahwa saudara-saudara kami di Gunung Zawiyah memiliki andil besar di dalam banyak operasi, seperti operasi Kafr Nabel yang waktu itu ia turut serta dalam operasi ini. Kita dapat menyebutkan bahwa orang ini tadinya adalah orang yang melakukan revolusi kemudian ia masuk ke dalam ranah politik, lalu mulai melobi Bandar bin Sulthan, lalu termakan bujukan intelejen Saudi, dan akhirnya termakan bujukan intelejen Amerika dan barat, sehingga ia menjerumuskan dirinya sendiri kepada kebinasaan dan kepada kondisinya yang sekarang ini. Jikalau ia tetap teguh memegang prinsip sebagai seorang pejuang revolusi, terus berperang dan membela saudara-saudaranya dalam menghadapi rezim, kondisi dirinya tidak akan sampai seperti sekarang ini.

Dan kapanpun Jamal Ma’rouf dan orang-orang lain yang semisal dirinya mengumumkan pertaubatannya serta memutus segala hubungan dengan pihak asing, yaitu hubungan yang menjadikannya harus bekerja untuk kepentingan Amerika atau intelejen Saudi, atau intelejen negara lain, ia mengumumkan pertaubatannya kemudian kembali kepada saudara-saudaranya, maka saat itu lah kami akan menganggapnya sebagai saudara, kami akan membela dirinya dan ia akan membela kami, kami akan bekerjasama dengannya dan ia akan bekerjasama dengan kami dalam hal yang benar dan baik, namun dengan satu syarat; hendaknya kita melakukan aksi di bawah panji Laa Ilaaha Illa Allah dan penerapan syariat Allah, serta demi menegakkan hukum islam di muka bumi ini, bukannya justru menerapkan agenda-agenda barat di negeri kita.

Al Manarah Al Baidha’:
Sekarang setelah apa yang terjadi dengan Jamal Ma’rouf, banyak pihak yang menakut-nakuti faksi-faksi lain dengan mengancam bahwa apa yang dilakukan terhadap Jamal Ma’rouf akan kembali terulang, dan Jabhah Nushrah akan berusaha memerangi seluruh faksi lainnya, apakah anda tidak melihatnya sebagai sesuatu yang masuk akal apalagi setelah peristiwa-peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini?

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Tentu saja seperti yang sudah saya katakan kepada anda, bahwa orang ini mencoba untuk menakuti faksi-faksi lain dengan hal ini. Dan juga seperti yang telah saya sampaikan, kami akan bersikap tegas terhadap siapa saja yang ingin menimpakan keburukan kepada saudara-saudara kami di Syam atau memerangi Jabhah Nushrah, atau berupaya untuk menjadi kaki tangan barat di kawasan ini untuk melawan proyek Islam yang akan ditegakkan di muka bumi.

Al Manarah Al Baidha’:
Apa yang ingin anda nasehatkan kepada faksi-faksi dan kesatuan-kesatuan yang dimanfaatkan oleh barat untuk meraih tujuannya di kancah jihad Syam?

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Permasalahannya adalah sebagian dari faksi-faksi tersebut mengira bahwa dirinya sedang mempermainkan Amerika, dan ia berniat hanya akan mengambil amunisi, senjata dan harta mereka, kemudian meninggalkan mereka dan urusan mereka. Atau faksi tersebut mengira bahwa dirinya tidak akan terpengaruh oleh tekanan yang akan didiktekan kepadanya, atau yang tengah didiktekan kepadanya sekarang. Ini adalah sebuah fantasi, kelompok-kelompok ini bukanlah pemain baru dalam dunia jamaah-jamaah jihad dan non-jihadis yang berjuang melawan segala bentuk permusuhan dan kezhaliman yang telah membelenggu umat ini sejak 100 tahun yang lalu.

Seluruh jamaah yang bekerjasama dengan barat atau musuh dengan tujuan dan maksud ini, maka mau tidak mau ia harus menjadi alat untuk meraih tujuan barat, dan setelah tugas kelompok ini selesai, maka mereka akan membuang jamaah tersebut sebagaimana sebelumnya mereka telah membuang jamaah lainnya.

