Penjelasan AQIM tentang Khilafah ISIS dan penegasan bai'at mereka kepada Syaikh Aiman Az-Zhawahiri

31

(Arrahmah.com) – Pada Jum’at (4/7/2014) lalu, Al-Qaeda di Maghrib Islami atau Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM) melalui Yayasan Media Al-Andalus merilis penjelasan tentang Khilafah Daulah Islam Irak dan Syam atau Islamic State of Irak and the Sham (ISIS) dan penegasan bai’at mereka kepada Amir Al-Qaeda, Syaikh Aiman Az-Zhawahiri. Dalam pernyataannya, AQIM menyatakan bahwa mereka tidak bisa mengabaikan urusan Syam.

Mereka menjelaskan bahwa mereka terus berusaha untuk memperbaiki keadaan secara tertutup, yaitu dengan menggandeng saudara-saudara dari jamaah-jamaah jihad lainnya, karena mereka meyakini bahwa perselisihan antar sesama mujahidin itu haruslah diselesaikan secara tertutup, jauh dari pendengaran dan penglihatan media massa musuh yang selalu mengintai, dan takdir Allah, ternyata rentetan peristiwa fitnah terjadi begitu cepat, dan usaha mereka untuk mendamaikan tidak menemui keberhasilan.

Mereka pun menegaskan bahwa mereka memiliki sikap atas perkataan juru bicara resmi ISIS yang mengumumkan pendirian Khilafah Islamiyah dan pembai’atan Syaikh Abu Bakar Al Baghdadi sebagai Khalifah bagi kaum muslimin. Berikut terjemahan penjelasan dan penegasan AQIM tersebut.


TANZHIM AL-QAEDA DI MAGHRIB ISLAMI (AQIM)

TAHUN JAMAAH DAN HARAPAN UMAT

Segala puji bagi Allah yang telah berfirman :

“…dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” [Qs. Al Anfal: 46]

Shalawat serta salam dipanjatkan kepada Nabi yang diutus sebagai rahmatan lil alamin, yang telah bersabda:

يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ

“Tangan Allah bersama Al Jama’ah” [HR. Tirmidzi No.2092], kepada keluarganya yang suci, para sahabatnya yang baik, dan kepada orang-orang yang mengikuti jejaknya dengan baik hingga hari kiamat, amma ba’du:

Kami memulai pernyataan ini dengan ucapan selamat kepada saudara-saudara kami kaum muslimin di manapun mereka berada atas datangnya bulan Ramadhan yang diberkahi. Kami memohon kepada Allah agar menjadikan bulan ini sebagai bulan kemenangan bagi kaum muslimin, dan untuk tidak melewatkan bulan suci ini kecuali tragedi yang menimpa kaum muslimin menjadi sirna, dan luka yang mereka derita menjadi pulih. Ya Allah kami memohon kepada Engkau agar menolong hamba-hamba-Mu para mujahidin dan membebaskan orang-orang yang ditawan dan dipenjara, Amin.

Akhir-akhir ini terjadi beberapa peristiwa di Syam, kami selalu mengamati, mengikuti dan tidak melewati setiap pemberitaannya. Bagaimana kami bisa mengabaikan urusan Syam, padahal ia adalah negerinya orang-orang yang beriman yang para malaikat membentang sayap mereka di atasnya, dan di sana terdapat berbagai perang hebat yang pernah dilakukan oleh kaum muslimin.

Diamnya kami selama ini bukan berarti kami tidak mampu untuk berbicara, bukan juga karena kami tidak mampu mengeluarkan pernyataan, akan tetapi kami takut jika perkataan kami dapat menjadi kayu bakar yang memperbesar kobaran api fitnah. Karena banyak orang-orang yang ingin merongrong jihad kaum muslimin di bumi Syam, banyak orang yang menjadikan api fitnah semakin besar, la haula wala quwwata illa billah.

Kami khawatir jika musuh-musuh memanfaatkan kondisi kita sekarang ini untuk menghabisi kelompok mujahidin tertentu, sementara kami berharap agar perpecahan dapat dihindari dan polemik dapat dihindarkan. Kami tidak hanya berharap dan berdiam diri saja, kami terus berusaha untuk memperbaiki keadaan secara tertutup, yaitu dengan menggandeng saudara-saudara kita dari jamaah-jamaah jihad lainnya, karena kami meyakini bahwa perselisihan antar sesama mujahidin itu haruslah diselesaikan secara tertutup, jauh dari pendengaran dan penglihatan media massa musuh yang selalu mengintai, dan takdir Allah, ternyata rentetan peristiwa fitnah ini terjadi begitu cepat, dan usaha kami (untuk mendamaikan – red.) tidak menemui keberhasilan, sungguh milik Allah-lah segala urusan, baik sebelum maupun sesudahnya.

