Angin kencang terjang Aceh dan Sumatera Barat

Baliho tumbang, salah satu kerusakan akibat badai di Sumatera Barat
13

ACEH (Arrahmah.com) – Angin kencang alias badai menerjang sejumlah wilayah Aceh dan Sumatera Barat sejak tiga hari terakhir. Hal ini memunculkan kerusakan serius pada sejumlah fasilitas umum, bangunan pribadi, dan permukiman penduduk. Hingga tadi malam badai di beberapa kawasan Aceh dilaporkan belum juga mereda meski kekuatannya cenderung berkurang.

Serambi Indonesia melaporkan, badai di Aceh Selatan pada Jumat (13/6/2014) malam telah merusak sejumlah rumah dan fasilitas umum lainnya di Kluet Tengah, Kluet Selatan, dan Labuhan Haji Timur. “Potensi badai masih terus terjadi. Kami ingatkan masyarakat tetap waspada,” kata Kepala BPBD Aceh Selatan, Cut Sazalisma, Sabtu (14/6) menyikapi cuaca buruk yang melanda Aceh Selatan dalam beberapa hari ini.

Menurut data BPBD Aceh Selatan, di Kluet Tengah sedikitnya tujuh rumah rusak bagian atap, demikian juga di Kluet Selatan dan Labuhan Haji Timur masing-masing satu rumah rusak. “Kami masih terus mendata kerusakan akibat badai yang terjadi sejak beberapa hari ini,” kata Sazalisma yang dihubungi Serambi saat mendampingi Wakil Bupati Aceh Selatan, Kamarsyah ke Kluet Tengah mengantar bantuan masa panik untuk korban badai di kawasan itu, Sabtu kemarin.

Badai yang menerjang wilayah Aceh Singkil pada Jumat (13/6) malam juga memunculkan kerusakan serius dan terhentinya aktivitas masyarakat, terutama nelayan. Hingga Sabtu kemarin pelayaran Singkil-Pulau Banyak terhenti.

Warga Singkil menceritakan, gemuruh badai dari laut ke darat pada Jumat malam itu memunculkan kepanikan. Atap rumah dan benda-benda lainnya berterbangan. Kepanikan semakin menjadi-jadi manakala disusul hujan sangat lebat dan listrik padam. “Jerit tangis anak-anak dan ibu-ibu yang panik membuat suasana semakin mencekam,” kata kata Bayu, warga Pancang Dua, Singkil Utara, Sabtu (14/6).

Pantauan Serambi pada Sabtu kemarin, rumah penduduk yang mengalami kerusakan bagian atap antara lain milik Munte, warga Ketapang Indah dan Agus, warga Gosong Telaga Barat, Kecamatan Singkil Utara. “Atap rumah terbang cukup jauh,” kata Munte menunjukan bekas atap seng rumahnya yang diterbangkan badai.

Pohon yang tumbang terpantau antara lain di halaman Mapolres Aceh Singkil di Kampung Baru. Lalu tanaman cemaran di objek wisata pantai Pulau Sarok juga bertumbangan menimpa pondok-pondok jualan. Pohon kelapa di Desa Gosong Telaga ada yang tercerabut dari akarnya hingga mengenai bagian atap rumah penduduk.

Amukan badai memaksa nelayan yang sedang melaut segera kembali ke daratan. Begitupun pelayaran Singkil-Pulau Banyak, sementara ini lumpuh. “Menghindari hal-hal yang tak diharapkan, aktivitas pelayaran berhenti sementara,” kata Azwar, nakhoda speedboat Singkil-Pulau Banyak.

Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah di dataran tinggi Gayo juga tak luput dari terjangan badai yang terjadi sejak Kamis (12/6) malam dan berlanjut hingga Sabtu kemarin dengan kekuatan yang dilaporkan cenderung menurun.

Hantaman badai yang terjadi Kamis (12/6) malam sekira pukul 21.00 WIB mengakibatkan atap shading hause (tempat penjemuran kopi) milik Pabrik Kopi KBQ Baburrayan, Pegasing, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, ambruk. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 600 juta karena sebagian besar shading hause atau driying cooper rusak parah. “Hampir semua bangunan shading hause ambruk,” kata Ketua Koperasi Baburrayan, Rizwan Husin yang dihubungi Serambi Jumat (13/6).

