Berita Dunia Islam Terdepan

Rilis resmi kesyahidan Amir Asy-Syabaab, Syaikh Mukhtar Abu Zubair rahimahullah

91

Support Us

(Arrahmah.com) – Innalillahi wainna ilayhi raaji’uun. Dunia jihad berduka atas kesyahidan Syaikh Godane atau Abu Zubayr pada Selasa (2/9/2014) akibat serangan udara yang dilancarkan AS durjana si kuffar.

Pun kita ucapkan hamdallah atas kebahagiaan Syaikhuna Abu Zubayr yang telah Allah penuhi kerinduannya atas syahadah yang dinantinya.

Terima kasih pula Muslimin sedunia sampaikan atas purna karyanya sebagai pemimpin al-Qaeda Somalia semenjak tahun 2008, setelah pendahulunya Aden Hashi Ayro syahid dalam serangan udara AS di kota selatan Dhusamareeb.

Ummat Islam bersyukur atas pelayanannya kepada dunia. Tercatatlah dalam sejarah hampir 5 tahun pasukan jihad As-Shabab, di bawah kepemimpinannya, dapat melebarkan sayap jihadnya hingga keluar Somalia di bawah janji setia kepada al-Qaeda.

Allahumaghfirlahu, warhamhu, wa’afihi, wafu’anhu. Aammiin.

Beserta belasungkawa Tim Arrahmah.com, berikut disertakan rilis resmi yang dipublikasikan Al-Kataib Media Foundation, sayap media Harakah As-Shabab Al-Mujahid.

SUNGGUH PERDAGANGAN YANG MENGUNTUNGKAN WAHAI ABU ZUBAIR

ShababLogo

Statemen dari Kepemimpinan Harakah As-Shabab Al-Mujahidin

Ucapan selamat dan belasungkawa kepada Ummat Muslim mengenai syahidnya pemimpin dari Harakah As-Shabab Al-Mujahidin, Syaikh Mukhtar Abu Zubair, semoga Allah merahmatinya.

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah yang telah berfirman di dalam Al-Qur’an:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” [Qs. Ali-‘Imraan, 169-171]

Dan semoga Salam dan berkah Allah tercurahkan atas Rasulullah terakhir yang bersabda:

“Ruh-ruh mereka berada pada tembolok burung yang berwarna hijau yang memiliki sarang yang tergantung pada arsy, terbang di dalam surga kemanapun dia kehendaki, lalu dia kembali menuju lampu tersebut lalu Tuhan mereka melihat mereka dan berfirman, “Apakah yang kalian inginkan?” Mereka menjawab, “Apakah ada hal lain yang kami inginkan semantara kami telah dibebaskan terbang ke sana kemari di dalam surga ini kemanapun kami kehendaki.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berkata kepada mereka tiga kali, lalu pada saat mereka sudah mengetahui bahwa mereka tidak dibiarkan kecuali harus meminta sesuatu. Mereka berkata, “Wahai Rabb kami, kembalikanlah ruh-ruh kami pada tubuh-tubuh kami sehingga kami terbunuh kembali di jalan -Mu, lalu pada saat Rabb mereka mengetahui bahwa mereka tidak memiliki keperluan apapun maka merekapun ditinggalkan”. (HR. Muslim no. 1887)

Amma Ba’du:

Dengan hati yang penuh keridhaan dengan keputusan dan ketentuan Allah, percaya akan janji-Nya, kami mengirimkan belasungkawa yang tulus kepada Ummat Islam tercinta pada umumnya, dan kepada para Mujahidin pada khususnya, dan kepada amir mereka Amirul Mukminin, Mullah Muhammad Umar dan pemimpin dan Syaikh kami, Syaikh Ayman Azh-Zhawahiri, atas syahidnya putra mereka, ksatria yang mulia, alim, jenderal militer, pemimpin dan pendiri Harakat As-Shabaab Al-Mujahidin, Syaikh Mukhtar Abu Zubair, rahimahullah.

Syaikh dan dua dari rekannya tewas dalam pemboman udara oleh Tentara Salib Amerika pada 7 Dzul Qa’dah-1435 Hijriah, sehingga syahidnya mereka akan masuk dalam momen bersejarah kemuliaan bagi Ummat Islam, kali ini dengan darah Syaikh Abu Zubair.

