Berita Dunia Islam Terdepan

Kyainya ditelikung umat Islamnya dipasung

foto ilustrasi
4

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(Arrahmah.com) – Tidak lama menjelang wafatnya, seorang kyai kharismatik di Tebet Jakarta bertutur kepada penulis yang sedang bertamu di rumahnya. Pak Kyai yang belakangan dikenal menandatangani fatwa 1981 yang menghebohkan di Indonesia karena mangharamkan Umat Islam mengucapi selamat natal kepada pihak Nasrani ini secara singkat menuturkan kegelisahannya hingga tidak dapat tidur.

Kenapa?

Karena mendapatkan telepon (saat itu belum beredar hp –telepon genggam, jadi telepon di rumah atau kantor) bertubi-tubi. Rata-rata berupa hujatan dan protes, kenapa Pak Kyai berdoa di Tanah Abang tempat yang sejatinya adalah markas pihak-pihak yang mengatur rekayasa memusuhi Islam.

Bagaimana Kyai ini akan memejamkan mata, lha dirinya merasa ditelikung orang, diminta berdoa ( ya memang secara husnuddhan orang mengundang agar seorang Kyai berdoa di suatu acara itu baik-baik saja) tetapi bagaimana pula bila benar-benar memang tempat itu untuk sarang merekayasa permusuhan terhadap Islam?

Satu sisi, Pak Kyai ini menyesali atas salah langkahnya. Sisi lainnya, beliau mendapatkan aneka suara dari dering telepon yang menyayangkannya bahkan mungkin menghujatnya.

Kyai lugu yang sehari-harinya bercelana setengah betis atau cingkrang (walau dari kalangan tradisional atau NU, ya memang di kitab-kitab kan memang dilarang isybal alias dilarang memanjangkan kain atau celana sampai bawah mata kaki) ini soal ilmu Islam tidak diragukan, bahkan orang menyebutnya, dia itu hafal halaman-halaman kitab bila menguraikan sesuatu. Namun ilmu tentang bagaimana cara menghadapi tipu-tipu dari penjahat apalagi penjahat yang arahnya merekayasa dan menyengsarakan umat Islam; maka Pak Kyai belum tentu memiliki ilmunya. Boleh jadi justru masih tetap mengedepankan husnuddhan (baik sangka) belaka. Maka mudahlah pihak tertentu menelikungnya.

Secara gampangnya bicara, kyainya ditelikung, umat Islamnya dipasung. Itulah kerja yang dilaksanakan dengan seksama sebagaimana akan diuraikan berikut ini.

Seorang wartawan senior menulis tentang Umat Islam Dipasung Lagi, yang dalam uraiannya, pemasungan itu adalah hasil dari rekayasa lembaga tink-tank CSIS (Centre for Strategic And International Studies) yang sangat dipercaya Soeharto. Pemrakarsa inti CSIS adalah Pater Beek seorang pastur radikal keturunan Belanda.

Berikut ini sebagian dari uraiannya.

***

Kenapa Soeharto tiba-tiba dalam waktu singkat berubah memusuhi kalangan Islam?

Pertanyaan besar itu dalam waktu singkat terkuak dengan gamblang tatkala Presiden Soeharto melalui hasil Pemilu 1971 itu membentuk kabinet dengan menempatkan–makin meneguhkan posisinya sejak 1967– orang-orang Nasrani untuk menguasai pos vital di bidang ekonomi-perdagangan juga pertahanan. Tokoh-tokoh Nasrani dan sekuler kemudian secara tetap menguasai kabinet pada pos-pos vital itu sejak awal kekuasaan Soeharto pada 1967 dan baru berakhir pada 1987, ketika Soeharto menyadari kekeliruan fatal yang dilakukan sepanjang dua dasawarsa. Di balik penempatan tokoh-tokoh Nasrani dan sekuler itu tak lain karena rekayasa lembaga tink-tank CSIS (Centre for Strategic And International Studies) yang sangat dipercaya Soeharto. Pemrakarsa inti CSIS adalah Pater Beek seorang pastur radikal keturunan Belanda yang belakangan jatidirinya justru dibongkar oleh aktifis CSIS sendiri yakni George Junus Aditjondro. Pater Beek meyakini pasca hancurnya PKI pada 1965 musuh besar Katolik di Indonesia adalah apa yang dia yakini sebagai Lesser evil theory (Teori Setan Kecil) dan setan besar. Dua-dua setan itu sama-sama hijaunya, yakni tentara (ABRI) dan Islam. ABRI hanyalah setan kecil tetapi Islam merupakan Setan Besar. Beek pun meyakinkan kepada para kadernya untuk mengadu kedua setan itu. Inilah maknanya sepanjang dua puluh tahun Orde Baru, ABRI selalu memusuhi dan berusaha menghancurkan kekuatan Islam. George Aditjondro pun membeberkan peranan berbagai tokoh yang “menukangi” CSIS, setelah Pater Beek antara lain Ali Moertopo sampai Benny Moerdani, Harry Tjan Silalahi, Soedjati Djiwandono, Hadi Soesastro, Liem Bian Koen dan kakaknya Liem Bian Kie, Daoed Josoef dan serenceng nama lainnya. Pos strategis pada empat kali kabinet yang disusun Soeharto (1967—pra Pemilu I–1971, 1977, 1982 telah menempatkan tokoh-tokoh sekuler dan Nasrani mulai Frans Seda, Sumarlin, Radius Prawiro, Ali Wardhana sampai Wijoyo Nitisastro, hingga Adrianus Mooy, dan Soedradjad Djiwandono, dan Cosmas Batubara. Di tubuh ABRI pun dicengkeram panjang oleh ABRI Nasrani sejak dikuasai Mareden Panggabean, Sudomo sampai Benny Moerdani. Sementara di tubuh Golkar yang menguasai mutlak politik di Indonesia, duduklah tokoh Nasrani dan sekuler yang berseberangan dengan Islam, seperti Jacob Tobing, Midian Sirait, David Napitupulu, hingga Rachmat Witoelar.

