Tulisan Khalid As-Shishani tentang Sayfullah As-Shishani Rahimahullah

26

(Arrahmah.com) – Kavkaz Center telah merilis belasungkawa untuk Syaikh Sayfullah As-Shishani Rahimahullah, seorang mujahid Chechnya yang dibunuh pada awal tahun ini.

Bahkan setelah kematiannya, dalam upaya untuk menyerbu Penjara Central Aleppo, Syaikh Sayfullah tetap selalu diingat oleh para pengikut dan sahabatnya, dengan membuat pujian dan belasungkawa dalam bentuk teks, puisi, dan foto yang ditampilkan di forum jihad berbahasa Rusia.

Salah satunya yang menuliskan tentang kehebatan dan kebaikan Syaikh Sayfullah di medan jihad; mungkin banyak yang berpikir bahwa ia tidak pernah berjihad sebelum kedatangannya di Suriah, namun di dalam surat itu diceritakan bahwa ia telah berjihad di Chechnya dan Afghanistan. Ia adalah seorang yang menyerahkan seluruh kehidupannya untuk jihad di Suriah, salah satunya dengan menyumbangkan satu juta dolar untuk jamaah Umar As-Shishani. Dan akhirnya, cita-cita beliau untuk mendapat syahid berhasil didapatkan, beberapa saksi mengatakan beliau tersenyum ketika meninggal dan berbau wangi.

Berikut adalah catatan yang ditulis oleh Khalid As-Shishani.

Ketika itu musim dingin pada akhir 2012, saat saya pertama kali melihat Sayfullah.

Pada saat itu, tidak ada video, atau berita di internet mengenai mujahidin Chechnya di Suriah. Ia memberikan sambutan hangat dan bersikap sebagai seorang pemula (dalam jihad Suriah), dan bertanya bagaimana kami bisa sampai ke sana, dan dari mana kami berasal.

Setelah beberapa hari, kami pergi bersamanya dengan mobil, ia mengemudi, ia menanyakan tentang keadaan kami dan keluarga, apakah mereka mendukung jihad, dan sebagainya. Setelah kami selesai berbicara, kemudian ia menceritakan tentang keluarganya di Pankisi [Gorge], tentang ayahnya. Ia adalah orang yang sangat terbuka. Ia bisa berbicara Rusia namun tidak lancar, tapi bisa berbicara dalam empat bahasa, Chechnya, dan fasih berbahasa Georgia, Turki, dan sedikit bahasa Arab.

Suatu kali, ia dan Umar As-Shishani dan beberapa saudara lainnya duduk di rumah yang sama ketika mereka mendengar berita bahwa Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi telah mengumumkan Daulah Islamiyah di Irak dan Syam [atau Islamic State of Irak and Sham (ISIS)]. Semuanya bahagia, kecuali dirinya, wajahnya terlihat sedih, ia menganggap bahwa ini tidak benar, ini bisa menjadi penyebab fitnah, dan ternyata saat ini benar-benar terjadi.

Sayfullah adalah seorang yang murah hati. Ketika ia datang ke Suriah, ia membawa satu juta dolar untuk jamaah Umar. Dan, ketika jamaah memiliki kekurangan amunisi, ia menjual mobilnya sendiri dan membeli amunisi dengan uang itu. Suatu saat, aku kehabisan uang tunai dan saya berutang $ 300 untuk memperbaiki mobil, sehingga tidak ada uang yang tersisa. Aku ingin membayar hutang itu secepat mungkin dan aku menemui Sayfullah, dan mengatakan kepadanya tentang keadaanku. Ia dengan cepat mengambil $ 300 dari saku celananya dan memberikannya kepadaku, dan menanyakan apakah aku membutuhkan lebih banyak. Aku berkata, “Aku akan mengembalikannya. Aku akan menjual mobilku.”