Dan sementara kami menghaturkan belasungkawa kami kepada Ummat Islam dan menghibur diri atas penderitaan besar ini, kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai oleh Tuhan kami Ta’ala: Inna lillahi wa Inna Ilaihi Raaji’uun; dan kami bersyukur kepada Allah Ta’ala, yang telah menghibur kami dalam penderitaan kami jauh sebelum kejadian tersebut ketika Dia berfirman:

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

Setelah perjalanan panjang dihiasi dengan pengorbanan tanpa pamrih, kemurahan hati dan Jihad, Syaikh akhirnya naik ke jajaran para syuhada, sebagaimana kami harapkan atasnya. Perjalanan Jihad pertama beliau dimulai di tanah Afghanistan di mana beliau menerima pelatihan militer. Adapun untuk Somalia, Syaikh mengawasi pembentukan daerah Islam dan juga mendirikan dewan untuk pemimpin suku setempat. Selain itu, Syaikh juga memainkan peran utama dalam penyebaran Dakwah dan Tauhid dan akidah al-Walaa wal Baraa antara Mujahidin dan suku-suku lokal. Semoga Allah mencurahkan rahmat besar-Nya dan menempatkannya di Jannah-Nya yang luas.

Kata-kata ini hampir tidak cukup untuk memuliakan orang-orang seperti Syaikh Abu Zubair, beliau berhijrah dan berjihad untuk menegakkan kalimat Allah dan untuk menerapkan Syari’at Islam di negeri-negeri Muslim sehingga keadilan berlaku di seluruh dunia.

Sederhana dalam hidupnya dan murah hati, kehidupannya dihiasi dengan jubah keberanian. Jujur dalam bicara; setia pada prinsipnya, Syaikh adalah simbol pengasingan diri dari cinta dunia dan kerendahan hati, serta teladan dalam kesabaran dan takwa. Tegas dalam tindakan, tanpa kompromi dalam keyakinan, Allah telah memberikan kepadanya kebijaksanaan besar dalam mengelola dan mengatur urusan Ummat Islam sesuai dengan Kitab Allah.

Sang juara telah menempuh perjalanan yang sukses
Dan hari ini dia menuai dari buah kesyahidan,
Ia adalah sebuah batang perkasa di medan jihad, dimana sentimen kemuliaan dan keberanian orang gantungkan kepadanya.

Apa ganjaran Allah yang menanti Anda, wahai ksatria gagah! Ia menyerang musuh-musuhnya dan memukul seperti petir.

Seorang syaikh yang meniti jalan Nabi Muhammad shalallohu ‘alayhi wasallam. Seorang yang kami kenal dengan kesabaran dan tinggi moral.

Teguh dalam keputusan dan teliti dalam berjihad.
Cakap; tidak pernah dia, di masa perang, bertenang-tenang.

Ia meninggalkan kehidupan ini dengan segala kemewahan dan kenyamanan, dan memilih untuk dihiasi dengan kezuhudan. Kalian akan menemukan dia diberkati dalam masa damai.

[Pribadinya] lembut dari yang paling lembut.
Dan pada saat perang melawan musuh-musuhnya,
ia bagaikan seekor singa tanpa takut, tanpa ampun terhadap lawan-lawannya.

Kesyahidan Syaikh datang setelah beliau menetapkan untuk kaum Muslim Afrika Timur benteng-benteng iman yang berdasarkan petunjuk Al Qur’an dan membela dengan tajamnya pedang. Pada saat kesulitan besar, Syaikh, yang berada di pucuk pimpinan kapal Jihad, berani mengarahkan menempuh badai kekerasan, mendarat dengan aman di tepi Iman dan membantunya mengatasi rencana musuh. Meskipun banyak tantangan yang menakutkan, Syaikh tetap teguh pada prinsip-prinsip tanpa mencabut atau mengorbankan imannya pada saat banyak yang bersedia untuk membuat konsesi.

Membawa beban berat memimpin Jihad di Somalia tidak menyebabkan Syaikh melupakan kewajiban membantu saudara yang lemah dan tertindas di Palestina, Burma [Myanmar], Afrika Timur dan Republik Afrika Tengah, bahkan sering menindaklanjuti situasi mereka dan berusaha untuk mengakhiri penganiayaan dan penghinaan yang mereka hadapi di tangan Kuffar – Yahudi, Tentara Salib dan musyrik.

