Berita Dunia Islam Terdepan

Menepis syubhat Sulthan bin Isa Al-‘Athawi yang menebar fitnah kepada Jabhah Nushrah di wilayah Timur Suriah

4

(Arrahmah.com) – Syaikh Sulthan bin Isa Al-‘Athawi, ia adalah salah seorang mantan petinggi Jabhah Nushrah di wilayah Timur Suriah. Selama ini ia cukup dikenal di kalangan para jihadis karena begitu aktif berkomunikasi di dunia maya melalui media Twitter. Baru-baru ini ia membuat sebuah tulisan yang diberi judul لله ثم للجهاد” (Untuk Allah kemudian Untuk Jihad), yang mana tulisan tersebut cukup mengejutkan banyak pihak karena isinya menerangkan hal-hal yang cukup buruk terhadap Jabhah Nushrah di wilayah Timur Suriah.

Menyikapi tulisan Syaikh Sulthan bin Isa Al-‘Athawi ini, maka 2 orang penting di barisan Jabhah Nushrah yang dulu pernah bersama-sama dengan Syaikh Sultan bin Isa Al-‘Athawi di wilayah Timur Suriah tidak tinggal diam. Mereka menyingkap berbagai macam syubhat, fitnah, dan kedustaan yang ada didalam tulisan Syaikh Al-‘Athawi tersebut. Dan mereka adalah Syaikh Abu Mariya Al-Qahthani (tokoh Jabhah Nushrah yang sangat fenomenal), dan Abu Umar Al-‘Akidi (seorang penanggung jawab urusan komunikasi Jabhah Nushrah).

Maka, dikarenakan telah tersebarnya secara meluas tulisan Syaikh Al-‘Athawi tersebut di tengah-tengah umat, Tim Muqawamah Media mempersembahkan terjemahan penjelasan dari 2 orang penting di tubuh Jabhah Nushrah tersebut untuk memberikan pembanding terhadap tulisan Syaikh Sulthan bin Isa Al-‘Athawi. Selamat membaca…

 

PENJELASAN SYAIKH ABU MARIYA AL-QAHTHANI MENGENAI FITNAH SULTHAN BIN ISA AL-‘ATHAWI
بسم الله الرحمن الرحيم
Mengenai apa yang dijelaskan oleh Al-‘Athawi bahwa ia menentang jihad di wilayah timur Suriah dan menuduh para ikhwah berperang karena faktor kesukuan, maka perkataan itu telah ia ucapkan sebelum sekarang perkataannya ini menjadi pembicaraan. Para ikhwah pernah mendudukkannya dalam sebuah pertemuan dan menuduhnya sebagai pengkhianat, karena ia telah mempromosikan sebuah syubhat yang berbahaya kemudian ia menyebarkan fitnah dan menulis surat kepada salah seorang masyayikh meminta kepada beliau untuk mengumumkan pernyataan agar menghentikan perang terhadap Daulah.

Para ikhwah menanyakan kepadanya mengenai semua perbuatannya mulai dari menyebarkan berita palsu hingga usaha untuk memecah belah barisan, meskipun ia telah melakukan semua itu, namun para ikhwah hanya mencukupkan diri dengan mengusirnya saja, karena saat itu peperangan tengah berlangsung. Hal itu disaksikan oleh saudara Abu Hasan Al Kuwaiti, saudara Abu Al Abbas Al Omani, dan para pimpinan lainnya. Mayoritas yang dikatakan oleh Al-‘Athawi adalah kebohongan dan kedustaan, tujuannya adalah menutupi fakta kegagalannya untuk melarikan diri dari medan perang.

Adapun mengenai apa yang ia katakan tentang diri saya, maka saya tidak akan membela diri, karena ini adalah balas jasa atas penghormatanmu kepada saya, janganlah engkau melanggar batas takdirmu, karena temanmu yaitu Abu Dzar juga sebelumnya pernah menuduh seperti itu. Ia pernah menghina seseorang yang lebih mulia dari saya, ia telah menuduh Utsman dan Ali sebagai pengikut Abdullah bin Saba’ dan pengikut khawarij, karena mereka berdua tidak mengusir pasukan Abdullah bin Saba’ dan pasukan Khawarij dari barisan mereka. Kami akan terus bersabar atas perlakukan kalian itu, karena ini adalah sunnatullah yang berlaku terhadap ciptaan-Nya.

