Dewan Da'wah lakukan pendampingan muallaf di perbatasan

logo DDII
35

BANDA ACEH (Arrahmah.com) – Dewan Da’wah Aceh kembali melakukan pembinaan terhadap muallaf dalam bentuk Pendampingan Syari’ah. Kegiatan yang rutin dilakukan setiap tahun ini merupakan program kerjasama dengan Baitul Mal Aceh. Pendampingan ini berlokasi di empat kabupaten/kota perbatasan; Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam.

Tahap pertama kegiatan ini dilaksanakan di Aceh Tamiang pada tanggal 14 Juni 2014 bertempat di ruang belajar Madrasah Tsanawiyah dekat Polres Aceh Tamiang. Kegiatan yang dibuka oleh Kepala Baitul Mal Kabupaten Aceh Tamiang, Hj. Sri Hidayanti, Lc, diikuti oleh 30 orang muallaf, laki-laki dan perempuan.

Ibu Sri Hidayanti, dalam sela-sela pembukaan acara pembinaan muallaf tersebut menyampaikan apreasias yang tinggi kepada Baitul Mal Aceh dan Dewan Da’wah Aceh yang salah satu fokus programnya adalah membina muallaf. Sementara kepada para muallaf, Kepala Baitul Mal Aceh Tamiang ini berpesan agar memanfaatkan kesempatan belajar ini sebaik-baiknya dan sabar dalam menghadapi ujian dan tantangan akibat keputusan dan sikap yang sudah diambil untuk menjadi muslim. Semoga tetap istiqamah dalam menjaga aqidah dan terus belajar tentang Islam sehingga menjadi bekal dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini, demikian Ibu Sri Hidayanti mengakhiri sambutannya.

Sementara Ketua Dewan Da’wah Aceh Tamiang, H. Fajar, MA, dalam sambutannya menyampaikan harapannya kepada Baitul Mal Aceh melalui Pengurus Dewan Da’wah Aceh agar kegiatan ini dapat dipastikan berlanjut, dan kepada para muallaf diharapkan untuk serius mengikuti pembinaan ini karena nanti di akhir tahun akan dievaluasi sejauhmana tingkat keberhasilannya. Hasil evaluasi tentu saja berpengaruh terhadap kelanjutan program ini di masa mendatang, demikian imbauan dari Ketua Dewan Da’wah Aceh Tamiang menutup sambutannya.

Kegiatan pembinaan ini berlangsung setiap bulan, sejak Juni sampai dengan Desember 2014, dengan fokus pembinaan pada dua aspek; pembelajaran membaca Al-Quran dan ibadah praktis tentang wudhuk dan shalat. Target pembinaan ini, diharapkan pada saat evaluasi nanti, 75-80% dari peserta sudah mampu membaca al-Quran dan mengerjakan sahalat secar baik dan benar.

Proses pembinaan muallaf ini perlu dilakukan secara continue dan dimulai dari hal-hal yang mendasar karena. sekalipun belum ada penelitian yang khusus,rata-rata para muallaf di Aceh adalah para mustadh’afin, baik sisi intelektual maupun finansial. Keputusan mereka memilih menjadi muslim, lebih disebabkan, selain persoalan hidayah tentu saja, pengaruh adanya anggota keluarga, teman yang sudah duluan masuk Islam. Di samping juga karena faktor pergaulan dengan ummat Islam, dan melalui hubungan perkawinan. Sangat jarang, kalau tidak mau mengatakan tidak ada, muallaf di Aceh, karena proses pengkajian Islam secara mendalam, sehingga ketika menjadi muallaf sudah langsung siap menjalankan tugasnya sebagai seorang muslim bahkan menjadi seorang da’i. Malah sebaliknya, ada beberapa kasus, karena tidak ada pendampingan, kembali kepada agama semula setelah merasa tidak ‘nyaman” berada dalam Islam.

Sekum Dewan Da’wah Aceh Said Azhar, S.Ag, dalam laporannya kepada redaksi arrahmah.com menyebut sampai saat ini, kendati sudah hampir 12 tahun berlakunya syari’at Islam di Provinsi Aceh, belum ada sebuah gerakan yang secara permanen dan profesional menangani pembinaan muallaf. Kegiatan yang dilakukan sering insidental dan temporer, tanpa proses keberlanjutan, kecuali apa yang sudah dan sedang dilaksanakan oleh Baitul Mal Aceh. Itu pun sangat terbatas, karena Baitul Mal bukan hanya mengurus muallaf semata-semata. Ke depan, diharapkan adakan ada lembaga atau gerakan yang permanen untuk menangani muallaf secara profesional, dan tentu saja ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah Aceh dalam rangka membina dan mengawal aqidah anak bangsa.

Menyikapi kekosongan kelembagaan inilah yang mendasari pemikiran dari Dewan Da’wah Aceh sehingga memandang perlu adanya pendampingan syariat untuk muallaf secara berkesinambungan. Untuk tahap awal, mengingat kemampuan muallaf rata-rata belum mampu membaca Al-Quran secara baik dan belum lancar dalam melaksanakan ibadah shalat, maka pembinaan ini difokuskan kepada dua hal tersebut. Program ini dikerja-samakan dengan Baitul Mal Aceh yang menjadi penyandang dana. (azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.