Hari ini, di hadapan peristiwa yang paling besar dari sekian banyak peristiwa yang telah terjadi, sepertinya kami tidak harus menyatakan sikap, tidak harus membuat tulisan singkat yang menyatakan sikap kami, dan memberikan nasehat kepada umat dan saudara-saudara kita.

Kami telah mendengarkan – sebagaimana para mujahidin dan kaum muslimin juga mendengarkan – perkataan juru bicara resmi ISIS yang di dalamnya ia mengumumkan pendirian Khilafah Islamiyah, dan pembai’atan Syaikh Abu Bakar Al Baghdadi sebagai Khalifah bagi kaum muslimin, maka dari itu kami memiliki sikap atas hal tersebut:

  1. Sesungguhnya penegakan Khilafah Rasyidah yang berdasarkan manhaj nubuwwah, yang menegakkan hukum Allah bagi kaum muslimin, dan yang menyatukan mereka serta menjaga daerah mereka adalah apa yang diperjuangkan oleh setiap mujahid yang benar-benar berjuang dan setiap jamaah-jamaah jihad yang dikenal baik dan lurus manhajnya, yang mengerahkan seluruh daya upayanya, yang rela menuangkan darah dan mengorbankan hartanya di atas manhaj tersebut.
  2. Suatu hal yang tak diragukan lagi oleh kalangan jamaah-jamaah jihad yang memiliki manhaj yang benar adalah, bahwa mengumumkan langkah yang urgen seperti ini (yang kami maksud adalah penegakan khilafah), tidaklah sah kecuali setelah mengadakan musyawarah, sebagai bentuk realisasi kita terhadap perintah Allah: “…sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka…” [Qs. Asy Syura: 38], serta firman-Nya ketika memerintahkan Nabi Muhammad SAW yang maksum: “…dan bermusyarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” [Qs. Ali Imran: 159]. Dan kami tidaklah menyebarkan rahasia jika kami mengatakan bahwa ketika mulai tampak bibit-bit fitnah di Syam, saudara-saudara kami di Daulah mengirimi kami surat yang menceritakan detail apa yang terjadi. Ini adalah perbuatan mereka yang kami puji, sebagaimana kami memuji mereka karena telah percaya kepada kami. Namun mengapa pada hari ini dalam urusan yang lebih besar mereka justru mengumumkan urusan seperti ini tanpa bermusyawarah dengan para komandan mujahidin? Yaitu orang-orang yang telah diakui kejujurannya dalam berjuang, telah teruji, mereka adalah orang-orang yang selalu mengarahkan umat ini, dan selalu berusaha untuk menegakkan khilafah.
  3. Wahai saudara-saudara kami di Daulah Islamiyah, di mana posisi kalian jika dibandingkan dangan kepemimpinan Thaliban beserta amirnya Mulla Umar Mujahid hafizhahullah, yang rela mengorbankan seluruh negerinya demi menjaga hubungan dengan kaum muhajirin yang di antaranya adalah pendiri Daulah Islamiyah Iraq, Syaikh Abu Mushab Az Zarqawi Rahimahullah? Dimanakah posisi kalian jika dibandingkan dengan Syaikh Dr. Ayman Azh Zhawahiri yang selalu memuji kemenangan kalian di Iraq? Di mana posisi kalian jika dibandingkan dengan Imarah Islam Kaukasus, di manakah posisi kalian jika dibandingkan dengan komando-komando cabang Al Qaida di seluruh tempat, dan para mujahidin lainnya? Ini belum lagi dari para ulama dan para pendakwah yang jujur dalam berdakwah yang langkah kakinya tetap tegak berada di jalan Islam dan dakwah untuk menegakkan khilafah, yang tidak pernah condong kepada para thaghut yang menerapkan hukum buatan manusia dan memberikan wala’nya kepada para musuh Islam, kami menyebutkan secara khusus bahwa di antara mereka ada singa tauhid, Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi, Syaikh Abu Qatadah Al Filishthini, Syaikh Mujahid Abu Al Walid Al Ghazi dan Syaikh Al Muhaddits Sulaiman Al ‘Ulwan yang telah merasakan penjara selama bertahun-tahun karena pembelaan mereka terhadap jihad di Iraq. Urusan ini lebih luas dari hanya sekedar perbedaan pendapat dalam masalah fiqh atau siyasah, sesungguhnya ini adalah urusan kekhilafahan yang dapat menaungi seluruh kaum muslimin yang baik maupun yang buruk perilakunya.
  4. Dengan adanya kondisi yang baru ini, kami mengajak kepada para pemimpin, baik itu ulama maupun umara, secara khusus kami sebutkan nama-nama para masyayikh yang terhormat yaitu Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi, Syaikh Abu Al Walid Al Ghazi, Syaikh Abu Bakar Al Baghdadi, Mulla Muhammad Umar, Syaikh Dr. Ayman Azh Zhawahiri, Syaikh Nashir Al Wuhaisyi, Syaikh Abu Az Zubair, Syaikh Abu Muhammad Al Jaulani dan yang selain mereka dari para ulama yang melakukan amal nyata dan para komandan mujahidin, untuk bersepakat, memperbaiki kecacatan yang ada di rumah kita ini sambil menjauhi media massa, demi menjaga wilayah Islam dan menjaga persatuan kaum muslimin serta menghindari tumpahnya darah mereka.
  5. Kami mengumumkan dengan jelas, bahwa kami akan menjadi pihak yang pertama kali menyambut sikap yang dinyatakan oleh para tokoh tersebut, sedangkan pada saat kami menunggu keluarnya sikap mereka, insya Allah kami masih membai’at Syaikh kami dan amir kami, Ayman Azh Zhawahiri, karena ia adalah bai’at yang syar’i yang mengikat pada leher kami, dan kami belum memandang ada yang dapat membatalkan bai’at ini, yaitu bai’at untuk berjihad demi membebaskan negeri-negeri kaum muslimin, menegakkan Syariat Islam di dalamnya, serta mengembalikan kekhilafahan rasyidah yang berdasarkan manhaj nubuwwah.
  6. Kami tujukan pernyataan sikap kami ini kepada para ulama umat, terutama para masyayikhnya mujahidin yang menjadi referensi mereka, agar dapat memberikan fatwa kepada kami tentang peristiwa ini, serta meluruskan sikap kami ini jika mereka melihat di dalamnya ada yang bengkok, karena yang kami cari adalah kebenaran, dan saat inilah waktu yang tepat untuk membongkar mana yang benar sehingga dapat memberikan arahan kepada para mujahidin.