Bukan sebuah aib bagi kami apabila kami memerangi kelompok neo khawarij, tak peduli meskipun mereka yang ada di Aleppo itu didukung oleh suku-suku, dan juga di Ghouthah, karena Allah Ta’ala lah yang berhak memeriksa apakah seseorang itu munafik atau tidak. Allah juga lah yang berhak membersihkan barisan para mujahidin, dan berkat karunia Allah Jabhah Nushrah sampai sekarang masih terbebas para ghulat dan orang-orang yang terjerumus ke dalam syubhat dan syahwat.

Sebagaimana yang diketahui, saya tidak ada hasrat untuk memberikan bantahan atas tuduhan Al-‘Athawi ini, namun ada beberapa ikhwah yang meminta agar saya membantah dan memberikan penjelasan, maka menurut saya dengan menjelaskan mengenai pengusiran Al-‘Athawi saja, itu sudah cukup untuk membantahnya. Namun waktu ketika ia menyebarkan kedustaan dan fitnahnya tersebut ternyata berbarengan dengan pindahnya para anggota (Jabhah Nushrah) yang bersikap ghuluw ke dalam barisan ISIS, tujuan mereka tidak lain adalah ingin mengkacaukan barisan Jabhah Nushrah. Ketika itu hanya tersisa 100 orang personel di dalam barisan Jabhah Nushrah, namun itu lebih baik dari pada di dalam barisannya ada orang-orang yang ghuluw dan para kacung thaghut.

Wilayah timur Suriah dan jihad yang dilaksanakan di dalamnya adalah hal hal yang baik, jadi orang yang melarikan diri darinya janganlah pula menutupi aibnya itu dengan cara mencaci-maki dan menyebarkan fitnah, sedangkan sejarah itu sendiri penuh dengan kejadian-kejadian seputar orang-orang yang melarikan diri dari medan perang dan orang-orang yang membanggakan dirinya.

Itu semua hanyalah angin ribut yang dihembuskan oleh orang yang rendah diri, dan jam tangan bagus yang dipamerkan oleh para bocah pendukung para ghulat dan thaghut di Twitter, sedangkan kafilah akan terus berlalu.

Kami katakan kepada para bocah yang hina itu, sesungguhnya gerombolan Awwadiyah (pasukannya Ibrahim bin Awwad) dan para pendukungnya telah menyebarkan fitnah siang dan malam semenjak dua tahun yang lalu, namun kami tidak memperdulikannya dan kafilah terus berlalu.

Saya katakan kepada saudara-saudara kita yang ada di timur Suriah, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian, kalian tidak akan tersakiti hanya dengan cacian dan tuduhan mereka, sesungguhnya Allah itu adalah wali yang memberikan taufiq.

*****

 

BANTAHAN ABU UMAR AL-‘AKIDI KEPADA SULTHAN BIN ISA AL-‘ATHAWI
Abu Umar Al-‘Akidi adalah Seorang Awak Media Jabhah Nushrah, Banyak Bertugas di Wilayah Timur Suriah
بسم الله الرحمن الرحيم
Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَفۡتَرِي ٱلۡكَذِبَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ١٠٥

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta” [Qs. An Nahl: 105].

Saya mencantumkan ayat yang sama seperti yang dicantumkan oleh si penebar fitnah ini (Sulthan bin Isa Al-‘Athawi), saya akan mengungkap beberapa kedustaannya yang ia tulis di dalam makalah “Lillahi Tsumma Lil Jihad” (Demi Allah Kemudian Demi Jihad) tersebut, baik itu kedustaan terhadap umat maupun terhadap mujahidin. Bagaimana bisa ia diperuntukkan kepada Allah sedangkan apa yang ia tulis berbeda seratus delapan puluh derajat dengan kenyataan, dan semua orang tahu itu.

Penyebab dari beberapa kesalahan yang terjadi saat itu adalah disebabkan oleh pengkhianatan yang ia lakukan dengan dalih demi mementingkan kemaslahatan dan disebabkan tindakannya yang melarikan diri layaknya pengecut, dan berfatwa bahwa khwarij akan membuka tangan mereka bagi mereka yang bertaubat.

