Berita Dunia Islam Terdepan

Sewa hacker untuk retas situs “radikal”, CIIA: BNPT frustasi

Ilustrasi Hacker Palestina
3

JAKARTA (Arrahmah.com) – Situs-situs atau portal online yang dianggap “radikal” hendak diretas semua oleh Kepala BNPT Saud Usman dengan cara menyewa para hacker atau peretas.

Upaya BNPT ini dinilai Direktur The Community Of Islamic Ideology Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya sebagai sikap frustasi lembaga ini.

Menurutnya publik perlu tahu, biasanya untuk menutup situs/portal yang dianggap bermasalah mekanismenya melalui KemenKomInfo, bisa atas usulan dari berbagai pihak termasuk BNPT.

“Kemudian dikaji lebih dalam kontennya termasuk regulasi yang memayunginya. Bukan main sewa hacker untuk meretas atas nama perang melawan terorisme,” jelas Harits kepada arrahmah.com pagi ini,

Pemerhati Kontra Terorisme ini menilai rencana BNPT sama saja melegalkan kejahatan terorganisir untuk menghadapi subyek yang dituduh melakukan kejahatan. Bahkan, kata Harits, masih debatable alias abu-abu benar tidaknya menyampaikan gagasan atau ide di ruang publik dianggap sebagai bentuk tindakan kriminal.

“Kalau negara hukum harusnya patuh pada criminal justice system, bukan berubah jadi hukum rimba,” katanya.

Sehingga dia berpandangan, “BNPT lama-lama terlihat frustasi dan tidak profesional apalagi proporsional.”

Tersiar kabar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), Komjen Pol Saud Usman Nasution, menyatakan akan menggandeng hacker untuk memerangi gerakan radikal. Dunia maya menjadi tempat efektif bagi kelompok radikal untuk menjaring pengikut.

Jenderal bintang tiga yang baru beberapa bulan menjabat Kepala BNPT ini memastikan seluruh situs milik kelompok radikal harus diretas. Tak boleh ada generasi muda yang membacanya. Apalagi sampai terpengaruh terhadap tulisan dan propaganda “teroris”.

“Makanya, BNPT merasa perlu menggandeng para peretas atau hacker handal. Ini langkah melawan teroris dunia maya,” ujarnya dalam kuliah umum di Universitas Surya, Jakarta, Selasa (4/11), dilansir dari jpnn.com.

Dia menjelaskan, pola gerakan radikal selalu berkaitan pada teknologi informasi. Hampir seluruh aksinya dilakukan menggunakan jaringan teknologi jarak jauh, misalkan timer bom, handphone sampai pada bom bunuh diri.

Saud memastikan sikap BNPT menggandeng para hacker andal tidak bakal terganjal peraturan. Ini karena pemberantasan terorisme memang harus dilakukan melalui berbagai cara, bersifat hulu dan hilir. Targetnya menekan gerakan yang disebut “teroris”. (azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...