Serangkaian serangan "IsraHell" kian mematikan

13

RAMALLAH (Arrahmah.com) – Pasukan “Israel” telah membunuh seorang pria Palestina dan menangkap ketua parlemen, selama perburuan tiga warga Israel diyakini telah diculik di daerah pendudukan Tepi Barat pada Senin (16/6/2014), lansir Al-Jazeera.

Menurut para pejabat rumah sakit di Palestina Medical Centre, Ahmed Sabarin (21) ditembak di dada oleh tentara “Israel” yang melakukan pencarian dari rumah ke rumah di kamp pengungsi al-Jalazon, di tepi Ramallah.

Sabarin meninggal karena luka-lukanya di rumah sakit. Seorang pria lain terluka dalam serangan itu, dan sedikitnya lima orang lainnya ditangkap dari kamp. Militer “Israel” mengatakan Sabarin ditembak setelah melempar batu bata ke arah tentara “Israel”.

“Israel” menuduh Hamas berada di balik penculikan tiga remaja zionis yang sedang hiking di Tepi Barat pada Kamis malam (12/6).

Pasukannya sejauh ini ditangkap lebih dari 150 warga Palestina, termasuk ketua parlemen Abdel Aziz Dweik, yang diambil pada Senin pagi (16/6).

Sebelumnya, pendiri Hamas, Hassan Yousef dan dua puluh anggota parlemen dan mantan menteri ditahan.

Perdana Menteri “IsraHell” -sebutan populer “Israel” di media sosial- Benjamin Netanyahu menyebut Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas harus bertanggung jawab pada Senin pagi (16/6), saat melakukan percakapan pertama mereka lebih dari satu tahun, dan menuntut bantuan PA dalam mencari remaja. “Para Hamas penculik berasal dari wilayah di bawah kendali Otoritas Palestina dan kembali ke wilayah di bawah kendali Otoritas Palestina,” katanya.

Abbas mengutuk tuduhan penculikan dan gelombang penangkapan serta kekerasan yang mengikutinya, meminta “semua pihak untuk menahan diri dari kekerasan,” menurut sebuah pernyataan yang dirilis oleh WAFA, kantor berita resmi Palestina.

Belum ada klaim tanggung jawab atas hilangnya trio “IsraHell”. Sami Abu Zuhri, juru bicara Hamas, pada Minggu (14/6) menyerukan komentar Netanyahu menyalahkan Hamas “bodoh,” mengatakan mereka adalah balon percobaan untuk mengumpulkan informasi intelijen.

PLO tentang aksi “Israel”

Komite eksekutif PLO, yang bertanggung jawab untuk negosiasi dengan Israel, mengatakan penangkapan massal oleh “Israel” dan penutupan Hebron betul-betul “rasis”, dan itu dimaksudkan untuk menutupi apa yang disebut Netanyahu sebagai “ketidakmampuan”.

“Ini adalah modus operandi Netanyahu: mengalihkan perhatian dari penyebab sebenarnya, yakni dari siklus kekerasan (“IsraHell”),” kata komite itu.

Sementara itu, Komite Palang Merah Internasional (ICRC) telah menyerukan pembebasan segera ketiga remaja zionis.

“Hukum kemanusiaan internasional melarang penculikan serta melakukan penyanderaan,” Robert Mardini, yang memimpin operasi ICRC di Timur Tengah, mengatakan dalam sebuah pernyataan yang banyak dihujat pengguna media sosial.

Pernyataam Mardini bahwa “mereka harus diperlakukan secara manusiawi, dan kehidupan mereka dan martabat dilindungi dan dihormati,” tidaklah sebanding dengan ribuan tahanan Palestina yang disiksa secara keji di penjara “Israel”.

Pada Minggu malam (15/6), dua anak-anak Palestina terluka ketika pasukan “Israel” meledakkan pintu depan mereka di Hebron, yang telah dikepung dengan pos-pos pemeriksaan dan perintang jalan. Ayah mereka Akram al-Qawasami, yang juga terluka, ditahan.

Juga pada Minggu (15/6), tentara “Israel” meluncurkan tembakan dari sebuah pos militer menuju pemukiman Har Gilo di daerah Bethlehem.

Setidaknya dua roket ditembakkan dari Gaza menuju kota “Israel” selatan Ashkelon pada Minggu malam. Seorang perwira “Israel” mengatakan tentara tidak percaya Hamas terlibat.

Empat warga Palestina, termasuk dua anak-anak, terluka pada Senin pagi (16/6) dalam serangkaian serangan udara “Israel” di Jalur Gaza. Pemboman ditargetkan tempat pelatihan untuk Hamas dan Jihad Islam.

Ahmed Bahar, wakil ketua Dewan Legislatif Palestina, mendesak pemerintah untuk menghentikan kerjasama keamanan dengan “Israel”.

Hussam Badran, seorang pejabat Hamas, mengatakan “serangan terhadap Gaza dan penangkapan di Tepi Barat tidak akan menghentikan orang-orang Palestina dari pendudukan “Israel” menolak dengan cara apapun yang diperlukan”. (adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.