Sepanjang penguasaan rezim Soeharto oleh rekayasa tink-tank CSIS itu, posisi umat Islam betul-betul dilecehkan habis-habisan bahkan diperhinakan sepanjang 20 tahun (1967-1987). Umat Islam selalu dicurigai tidak setia kepada Dasar Negara Pancasila, dan difitnah selalu merencanakan hendak menegakkan Negara Islam, seraya membongkar-bongkar isu lama yakni masalah Piagam Jakarta yang dianggap dosa besar kelompok Islam di awal Proklamasi. “Buldozer” Ali Moertopo pun toh terus menggilas apa yang tersisa dari kekuatan politik Islam. Partai-partai Islam pun dipaksa berfusi menjadi satu nama Partai Persatuan Pembangunan (PPP), tapi dilarang memakai gambar Ka’bah yang tetap menakutkan rezim Soeharto dan diyakini akan menjadi alat pemersatu ampuh umat Islam.

Belum cukup, secara menyakitkan sepanjang waktu, umat Islam selalu dituduh sebagai tidak mempunyai Wawasan Kebangsaan, Anti Pancasila, tidak memiliki toleransi dan selalu menindas kalangan minoritas. Belum lagi produk-produk undang-undang di DPR yang didominasi Golkar selalu diterbitkan UU yang selalu berlawanan dengan aspirasi Islam. Ingat saja berbagai sikap pemerintah yang anti jilbab pada 1980, UU Perkawinan 1974, lalu sengaja membuat peraturan anak-anak sekolah untuk Hormat Bendera ketika memasuki kelas yang sengaja dipakai alat untuk mengejek dan melecehkan umat Islam karena bagi umat Islam, kegiatan Hormat Bendera bagai kegiatan Penjajah Jepang dengan Sekere-nya tiap pagi memaksa rakyat Indonesia menghadap matahari dan memberi hormat matahari. Pada 1975 pegawai negeri saat itu tidak berani terang-terangan shalat Jumat di jeda istirahat kantor, ingat pula pada masa itu mubaligh tidak leluasa berkhutbah jika mereka tidak memiliki SIM (bukan SIM motor tapi Surat Ijin Mubaligh). Ingat pula AM Fatwa sepulang khutbah Idul Fitri dilukai senjata tajam oleh oknum militer mencederai pipinya. Protes-protes Sjafruddin Prawiranegara dalam khutbah dan ceramahnya yang berani tidak digubris rezim Soeharto. Inilah fakta ketertindasan umat Islam dalam sejarah Orde Baru.

Ketika pasung dilepas

Kabarnya pasca Peristiwa Tanjung Priok September 1984, Soeharto diberi informasi kalangan ABRI sendiri bahwa laporan Pangab Jendral Benny Moerdani tentang latar belakang kasus Tanjung Priok dimanipulasi, dan merugikan presiden, khususnya dengan opsi membantai umat Islam. Soeharto pun marah besar dan konon menyadarkan kebijakan politik yang ditempuh dua puluh tahun terakhir sejak 1967 sungguh-sungguh meleset. Konon Soeharto segera memutuskan mengubah drastis kebijakan politiknya. Dengan dalih memenuhi asas proporsional, ia mengoreksi anggota Golkar, khususnya yang duduk di DPR-MPR RI yang di dominasi kalangan non-Islam. Mulai Pemilu 1987 Soeharto menempatkan politisi Islam khususnya dari kader HMI. Begitu halnya jajaran kabinet diganti ekonom Islam. Dan menjelang Sidang Umum MPR 1-11 Maret 1988 yang anggotanya hasil Pemilu April 1987, Presiden Soeharto tiba-tiba akhir Februari 1988 memberhentikan Panglima ABRI Jendral Benny Moerdany—yang konon saat itu ada di luar negeri dan membuatnya marah besar—walau pada susunan kabinet yang diumumkan bulan berikutnya Benny diangkat sebagai Menhankam.