Tidak lupa, kami juga ingin menyampaikan beberapa pesan berikut ini:

  • Kami mengajak kepada kelompok-kelompok jihad yang terlibat peperangan dengan Daulah, terutama saudara-saudara kami di Jabhah Nushrah untuk mencukupkan diri dari mengkampanyekan peperangan melawannya dan mematuhi perintah amir mereka yaitu Syaikh Dr. Ayman Azh Zhawahiri hafizhahullah, sebagaimana kami juga mengajak kepada saudara-saudara kami di Daulah Islamiyah untuk melakukan hal serupa. Ini semua adalah langkah awal untuk mewujudkan perdamaian di antara mereka, karena orang yang benar-benar beriman tidaklah senang dengan adanya saling memerangi di antara para mujahidin. Orang-orang yang senang dengannya adalah para musuh yang dengki dan orang munafik yang iri.
  • Kami berharap kepada jamaah-jamaah jihad untuk memberikan bantuan dalam usaha (mendamaikan ini – red.) dan menyerahkan penanganannya kepada para ulama agar persatuan di antara para mujahidin dapat terwujud, sehingga menghilangkan kesempatan bagi musuh untuk mencelakakan mujahidin.
  • Kami mengingatkan kepada media-media jihad, bahwa segala pengumuman dan pernyataan sikap yang tidak dirilis melalui Yayasan Media Al Andalus, maka ia tidak mewakili AQIM. Kami juga memperingatkan akan pentingnya melakukan verifikasi dan investigasi untuk menjaga keotentikan berita.

Terakhir, kami tegaskan bahwa Khilafah Islamiyah adalah tuntutan kami, kami beramal untuk mewujudkannya dengan berjihad dan berperang menghadapi musuh-musuh umat ini, yaitu orang-orang yang senantiasa menyusun makar untuk menghalangi penegakannya, dan kami menginginkan kekhilafahan yang berada di atas manhaj nubuwwah, yang didirikan dengan landasan syura, yang berusaha untuk menyatukan barisan kaum muslimin, dan menjaga darah mereka. Sebagaimana kami juga tegaskan bahwa masih ada waktu untuk memperbaiki kecacatan yang ada, yaitu dengan melibatkan para ahli ilmu dan ahli jihad dalam menetapkan keputusan, dengan meminta pendapat mereka, karena mereka adalah manusia yang paling utama yang dapat dijuluki dengan Ahlul Halli wal Aqdi.

Ya Allah, kumpulkan umat ini di dalam hal yang baik, sehingga orang yang menaati-Mu dihormati, dan orang yang bermaksiat kepada-Mu dihinakan, Ya Allah satukanlah barisan kaum muslimin, dan tolaklah makar musuh-musuh mereka yang selalu mengintai, gagalkanlah makar orang-orang munafik dan pengecut. Akhir kata, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

YAYASAN MEDIA AL ANDALUS
6 Ramadhan 1435 H / 4 Juli 2014
Diterjemahkan oleh :
logo-muqawamah-189x177

(aliakram/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.