Awal Ramadhan, hidupkan sunnah ru'yatul hilal

Salah seorang pembicara sedang melakukan simulasi alat yang telah di siapkan pada acara Training dan Simulasi Ru’yatul Hilal Ramadhan 1435 di Masjid Imtiyaaz Komplek Surapati Core Jl. P.H.H.Mustofa Bandung.
21

BANDUNG (Arrahmah.com) – Dalam rangka menghidupkan tradisi ru’yatul hilal, DPD II HTI Kota Bandung menyelenggarakan Training dan Simulasi Ru’yatul Hilal Ramadhan 1435 di Masjid Imtiyaaz Komplek Surapati Core Jl. P.H.H.Mustofa Bandung, Sabtu (21/6/2014). Acara yang berlangsung mulai dari pukul 13.00 – 17.00 WIBtersebut diikuti oleh ratusan peserta. Hadir sebagai pembicaranya yaitu Yuana Ryan Tresna dan Asep Soedrajat, keduanya pengurus HTI Jabar.

Tampil sebagai narasumber pertama adalah Yuana Ryan Tresna menjelaskan terkait penentuan awal dan akhir Ramadhan dalam pendekatan kajian fiqih. Setelah mengoreksi pendapat hisab, Yuana menyampaikan kehujjahan dalil terkait ru’yat, diantaranya dengan mengutip sabda Rasulullah SAW sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang artinya, “Jika kalian melihatnya (hilal bulan Romadhon) maka berpuasalah. Dan jika kalian melihatnya (hilal bulan Syawwal) maka berhari rayalah, akan tetapi jika ia (hilal) terhalang dari pandangan kalian maka kira-kirakanlah”, dalam riwayat lain “…maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.” “Ketiga imam madzhab (Abu Hanifah, Maliki, Ahmad) berpendapat bahwa awal Ramadhan ditetapkan berdasarkan ru’yat global, tanpa mempertimbangkan perbedaan mathla’.” tambahnya.

Yuana juga menyinggung aspek politik mengapa awal dan akhir Ramadhan sulit disatukan. Perkara tersebut adalah mengguatnya fanatisme kelompok dan golongan, dan ummat Islam enggan bersatu (terpecah di dalam bingkai nasionalisme). Problem utama tersebut dapat dirumuskan dengan beberapa hal, yakni tidak adanya (Khalifah) pemimpin umum kaum muslimin yang ditaati yang dapat memutuskan penyatuan awal dan akhir Ramadhan; adanya sekat-sekat nasionalisme yang merupakan penghalang terbesar bagi penyatuan kaum muslimin selain fanatisme madzhab yang sempit; perlunya menyadarkan umat untuk kembali kepada naungan Islam; keharusan menegakan kepemimpinan umum kaum muslimin diseluruh dunia dengan menegakkan Khilafah Islamiyah; dan harus mengutamakan ukhuwah Islamiyah, daripada fanatisme, madzhab dan nasionalisme.

Adapun Asep Soedrajat lebih menekankan pada hitung-hitungan astronomis dan simulasi praktik ru’yatul hilal. Dengan peralatan yang sudah disiapkan, simulasi praktik ru’yatul hilal direspon dengan sangat serius oleh para peserta. Asep menunjukan langkah-langkah melakukan ru’yatul hilal mulai dari menyiapkan data-data, menyiakan peralatan, hingga menggunakannya.

Acara tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat Kota Bandung khususnya kalangan ta’mir masjid dan dewan kemakmuran masjid (DKM). Mereka hadir meski sempat terkendala dengan turunnya hujan yang cukup lebat. Para peserta khidmat menyimak training dan simulasi hingga akhir acara. (azm/mibandung/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.