Berita Dunia Islam Terdepan

Perekrutan PNS, strategi “Israel” memandulkan Suriah, Palestina dan Libanon

militer "israel" di dataran tinggi golan
10

DATARAN TINGGI GOLAN (Arrahmah.com) – Penolakan bersejarah penduduk lokal Dataran Tinggi Golan untuk menerima kewarganegaraan “Israel” dan normalisasi pendudukan “Israel” tidak menghentikan organisasi zionis dari mencoba untuk mendapatkan pemuda-pemudi berusia 17-21 tahun untuk berpartisipasi dalam pelayanan sipil (baca: PNS), sebagaimana diulas Patric O. Strickland untuk The Electronic Intifada (TEI) pada Senin (11/8/2014). Melalui program perekrutan PNS itu, “Israel” berupaya “memandulkan Muslim Sunni Suriah, Palestina dan Libanon (Negeri Syam).

Tamara Halabi (19) adalah salah satu target mereka. Ia telah menghabiskan seluruh hidupnya hidup di bawah kekuasaan “Israel” di kota kelahirannya Masade, salah satu dari enam desa Suriah yang masih berdiri di Dataran Tinggi Golan yang diduduki. Ia dan kawan-kawannya adalah target rekrutmen “Israel” yang dilakukan secara halus, dimana para perekrut menyembunyikan identitas mereka sebagai “suruhan Israel”.
Program PNS itu adalah program yang dikelola relawan negara zionis, ditujukan untuk individu seusia Halabi yang akan dikecualikan dari wajib militer. Mereka akan mengikuti program peningkatan kompetensi staf berupa penjenjangan karir dan pendidikan kedinasan. Setelah menjadi PNS, mereka diharapkan menjadi pegawai yang tunduk kepada sistem kerja yang telah disepakati dalam ikatan dinas atau sumpah jabatan. Dengan demikian, PNS itu menjadi “mandul aspirasi politik” dan terjebak dalam “grey area”, dimana ia harus menjadi abdi negara “dengan sistem settingan Israel”, namun jauh di lubuk hati merasa tertindas dalam sistem kenegaraan yang korup.
“Kami menolak pegawai negeri karena [itulah] cara bagi “Israel” untuk menekan kita untuk menyerahkan identitas dan budaya kita, [etnik] Arab-Suriah,” ujar Halabi mengatakan kepada TEI.
“Israel” telah mempertahankan pendudukannya atas Dataran Tinggi Golan setelah 130.000 penduduknya diusir zionis pada Juni 1967. Kini pengungsi yang sejatinya pibumi Golan itu telah membengkak menjadi setidaknya 433.000 dan tinggal di tempat lain di Suriah, menurut “Breaking Down the Fence,” sebuah publikasi oleh Al-Marsad, sebuah kelompok hak asasi manusia yang bekerja di Golan pada tahun 2010.

Penduduk Suriah asli Golan secara historis menahan diri dari bekerja di lembaga-lembaga “Israel”. Namun menurut aktivis setempat, setidaknya sebelas warga Suriah dari Dataran Tinggi Golan tertipu mendaftar menjadi PNS pada tahun 2013 melalui naungan Aminadav, kelompok Zionis yang mempromosikan layanan sipil di antara masyarakat yang tidak melayani di pasukan pendudukan “Israel”. Alhamdulillah, mereka kemudian berhasil keluar dari PNS.

Hal tersebut sesuai dengan sebuah laporan yang diterbitkan pada awal tahun ini oleh Baladna, sebuah kelompok advokasi Palestina berbasis di Haifa, menegaskan bahwa sebelas pengungsinya di Suriah terdaftar pada tahun 2013 untuk layanan sipil.

Dataran Tinggi Golan Heights semakin terpecah dan dihiasi kekerasan akibat perang yang terjadi di Suriah, aktivis lokal menuduh “Israel” merebut kesempatan ini untuk memperkuat pendudukannya, sementara perhatian dunia sedang berpusat di tempat lain.