Kami sangat yakin bahwa kelompok-kelompok ini diperalat oleh Barat untuk melaksanakan proyek mereka, dan kelompok-kelompok ini tidak datang untuk menolong masyarakat, melayani rakyat Suriah, atau melayani penduduk Syam, atau meninggikan panji Laa Ilaaha Illa Allah. Barat itu adalah musuh kita dari dahulu hingga sekarang, di zaman ini kita tidak akan pernah bisa sejalan dengan Barat demi memperjuangkan satu kepentingan yang sama, karena proyek mereka berlawanan dengan proyek kita, proyeknya adalah proyek sekuler. Menurut mereka, yang mereka inginkan adalah mendirikan negara-negara sekuler dan demokrasi, sedangkan yang kami inginkan adalah menegakkan Negara Islam Rasyidah yang berada di atas manhaj nubuwah.

Al Manarah Al Baidha’:
Kalian diisukan telah bersekutu dengan Jamal Ma’rouf ketika dahulu ia memerangi Jamaah Daulah, kalian juga membiarkan persenjataan dan iring-iringan pasukannya lewat begitu saja, sejauh mana kebenaran berita ini? Apa saja dasar prinsipal yang kalian pegang ketika kalian bersekutu dengan jamaah lain, faksi-faksi FSA dan kelompok lainnya?

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Subhanallah.. ini adalah fitnah besar yang dilontarkan kepada kami oleh rival kami. Di antara komitmen dasar kami yang juga menjadi landasan pendirian Jabhah Nushrah adalah; kami tidak akan memilih kelompok yang statusnya masih mencurigakan untuk berperang bersama kita. Yang saya maksud dengan memilih di sini adalah kami akan bersikap selektif dalam mencari kelompok lain untuk di ajak melakukan operasi yang sifatnya ofensif (menyerbu). Namun lain halnya dengan operasi yang bersifat defensif (bertahan), terkadang ia terjadi di saat-saat yang tak terduga, sehingga kami akan berperang tanpa sempat memilih kawan, contohnya adalah ketika rezim tiba-tiba menyerang sebuah wilayah yang kami kuasai, maka semua orang akan pergi memerangi rezim dan perangnya mereka ini dianggap hanya terjadi bersamaan dengan perang kami.

Adapun peristiwa Athmah, maka banyak isu yang tersebar mengenai kami, padahal yang sebenarnya adalah bahwa wilayah Athmah ini terbuka bagi semua faksi, dan di sana banyak para pejuang dari berbagai faksi, sedangkan Jamaah Daulah memiliki kepentingan di sana, kemudian datanglah iring-iringan kendaraan yang membawa amunisi dan senjata dan mereka tahu kemana amunisi dan senjata tersebut akan dibawa, dan kepada siapa ia akan diserahkan.

Kemudian saat terjadi kekacauan perang antara jamaah daulah dan faksi faksi jihad lainnya, jabhah nushrah mengambil sikap mendamaikan dan netral saat itu dan melindungi keluarga keluarga muhajirin yg terkepung dan mendapat tekanan di tempat manapun. Jabhah nushrah mengumpulkan keluarga para muhajirin di Athmah, dan para ikhwan di tempat tersebut berusaha keras untuk tidak turut campur masuk pada pertikaian baru dengan faksi faksi lainnya, dimana perang berkecamuk dengan dahsyatnya.

Demikian pula para ikhwan berusaha keras untuk menahan diri di tempat tempat yang posisi kami lemah di tempat yang berada di bawah kontrol faksi faksi lain , karena bentrok yang terjadi di tempat tersebut akan melemahkan kami pada wilayah yang lain, dan karena para ikhwan yang berada di tempat lain akan melakukan balas dendam.

Adapun saya sendiri tidak mengetahui perkara ini kecuali setelah pecah dan terjadi, tidak seperti yang di katakan bahwa saya yang memerintahkan dalam masalah ini. Ketika saya mendengar masalah ini aku katakan tidak boleh ada letusan senjata apapun pada saat ini pada siapapun selama bisa dicegah dan saya tambahkan juga perkara lain, bahwa wilayah Athmah dipenuhi oleh banyak pengungsi di setiap penjurunya, jalan-jalan, protokol, sudut sudut dan perbatasannya, sehingga pertempuran apapun akan menimbulkan bahaya besar dan dasyat pada masyarakat yang ada disana.