Dengan kesabaran dan ketekunan, ia menjaga negara Islam dan melanjutkan Jihad melawan musuh-musuh Islam dari tentara salib dan sekutu murtad mereka sampai akhirnya ia mendapat apa yang dirindukan. Sungguh perdagangan yang menguntungkan, wahai Abu Zubair!

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak merubah (janjinya),” [Qs. Al -Ahzaab, 23]

Kami dengan ini, mengambil kesempatan untuk memberitahu kepada saudara-saudara Mujahidin dan suku-suku Somalia yang berani untuk memenuhi kewajiban mereka semaksimal dan semampu mereka, sehingga dapat memukul mundur serangan gencar dari Tentara Salib yang melawan negara Islam dan melawan agresi Amerika dan Barat pada tanah kami. Kami menyerukan mereka untuk mengambil sikap bersatu melawan Tentara Salib sebagaimana mereka memerangi kita, terlepas dari perbedaan agama, ideologi dan politik mereka; membela agama Islam adalah tanggung jawab yang mengikat leher kalian.

Jadi mengorbankan nyawa kalian untuk apa yang para pemimpin kalian telah korbankan hidup mereka untuk itu dan membalas kematian mereka, membela agama dan kehormatan kalian, untuk melancarkan Jihad melawan Amerika, sekutu tentara salib dan agen murtad adalah kewajiban individu yang paling mengikat. Waspadalah kalian terhadap rasa kenikmatan dan keselamatan yang melenakan selama hati kalian berdetak atau mata kalian berkedip.

Dan kalian, saudara-saudara kami tercinta di Afrika Timur, Mombasa, Harar dan di tempat lain; dan untuk saudara-saudara kita yang tertindas di kota Bangui: bersabarlah dan bertahanlah. Demi Allah, kita tidak melupakan kalian; bagaimana bisa seseorang bisa melupakan keluarga dan saudara-saudaranya. Ketahuilah bahwa dengan bantuan dan kekuatan dari Allah, kami tidak akan pernah meninggalkan kalian dan kami akan membantu kalian dengan segala cara yang mungkin. Yakinlah bahwa kami tidak akan menunda dalam menghukum mereka yang telah melakukan pembantaian keji tersebut terhadap kalian dan orang yang kalian cintai. Maka bergembiralah, bantuan dan kemenangan akan segera datang.

Demikian juga, kami mengirim kabar gembira untuk saudara-saudara kami para mujahidin di seluruh dunia dan meyakinkan mereka bahwa Jihad di Somalia tidak akan terhambat oleh syahidnya Syaikh, tapi bahkan, dengan izin Allah, akan semakin kuat dan buas. Karena agama kita adalah agama yang istiqamah dan syari’ah kita bukanlah ide inovasi yang mati dengan kematian pendirinya atau hilang dengan ketidakhadirannya, melainkan ianya berdasarkan keimanan yang kokoh, ideologi yang mengakar dan iman yang mendalam yang ditanami dengan darahnya syuhada, dibangun dengan tulangnya syuhada dan diperkuat oleh syahidnya Mujahid.

Jihad kami tidak akan terpengaruh sedikitpun oleh kemartiran Syaikh kami dan jika Jihad itu berakhir dengan kematian seseorang, maka jihad itu akan berakhir pada hari wafatnya Rasulullah dan para sahabatnya; atau jihad itu akan tergelincir setelah syahidnya Syaikh Usamah bin Laden, Syaikh Abu Musab Az-Zarqawi, Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi, Syaikh Mullah Dadullaah, Syaikh Baitullah Mehsud, Syaikh Dokku Umarov dan Syekh Abu Sufyan Ash-Shihri.

Para pemimpin ini penuh keyakinan bahwa ini adalah era Jihad dan dengan demikian melompat maju, membawa kafan di atas bahu mereka dan berjubah kemuliaan. Mereka menolak untuk diatur oleh demokrasi dan sistem kufur lain dalam segala bentuknya. Mereka menolak untuk mengganti agama Allah dengan apa pun dan tidak ada yang diinginkan selain syari’at Allah. Mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri konglomerasi musuh Islam atas Ummat Muslim dan pemusatan mereka pada Islam dari segala arah tapi mereka (para pemimpin jihad) tidak menganggap itu sebagai alasan untuk duduk kembali, berusaha untuk irjaa’, atau mengkhianati Ummat Islam. Sebaliknya ini merangsang mereka untuk cepat-cepat membantu Ummat Islam tanpa menunda atau lalai dan berusaha untuk menghidupkan kembali semangat Jihad di kalangan Ummat Islam tanpa bosan atau lelah.

