Berita Dunia Islam Terdepan

Fitnah ISIS terungkap, Muhajirat tak pernah diperkosa Mujahidin anti-Assad (1)

Salah seorang tentara ISIS sedang membawa bendera
13

(Arrahmah.com) – Mengutip publikasi Abu Ahmad Al-Muhajir Al-Misri yang diterjemahkan oleh Ibnu Nabih melalui akun Twitternya pada Kamis (21/8/2014), berikut kesaksian mantan Jaish Muhammad yang kini telah bergabung bersama Jabhah Nusrah terkait fitnah pemerkosaan para Muhajirat di Suriah yang digencarkan ISIS beberapa waktu lalu. Semoga risalah ini menjadi pembersih prasangka-prasangka buruk yang memecah belah faksi-faksi jihad di Bumi Syam selama ini. Bismillah.

***

Kesaksian ini merupakan kronologis peristiwa penyebaran fitnah dari anggota dan pendukung IS(IS), ketika pertikaian pertama dimulai antara para pejuang anti-Assad dengan ISIS. Saat itu ISIS menuding para pejuang perlawanan memperkosa beberapa wanita Muhajirin. Berikut kenyataan yang dilihat dan disaksikan Abu Ahmad sendiri di tempat kejadian.

Berdasarkan kesaksian Abu Ahmad, orang yang pertama kali berbohong adalah Abu Al-Steef ‘Iraqi. Ketika itu dia datang kepada mereka di basis milik Jaish Muhammad. Dia tiba-tiba menangis dengan hebatnya sampai mereka percaya padanya. Setelah itu Abu Muhammad At-Tunisi datang kepada Abu Ahmad setelah mengevakuasi istri dan saudara yang lain ke tempat yang aman, saat pertempuran pertama dimulai antara pemberontak dan ISIS. Dia juga berbohong sampai Abu Ahmad sangat percaya dengan apa yang dia katakan.

Tuduhan pemerkosaan yang mengadu domba

Dia mengatakan kepada Abu Ahmad bahwa Sahawat di Tel Rif’at telah memperkosa para wanita Muhajirin (imigran). Sayangnya, pada waktu itu Abu Ahmad sedang semangat-semangatnya mendukung ISIS. “Semoga Allah mengampuni saya,” katanya. Jadi ia mulai menyerang -secara lisan, baik debat langsung atau komentar di media sosial- siapa saja yang berbicara tentang ISIS, walaupun mereka membahas ISIS dengan tenang dan [beradab]. Dengan demikian, timbullah adu domba yang mengakibatkan perpecahan di kubu pejuang perlawanan.

“Hingga tiba saatnya kami pergi ke lokasi kejadian untuk mengkonfirmasi masalah ini, dan mencari segala macam bukti pemerkosaan, kami tidak menemukan apa-apa …,” ujar Abu Ahmad penuh kecurigaan.

Setiap kali Abu Steef datang kepadanya untuk memberitahukan bahwa “saat ini kami memiliki bukti terkonfirmasi”, kami tidak menemukan apa-apa, setelah menyelidiki apa yang dia katakan, kecuali kebohongan.

“Jika Anda melihat cara ketika dia mengatakan kepada kami ini, dada Anda akan terangsang dan Anda akan mencari sebuah bom mobil dan meledakkan di sendiri di dalamnya [bersama si pemerkosa],” ujar Abu Ahmad geram.

Saat fitnah ini beredar, Abu Ahmad adalah penerjemah bagi Abu Steef untuk ikhwah dari Uzbekistan, di antara mereka adalah Akhi Abdul-Rahman yang fasih berbahasa Inggris. Abu Ahmad menyampaikan apa yang dia (Abu Steef) katakan dengan hiperbolik, sehingga mereka –pejuang yang mendengarkan- akan meninggalkan Sayfullah (Al-Shishani) dan bergabung Daulah (ISIS). “Semoga Allah mengampuni saya untuk emosi saya yang mengalahkan saya dan saya percaya kebohongan mereka dan menjadikan saya seperti orang yang disihir untuk mendukung mereka,” lagi-lagi kesan penuh sesal itu tersurat dari ucapan Abu Ahmad.

Selama bersama Abu Steef, Abu Ahmad tinggal dengan seseorang yang dipercaya akan menjadi Amir (pemimpin) yang juga warga Irak. Dia ingin hijrah bersama dengan keluarganya ke Turki, jadi dia datang kepada Abu Ahmad jadi ia akan membawanya keluar. Kondisi itu seperti sebuah niat untuk melarikan diri. Abu Steef selalu memintanya menyimpan rahasinya itu kepada siapa pun dan dia meminta perlindungan dan dukungan dari Abu Ahmad sampai dia bisa keluar.

Abu Steef juga berbicara dengannya mengenai seorang Akhwat dari Tunisia yang meyakinkannya bahwa dia telah diperkosa selama lebih dari 10 hari oleh para pejuang Liwa Al-Fath. Hal ini membuat seluruh dunia “menghitam” di mata Abu Ahmad, ditambah kesedihan dan penderitaan dari apa yang telah direnggut rezim Assad dari dirinya dan keluarganya.

Jadi Abu Ahmad mulai berinisiatif menghasut saudara-saudara dan berjanji untuk memerangi orang-orang yang memperkosa perempuan Muhajirin. Pada saat itu ia jatuh ke dalam kubangan dosa lisan dan tertipu oleh kebohongan mereka yang ia percaya. Qodarullah, orang-orang ini telah menguasai seni berbohong, sehingga Abu Ahmad terkecoh dan membelanya mati-matian.