Wahai Sulthan Al-‘Athawi, jika engkau menulis tulisanmu ini pada saat engkau masih berada di Syam, maka hanya kepada Allah lah kami akan mengadukan kelakuanmu yang berbuat semena-mena di tengah situasi konflik ini. Dan apabila engkau berniat kembali ke negara asalmu, maka Allah akan menyingkap borokmu.

Pertama: Agar semua orang tahu, sebelumnya saya tidak mau menuliskan bantahan terhadapnya, walaupun sebenarnya saya tahu semua rahasia pengkhianatannya, akan tetapi pada akhirnya saya memutuskan untuk menuliskan bantahan ini namun hanya membahas seputar hal-hal yang telah dipublikasikan oleh kepemimpinan (Jabhah Nushrah) di wilayah timur Suriah yang berkaitan dengan keputusan hukum terdahap Al-‘Athawi.

Kedua: Saya adalah orang yang bertanggung jawab dalam urusan komunikasi antar area yang telah dikuasai Jabhah Nushrah, jadi saya dapat membaca seluruh surat yang ada. Saya juga merupakan anggota Ruang Operasi Gabungan. Karena tugas saya adalah di bidang media informasi, maka saya tahu betul mengenai seluk-beluk Majelis Syura.

Ketiga: Hampir semua yang dituliskan oleh Al-‘Athawi adalah palsu, dibuat-buat dan memutar balikkan fakta. Sedangkan kesalahan manajemen, kesalahan militer dan kesalahan dalam urusan keorganisasian pasti akan mendera sebuah kancah jihad, atau sebuah jamaah yang berperan di dalamnya. Adapun ketika ia berbicara mengenai FSA, sungguh ia juga telah memutar balikan fakta. Karena setelah ia diserahi tugas dan ia melihat betapa berat tekanan dari tugas militer tersebut, ia berujar di hadapan banyak orang, “saya bangga telah menjadi bagian dari pasukan Abu Faishal.” (Abu Faishal adalah komandan Brigade Basyair Nashr, sebuah kesatuan yang loyal kepada Jabhah At Tanmiyyah wa Al Ashalah, FSA,–red.).

Ia mengatakan bahwa ia tidak mau berperang melawan ISIS, maka sungguh ia telah berdusta, karena ia adalah penanggung jawab syariat Jabhah Nushrah pertama yang pergi ke Kota Shadadi bersama Syaikh Abu Mush’ab Asy Syahil dengan misi meredam perselisihan, namun ketika kembali ia justru sangat yakin bahwa Daulah hanya menginginkan perang, ia mengatakan bahwa Daulah mengancam seluruh faksi-faksi yang ada, dan Daulah sangat ingin memerangi faksi-faksi tersebut, perkataannya ini disaksikan oleh saudara Abu Hasan Al Kuwaiti dan saudara Mujahid Jazrawi.

Ia pernah mengatakan bahwa komandan militer Brigade Basyair Nashr adalah orang yang paling pemberani dan cerdas dan ia adalah sosok yang paling layak memimpin sebuah pertempuran, ia selalu mengulang-ulang ucapan, “selamat datang komandanku..”, dan ia selalu memuji-muji komandan tersebut, jadi ada apa gerangan wahai pendusta!! Kemudian ia berkata tentang adanya upaya untuk menyingkirkan beberapa orang di kalangan militer, padahal orang-orang yang ia tuduh itu adalah orang-orang yang berhasil menangkapnya di Dar’a, dan sebab mereka mengundurkan diri bukanlah seperti yang ia katakan, dan mereka mengetahui hal itu.

Kemudian ia juga berkata bahwa ada usaha untuk menyingkirkan saudara Abu Ahmad Asy Syami, padahal semua orang tahu bahwa dialah yang menolak keputusan pelantikan Asy Syami sebagai komandan militer, dan ketika Asy Syami merasa ragu-ragu dengan klaim bahwa FSA melakukan perjanjian damai dengan PKK dan Jabhah Nushrah menyumbangkan sebuah butir di dalam perjanjian tersebut, sedangkan pertempuran terus berlanjut, maka ia dicopot dari jabatannya. Inilah sebabnya ia dicopot, bukan seperti yang dituturkan oleh Al-‘Athawi, dan semua orang tahu itu. Namun setelah ia dicopot dari jabatannya, Al-‘Athawi justru memberontak dan berkata, “bukankah sudah kubilang kepada kalian, bahwa tidak ada orang yang memenuhi syarat untuk menjadi komandan militer.”