Al Manarah Al Baidha’:
Baiklah, ini dari segi militer, namun bagaimana dengan bidang manajemen di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan, sebelumnya Jabhah Nushrah melibatkan diri ke dalam berbagai Hai’ah Syar’iyyah di hampir seluruh wilayah-wilayah yang telah dibebaskan, namun akhir-akhir ini Jabhah Nushrah menarik diri dari keanggotaan Hai’ah Syar’iyyah kemudian mendirikan Lembaga Peradilan sendiri di hampir seluruh wilayah yang Jabhah Nushrah kuasai. Sehingga di kalangan pendukung dan penentang Jabhah Nushrah terjadi perbincangan seputar langkah yang diambil oleh Jabhah Nushrah ini, bahkan ada sebagian orang yang mengatakan bahwa kalian menarik diri dari front-front pertempuran dan titik-titik perbatasan kemudian mundur untuk menuai hasil jihad pihak selain kalian, jadi mengapa kalian menarik diri dari keanggotaan berbagai Hai’ah Syar’iyyah?

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Pada awalnya Hai’ah Syar’iyyah adalah ide lama yang muncul setelah kami berhasil membebaskan beberapa wilayah dan mulai terlihat adanya beberapa kekosongan yang harus diisi. Ada berbagai perseteruan yang terjadi di tengah masyarakat, sedangkan pertempuran antara kami melawan rezim ternyata berubah menjadi perang yang berkepanjangan, sehingga perseteruan di tengah masyarakat inilah yang akan mengisi kekosongan.

Maka kami pun berunding dengan para ikhwah yang ada di sekitar kami untuk mecari solusi dari permasalahan ini, dan mulailah bermunculan sejumlah usulan, salah satu usulan tersebut adalah agar kita mendirikan Hai’ah Syar’iyyah melalui kerjasama dengan beberapa faksi yang ada, serta memutuskan hukum dengan syariat Allah di antara kita dan di tengah masyarakat, sambil mempertimbangkan bahwa kami menjalankannya di Darul Harbi (kawasan perang), serta memperhitungkan perbedaan yang ada dalam pelaksanaan hukum di Darul Harbi. Saat itu pembebasan baru saja dimulai, rezim mulai mundur ke wilayah-wilayah mereka dan kami mulai menguasai wilayah-wilayah yang lain.

Sejak awal kami telah memberikan perhatian yang besar dalam urusan penegakan hukum syariat dan mendirikan kekuasaan yang berdasarkan hukum Allah di muka bumi. Komitmen yang telah terbangun sejak awal tanpa adanya keraguan inilah yang menjadi dasar pendirian Hai’ah Syar’iyyah, ia didirikan melalui kerjasama dengan beberapa faksi yang ada di sekitar kami, namun ternyata banyak terjadi efek-efek yang tidak diinginkan dan banyak terjadi perbedaan dalam hal visi Hai’ah Syar’iyyah mengenai bagaimana agar kita dapat sampai pada fase pemerintahan Islam dan bagaimana kita bisa merumuskan konsep hukum.

Jadi faksi-faksi yang bergabung bersama kami tersebut berbeda pendapat dalam hal visi Hai’ah Syar’iyyah, masing-masing mempunyai sudut pandangnya sendiri-sendiri mengenai Hai’ah Syar’iyyah. Di antara mereka ada yang memandang bahwa Hai’ah Syar’iyyah adalah sarana untuk menegakkan syariat, maka ini adalah pandangan yang benar. Di antara mereka ada yang memandang bahwa Hai’ah Syar’iyyah adalah kancah politik yang bisa diraih oleh sebagian orang sehingga siapapun dapat masuk dan keluar sesuka hatinya. Dan di antara mereka ada yang memandang bahwa di dalamnya terdapat kelemahan tertentu sehingga ia harus diajak bekerjasama dengan Koalisi Nasional Suriah dan pihak selain koalisi, sehingga walaupun kami bersatu dan berada di dalam satu wilayah, sejatinya kami berselisih, dan ini menjadikan internal Hai’ah Syar’iyyah tidak sehat. Kami mendapati ada beberapa faksi yang bergabung dengan kami tidak memiliki kesungguhan dalam menjalankan proyek ini, bahkan mereka mengutarakan secara terang-terangan bahwa misi mereka bukanlah menerapkan syariat Allah.