Namun ia mengatakan bahwa tidak perlu mengembalikannya karena kami adalah satu keluarga. Tapi aku bersikeras akan mengembalikannya dan berkata, “Jika aku syahid sebelum sempat membayar hutangku, maka ambillah mobilku.” Tapi ternyata ia yang syahid terlebih dahulu.

Sayfullah adalah seorang mujahid yang tulus. Sebelum berjihad di Suriah, ia memiliki kehidupan yang nyaman dan berkecukupan, beliau tidak membutuhkan apapun, namun beliau adalah seorang Muslim yang tulus dan mencintai Allah, Rasul-Nya, dan berjihad di jalan-Nya, lebih dari apapun. Dan ketika jihad dimulai di Suriah, beliau meninggalkan segala sesuatu miliknya dan berangkat. Beliau juga pernah ikut dalam jihad di Chechnya dan Afghanistan. Ia bertempur di Johar, dan melewati ladang ranjau bersama sekelompok mujahidin, kemudian ia terluka dan tidak bisa kembali ke Chechnya. Jadi ia pergi ke Afghanistan dan menghabiskan lebih dari satu tahun dalam aksi militer.

Saudara kita ini adalah orang yang sangat aktif, dan selalu sibuk dengan masalah organisasi, selalu bepergian, mempersiapkan operasi, memikirkan masalah keuangan, dan lain-lain. Ia adalah seorang pria yang baik, dan aku bersumpah demi Allah, aku menganggap ia adalah yang paling baik dan lembut terhadap saudara-saudara kami, dan kebaikan yang besar ini kadang-kadang menjadi bumerang terhadap dirinya.

Beberapa orang munafik dan egois yang menyebut dirinya “Mujahidin”, beberapa kali bersekongkol untuk melawannya, menyebarkan desas-desus, memfitnahnya, tapi Allah selalu menjaganya, dan orang-orang yang bersamanya.

Suatu saat kesehatannya terus memburuk. Dan jika pada awal jihad di Suriah ia secara pribadi bisa berlari dengan saudara-saudara di medan perang, maka di kemudian hari ia tidak bisa membiarkan dirinya untuk melakukannya. Ia juga memiliki masalah ginjal yang menyakitkan.

Sayfullah banyak membaca dan sering mendengarkan ceramah di telepon dan di mobilnya ketika ia bepergian. Ia telah melakukan kontak dengan ulama jihad dan selalu berkonsultasi dengan mereka.

Sebelum operasi untuk membebaskan penjara Aleppo, Sayfullah mengumpulkan semua saudara dan berkata, “Aku ingin mencapai penjara, aku muak dengan dunia ini, piala tersebut (operasi di mana tujuannya adalah untuk merampas senjata/ghanimah). Saudara-saudaraku, dan bahkan anak-anak yang duduk di sana, pagi ini aku meninggalkan rumah dan merasa kedinginan. Dan aku berpikir tentang mereka (tahanan perempuan) yang kedinginan. Bahkan di sana (penjara) tidak ada jendela. In syaa Allah, kita akan mencapai penjara dan aku akan menjadi syuhada di sana.”

Beberapa hari sebelum kematiannya, Sayfullah berubah. Dalam semua waktu aku mengenalnya, ia berubah menjadi lebih baik, tetapi pada hari-hari itu, ia berubah secara dramatis dan signifikan. Ia mulai berbicara banyak tentang masa lalunya dan mengatakan, “Aku seperti seorang jahiliyah” dan mengungkapkan kesedihan tentang dosa-dosa masa lalunya.

Juru kamera kami, yang merekam operasi terakhir Sayfullah, mengatakan setelah kematiannya itu, “Beliau memiliki tampilan yang berbeda hari itu, seolah-olah beliau merasa akan meninggal pada hari itu.”

Pecahan peluru menghantam kepalanya. Setelah kematian sampai pemakamannya, ia tersenyum manis sekali dan mereka yang menguburkannya bersaksi telah mencium bau wangi kasturi dari tubuhnya.

(aliakram/muqawamah/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.