Adapun mengenai kisah bagaimana ia bisa masuk sebagai anggota majelis syura Jabhah Nushrah wilayah timur Suriah, yang sebelumnya ia adalah penanggung jawab syariat di Kota Mayadin, kemudian naik pangkat menjadi Amir Kota Mayadin, kemudian menjadi Amir di Sektor Syamiyah (wilayah perkotaan dan pedesaan yang terletak di sebelah barat Sungai Eufrat yang membelah Provinsi Deir Ezzour – red.), maka ini adalah salah satu kesalahan organisasi dan administrasi, ia membohongi orang-orang dengan teori cacatnya dan perkataan manisnya sambil memanfaatkan titik lemah yang ada di setiap aspek jamaah, faktor inilah yang akhirnya menjadikan ia dipromosikan sebagai komandan. Ia pun mulai mengkritisi kalangan militer, ia berkata dengan tegas bahwa dari segi militer, pertempuran ini telah gagal, sehingga para petinggi di kalangan militer pun berkata kepadanya, “kalau begitu engkau kami serahi urusan pertempuran ini”. Ia pun meminta agar apa yang ia butuhkan dipenuhi, maka dikabulkan, lalu ia terjun ke medan perang namun ternyata mayoritas ikhwah yang ada di Mayadin banyak yang terbunuh, seperti Syaikh Qasim As Sa’ran dan Syaikh Abu Dujanah dari Syuwaith, dari kalangan petinggi juga banyak yang terbunuh, ada orang-orang dari Aljazair dan dari tempat lainnya, ada penanggung jawab syariat Abu Ad Dahdah, di Syahil yang gugur ada Doktor Abu Al Barra’ Asy Syami, pertempuran ini adalah pertempuran pertama melawan khawarij, pertempuran tersebut terjadi dua bulan sebelum ia melarikan diri.

Meskipun di dalam pertempuran tersebut banyak orang-orang pilihan yang gugur karena kesalahannya, ia tetap saja berteriak lantang, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia maju bertempur”. Mendengar seruan tersebut, maka saudara Abu Zainab Al Jurdzi langsung maju disertai oleh sekelompok pasukan, Syaikh Abu Mushab pun hadir di dalam pertempuran tersebut. Namun setelah pasukan ini dipukul mundur, ia mulai berbalik mundur dari kancah militer secara perlahan-lahan, ia beralasan bahwa Sektor Syamiyah sedang dalam ancaman bahaya, kemudian ia mulai memunculkan ide agar pasukan yang ada di Sektor Syamiyah tidak berperang di Sektor Jazirah (wilayah yang terletak di sebelah timur Sungai Eufrat, Provinisi Deir Ezzour, Sektor Jazirah terbentang hingga sepanjang perbatasan Suriah-Iraq – red.) padahal pasukan khawarij tengah bergerak maju menuju Sektor Jazirah, bahkan pertempuran paling dahsyat terjadi di Sektor Jazirah.

Karena dahsyatnya pertempuran di Sektor Jazirah, maka Syaikh Abu Mush’ab Asy Syahil meminta kepadanya agar ia membuka front pertempuran di Desa Khisyam, maka sebanyak 40 mujahid yang ada perbatasan Sektor Syamiyah dan Jazirah dikirimkan ke di Desa Khisyam, mereka diseberangkan dan ditempatkan di tepi sungai, kemudian komandan tempur di Khisyam yaitu saudara Hazim Al Askari menghubungi Syaikh Abu Mush’ab Asy Syahil, ia mengabarkan kepada beliau bahwa kondisi di Khisyam dapat dikendalikan namun ia membutuhkan tenaga bantuan, maka Syaikh Abu Mush’ab Asy Syahil mengirimkan bantuan pasukan bantuan ke Khisyam. Namun ternyata Syaikh Abu Mush’ab mendapati bahwa Al-‘Athawi tidak bergabung ke dalam pertempuran tersebut, maka beliau pun mendesaknya agar melibatkan diri ke dalam pertempuran bersama pasukannya atau paling tidak mendatangi posisi mereka, karena Pertempuran Khisyam adalah pertempuran yang sangat strategis, mengingat posisinya yang dekat dengan markas komando khawarij.