Kebenaran terungkap Muhajirat penjaga kehormatan

Abu Steef mengatakan bahwa nama Akhwat korban perkosaan adalah Umm Ya’qub At-Tunisiyyah. Maka segera Abu Ahmad dan temannya pergi mencari kebenaran dan alhamdulillah menemukannya. Sebelum berangkat, ia berjanji kepada Allah dengan penuh ketulusan bahwa ia berani mengambil resiko untuk melawan mereka sampai dapat membunuh pelakunya atau dia dibunuh mereka.

Mereka pun pergi ke Tel Rif’at untuk mencari Akhwat tersebut di atas, serta memposisikan diri sebagai mediator petukaran tahanan Jaish Muhammad dan antara ISIS dengan pemberontak lainnya. Disana, mereka mengatakan semua tentang “tragedi” yang menimpa Akhwat itu, dan mereka menambahkan bahwa sang ukhti telah datang kepada mereka dan mengaku ia telah diperkosa oleh Mujahidin Liwa Al-Fath.

Menanggapi ucapan Abu Ahmad, tiga pemuda dari Liwa Al-Fath dimana berposisi sebagai kaum Anshar (yaitu Mujahidin lokal Suriah) mengatakan kepada mereka, “demi Allah jika hal ini benar, kita akan memakai bahan peledak dan meledakkan bom rompi bersama dengan orang yang melakukan ini dan orang-orang yang melindunginya.”

Lalu pria yang dituduh datang setelah mereka membawanya kepada Abu Ahmad dan berkata, “aku akan mencium sepatu Anda, bawalah ia [kesini]”. Pria itu mengucapakan peribahasa Suriah yang dimaksudkan untuk menunjukkan kerendahan hati yang ekstrim, dimana itu enunjukkan kemulian sang pria.

Mereka terkejut oleh semua ini dan mengapa orang yang berkata semacam ini sebagai pelakunya. Terlebih ketika mereka pergi ke rumah ukhti (yang tersebut sebagai korban), mereka takjub dan tercengang mematung. Akhwat Muhajirat (semoga Allah melindungi dan memaafkannya) mengenakan sabuk peledak dan rompi, kapan saja orang datang dekat, dia akan ambil detonator. “Jadi apakah orang seperti ini akan dapat diperkosa??” jerit Abu Ahmad dalam benaknya yang tercabik seketika.

Sang Muhajirat penjaga kehormatan mengatakan, “saya ingin bertemu Syaikh Abu ‘Ubaidah Al-Masri (pemimpin Jaysh Muhammad)”. Kemudian Syeikh datang untuk berbicara dan membimbing sang ukhti dan memintanya untuk melepaskan rompi berpeledak. Namun sang Muhajirat tidak takut karena dia akan meninggalkan tempat dengan berani dan menantang [orang yang akan mencelakainya].

Muhajirat penjaga izzah menolak untuk membuka bom rompinya, jadi ia mengatakan bahwa jika setiap orang membuat langkah yang salah, ia akan menekan detonator pada rompinya. Dengan demikian, ia menyatakan keadaan itu akan menjadi saksi di akhirat kelak, bahwa kami datang (ke Suriah) untuk terbunuh oleh tangan orang-orang kafir, bukan oleh tangan Anda. Maasyaa Allah.

Di akhir pertemuan itu, Abu Ahmad membawa sang Akhwat ke A’zaaz menuju rumah Syeikh (Abu Ubaidah) agar ia tinggal bersama keluarganya. Setelah ia sudah tenang dan percaya kepada isteri Syeikh, ia bereterus terang kepada isteri Syeikh.

Sang Muhajirat suci – semoga Allah memaafkannya- menangis dan mengatakan bahwa “pada leher saya ada sebuah tanggung jawab karena telah menumpahkan darah, dan aku tidak tahu apa yang harus saya lakukan”. Yang sebenarnya terjadi ketika itu, adalah ketika mereka para Mujahidin datang kepadanya dengan makanan dan ia menjadi takut.

Merespon keadaan itu, ia mengancam akan meledakkan bom rompinya. Bersamaan dengan itu, ternyata terdapat seorang wanita hamil yang telah menyiapkan makanan, “dan ketika ia mendengar apa yang aku katakan, ibu hamil menjadi panik dan keguguran janinnya karena aku .. dan aku tidak tahu bagaimana aku mengkompensasi dosa ini (kaffarah).”

Subhanallah. Hari itu, terbebaslah dua penyesak dada di tengah perpecahan Mujahidin Suriah. Dengan ijin-Nya, Allah uraikan benang kusut fitnah yang melanda Mujahidin Liwa At-Tauhid. Dengan rahmat-Nya pula, kecelakaan yang merenggut nyawa janin wanita Anshar (warga Suriah) tidak menjadikan seorang Muhajirat dibenci. Maasya Allah.

Allohu Akbar. Sementara dirinya dijadikan bualan fitnah ISIS terhadap para Muhajirin perlawanan Suriah, sang Muhajirat tidak peduli dengan reputasinya di hadapan manusia sebagai “korban tersangka perkosaaan”. Ia lebih sibuk menyucikan dirinya dari aibnya di mata Allah dan terus menghiba kifarat kepada Rabb penetap Hukum segala perbuatan manusia. Naghfirlana yaa Ilahi.

Semoga fitnah lain yang menimpa Mujahidin pembela Muslim Sunni Suriah dapat kembali terungkap pada risalah tersambung berikutnya. Insyaa Allah.

(adibahasan/JPI/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...