Tembak mati Muslim sedang sholat, Wakil Amir Mujahidin: Tindakan Densus setan biadab

Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman (tengah) saat diwawancara awak media pada aksi pembubaran acara sesat Syiah di Balai Samudera Jakarta Utara (15/11/2013)
101

JAKARTA (Arrahmah.com) – Wakil Amir Majelis Mujahidin Ustadz Abu Muhammad Jibriel Abdurrahman menyatakan dengan tegas tindakan Densus 88 menembak mati orang yang sedang sholat adalah tindakan “Setan biadab”.

“Apapun alasannya, menembak atau memukul atau menangkap orang yang sedang melakukan ibadah baik dia dari golongan kaum Muslim atau golongan kafir yang melakukan serangkaian ritual agamanya tidak boleh sama sekali dilakukan, melainkan menunggu sampai dia selesai (beribadah-red),” terang Ustadz Abu Jibriel kepada arrahmah.com Senin (22/9/2014) pagi.

Lebih jauh dia menerangkan bahwa Syariat Islam mengharamkan perbuatan seperti itu, demikian juga undang-undang negara RI yang melindungi hak rakyat untuk melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.

“Jika Densusnya beragama Islam melakukan pembunuhan itu atau orang kafir maka akan dilaknat dan dikutuk Allah dunia akhirat dan akan dijerumuskan dalam neraka jahanam dan kekal di dalamnya, dan didunia harus dihukum karena melanggar undang-undang negara,” ulasnya.

Ustadz Abu Jibriel mengungkapkan sebuah firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang-orang yang menyekutukan Allah dan mengganggu Rasul-Nya maka Allah akan melaknat mereka di dunia dan diakhirat. Allah sediakan adzab yang menghinakan bagi mereka. Orang-orang yang memperolok-olok kaum mukmin laki-laki dan perempuan tanpa kesalahan yang mereka lakukan, maka orang itu telah melakukan kebohongan dan dosa besar.” ( Tarjamah Tafsiriyah, QS Al Ahzab (33): 57-58).

Sebagai warga negara yang pernah dizhalimi polisi dengan rumahnya dilempari “bom” pada tahun 2005, Ustadz Abu Jibriel menilai polisi berlebihan dan berdusta. “Nurdin belum dibuktikan kesalahannya baru dituduh kenapa langsung ditembak mati?” tanyanya

Sedangkan, tambah dia, alasan polisi lewat mulut Karopenmas Mabes Polri Boy Rafly Amar yang mengatakan jika Nurdin tidak ditembak duluan nanti dia yang duluan menembak, atau dia sudah menyiapkan bom untuk dilemparkan kepada petugas, tidak ada bukti ke arah itu.

“Benarkah begitu dan siapa saksinya yang bukan dari pihak polisi? Kenapa dilakukan disaat sholat? Inilah penghinaan Densus 88 dan polisi terhadap Islam dan umat Islam,” tegasnya

“Pernahkah Densus bertindak brutal begini kepada selain umat Islam, meskipun kafir-kafir itu jelas-jelas melakukan tindak kriminal?” tambahnya bertanya.

Ustadz Abu Jibriel berpesan kepada semua aparat yang yang terlibat dengan rekayasa menghina Islam dan sebagian umat Islam, yang selalu dinilai negatif dan dituduh teroris “Saya sampaikan waspadalah dengan firman Allah Ta’ala di atas (Al Ahzab 57-58-red). Jangan sampai kalian terus membohongi umat Islam, Allah selalu melihat tindakan dan perbuatan yang kalian lakukan,” pungkasnya.

Telah diberitakan, Densus 88 Polri menembak mati Nurdin saat dia sedang shalat Ashar di rumah orang tuanya di Desa O”o, Kecamatan Dompu, Sabtu (20/9/2014). Nurdin merupakan adik almarhum Ustadz Firdaus dari pondok pesantren Umar Bin Khothob. Terjangan timah panas Densus menembus kepala dan lehernya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.

Laporan kontributor Fayis Umar kepada redaksi Ahad (21/9/2014), istri Nurdin yang tidak bersedia disebut namanya menyesalkan tindakan biadab Densus 88 yang kembali menodai simbol-simbol Din Islam, yakni menembak suaminya yang sedang sholat Ashar.

“Kami sekeluarga sangat terpukul dan tidak terima dengan cara Densus, karena saat itu aku dan suamiku sedang sholat berjamaah di rumah mertuaku. Kami sholat berdua, dan beliau imamnya, namun beberapa saat kemudian Densus langsung masuk dengan menendang pintu rumah dan langsung menembak suamiku yang sedang sholat, kepala pecah dengan otak berserakan serta bagian leher tembus oleh peluru,” ungkap istri almarhum Nurdin.

“Saat itu juga, mayat suamiku langsung mereka masukan ke kantong mayat, dan langsung diangkut di atas mobil,” lanjutnya.

Dia menolak tuduhan dusta aparat tentang suaminya.

“Dan kami juga tidak menerima penemuan sebuah bom yang ditemukan oleh Densus, karena saya yakin, sejak kami datang dari Bima, kami tidak membawa yang namanya bom” katanya. (azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.