Berita Dunia Islam Terdepan

Tabel penyimpangan ajaran syi’ah dari ajaran ahlus sunnah di Indonesia

Aplikasi android "Inilah Syiah"
74

TANGERANG (Arrahmah.com) – Alhamdulillah setelah beberapa waktu lalu MUI meluncurkan buku panduan berjudul Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia, masyarakat kini mulai tercerahkan, sebagaimana testimoni seorang Muslimah pembaca buku tersebut di kawasan Tanggerang pada posting Whatsapp, Selasa (5/8/2014).

Terlebih dengan menyebarnya tabel penyimpangan ajaran syi’ah dari ajaran ahlus sunnah yang disarikan dari buku tersebut di media sosial seperti Whatsapp dan Twiter, masyarakat awam Indonesia diharapkan mampu mendeteksi warga penganut syi’ah dengan lebih praktis. Dengan demikian, jika kita sudah mengenali kesesatan ajaran syi’ah, mudah-mudahan kita tidak akan terbawa masuk ke dalam ajaran yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

tabel daftar penyimpangan ajaran syi'ah dari ajaran ahlus sunnah di Indonesia
tabel daftar penyimpangan ajaran syi’ah dari ajaran ahlus sunnah di Indonesia

Perlu kita ketahui, bahwa selain perbedaan tersebut dalam tabel, syi’ah juga meyakini aqidah al-ba’da, yakni keyakinan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu perkara atau peristiwa sebelum perkara (peristiwa) itu terjadi. Sementara Muslim ahlus shunnah wajib meyakini bahwa Allah mengetahui segela sesuatu, baik sebelum hal itu terjadi, maupun setelah terjadinya, sesuai dengan salah satu sifat Allah yakni Kaunuhu ‘Alimun.

Dalam bab thaharah pun, bertentangan dengan ahlus sunnah yang meyakini syari’at mengusap sepatu (khuf), sandal (na’l), dan kaos kaki (jaurab) dalam wudhu. Syi’ah tidak membolehkan mengusap ketiga atribut tersebut meski dalam keadan darurat sekalipun. Padahal telah jelas hadits yang diriwayatka oleh Al-Mughirah bin Syu’bah –radhialahu’anhu- ia berkata:

كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي مَسِيرٍ فَقَالَ لِي أَمَعَكَ مَاءٌ قُلْتُ نَعَمْ فَنَزَلَ عَنْ رَاحِلَتِهِ فَمَشَى حَتَّى تَوَارَى فِي سَوَادِ اللَّيْلِ ثُمَّ جَاءَ فَأَفْرَغْتُ عَلَيْهِ مِنْ الْإِدَاوَةِ فَغَسَلَ وَجْهَهُ وَعَلَيْهِ جُبَّةٌ مِنْ صُوفٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُخْرِجَ ذِرَاعَيْهِ مِنْهَا حَتَّى أَخْرَجَهُمَا مِنْ أَسْفَلِ الْجُبَّةِ فَغَسَلَ ذِرَاعَيْهِ وَمَسَحَ بِرَأْسِهِ ثُمَّ أَهْوَيْتُ لِأَنْزِعَ خُفَّيْهِ فَقَالَ دَعْهُمَا فَإِنِّي أَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ وَمَسَحَ عَلَيْهِمَا

“Saya pernah bersama Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- pada suatu malam dalam perjalanan, maka beliau bersabda kepadaku, “Apakah kamu memiliki air?” Aku menjawab, “Ya.” Lalu beliau turun dari kendaraannya, lalu berjalan hingga tersembunyi dalam gelapnya malam (untuk buang air besar). Kemudian beliau datang kembali, lalu aku menuangkan air dari geriba untuknya, beliau pun mencuci mukanya. Karena memakai jubah wol yang kedua lengannya sempit, maka beliau pun merasa kesusahan untuk mengelurkan kedua tangannya, beliau lalu mengeluarkannya lewat bawah jubahnya. Lalu beliau mencuci kedua lengannya dan mengusap kepalanya. Kemudian aku jongkok untuk melepas kedua khufnya, maka beliau bersabda, “Biarkanlah keduanya, karena aku memasukkan kedua kakiku padanya dalam keadaan suci.” Maka beliaupun hanya mengusap bagian atas dari kedua khufnya.” (HR. Al-Bukhari no. 206 dan Muslim no. 274)

Untuk mengetahui penjelasan menyeluruh mengenai tabel di atas, silakan download buku panduan MUI disini. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...