Belum lagi ketika Kota Aleppo mendapatkan tekanan militer dan pengeboman dengan menggunakan bom barel, sehingga menyebabkan sejumlah besar penduduk Kota Aleppo mengungsi ke pedesaan, dan sebagaimana yang diketahui, Hai’ah Syar’iyyah dan majelis hukumnya wajib mendatangi tempat-tempat yang banyak orangnya, bukan tempat yang tidak ada orang. Singkatnya setelah melakukan pertimbangan dan penilaian, Hai’ah Syar’iyyah ditetapkan telah kehilangan esensi yang menjadi sebab awal ia dibentuk, ia tidak lagi mampu menyempurnakan misi, kemudian kami pun membentuk sebuah lembaga yang menggantikan peran Hai’ah Syar’iyyah dan menetapkan beberapa aturan yang lebih tegas dari aturan yang sebelumnya ditetapkan di Hai’ah Syar’iyyah, agar ia dapat mendukung kami agar terus melanjutkan perjalanan, dan tidak berhenti di tengah jalan.

Sehingga kini siapapun yang ingin bekerjasama dengan kami di Lembaga Peradilan, ia harus bersepakat dengan kami dalam hal tujuan dan sarana yang digunakan untuk meraih tujuan tersebut, tentu saja ini akan mengarahkan misi Lembaga Peradilan dan usaha untuk menegakkan syariat Allah di bumi Syam ke arah kesuksesan.

Kami tidak bisa membiarkan kekosongan ini diambil oleh sembarang orang yang datang dan mengisinya, karena di sana terdapat berbagai kelompok dari kalangan asosiasi pengacara dan lainnya yang berupaya untuk menegakkan hukum pidana positif. Inilah yang menyebabkan kami tidak bersedia untuk meninggalkan tempat ini dalam keadaan kosong, kami harus mengisi kekosongan tersebut dan mencegah mereka untuk menegakkan hukum di tengah masyarakat menggunakan hukum pidana positif. Ide pembentukan Lembaga Peradilan ini kami tawarkan kepada beberapa faksi, di antara mereka ada yang bergabung bersama kami dan di antara mereka ada yang rela bergabung bersama kami namun tidak melakukan pekerjaan yang besar atau tidak terkena komitmen yang telah dibebankan di dalam Lembaga Peradilan.

Sebenarnya Jabhah Nushrah lah yang mengambil bagian terbesar dalam menjalankan tugas Lembaga Peradilan ini, dan ada beberapa faksi yang bergabung bersama kami, sebagian mendukung dan sebagian lagi bekerjasama namun dalam bentuk yang lemah, namun tidak terjadi silang pendapat di antara kami dengan faksi-faksi yang memutuskan untuk menetap di Hai’ah Syar’iyyah, karena kami tidak mendirikan Lembaga Peradilan yang di dalam wilayah operasional Hai’ah Syar’iyyah. Lembaga Peradilan hanya didirikan di wilayah yang kami berpengaruh luas di dalamnya atau di wilayah yang kami hampir kuasai sepenuhnya, agar tidak terjadi tabrakan gesekan antara kami dengan Hai’ah Syar’iyyah.

Al Manarah Al Baidha’:
Baik, peran apa yang dilaksanakan oleh Lembaga Peradilan pada saat ini?

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Tentu saja Lembaga Peradilan menjalankan proses hukum di tengah masyarakat dan memutuskan hukum dalam berbagai perseteruan, semua berdasarkan syariat Allah Azza wa Jalla. Dan insya Allah pada hari-hari mendatang kami akan mengundang Al Manarah Al Baidha’ meninjau Lembaga Peradilan secara langsung kemudian melaporkan kepada masyarakat mengenai tugas pentingnya dan banyaknya penerimaan masyarakat terhadap Lembaga Peradilan. Alhamdulillah, masyarakat meminta keputusan hukum kepada Lembaga Peradilan dan ia memutuskan hukum sesuai dengan yang seharusnya.