Terlalu bagus untuk menjadi kenyataan

Selain ia dan adiknya, Halabi mengatakan sekitar tiga puluh teman sekelas lainnya juga ditargetkan untuk perekrutan. As-Safadi -seorang relawan perekrut dari Aminadav- mengatakan kepada Halabi dan kawan-kawannya bahwa program baru yang disebut Membantu Kota Kelahiran (Musaadet al-Balad), merekrut para lulusan baru untuk menjadi PNS guru di sekolah-sekolah, rumah sakit dan tempat-tempat lain. Para PNS ini akan mengikuti program study banding ke luar negeri, beasiswa S2 di universitas internasional dan tunjangan jabatan dan biaya hidup.

Sementara pembatasan dan isolasi oleh “Israel” dalam menjajah Dataran Tinggi Golan hanya mempromosikan permukiman hanya-Yahudi. Di lain pihak, penduduk asli menderita kekurangan infrastruktur, hidup dalam himpitan ekonomi dan tidak memiliki kesempatan menikmati kebebasan. Dengan demikian, bagi keluarga miskin, iming-iming prospek pendidikan gratis adalah tawaran yang sangat menarik.

“Saya mengatakan kepadanya bahwa saya ingin berpartisipasi, tapi saya ingin memahami manfaat [untuk Aminadav],” Halabi menceritakan. “Setelah beberapa saat, saya dan kakak saya menjadi curiga karena [perekrut] tidak dari desa kami – dan itu tidak logis bahwa itu kepentingan mereka untuk membantu kampung halaman kami.”

“Kedengarannya terlalu bagus untuk menjadi kenyataan,” tambahnya.

Setelah Halabi berkonsultasi dengan kerabatnya, ia meminta bantuan dari Aamer Ibrahim, seorang aktivis pro-Palestina yang berbasis di Majdal Shams, kota Druze di utara Dataran Tinggi Golan. Ia dan Ibrahim lalu mencari informasi lebih banyak tentang Aminadav.

Program PNS “menjual moral Anda”

“Sedikit demi sedikit kami mulai mengerti bahwa itu bukan untuk menjadi sukarela di desa atau membantu desa; [menjadi] pegawai negeri itu berarti… menyerahkan identitas Anda, untuk menjual cita-cita Anda dan moral [Anda],” kata Halabi.

Setelah Ibrahim mencari nama perekrut online dalam bahasa Ibrani, ia menemukan bahwa ia bekerja untuk Aminadav, website itu memiliki tagline “didirikan dalam semangat Zionisme religius.”

Pada bagian “tentang kami”, Aminadav menjelaskan bahwa para calon pegawai negeri terdiri atas komunitas agama Yahudi dan Palestina ortodoks – baik secara historis- dibebaskan dari wajib militer dan pegawai negeri.

Ibrahim kemudian menelepon Aadna al-Wili, salah satu manajer cabang yang bertanggung jawab untuk merekrut di wilayah utara “Israel” saat ini yang menduduki Golan.

Al-Wili menjadi curiga suara Ibrahim dan mengatakan ia terdengar terlalu tua untuk berpartisipasi dalam program ini. “Dia mengatakan itu [untuk orang yang berusia] antara 17 dan 21,” kata Ibrahim kepada TEI. “Jadi saya bilang saya minta [keterangan] atas nama adik saya. Lalu ia mulai menjelaskan proyek dan dia tidak menggunakan kata-kata ‘layanan sipil’.”

Ketika Ibrahim bertanya langsung apakah proyek itu melibatkan pegawai negeri sipil, ia membantah hal itu. “Sudah jelas bahwa dia berbohong pada saat ini,” kenang Ibrahim.
Berbicara kepada TEI melalui telepon, Al-Wili mengkonfirmasi program pelayanan masyarakat di Aminadav bekerja di banyak komunitas Palestina di “Israel” saat ini. Ketika ditanya tentang pekerjaan mereka di Dataran Tinggi Golan yang diduduki, bagaimanapun, dia menjawab: “Saya tidak diharuskan untuk menjawab pertanyaan itu dan saya menolak untuk menjawab.”

LSM bebas pajak

Kecurigaan Ibrahim yang dibenarkan oleh Sahar Vardi dari New Profile, sebuah kelompok yang memantau militerisasi masyarakat “Israel” dan mendukung penentang yang kritis. Dia menjelaskan bahwa organisasi seperti Aminadav bekerja di bawah naungan “sekretaris layanan sipil nasional” dan “terdaftar sebagai organisasi nirlaba dan menerima pembebasan pajak.”