Kemudian datang perintah agar Jabhah Nushrah mundur dari Khisyam pada malam harinya, namun berdasarkan kesaksian dari Abu Al Abbas Al Ammani, Al-‘Athawi berniat mundur pada sore harinya. Perintah mundur dari Khiyam ini bagaikan petir di siang bolong, karena sudah ada rencana matang dan sempurna untuk melakukan serangan di bawah komando Abu Al Yaman dan serangan lainnya terhadap fasilitas 7 Kilo di wilayah Hatlah dan Marrat yang akan dilancarkan secara serempak.

Setelah Syaikh Abu Hazim melancarkan serangan terhadap wilayah Hatlah dan berhasil menewaskan banyak pasukan lawan dan mengusir mereka, dan setelah Abu Al Yaman melancarkan serangan terhadap wilayah Al Harijiyah dan Al Fadin serta berhasil menyapu bersih 7 desa sekaligus, kemudian komandan militer sekaligus penanggung jawab syariat Abu Faishal Al Hijr gugur syahid. Dan setelah para mujahidin mundur dari Khisyam, strategi militer yang telah direncanakan gagal total, maka sedikit demi sedikit progres pertempuran di kawasan ini mengalami kemunduran.

Setelah itu Al-‘Athawi diminta untuk membuka front pertempuran di Kabajip dengan mengikut sertakan pasukan dari Albu Kamal, dari Sektor barat dan seluruh pasukan yang tersisa, pasukan ini menunggu selama 15 hari untuk melancarkan pertempuran, dan Al-‘Athawi hanya diam saja. Maka Majelis Syura pun berkumpul dan memintanya untuk menjelaskan sebab mengapa pertempuran ini ditunda, ia menjawab bahwa ia belum selesai melakukan pemantauan, maka Abu Muhammad Asy Syahil pun berkata, “petugas pemantaumu itu pengkhianat, ia adalah seorang anggota ISIS”, maka Al-‘Athawi pun mengangkat senapannya dan berkata, “perkataanmu itu rendahan”, akhirnya terjadilah perselisihan yang kemudian sudah dibereskan oleh saudara Abu Hasan Al Kuwaiti. Dan perkara ini sudah diluruskan.

Setelah itu Al-‘Athawi pun dicopot dari posisinya, ia mulai merasa ingin membalas dendam, maka ia mulai berkoar-koar bahwa peperangan yang terjadi adalah peperangan antar suku dan mengatakan hal-hal positif yang dapat diraih apabila kita tidak memerangi Daulah, ia mengatakan hal ini kepada para pemuda di desa-desa. Demi Allah dengan sebab seorang pengkhianat ini, pasukan khawarij bergerak maju ke Muhasan sehingga para pemuda di Desa Thub memberontak dan ingin menyerang Muhasan, atau minimal membuat garis pertahanan. Akhirnya mereka dipersenjatai dan jumlah mereka hanya puluhan orang, maka Al-‘Athawi pun mendatangi mereka dan menenangkan mereka dengan menawarkan perdamaian, ia mengatakan kepada mereka bahwa kalian tidak memiliki kekuatan, maka para pemuda di Tub itupun tidak jadi menyerang, dan sampai sekarang para pemuda tersebut masih ingat bahwa si pengkhianat ini telah melakukan perjanjian damai dengan khawarij dan ia melarang desa tersebut memerangi mereka.

Kemudian ia juga menyebutkan mengenai komandan Jabhah Nushrah di Muhasan yang gugur kemudian membandingkannya dengan komandan Asy Syahil. Demi Allah seharusnya ia bangga seumur hidup dengan pertempuran tersebut, karena di dalam pertempuran tersebut para mujahidin berhasil memenggal kepala dedengkot majelis militer FSA yang semena-mena dan suka berpesta pora. Namun ia memendam sentimen pribadi dan kedengkian, sehingga ia tidak bisa membedakan lagi mana dedengkot yang suka berpesta pora dan mana orang yang berbai’at setelah ia melarikan diri dari Jabhah Nushrah. Namun setelah ia dan mereka semua yang berbai’at kepada Daulah keluar dari Jabhah Nushrah, kini ia ingin kembali lagi untuk memerangi Daulah karena Daulah sudah sangat berkuasa sekarang.