Dan seperti yang kami janjikan kepada semua orang, sesungguhnya orang yang pertama kali menerima hukum ini adalah para anggota Jabhah Nushrah, dan apabila masyarakat memiliki hak yang ada pada kami, kami akan menyerahkannya kepada mereka melalui Lembaga Peradilan, atas izin Allah Ta’ala.

Al Manarah Al Baidha’:
Ada yang mengatakan bahwa kalian menarik diri dari beberapa front pertempuran dan titik-titik perbatasan agar kalian bisa memmbentuk lembaga ini dan agar kalian bisa mengokohkan kekuasaan kalian di wilayah-wilayah basis kalian.

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Anggapan seperti ini tidak pernah terjadi. Ketika kami sedang terdesak di front pertempuran, karena kekurangan pasukan atau sebab-sebab lainnya, maka kami akan mendahulukan mempertahankan diri dari serangan musuh dari pada berada di sana. Bahkan prajurit yang sedang menjalankan tugas sebagai polisi atau petugas hisbah di Lembaga Peradilan, apabila ada operasi besar-besaran dan kami membutuhkan tenaganya atau kami kekurangan pasukan, kami akan menempatkan para ikhwah prajurit tersebut untuk berperang di front-front pertempuran. Bahkan ada sebagian qadhi yang ikut berparang di front, jadi pembahasannya bukanlah mengenai front dan titik perbatasan.

Al Manarah Al Baidha’:
Ada lagi tuduhan yang dialamatkan kepada kalian, yaitu kalian dituduh menganak tirikan para muhajirin dan tidak menggunakan kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh mereka yang berhijrah kepada kalian dari berbagai negara, jadi apa peran para muhajirin di Jabhah Nushrah?

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Subhanallah.. pembicaraan ini mulai mengarah kepada sikap menzhalimi dan berlaku tidak adil terhadap Jabhah Nushrah, khususnya setelah terjadi konflik antara kami dengan Jamaah Daulah. Padahal pada kenyataannya kami adalah pihak yang pertama kali mengizinkan para muhajirin masuk ke Suriah, menyediakan tempat bagi mereka, mempersenjatai mereka, bersikap hormat dalam melatih mereka, mengajak mereka untuk terlibat di medan tempur dan perbatasan, dan membuka lebar kesempatan bagi mereka untuk mengikuti peperangan. Kami meyakini bahwa di dalam jamaah jihad harus ada unsur muhajirnya, karena dia lah yang akan membersihkan sifat-sifat kebangsaan dan menjauhkan sifat fanatik kesukuan dalam berperang. Ini adalah prinsip penting dan prinsip ahlus sunnah yang wajib kita jaga.

Sebelum terjadi konflik antara kami dengan Jamaah Daulah, hampir 70 % dari pimpinan Jabhah Nushrah adalah para muhajirin. Kemudian setelah konflik, prosentasenya berkurang menjadi hanya 40 %. Adapun dari kalangan prajurit, jumlah mereka mencapai 30-35 % dari keseluruhan jumlah prajurit Jabhah Nushrah, dan ini adalah prosentase yang wajar pada saat kondisi seperti ini. Kami berusaha untuk terus menerima para muhajirin dan mengajak mereka untuk berangkat ke bumi Syam, atas izin Allah kami akan terus bertanggung jawab untuk memberikan keamanan kepada mereka dan membagikan apa yang kami miliki kepada mereka, Insya Allah Ta’ala.

Al Manarah Al Baidha’:
Sebagai penutup, kami mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Fadhilah Asy Syaikh Al Fatih karena telah bersedia memberikan waktunya untuk pertemuan ini, semoga Allah membalas perbuatan anda dengan kebaikan wahai Syaikh, sampai jumpa pada pertemuan mendatang, Assalamualaikum Warahmatullahi wa Barakatuhu.

Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani:
Ahlan wa sahlan, dan semoga Allah membalas perbuatanmu dengan kebaikan, Wa Alaikum Assalam Warahmatullahi wa Barakatuhu.

(banan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...
Comments
Loading...