Dengan kebijakan politiknya yang sangat drastis dan kontroversial itu, umat Islam merasa Soeharto menebus dosanya kepada umat Islam. Apalagi kemudian komitmen dukungannya kepada aspirasi Islam ditunjukkan Soeharto lagi dengan inisiatif mengajukan RUUPA (Rancangan Undang-Undang Peradilan Agama) setelah ia menugaskan pakar hukum Islam melakukan kodifikasi hukum Islam. Ketika UU Peradilan agama disahkan DPR 1989, maka pengadilan agama di Indonesia pun disahkan pula sebagai hukum positif di negeri ini mendampingi sistem peradilan yang ada, yakni : Peradilan Umum, Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) dan Peradilan Militer. Derajat atau sistem kepangkatan hakim agama pun dinaikkan sejajar dengan hakim di pengadilan negeri. Keberpihakan Soeharto kepada Islam lebih jauh lagi ketika ia segera meresmikan Bank Muamalat di halaman Istana Bogor pada 1989, disusul ia mendorong berdirinya ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia), juga pada 1989. Dan tahun berikutnya 1990, Presiden Soeharto dengan keluarga besarnya ramai-ramai menunaikan ibadah haji.

Umat Islam merasa semakin nyaman dengan kebijakan politik Soeharto yang cenderung berbalik pro-Islam. Tapi sebaliknya kalangan Nasrani dan sekuler yang disingkirkan sejak 1987 itu, tidak bisa menahan diri berketerusan. Sikap perlawanan pun segera dilancarkan menjelang Pemilu 1992. Ketika hasil Pemilu 1992 makin menegaskan keberpihakan Soeharto kepada Islam, maka kalangan Nasrani dan sekuler nekat “menuduh” pemerintahan-ABRI-DPR sudah menjadi Ijo-Royo-Royo, dan disinisi harian Kompas sebagai “Ijo Loyo-Loyo ” jika diucapkan oleh seorang yang cadel. Konsolidasi kalangan Nasrani dan sekuler pun sejak 1992 digencarkan dan diarahkan untuk menumbangkan rejim Soeharto. Kerja keras mereka membuahkan hasil sehingga Soeharto pun tumbang pada Mei 1998. Kalangan Nasrani dan sekuler tetap memanipulasi kekuatan Islam untuk meruntuhkan Soeharto. Sehingga rezim reformasi yang lahir pun perlu direkayasa dengan tekun sepanjang 14 tahun terakhir untuk menyingkirkan Setan Besar : Islam.

(Umat Islam Kembali Dipasung, HM Aru Syeif Assadullah
Pemimpin Redaksi Tabloid Suara Islam).

***

Perlu eling lan Waspada

Semua itu semoga jadi I’tibar (pelajaran) bagi Umat Islam. Pihak yang memusuhi Islam siang malam bekerja tanpa henti dengan aneka cara, bahkan sampai menelikung kyai, petinggi negeri, dan kemudian memasung Umat Islam secara terus menerus berpuluh tahun.

Kadang-kadang Umat Islam hanya sekadar terhibur sedikit atau tersadarkan ketika ada tokoh yang mengaku Islam tetapi sangat erat hubungannya dengan musuh-musuh Islam; lalu suatu ketika dia terjungkal. Entah dipecat, terlorot jabatannya, tercokok kasus ini dan itu dan sebagainya.

Umat Islam sudah lama jadi pelengkap penderita, masih pula diintai oleh pihak-pihak yang memurtadkan, menyeret ke aliran sesat seperti syiah, LDII, Ahmadiyah, liberal, pluralism agama dan toleransi kebablasan serta berkasih-kasihan dengan musuh Islam tapi sebaliknya justru sangat sengit terhadap Umat Islam yang menegakkan Islam secara istiqamah.

Yang jadi Kyai, Tokoh Islam, Ustadz, Muballigh maupun Umat Islam pada umumnya sebenarnya perlu eling lan waspada (ingat dan takut kepada Allah Ta’ala serta waspada terhadap aneka bahaya yang mengintainya). Termasuk perlu waspada pula bila seorang kyai atau alim agama ujug-ujug (tiba-tiba) mendapatkan undangan ke hotel mewah dan sebagainya walau covernya adalah bersih murni suci. Hanya undangan untuk berdoa. Tetapi kalau ternyata muatannya membahayakan bagi dirinya, paling kurang menjadikan tidak bisa tidur seperti itu tadi. Dan banyak rangkaiannya terhadap Umat Islam di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim namun tampaknya makin banyak hal yang mengganggu kehidupan Umat Islam pada umumnya ini.

Kawulane Allah asal Jawa Tengah

(azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...