Bergdahl, antara sambutan dan "sambitan"

Bowe Bergdahl
21

TEXAS (Arrahmah.com) – Sersan Angkatan Darat AS, Bowe Bergdahl, yang menghabiskan lima tahun sebagai tawanan perang Taliban sebelum dibebaskan pada 31 Mei, berada dalam kondisi stabil di sebuah rumah sakit militer di Texas dan belum bertemu dengan orang tuanya, para pejabat militer mengatakan Jumat (13/6/2014) kepada Reuters. Bergdahl, yang tiba sebelum fajar Jum’at (13/6) dalam penerbangan militer dari Jerman, berada dalam kondisi fisik yang cukup baik untuk bertemu dengan pihak “penjemput” namun belum diberitahu tentang kontroversi seputar penangkapannya, ujar para pejabat.

“Apa yang kami coba lakukan adalah untuk mengukur ketahanan fisik dan mentalnya juga mendiagnosa apakah ia terampil dan kuat untuk mengatasi masa penahanannya (oleh Taliban) selama lima tahun, melalui uji coba ini mungkin saja ia tidak sehat dan fungsional sekarang,” Kolonel Bradley Poppen, seorang psikolog Angkatan Darat, mengatakan pada konferensi pers yang diadakan di dekat Medical Center Brooke Army di San Antonio di mana Bergdahl akan disambut dengan serangkaian upaya perawatan.

Bowe Bergdahl sat ditahan taliban

Tidak ada waktu yang telah ditetapkan untuk “kesembuhannya”, kata pejabat yang menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut tentang kontak antara Bergdahl dan keluarganya guna menghormati privasi mereka.

Sementara Angkatan Darat juga memberikan sedikit informasi tentang kesehatan dan keadaan emosional Bergdahl, para pejabat mengatakan mereka senang dengan keadaan fisiknya pada saat ia tiba.

“Dia muncul seperti layaknya seorang sersan, ketika mereka melihat seorang jenderal bintang dua, ia sedikit gugup tapi dia tampak baik-baik saja,” kata Mayor Jenderal Joseph DiSalvo. Bergdahl telah mampu berjalan ke rumah sakit, dan menetap disana setelah penerbangan transatlantik yang lama dari Jerman.

Ia disambut dengan layanan rumah sakit militer yang memiliki tim spesialis dan telah membantu proses pemulihan tawanan perang selama beberapa dekade.

Bergdahl telah memiliki satu permintaan ketika ditanya tentang apa makanan yang ia mau, kata para pejabat militer, yakni “hanya selai kacang”.

Bowe Bergdahl saat pertukaran

Bergdahl yang kembali ke tanah AS juga diam-diam disambut di kampung halamannya di Hailey di tengah Idaho, di mana bisnis dan pendukung keluarga Bergdahl telah menerima surat kebencian dan telepon dari pencela yang melabelinya sersan Angkatan Darat desertir dan pengkhianat.

“Kami masih berdiri bersama Bowe,” kata Sue Martin, pemilik Zaney River Street Coffee House, di mana Bergdahl bekerja sebelum mendaftar.

“Dia memiliki wawasan pribadi dan kecerdasan untuk dapat mengatasi periode penyembuhan yang panjang,” katanya.

Orang tua Bergdahl, Bob dan Jani Bergdahl, diharapkan akan melakukan perjalanan ke Texas dari Idaho untuk menjemput, meskipun itu tidak segera jelas kapan. Adapula kemungkinan bahwa mereka telah berbicara dengan putra mereka.

Dalam sebuah pernyataan atas nama keluarga, keluarga Bergdahl mengatakan mereka tidak berniat untuk mengumumkan rencana perjalanan mereka kepada publik.

“Mereka meminta agar privasinya dijaga karena mereka berkonsentrasi pada reintegrasi anak mereka,” kata pernyataan itu.

“Sambitan” untuk Berghdal

Bowe-bergdahl-taliban-prisoner-swap3

Bergdahl adalah sersan AS yang istimewa, karena pembebasannya menjadi media pertukaran dengan lima pemimpin Taliban yang ditahan di penjara Guantanamo di Kuba. Awalnya upaya itu disambut gelombang dukungan, namun tak lama kemudian langsung dibayangi oleh keributan politik atas pembebasan anggota senior Taliban. Parlemen mengkritik pemerintahan Obama karena gagal memberikan pemberitahuan 30 hari sebelum mentransfer tahanan dari Guantanamo seperti yang dipersyaratkan oleh hukum. Beberapa menuduh bahwa dalam melakukan pertukaran, pemerintah telah secara efektif melanggar kebijakan terhadap upaya negosiasi dengan teroris.

Beberapa mantan rekan Bergdahl di Afghanistan bahkan memberikan kesaksian bahwa dia telah meninggalkan pos dan menghindari jabatannya, dalam keadaan mental yang tidak jelas, dan kemudian ditangkap.

Mengimbangi spekulasi warga negara AS terculik ini berubah menjadi “pro-Islam”, hingga kini, cemoohan dan pernyataan-pernyataan negatif tentang Berghdal terus menjadi topik hangat di media. Bahkan Wasshington Post pada Rabu (11/6/2014) menjadikan “fenomena Berghdal” sebagai ancaman skala nasional dan mencoba membongkar identitas kejiwaan Bowe melalui dokumentasi pemikirannya yang tersurat dalam email pribadi maupun jurnal hariannya.

Bowe Bergdahl saat dibebaskan Mujahidin Taliban
Bowe Bergdahl saat dibebaskan Mujahidin Taliban

Salah satu analisis yang paling menggelikan dalam kolom tersebut adalah pernyataan yang menegaskan bahwa Bowe Berdghdal adalah remaja dengan kecenderungan mental yang rapuh, disleksia, dan masuk militer untuk lari dari kenyataan hidup. Ia juga dituding sebagai representasi “kebanyakan pemuda tanggung Amerika yang haus akan petualangan”. Dengan demikian, ia digolongkan labil dan tak layak menjadi tentara setia, karena dapat “dicuci otak” oleh musuh dengan mudahnya.

Lebih lanjut, fenomena Berghdal kini menyisakan ketakutan tersendiri pada golongan anti-Islam AS, seperti yang ditulis salah satu blogger dalam akunnya, “Apa yang akan terjadi jika tentara kita direkrut dari orang-orang seperti Berghdal? Mengirim mereka ke Timur Tengah hanya akan membawa pulang zombi-zombi Muslim baru ke tanah air kita.”

(adibahasan/arrahmah.com)

Baca artikel lainnya...

Comments are closed.