“LSM ini (lembaga swadaya masyarakat) meupakan kepanjangantangan badan layanan nasional,” kata Vardi kepada TEI melalui email. “Mereka bertanggung jawab untuk mencari relawan dan mencocokkannya dengan peluang relawan, serta pelatihan dan mempersiapkan relawan ini.”

Organisasi yang mempromosikan layanan sipil ini “mendapatkan suntikan anggaran untuk membayar relawan dan menyediakan mereka dengan perumahan,” kata Vardi.
Penduduk setempat mengatakan mereka menolak kerjasama dengan lembaga pemerintah “Israel”.

Setelah berita menyebar bahwa program tersebut merupakan bagian dari rencana “Israel” untuk merekrut warga Suriah ke layanan sipil, perekrut Aminadav membatalkan pertemuan yang telah dijadwalkan untuk peserta dan para orang tua mereka. Diperkirakan, tiga puluh orang batal menjadi calon PNS ketika mereka mengetahui bahwa itu adalah upaya rekrutmen pegawai negeri di bawah sistem pemerintahan yang disetting “Israel”.

Ibrahim menjelaskan bahwa rencana “yang ujungnya untuk mempromosikan layanan” dalam militer “Israel”, yang selama puluhan tahun telah menduduki tanah Palestina, Suriah dan Libanon (Syam) ini sangat melanggar hukum internasional.

Ia yakin bahwa “Israel” ingin “menandai” Suriah dari Dataran Tinggi Golan yang diduduki seperti yang telah dilakukan terhadap penganut sekte Druze di Palestina dan beberapa Badui Palestina yang kini betugas di militer “Israel”.

“Menurut pendapat saya, ada hubungan langsung” antara apa yang terjadi di Suriah hari ini dengan program ini, tambah Ibrahim. Pemerintah “Israel” ingin melakukan proyek semacam itu sebelumnya, tapi keadaan tidak memungkinkan, setelah banyak rakyat yang bangkit bergambung membentuk barisan Mujahidin Suriah dan Faksi Perlawanan Palestina.

Penduduk asli dari Dataran Tinggi Golankini menghadapi pilihan mereka harus mendukung rezim Bashar al-Assad di Damaskus, atau tunduk kepada “Israel” yang terus meningkatkan upaya untuk memperkuat lembaga-lembaga pendudukan di Golan.

Ibrahim menuduh “Israel mengeksploitasi penderitaan Suriah” dengan mencoba untuk menginstal sebuah program layanan sipil, lebih lanjut memperluas permukiman Yahudi yang hanya dan sekaligus meningkatkan eksploitasi sumber daya alam di wilayah yang diduduki.

Pada Februari 2013, “Israel” mendapatkan kontrak untuk sebuah anak perusahaan dari perusahaan Genie Energy mantan Wakil Presiden AS Dick Cheney, yang memungkinkan kelompok untuk eksplorasi minyak dan gas bumi di 150 mil persegi wilayah Dataran Tinggi Golan. Cheney, salah satu arsitek utama dari bencana 2003 perang Amerika di Irak, akan berfungsi sebagai penasihat untuk eksplorasi wilayah yang diduduki.

Menurut situs Al-Monitor, sekitar 4.000 orang Israel pindah ke pemukiman ilegal Yahudi dii Dataran Tinggi Golan selama lima tahun sebelum Oktober 2012. Permukiman dan kawasan industri Israel berdua diperluas selama periode itu. Penduduk setempat mengatakan angka pendudukan terus meningkat sejak kekerasan di Suriah memburuk.

Taiseer Maray, seorang dokter dari Majdal Shams, mendirikan organisasi untuk meningkatkan kesadaran tentang upaya “Israel” baru-baru ini untuk menguatkan kolonisasi Dataran Tinggi Golan. “Israel telah menunggu kesempatan” untuk memperkuat pendudukan, seperti ketika dunia difokuskan pada pertumpahan darah di Suriah dan tempat-tempat lain di wilayah ini, katanya kepada The Electronic Intifada.
“Ini adalah negara kolonial,” katanya. “Ini [telah] direncanakan.”

Maasyaa Allah, mereka akhirnya menolak menjadi penghuni neraka selamanya di bawah negara zionis. Semoga Alloh menjadikan mereka penghuni surga nyunnah (Sunni). (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...