Sedangkan permasalahan Syaithath, maka si pengkhianat ini melihat bahwa semua orang telah berkhianat. Demi Allah kami tidak membiarkan mereka, akan tetapi kami menawarkan mereka opsi sebelum seluruh petinggi mundur dari sana, begitu pula pernah ada pembicaraan secara transparan mengenai para pemimpin di Syaithath ikut keluar bersama kami dan Kabilah yang akan memegang kendali wilayah dengan beberapa syarat. Wahai orang yang berbuat semena-mena di tengah konflik, jadi siapa yang menyogok para suku tersebut?!

Ia mengatakan bahwa Hai’ah Syar’iyyah dibentuk oleh suku di Asy Syahil, semua orang dan dirinya juga tahu bahwa ia telah berdusta, karena Hai’ah Syar’iyyah dibentuk oleh seluruh faksi dan seluruh desa. Mari kita mengkaji kembali perang di sekitar tambang gas ConocoPhilips dan tambang gas Amr, kemudian lebih baik kita bertanya langsung kepada faksi-faksi yang bergabung dengan Hai’ah yang mereka semua tersebar di sepanjang jalur Sungai Eufrat, karena saya tidak mau panjang lebar membahas persoalan ini.

Kemudian permasalahan minyak, kami tidak memungkiri bahwa pihak sukulah yang menguasai minyak, dan tidaklah Hai’ah dibentuk kecuali setelah terjadinya kerusakan demi memperebutkannya. Sebelumnya minyak tersebut dimanfaatkan oleh para pencuri, para tentara bayaran dan mayoritas suku yang ada.

Ketika Hai’ah mulai mengambil alih kekuasaan di Mayadin sebagaimana yang dituduhkan, maka Allah tahu segalanya. Ketika terjadi konflik antar suku yang menyebabkan beberapa orang terbunuh, maka Hai’ah berusaha untuk melakukan campur tangan agar permasalahan dapat diselesaikan, kemudian sebagai solusinya Hai’ah mendapat wewenang untuk mengelola sumur-sumur minyak yang ada, dan suku yang pertama kali menyerahkan sumur minyak mereka adalah Asy Syahil, berikutnya suku-suku lainnya pun mulai menyerahkan sumur minyak mereka. Penduduk Mayadin berterima kasih kepada Hai’ah karena telah menghentikan pertikaian antara keluarga As Samakah dan keluarga Al Wahibi dan berhasil mendamaikan mereka, padahal permasalahan ini telah menggantung selama kurang lebih 100 tahun.

Kami katakan bahwa orang-orang rendahan yang ia gambarkan itu adalah orang-orang yang memimpin pertempuran. Komandan militer dalam memerangi khawarij adalah Abu Muhammad Asy Syahil, ia terkena tembakan dan sampai sekarang efeknya belum hilang. Sebelumnya ada Asy Syahid Baladin (Abu Muayyad Asy Syahil), seorang komandan militer di pesisir Deir Ezzour. Ada Asy Syahid Asy Syahm Abu Al Fadhl Thiyanah, ada Al Asad Abu Jandal, ada penanggung jawab syariat di pesisir Deir Ezzour, yaitu Abu Al Hasan Al Hijr, ada komandan militer Abu Aisyah, ada komandan militer Asy Syahid Abu Mikhlaf Asy Syahil, Abu Hamzah Ath Thaybah, ada komandan militer Abu Syam, ada “Sang Pemusnah Khawarij” Abu Radad, dan puluhan orang lainnya yang merupakan kader-kader Jabhah Nushrah di Deir Ezzour semoga Allah menerima mereka semua.

Adapun Syaikh Abu Mush’ab Asy Syahil, maka beliau adalah orang yang terlibat dalam hampir setiap pertempuran, namun ada saja orang yang marah di dunia maya karena kebenciannya. Ada juga orang mengaku bahwa dirinya tidak bersalah kemudian menuliskan syair untuk memuji-muji dirinya sendiri dan menggambarkan orang lain dengan gambaran yang hina. Bersikaplah yang baik wahai Athawi, karena pahlawan-pahlawan di atas adalah singa-singa yang menyerang pos musuh di malam hari dan mengatur demonstrasi di siang hari.

Saya sendiri tidak akan menuliskan ini jikalau ia tidak bersikap semena-mena seperti ini, Allah lah yang tahu bahwa tiga bulan yang lalu saya juga sudah ingin menuliskan hal ini namun ada orang yang mencegah.

Hanya Allah yang tahu siapakah yang pendusta dan tukang fitnah…

(muqawamah/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...