Allah Yang Maha Perkasa, berfirman:

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” [Qs. Ali Imran 144]

Komentar Syaikh Abdurahman As-Sa’di tentang ayat ini, beliau mengatakan;
“Ayat mulia ini adalah direktif dari Allah untuk hamba-Nya, Dia memerintahkan mereka untuk tidak goyah dalam iman mereka atau bagian dari kewajibannya karena hilangnya seorang pemimpin, terlepas dari kebesarannya. Hal ini tidak dilakukan kecuali dengan mempersiapkan, dalam setiap urusan agama, sekelompok pengganti yang berkualitas sehingga sewaktu-waktu ada kematian salah satu pemimpin, diganti dengan pemimpin lainnya. Tujuan dari Ummat Islam haruslah semata-mata berpusat pada pembentukan agama Allah dan melakukan jihad sekuat yang mereka mampu, tanpa menyibukkan diri dengan seorang pemimpin atau yang lainnya.”

Kami juga meyakinkan pada kalian bahwa Syaikh telah meninggalkan sekelompok orang yang menolak penindasan dan menolak agama mereka dipermalukan. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan beristirahat atau menetap sampai mereka mengatur seluruh penjuru bumi dengan syari’at Allah, memberikan keadilan, menyebarkan wakil yang adil, menyatukan Ummat Islam pada kalimat Tauhid dan memurnikan negeri Islam dari kotoran tentara salib dan sekutu murtad mereka.

Seperti yang sudah kami katakan sebelumnya, kepemimpinan Harakah As-Shabab Al-Mujahidin dengan ini mengumumkan pengangkatan Syaikh Ahmad Umar -Abu Ubaidah- semoga Allah melindunginya dan membuatnya teguh pada kebenaran, sebagai pemimpin (amir) baru dan penerus kepemimpinan Syaikh Mukhtar Abu Zubair. Kepemimpinan ini juga memperbaharui bai’atnya (janji setia) kepada Qaa’idatul Jihad dan pemimpinnya, Syaikh Ayman Azh-Zhawaahiri, semoga Allah melindunginya.

Tidak diragukan lagi, fajar baru dan mulia dalam waktu dekat mendekati cakrawala Ummat Muslim setelah pertumbuhan, perbaikan dan kematangan Jihad di seluruh dunia Islam. Kekejaman dan penindasan oleh Tentara Salib, Zionis dan Rafidhah di tanah kami dan tanah Palestina, Irak, Syam, Afghanistan, Semenanjung Arab, Maghreb Islam, Chechnya dan tempat lain hanya akan menumbuhkan semangat untuk Jihad di hati para pemuda Muslim di seluruh dunia. Demikian pula, banyak pengorbanan, pantang menyerah, keimanan yang kuat, dan keberanian Mujahidin dalam menghadapi kampanye jahat musuh telah meningkatkan intensitas, kemurnian dan kejelasan Jihad.

Akhirnya, kami katakan kepada musuh-musuh Allah; (kami) berharap itu akan menyebabkan kalian menderita dan bersiaplah untuk menuai buah dari kecerobohan dan kebodohan. Pembalasan atas kematian ulama dan pemimpin kami adalah kewajiban yang mengikat di bahu kami bahwa kami tidak akan pernah melepaskan atau lupa, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan. Dengan izin Allah, kalian pasti akan merasakan konsekuensi pahit dari tindakan kalian,

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” [Qs. Asy-Syua’ra, 227].

Allahu Akbar!
Dan kemenangan itu milik Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin, akan tetapi kaum munafik tidak mengetahui

Dipersembahkan oleh :
kataiblogo
AL-KATAIB MEDIA FOUNDATION

Jangan lupakan kami dalam doa kalian
Dzul Qa’dah 1435 H

rislis asshabab1 rislis asshabab

(adibahasan/muqawamah/arrahmah.com)

Iklan

Iklan

Banner Donasi Arrahmah