Menurut Rizwan, terdapat dua shading hause di areal Pabrik Kopi Baburrayan. Ketika badai menerjang pada Kamis malam itu, satu atap shading hause diterbangkan badai dan menimpa shading hause lainnya sehingga kerusakan semakin parah. “Padahal, pemasangan shading hause itu sudah cukup kokoh tetapi bisa terangkat dihantam badai,” katanya.

Dampak kerusakan tersebut, untuk sementara jika hujan tidak bisa menjemur kopi. “Kerusakan ini sudah kami laporkan ke pihak BPBD dan Bupati Aceh Tengah,” kata Rizwan.

Dari Kabupaten Bener Meriah dilaporkan beberapa tiang dan jaringan listrik tumbang tertimpa pohon, seperti di sisi ruas jalan Bireuen-Takengon, tepatnya di kawasan Enang-Enang, Kecamatan Pintu Rime Gayo. Demikian juga di kawasan Pondok Gajah, Kecamatan Bandar, beberapa tiang listrik juga rubuh. “Badai yang melanda Aceh Tengah dan Bener Meriah kali menimbulkan kerusakan serius,” kata Bardan Sahidi, anggota DPRK Aceh Tengah yang ikut mendata kerusakan akibat amuk badai di wilayah tersebut.

Hingga Sabtu kemarin angin masih bertiup kencang di kawasan Takengon, Kabupaten Aceh Tengah maupun beberapa wilayah lainnya di Kabupaten Bener Meriah.

Di Aceh Barat, selain jatuhnya kubah Musalla Desa Pasir di Meulaboh, badai juga menerbangkan atap rumah milik Susi yang juga di Desa Pasir. Sekdes Pasir, M Amin berharap adanya perhatian segera terhadap korban musibah, termasuk rumah ibadah.

Kabid Kedaruratan dan Logistik dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, Dedek Arisman mengatakan badai yang cukup kuat itu bukan hanya memunculkan kerusakan tetapi menghentikan aktivitas warga, terutama belayan. “Kita imbau masyarakat tetap waspada dalam kondisi cuaca buruk seperti sekarang,” kata Dedek.

Badai di Sumatera Barat

Dari Suma­tera Barat (Sumbar), Haluan.com melaporkan sejumlah wilayah di Sumbar dilanda badai, Kamis (12/6/2014) malam hingga Jumat (13/6) dini hari. Setidaknya, 30 unit rumah di Pasaman rusak, sementara puluhan pohon tum­bang di berbagai daerah. BMKG menyebutkan, pergerakan angin yang tiba-tiba ini termasuk kejadian luar biasa.

Cuaca ekstrim melanda Pasaman selama 6 jam pada Jumat (13/6) dini hari, menye­babkan munculnya hujan badai yang meluluhlantakkan 30 unit rumah warga. Tidak hanya rumah yang hancur, fasilitas sekolah juga rusak berat, SDN 03 Pancahlaweh ditimpa kayu. Tiga pohon tumbang di Pancah­laweh yang menyebabkan putus­nya jaringan listrik.

Data sementara BPBD Pasa­man, rumah yang rusak terjadi di dua kecamatan berbeda. Sebanyak 10 unit diterjang puting beliung di Jorong Koto Kaciak Kumpulan Kecamatan Bonjol dan 20 unit rumah hancur di Keca­matan Simpati.

Cuaca ekstrim itu mulai sejak Kamis (12/6) sekitar pukul 22.00 WIB. Angin kencang hujan pun turun. Sedangkan aliran listrik PLN sudah pudur sebelum bencana puting beliung itu terjadi. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun aktivitas masyarakat sempat terganggu dan masyarakat yang rumahnya rusak parah menginap di rumah famili di nagari setempat.

Kepala BPBD Pasaman Nasir melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Elvi Wardi menyebutkan, tim rescue sudah diturunkan untuk mengevakuasi.

“Kita membersihkan akses jalan yang terputus karena ditimpa kayu tumbang, kemudian membersihkan kayu yang menim­pa sekolah dasar,” sebutnya. Kerugian akibat kejadian itu, diperkirakan menca­pai Rp 200 juta.

Sedangkan Jumat (13/6) sore, kebakaran pun terjadi di Sontang Kecamatan Padang Gelugur menimpa satu unit rumah warga. Namun, beruntung api cepat dipadamkan sehingga kerugian pun dapat dihindarkan. (azm/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.